DIACARE

DIACARE

Share

Photos from DIACARE's post 08/06/2025

Awal Mula: Saat “Penyakit Gula” Menjadi Simbol Kemewahan

“Penyakit gula.” Begitulah generasi terdahulu menyebut Diabetes. Kata-kata itu terdengar sederhana, bahkan akrab — namun menyimpan cerita panjang tentang perubahan gaya hidup, budaya, dan sistem kesehatan kita sebagai bangsa.

Hari ini, diabetes bukan lagi sekadar isu medis, melainkan juga cermin dari perubahan zaman.

Tapi bagaimana perjalanan penyakit ini di Indonesia?

Apa yang bisa kita pelajari dari sejarahnya untuk menghadapi masa depan yang lebih sehat?

Mari kita menelusuri jejak Diabetes di negeri ini, dari masa kolonial hingga era digital, dengan mata yang terbuka dan hati yang siap memahami.

___
Diabetes di Indonesia: Dari Warisan Budaya ke Tantangan Modern

Sejarah mencatat bahwa sebelum abad ke-20, Diabetes bukanlah penyakit yang umum di kalangan masyarakat Nusantara.

Konsumsi gula, makanan olahan, dan pola makan tinggi kalori sangat terbatas. Makanan pokok orang Indonesia didominasi oleh nasi, singkong, umbi-umbian, ikan, sayuran, dan rempah.

Gula adalah barang mewah, dan hanya segelintir bangsawan atau elite kolonial yang bisa mengonsumsinya secara rutin.

Namun, catatan dokter kolonial Belanda mulai mencatat keberadaan kasus Diabetes mellitus pada awal 1900-an.

Penyakit ini lebih sering ditemukan pada warga Eropa yang tinggal di Hindia Belanda dan kelompok priyayi lokal yang telah mengadopsi gaya hidup barat.

Sebagai contoh, dalam arsip medis RS Militer Batavia (kini RSPAD Gatot Subroto), ditemukan dokumentasi tentang pasien Eropa dengan gejala “poliuria dan penurunan berat badan yang drastis”, yang kemudian diidentifikasi sebagai diabetes. Saat itu, pengobatan masih terbatas pada diet ketat dan istirahat.

Insulin baru ditemukan oleh Frederick Banting dan Charles Best pada 1921 — dan belum mudah diakses di Hindia Belanda sampai beberapa dekade kemudian.

___
Pasca-Kemerdekaan: Ketika Modernisasi Menjadi Pedang Bermata Dua

Setelah kemerdekaan tahun 1945, Indonesia memasuki era pembangunan yang agresif.

Modernisasi ekonomi, urbanisasi, dan pertumbuhan industri pangan menyebabkan perubahan besar dalam pola konsumsi masyarakat.

Makanan cepat saji mulai dikenal.
Gula, minyak, dan tepung menjadi lebih mudah diakses dan murah. Sayangnya, transformasi ini tidak disertai dengan edukasi gizi yang memadai.

Pada 1960-an hingga 1980-an, Diabetes masih dianggap penyakit orang kaya. Banyak masyarakat menganggapnya sebagai “kutukan” atau akibat karma, bukan sebagai masalah kesehatan yang bisa dicegah dan dikelola. Di pedesaan, diagnosis jarang terjadi karena akses ke layanan kesehatan terbatas.

Namun, dokter-dokter Indonesia mulai aktif meneliti dan membangun pemahaman tentang penyakit ini.

Salah satu tokoh penting adalah Prof. Dr. Soegih Reksoprodjo, yang pada era 1970-an menjadi pelopor dalam pendidikan Endokrinologi di Indonesia dan membantu mendirikan layanan Diabetes di berbagai rumah sakit besar.

___
Era 1990-an: Bangkitnya Kesadaran, Namun Tantangan Semakin Nyata
Di tahun 1990-an, lonjakan kasus Diabetes mulai terasa nyata.

Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan (kini Kementerian Kesehatan) mulai memasukkan Diabetes sebagai prioritas nasional. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mulai menunjukkan angka yang mengkhawatirkan.

Sebagai gambaran, prevalensi Diabetes di Indonesia pada 1980-an berada di bawah 1%. Namun pada 1995, angka ini melonjak ke sekitar 2,4%, dan terus naik seiring berjalannya waktu.

Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan menjadi episentrum lonjakan. Gaya hidup sedentari, konsumsi makanan instan, dan kurangnya olahraga menjadi penyebab utama.

Industri makanan turut berkontribusi: minuman manis, jajanan cepat saji, dan produk tinggi kalori menjamur.

Di sisi lain, literasi kesehatan masyarakat masih terbatas. Banyak yang tidak menyadari bahwa mereka mengidap Diabetes hingga komplikasi muncul, seperti gagal ginjal, kebutaan, atau luka kaki yang sulit sembuh.

___
2000-an ke Atas: Dari Epidemi ke Krisis Kesehatan Publik
Memasuki abad ke-21, Diabetes resmi menjadi epidemi.

Data dari International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan bahwa pada 2021, Indonesia menjadi negara dengan Penyandang Diabetes terbanyak kelima di dunia, dengan lebih dari 19 juta orang dewasa hidup dengan Diabetes.

Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah: hampir 75% tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini.

Penyebabnya kompleks:
Perubahan gaya hidup generasi muda yang semakin digital dan minim aktivitas fisik

Konsumsi makanan ultra-proses dan tinggi gula

Kurangnya edukasi berkelanjutan tentang gizi

Kurangnya deteksi dini dan skrining rutin

Meskipun BPJS Kesehatan sudah menanggung biaya pengobatan Diabetes, sistem masih kewalahan menghadapi komplikasi.

Rumah sakit penuh dengan pasien penyakit tidak menular — dan Diabetes menjadi salah satu kontributor utama.

___
Budaya & Stigma: Antara Mitos dan Realitas

Di balik data dan angka, ada juga aspek budaya yang perlu dipahami. Banyak masyarakat Indonesia masih menganggap diabetes sebagai “penyakit keturunan” yang tidak bisa dicegah.

Ada p**a mitos bahwa suntik insulin berarti sudah “stadium akhir” atau “pasti akan diamputasi.”

Padahal, ilmu kedokteran sudah membuktikan bahwa:
Diabetes bisa dicegah dengan gaya hidup sehat

Pengelolaan Diabetes yang baik bisa membuat seseorang hidup panjang dan produktif

Insulin bukan akhir, tapi justru solusi bagi banyak orang dengan Diabetes tipe 1 dan tipe 2

Stigma ini membuat banyak pasien menunda pengobatan, takut diperiksa, atau bahkan bergantung pada pengobatan alternatif tanpa dasar ilmiah.

___
Harapan Baru: Teknologi, Komunitas, dan Gerakan Literasi
Meski tantangan besar, harapan selalu ada.

Hari ini, berbagai inovasi hadir untuk membantu pengelolaan Diabetes di Indonesia:
Aplikasi pemantau gula darah seperti MySugr, GlucoTrack, dan aplikasi lokal dari rumah sakit besar mulai digunakan.

Wearable technology memungkinkan pemantauan gula darah tanpa tusuk jari setiap hari.

Komunitas pasien Diabetes semakin banyak, baik offline maupun online, seperti SobatDIA, Komunitas DM Type 1 Indonesia, hingga support group berbasis WhatsApp.

Tak hanya itu, tokoh publik mulai terbuka berbicara tentang Diabetes, dari selebritas, politisi, hingga influencer kesehatan.

Gerakan literasi digital tentang gizi, olahraga, dan hidup sehat mulai menggeliat. Kini banyak webinar, podcast, dan konten TikTok yang membahas Diabetes dengan cara yang ringan, informatif, dan relatable untuk generasi muda.

___
Melihat ke Depan: Mengapa Kita Harus Peduli?
Diabetes bukan lagi “penyakit orang kaya”, melainkan penyakit masyarakat modern. Kita semua berisiko, baik tua maupun muda.

Namun, bukan berarti kita harus takut — melainkan sadar.
Sadar bahwa pencegahan adalah kunci: makan seimbang, rutin bergerak, tidur cukup, dan mengurangi stres.

Sadar bahwa deteksi dini menyelamatkan: cek gula darah secara berkala, apalagi jika ada riwayat keluarga.

Sadar bahwa dukungan sosial penting: saling menyemangati, bukan menyalahkan.

Negara, institusi kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat sipil harus bergandengan tangan. Membangun Indonesia yang sehat adalah kerja bersama lintas generasi.

