WIWEKA

WIWEKA

Share

10/11/2020

Anggara Kasih Tambir dan Kajeng Kliwon

Anggara Kasih Tambir merupakan hari suci yang sangat istimewa, karena pada hari itu bertepatan juga dengan hari suci Kajeng Kliwon Uwudan.

Anggara Kasih Tambir dirayakan setiap 6 bulan sekali atau setiap 210 hari sekali, tepatnya pada setiap sapta wara Anggara (Selasa) dan panca wara kliwon serta wuku Tambir.

Dalam kutipan dari lontar Sundarigama disebutkan ; yang lain lagi yang perlu diperhatikan ketika Anggara bertemu Kliwon disebut sebagai Anggar Kasih.
Anggara Kasih atau Anggar Kasih, yang merupakan hari untuk mewujudkan cinta kasih terhadap diri kita sendiri.

Pada hari suci Anggar Kasih itu hendaknya kita merawat diri kita sendiri, dengan jalan melakukan pembersihan atau peleburan dari segala kecemaran (mala) dan bencana.

Dan hal yang paling utama adalah untuk melebur segala kecemaran yang ada pada pikiran yaitu, dengan jalan melakukan perenungan suci dan juga menghaturkan persembahan berupa banten wangi - wangi, Puspa wangi, Asep astangi dan dilanjutkan dengan metirta pembersihan serta pada malam harinya melakukan renungan suci atau semadhi.

Pada saat hari suci Anggar Kasih Tambir itu adalah merupakan hari dimana Sang Hyang Ludra untuk melaksanakan yoga dengan tujuan untuk memusnahkan ataupun untuk menghilangkan segala kecemaran di dunia ini.

Kajeng Kliwon juga merupakan salah satu hari suci bagi umat Hindu yang jatuhnya pada setiap15 hari sekali, hari suci Kajeng Kliwon merupakan pertemuan antara dua unsur triwara yang terakhir Kajeng dengan unsur pancawara yang terakhir Kliwon.
Kajeng merupakan hari prabhawanya dari Sang Hyang Durga Dewi yang merupakan perwujudan dari Ahamkara yang merupakan manifestasi dari kekuatan Bhuta Kala dan Durga yang ada dimuka bumi.

Sedangkan Kliwon merupakan hari prabawanya dari Sang Hyang Siwa sebagai kekuatan dharma yang merupakan manifestasi dari kekuatan Dewa.
Dan pada saat hari suci Kajeng Kliwon diyakini oleh umat Hindu sebagai harinya Sang Hyang Siwa untuk melaksanakan yoga samadhinya untuk keselamatan dunia.

Mengenai hari suci Kajeng Kliwon dalam lontar Sundarigama disebutkan ; sementara itu pada hari raya Kajeng Kliwon untuk upakaranya sama seperti hari Kliwon hanya tambahannya yaitu segehan warna lima tanding.

Untuk itu setiap umat diharapkan pada saat hari suci Kajeng Kliwon untuk melakukan penyucian diri dan bersikap untuk lebih berhati - hati dalam bertindak, karena kekuatan negatif cenderung lebih besar dari pada kekuatan yang positif, dan itu semua akan dapat mempengaruhi kehid**an dari manusia yang ada dimuka bumi ini.

Pada hari suci Kajeng Kliwon ada beberapa umat yang meyakininya bahwa, Sang Tiga Bhucari memohon restu dari Sang Durga Dewi untuk membuat bahaya, mengundang semua desti, teluh terang jana dan juga untuk menggoda orang yang tidak berbuat baik atau orang yang berbuat adharma.
Dengan demikian sudah sepatutnya dan sudah menjadi suatu kewajiban kita sebagai umat Hindu untuk menghaturkan persembahan dimerajan, pura dan tempat suci lainnya
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Yadnya atau Banten yang dipersembahkan berupa ; canang sari, canang raka, puspa harum, segehan kepelan, segehan putih kuning, segehan panca warna dan sebagainya. Didepan pintu pekarangan sebelah atasnya dihaturkan sesajen pada Sang Hyang Durga Dewi berupa canang wangi, burat wangi, canang yasa dan semua itu hendaknya disesuaikan dengan tempat atau keadaan serta kemampuan dari
setiap umat.

Dan dengan kita menghaturkan semua persembahan itu diharapkan agar bisa untuk mewujudkan keseimbangan alam Niskala dari alam bhuta menjadi alam Dewa.

