Zulkafli Hashim

Zulkafli Hashim

Share

25/02/2026

Cerita ✍️ menarik (2)
DIA BERPURA-PURA TIDUR UNTUK MENGHINDARI PETUGAS KEBERSIHAN DI MALAM HARI…
TAPI SEBUAH TELEPON YANG DIA DENGAR MEMBONGKAR KONSPIRASI SENILAI 20 JUTA DOLAR
DAN PENGKHIANATAN TERKEJAM DATANG DARI ORANG YANG PALING DIA PERCAYA SEUMUR HIDUPNYA…

Di tengah dinginnya malam bulan Oktober di kawasan Sudirman, Jakarta, Isabella Wijaya duduk sendirian di kantornya yang luas namun terasa hampa di lantai 38 gedung Luntian Dynamics Corporation—perusahaan yang ia bangun dari nol.

Dua puluh tahun hidupnya ia curahkan di sini. Dua puluh tahun nyaris tanpa tidur, Natal yang dilewati tanpa pulang ke rumah, ulang tahun yang tak dihadiri, dan cinta yang tak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh. Bermula dari ruang kerja kecil yang disewa di daerah pinggiran, ia membangun perusahaan perangkat lunak yang kini menjadi salah satu kebanggaan industri teknologi di Asia Tenggara.

Namun malam ini, pukul dua dini hari, di atas mejanya tergeletak tumpukan dokumen kebangkrutan yang tebal.

Dalam waktu dua belas jam, ia harus berhadapan dengan tiga ribu karyawannya dan mengatakan bahwa semuanya telah berakhir.

Isabella berusia empat puluh delapan tahun. Tangguh. Bertekad kuat. Di dunia bisnis, ia dijuluki "Ratu Disrupsi." Namun malam ini, ia bukan seorang ratu. Ia hanyalah seorang wanita yang sangat lelah, bersandar di kursi kayu jati mahalnya, menatap kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana.

Lampu-lampu Jakarta tampak seperti bintang yang jatuh ke bumi, namun di matanya, itu tampak seperti kerlip terakhir sebelum matahari benar-benar tenggelam.

Ia tidak pernah menyangka bahwa kehancurannya akan datang dari orang terdekatnya.

Sebuah perusahaan saingan—Apex SynerTech—secara perlahan mengambil klien-klien terbesarnya. Tiba-tiba, kepala insinyurnya mengundurkan diri dan pindah ke sana. Dan yang paling menyakitkan, dalam presentasi Apex, muncul cetak biru (blueprint) dan peta jalan strategis yang persis dengan apa yang ia simpan rapat-rapat selama bertahun-tahun.

Ada yang mengkhianatinya.

Para pengacaranya tidak punya jawaban. Dewan direksi tidak punya solusi jelas. Namun bank tidak pernah tahu caranya menunggu.

Terdengar bunyi decit pelan dari roda kereta pembersih di lorong.

Petugas kebersihan malam.

Seorang pria tua, kurus, agak membungkuk, dengan mata yang teduh. Ia sudah sering melihatnya setiap dini hari, namun tak sekalipun ia menanyakan namanya. Hanya anggukan kepala yang mereka pertukarkan setiap kali berpapasan.

Malam ini, Isabella tidak punya energi untuk berbasa-basi. Perlahan ia memejamkan mata dan menundukkan kepalanya sedikit, berpura-pura tidur.

Ia mendengar gesekan lembut kain pel di lantai. Langkah-langkah kaki yang hati-hati seolah tak ingin membangunkannya.

Beberapa saat kemudian, semuanya berhenti.

Ada kesunyian yang aneh.

Terdengar gemerisik kertas.

Dan sebuah suara bisikan.

— "Tidak mungkin... tidak mungkin ini terjadi..."

Jantung Isabella berdegup kencang, namun ia tetap bergeming.

Ia mendengar gagang telepon di meja diangkat.

— "Budi, Nak... ini Bapak."

