Robithoh 37
19/04/2026
2.“TAJRID dan KASAB”
٭ إرادَتـُكَ التَجْرِيْدَ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى الاَسْبَابِ مِنَ الشَهْوةِ الخفِيَّةِ، وَإرادَتـُكَ الاَسْبَابِ معَ اِقامةِاللهِ اِيّاكَ فى التَجْرِيْدَ اِنْحطاط ٌ عن الهِمَّةِ العَليَّةِ ٭
2.“Keinginanmu untuk tajrid [hanya beribadat saja tanpa berusaha untuk dunia], padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha [kasab], maka keinginanmu itu termasuk nafsu syahwat yang samar [halus]. Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha [kasab], padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang harus beribadat tanpa kasab [berusaha], maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat yang tinggi”.
Sebagai seorang yang beriman, haruslah berusaha menyempurnakan imannya dengan berfikir tentang ayat-ayat Alloh, dan beribadah dan harus tahu bahwa tujuan hidup itu hanya untuk beribadah(menghamba) kepada Alloh,sesuai tuntunan Al-qur’an.
Tetapi setelah ada semangat dalam ibadah, kadang ada yang berpendapat bahwa salah satu yang merepoti/mengganggu dalam ibadah yaitu bekerja(kasab). Lalu berkeinginan lepas dari kasab/usaha dan hanya ingin melulu beribadah.
Keinginan yang seperti ini termasuk keinginan nafsu yang tersembunyi/samar.
Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Apa lagi kalau majikan itu adalah Alloh yang maha mengetahui tentang apa yang terbaik bagi hambanya.
Dan tanda-tanda bahwa Alloh menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha [kasab], apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan lalai menjalankan suatu kewajiban dalam agamamu, juga menyebabkan engkau tidak tamak [rakus] terhadap milik orang lain.
Dan tanda bahwa Allah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha [Tajrid]. Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak tersangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban.
Syeikh Ibnu ‘Atoillah berkata : “Aku datang kepada guruku Syeikh Abu Abbas al- mursy. Aku merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu lahiriah dan bergaul dengan sesama manusia (kasab) agak jauh dan tidak mungkin. tiba-tiba sebelum aku sempat bertanya, guru bercerita: Ada seorang ahli dibidang ilmu lahiriah, ketika ia dapat merasakan sedikit dalam perjalanan ini, ia datang kepadaku sambil berkata: Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti perjalananmu. Aku menjawab: Bukan itu yang kamu harus lakukan, tetapi tetaplah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allah kepadamu pasti sampai kepadamu. #
19/04/2026
BERSANDARLAH PADA ALLAH, BUKAN PADA AMAL hikam ke 1Kitab Alhikam Ibnu Atthailah asakandari
٭ مِنْ علاماتِ الاِعْتِمادِ عَلىَ العَملِ نـُقـَصَانُ الرَّجاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّللِ ٭
Salah satu tanda bahwa seseorang bergantung pada kekuatan amal dan usahanya adalah ketika pengharapannya terhadap rahmat dan karunia Allah berkurang saat ia terjatuh dalam kesalahan atau dosa.
Setiap orang yang beramal ibadah pasti memiliki harapan kepada Allah, memohon agar kebaikan tercapai melalui amalnya. Namun, jangan sampai kita bersandar pada amal itu sendiri karena sejatinya, Allah-lah yang menggerakkan kita untuk beramal. Apabila seseorang melakukan kesalahan, seperti terjerumus dalam maksiat atau meninggalkan ibadah rutinnya, jangan sampai ia merasa putus asa atau kehilangan harapan kepada rahmat Allah. Ketika pengharapan kepada rahmat Allah melemah, semangat dalam beramal pun akan turut pudar, bahkan bisa berhenti sama sekali.
Sejatinya, amal kita semua terjadi atas kehendak dan izin Allah. Kita hanyalah media bagi berlangsungnya kekuasaan Allah di dunia ini. Lafaz *Laa ilaha illallah* yang memiliki makna “Tiada Tuhan selain Allah” menegaskan bahwa tiada tempat bersandar, berlindung, dan berharap selain kepada Allah, karena hanya Dia yang memberi kehidupan dan kematian, menganugerahkan rezeki, serta menolak segala keburukan.
Syariat Islam memang memerintahkan kita untuk berusaha dan beramal. Namun, syariat juga mengajarkan agar tidak menyandarkan hati sepenuhnya pada amal tersebut. Kita harus tetap bersandar kepada rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jika kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, pohon, kuburan, binatang, maupun manusia, maka jangan sampai kita menyekutukan-Nya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Jangan merasa bahwa diri ini mampu berdiri tanpa pertolongan-Nya. Semua taufik, hidayah, rahmat, dan karunia yang kita dapat berasal sepenuhnya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. berat
Kisah awal iblis berkembang biak pada masa nabi Adam di surga
berat
14/04/2026
Al-Ghazali sering mengibaratkan hati manusia seperti sebuah cermin.
Kotoran pada Cermin: Dosa, kesombongan, rasa iri, dan kecintaan berlebih pada dunia dianggap sebagai "debu" atau "karat" yang menutupi cermin hati. Jika cermin itu kotor, ia tidak bisa memantulkan apa pun.
Cahaya Tuhan: Kebenaran, hidayah, dan ketenangan dari Tuhan selalu ada di mana-mana. Namun, hanya hati yang bersih (qalbun salim) yang mampu menangkap dan memantulkan cahaya tersebut sehingga pemiliknya bisa "melihat" kebenaran dengan mata batinnya.
Tujuan Al-Ghazali menyampaikan kutipan ini adalah untuk mengajak kita melakukan beberapa hal:
Tazkiyatun Nafs (Pembersihan Jiwa): Mengingatkan bahwa tugas utama manusia bukan hanya menghias lahiriah (fisik/harta), tapi rajin membersihkan batin dari penyakit hati.
Mencapai Makrifat: Agar manusia bisa mencapai tingkat makrifat (mengenal Allah). Kita tidak bisa mengenal Tuhan dengan logika semata; kita mengenal-Nya ketika hati kita sudah cukup jernih untuk merasakan kehadiran-Nya.
Konsistensi dalam Kebaikan: Menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan buruk akan meninggalkan noda hitam di hati, sementara kebaikan akan mengilapkannya kembali.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Jalan Raya Bandung Garut Km 24
Sumedang
45364