Semua jenis Banten (upakara) adalah merupakan simbul diri kita, lambang kemaha - kuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung.
(Lontar Yajna Prakrti)
Kata segehan berasal kata Sega yang berarti nasi, jika dalam bahasa Jawa disebut sego. Oleh sebab itu, banten segehan itu isinya di dominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya. Bentuk nasinya ada yang berbentuk nasi kepelan (nasi dikepal) wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang, janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti ; bawang merah, jahe, garam dan lain - lainnya dan dipergunakan juga api takep yang terbuat dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda tambah (+) atau sw****ka, bukan api d**a, disertai beras serta tetabuhan berupa air, tuak, arak dan juga berem.

Makna dari Segehan

Segehan mempunyai arti suguh atau menyuguhkan dalam hal ini segehan dihaturkan kepada para Bhuta kala agar tidak mengganggu dan juga Ancangan atau Iringan dari Para Bhatara dan Bhatari, yang tak lain adalah merupakan akumulasi dari limbah atau kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan juga perbuatan manusia dalam kurun
waktu tertentu.

Dan dengan sarana segehan itu diharapkan nantinya dapat untuk menetralisir dan dapat menghilangkan pengaruh negatip dari limbah tersebut. Segehan juga dapat dikatakan sebagai lambang harmonisnya hubungan antara manusia dengan semua ciptaan dari Tuhan (palemahan).

Segehan ini biasanya dihaturkan setiap hari atau pada saat rerahinan dan hari - hari tertentu, dan penyajiannya itu diletakkan didepan pelinggih atau dinatar Merajan, Pura, halaman rumah, didepan pintu gerbang, pertigaan, perempatan jalan dsb. dan Caru itu juga banyak disinggung dalam lontar Kala Tattva, lontar Bhamakertih, dan Susastra Smerti.

Segehan nasi Kepel Putih merupakan segehan yang paling sederhana dan biasanya untuk dihaturkan setiap hari.
Segehan panca warna itu biasanya di letakkan atau dipersembahkan di natar merajan, halaman rumah, pintu keluar masuk pekarangan (lebuh, pemeda­l) dipertigaan, perempatan jalan dsb.

Semua unsur dari Segehan itu sejatinya memiliki suatu filosofi didalamnya yaitu :
Alas dari daun atau taledan kecil yang berisi tangkih disalah satu ujungnya, taledan yang berbentuk segi empat yang merupakan lambang dari arah mata angin.
- Nasi putih 2 kepal, yang melambangkan dari Rwa bhineda
- Jahe, secara ilmiah memiliki sifat panas, semangat dibutuhkan oleh manusia tapi tidak boleh emosional.
- Bawang, memiliki sifat dingin, manusia harus menggunakan kepala yang dingin dalam berbuat tetapi tidak boleh bersifat dingin terhadap masalah-masalah sosial (cuek)
- Garam, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi yang merugikan manusia (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin)
- Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol yang secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai untuk membunuh berbagai macam kuman atau bakteri yang merugikan.
- Dalam ilmu kedokteran alkohol digunakan juga untuk mensterilkan dari alat-alat kedokteran.
- Metabuh pada saat masegeh bertujuan agar semua bakteri, Virus, kuman yang dapat merugikan yang ada disekitar tempat itu akan menjadi hilang ataupun mati.

Semoga Bermanfaat

📷 : google (hanya ilustrasi)

| | | | | | |
Facebook :
https://web.facebook.com/wiwekabali.id/
Instagram :
https://www.instagram.com/wiwekabali/

03/11/2020

Buda Wage Merakih

Hari suci Buda Wage Merakih disebut juga dengan Buda Cemeng Merakih, kata Cemeng itu dapat diartikan juga sebagai Ireng, gelap, hitam dan juga malam.

Wage Merakih merupakan hari suci yang perhitungannya berdasarkan wuku, dan merupakan pertemuan antara unsur saptawara Buda (Rabu) dengan panca wara Wage dan juga wuku Merakih. Buda Wage Merakih diperingati dan juga dirayakan oleh umat Hindu setiap 6 bulan sekali atau setiap 210 hari sekali.

Pada saat hari Buda Wage Merakih, seseorang diharapkan untuk mewujudkan inti hakekat kesucian pikiran, dengan jalan mengendalikan sifat - sifat kenafsuan atau indria - indrianya.

Dalam satu tahun kalender Bali, umat Hindu merayakan hari suci Buda Wage atau Buda Cemeng sebanyak 6 kali dan
yang terdiri dari ;
1️. Buda Wage ukir
2️. Buda Wage Warigadean
3️. Buda Wage Langkir
4️. Buda Wage Merakih
5️. Buda Wage Menail
6️. Buda Wage Klawu

Buda Wage Merakih merupakan hari pemujaan terhadap Sang Hyang Manik Galih atau Dewi Sri atau Dewi Laksmi yang merupakan sakti dari Dewa Wisnu atau yang sering juga disebut dengan Sang Hyang Sri Nini yang berfungsi sebagai Dewi kesuburan dan juga Dewi kemakmuran.