Suara pria tua itu sedikit bergetar namun jelas.

— "Kamu ingat CEO yang menyumbang ke pusat teknologi komunitas di pemukiman kumuh tiga tahun lalu? Iya... itu dia."

Hati Isabella mencelos. Ia melakukan donasi itu secara anonim.

— "Dia punya masalah besar. Ini bukan sekadar kebangkrutan biasa. Ada yang mencuri informasinya."

Keheningan sejenak dari seberang telepon.

— "Bapak tahu ini sudah tengah malam. Tapi kamu harus dengar. Catatan log sistem masih terbuka di monitornya. Bapak tidak sengaja melihatnya."

Detak jantung Isabella semakin cepat.

— "Budi... waktu aksesnya selalu sama. Selalu lewat jam sebelas malam. Dan komputer yang digunakan? Milik Ir. Renato Alcantara."

Renato Alcantara—Chief Operating Officer-nya.

Pria yang selama delapan tahun ia percayai sepenuhnya.

— "Kamu di unit cybercrime. Kamu punya kenalan di kepolisian, kan? Kita harus mengonfirmasi ini sebelum pagi."

Keheningan yang panjang.

— "Bapak tahu ini berbahaya. Tapi Bapak tidak sanggup melihatnya hancur seperti ini."

Pria tua itu menghela napas panjang.

— "Kalau bukan karena pusat teknologi yang dia bangun, mungkin kamu tidak akan belajar coding. Mungkin kamu tidak akan pernah masuk kepolisian."

Dada Isabella terasa sesak.

Ia tidak menyangka ada orang yang tahu.

— "Bapak melihat ada USB di bawah mejanya minggu lalu. Ada logo Apex. Bapak pikir itu cuma sampah. Tapi sekarang..."

Napas Isabella gemetar.

— "Bapak akan mencolokkannya."

Terdengar bunyi klik USB yang masuk ke port.

Suara ketikan cepat di papan ketik.

— "Ada folder terenkripsi. Namanya: 'Proyek Melati'. Dan pemilik filenya? RenatoA_admin."

Isabella mencengkeram lengan kursinya dengan kuat.

— "Ada log transfer ke server eksternal. Alamat IP... Budi, bukankah ini milik Apex?"

Keheningan sejenak.

Lalu gumaman pelan penuh keterkejutan.

— "Ya Tuhan."

Pria tua itu berdiri tegak.

— "Budi... bukan cuma Renato."

Dunia Isabella seakan berhenti berputar.

— "Ada otorisasi kedua. Nama pengguna... 'Chairman_LD'."

Ketua dewan komisaris perusahaannya.

Orang yang selama ini ia anggap sebagai mentor dan panutannya.

Kain pel jatuh ke lantai.

— "Nak... ini jauh lebih dalam dari yang kita duga."

Udara di dalam kantor terasa semakin berat.

Isabella tidak tahan lagi.

Perlahan, ia membuka matanya.

Berdiri di hadapannya adalah petugas kebersihan tua itu, masih memegang telepon, cahaya dari layar monitor menyinari wajahnya yang penuh kekhawatiran.

Mata mereka bertemu.

Keduanya terpaku.

Di monitor di belakang pria itu, sebuah email terlihat jelas:

“Transfer Final Dikonfirmasi — Pembayaran Dirilis.”

Jumlahnya: dua puluh juta dolar.

Dari Apex SynerTech.

Dikirim ke sebuah rekening luar negeri atas nama...

File tersebut perlahan-lahan tergulung ke bawah (scroll).

Nama lengkap itu mulai muncul.

Namun sebelum Isabella sempat membacanya sepenuhnya, pintu lift di ujung lorong berbunyi.

Ada seseorang yang datang.

Di jam seperti ini.

Pintu kantornya terbuka perlahan.

Dan siapakah yang masuk? Nantikan di bab selanjutnya...Part 3 commnents..

Want your business to be the top-listed Media Company in Kajang?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Website

Address


Kajang