___
🤝 Bergabunglah Bersama SobatDIA: Komunitas Support System untuk Penyandang Diabetes di Indonesia
Di balik angka-angka dan fakta medis, ada jutaan kisah manusia. Mereka yang berjuang diam-diam dengan insulin, dengan luka yang tak kunjung sembuh, dengan rasa takut akan komplikasi. Tapi mereka tidak harus berjalan sendiri.

Sobat Diabetes (SobatDIA) hadir sebagai Support System dan Gerakan Sosial yang berfokus pada edukasi, pemberdayaan, dan aksi nyata untuk penyandang diabetes di Indonesia.

🌟 SobatDIA diinisiasi oleh DIACARE® (Diabetes Care Indonesia) melalui kampanye besar INDONESIA LAWAN DIABETES, dengan pilot project di Kota Surakarta (Solo).

🎯 Goal Indonesia Sehat, Indonesia Produktif:
Menekan angka prevalensi diabetes yang terus meningkat
Meningkatkan taraf hidup para penyandang diabetes
Mewujudkan Indonesia Sehat dan Indonesia Produktif

👐 Kami bergerak melalui:
Edukasi dan sosialisasi penyakit diabetes
Kegiatan amal & kesehatan masyarakat
Dukungan psikososial & emosional untuk penyandang diabetes
Aksi-aksi pemberdayaan di lapangan

___
📢 Dukung Perjuangan Ini: Yuk, Jadi Bagian dari Perubahan!
💖 Salurkan Donasi Kebaikanmu ke:
Bank Syariah Indonesia (BSI)
Nomor Rekening: 11–11–22–33–07
A.N. Yayasan SobatDIA Sobat Diabetes
(Kode Bank: 451)

Atau melalui:
📱 QRIS Donasi → https://wa.me/p/26584993401098990/6285727777902

📖 Lihat juga katalog WhatsApp resmi:
➡️ Katalog Informasi Akun Bank
https://wa.me/p/6773665819410410/6285727777902

___
📲 Gabung & Ikuti Kami di Media Sosial untuk Terhubung dan Berkontribusi
🔴 Subscribe YouTube:
👉 youtube.com/
📸 Instagram:
👉 https://instagram.com/sobatdia
📘 Facebook:
👉 https://www.facebook.com/sobatdiabetes
🎵 TikTok:
👉 https://tiktok.com/
💼 LinkedIn:
👉 linkedin.com/company/sobat-diabetes
📱 WhatsApp Contact Center:
👉 wa.me/6285727777902
🤝 Volunteer page:
👉 facebook.com/volunteersobatDIA

📍Alamat Resmi
🏢 Kantor DIACARE
Jl. Ki Hajar Dewantara №19, Jebres, Surakarta 57126

🏡 Basecamp SobatDIA
Jl. K.H. Samanhudi №82, Laweyan, Surakarta 57142

🔖 SobatDIA telah resmi terdaftar sebagai Yayasan di Kemenkumham
Nomor: AHU-0023526.AH.01.04.TAHUN 2022

🌱 Jangan tunggu sampai terlambat. Jadilah bagian dari gerakan sosial yang berdampak.

Ayo, kita buktikan bahwa bersama, Indonesia bisa lawan diabetes!

Dari Sejarah Kita Belajar, Untuk Masa Depan Kita Bergerak
Perjalanan Diabetes di Indonesia adalah refleksi dari perjalanan kita sebagai bangsa. Dari zaman kolonial yang penuh keterbatasan, hingga hari ini saat kita dihadapkan pada pilihan: terus membiarkan gaya hidup modern mengalahkan kita, atau justru mengendalikannya dengan bijak.

Kini saatnya menjadikan kesehatan sebagai warisan terbaik untuk anak cucu. Mari kita mulai dari yang sederhana: satu langkah lebih banyak, satu sendok gula lebih sedikit, satu ajakan untuk periksa lebih awal.

Karena sejarah bukan hanya untuk dikenang — tetapi untuk dijadikan dasar tindakan hari ini dan esok.

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, bagikan kepada orang terdekat. Mari kita sebarkan kesadaran dan harapan bersama.





Article Team Sobat Diabetes Indonesia
via https://www.instagram.com/sobatdiabetesindonesia/

Want your business to be the top-listed Health & Beauty Business in Surakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address


Surakarta
5714257136571