Di dalam kutipan lontar Sundari Gama
disebutkan bahwa ;
Buda Wage disebut juga Buda Cemeng, pada hari suci tersebut merupakan hari payogan dari Sang Hyang Manik Galih, dengan jalan menurunkan Sang Hyang Omkara Amrta atau inti hakekat kehid**an diluar ruang lingkup dunia skala.

Disanggar atau dimerajan dan diatas tempat tidur menghaturkan canang wangi - wangian dan juga persembahan kepada Sang Hyang Sri dilumbung serta pada malam harinya melaksanakan perenungan suci atau semadhi, yang bertujuan untuk menenangkan pikiran dan kedamaian serta kebahagiaan.

Dalam kutipan Bhagawad Gita 2.48 ada disebutkan bahwa ;
Yoga tidak selalu melakukan tapa, Brata dan semadhi, yoga dapat p**a berarti melakukan kewajiban atau pekerjaan yang seimbang dalam menjalankan kehid**an kita masing - masing, terlepas dari keberhasilan ataupun kegagalan kita tetap harus berusaha dan berjuang untuk melakukan kewajiban atau pekerjaan tersebut.

Dari semua itu dapat kita petik hikmahnya, bahwa sebagai umat manusia kita harus berusaha untuk bisa mengendalikan diri dan juga mengekang segala hawa nafsu yang ada pada diri kita.

yang mampu mengendalikan indrianya dan memusatkan pikirannya kepada Ku, dialah orang yang memiliki kesadaran sejati.
(Bhagawad Gita 2.61)

Foto : Google (hanya ilustrasi)

30/10/2020

MAKNA TUMPEK KRULUT

Hari Tumpek Krulut jatuh pada hari Sabtu kliwon, wuku Krulut, yaitu setiap 6 bulan atau 210 hari kalender. Pada hari Tumpek Krulut masyarakat hindu mengadakan pemujaan puji syukur kepada Tuhan dalam manisfestasinya sebagai Dewa Iswara, yang telah terciptanya suara-suara suci dalam bentuk Tabuh atau Gamelan.

Istilah dari Tumpek Krulut diambil dari nama wuku (penanggalan jawa dan bali) berdasarkan kalender Bali, yaitu “lulut” yang memiliki makna jalinan atau rangkaian. Jadi Hari Tumpek Krulut merupakan wujud dari kasih sayang terhadap alat-alat seni berupa gamelan atau tetabuhan.

Hari Tumpek Krulut jika dicermati secara mendalam sesungguhnya sebagai sarana memunculkan rasa saling asih, asah dan asuh di antara sesama manusia melalui sarana seni tetabuhan, hasil dari karya cipta Hyang Widhi yang membuat rasa tertarik, senang, dan terpesona dalam kehid**an.

Krama Hindu di Bali selama ini merayakan hari Tumpek Krulut sebagai hari piodalan di pelinggih penyarikan di banjar - banjar.
Di Hari Tumpek Krulut krama banjar mengupacarai perangkat Gamelan atau Tetabuhan. Di dalam masyarakat tetabuhan sangat identik dengan Gong .
Oleh sebab itu Hari Tumpek Krulut juga sering disebut dengan Odalan Gong atau Otonan Gong yang bertujuan agar perangkat suara untuk kelengkapan upacara tersebut memiliki suara yang indah dan bertaksu.

Tumpek Krulut. Menghaturkan sesaji kepada Ida Sang Hyang Widi / Bhatara Iswara di Sanggah Kemulan, mohon keselamatan.
Sesajen yang dihaturkan pada hari Hari Tumpek Krulut yaitu peras pengambean, ajuman, tigasan, beserta tipat/ketupat gong.

Hari kasih sayang di Bali sudah ada sejak zaman dulu seperti hal nya hari valentine. Hanya saja banyak orang yang belum memahami kalau Hari Tumpek Krulut merupakan hari kasih sayang. Momen Hari Tumpek Krulut adalah salah satu implementasi dari Tri Hita Karana yang melibatkan yadnya atau korban suci.

Korban suci adalah bagian dari cinta yang tulus.
RAHAJENG RAHINA TUMPEK KRULUT

Sumber : colekpamor.com
Foto : google (hanya ilustrasi)

Want your establishment to be the top-listed Arts & Entertainment in Tabanan?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Address


Bali/Indonesia
Tabanan
82181