Ayu Azizah

Ayu Azizah

Share

13/04/2026

JODOHKU DUDA TAMPAN Season2
Bab01 [Bukan Akhir dari Cerita]

Hanya sedikit pemberitahuan untuk pembaca semua. Sebelumnya saya tidak berniat melanjutkan cerita ini ke Season2, alasannya karena tidak punya ide lagi.

Setelah membaca ceritanya lagi dan lagi, tiba-tiba aku kepikiran untuk melanjutkan cerita ini ke Season2. Rasanya endingnya tidak terlalu memuaskan.😁

Sebelum membaca cerita ini, ada baiknya membaca Season1 dahulu. Untuk cerita lengkapnya, pembaca semua bisa membeli e-booknya di play store book.

Selamat membaca.

Menikah bukan berarti harus hidup bersama selamanya. Itulah yang terjadi kepada kakak perempuannya Kaila, setelah tujuh tahun menikah, akhirnya wanita itu memutuskan untuk berpisah dari suaminya.

Namun, Ryan tidak ingin berpisah dari Naila. Meski Naila sudah berulang kali meminta pisah, tapi Ryan masih bersikukuh untuk mempertahankan pernikahannya. Naila yang sudah tidak sanggup menjalani bahtera rumah tangga bersama Ryan, akhirnya memilih pergi tanpa sepengetahuan keluarganya. Meninggalkan suami dan putri semata wayangnya begitu saja.

•••

Jam di atas nakas menunjukkan pukul 23.00 malam. Kaila tengah tidur bersama suami dan anak kembarnya. Ponsel yang berada di atas tiba-tiba berdering cukup keras. Layar ponsel menunjukkan kalau telpon itu berasal dari 'Emak.'

Kaila yang berada di dekat ponsel seketika terbangun dari tidurnya, lalu dengan mata mengantuk dia mengambil ponselnya. Keningnya langsung berkerut saat melihat nama emaknya. Tidak biasanya sang emak menelpon malam-malam kalau itu bukan hal yang penting.

Kaila bangun dari tidurnya lalu turun dari atas tempat tidur, berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengangkat telpon dari emaknya. Kaila tidak ingin membangunkan suami dan anak kembarnya yang sedang tidur karena suaranya.

"Assalamualaikum, Mak!" ucap Kaila setelah mengangkat telpon.

[Wa'alaikumsalam. Kaila, Naila kabur dari rumah.] Buk Yanti terdengar menangis saat mengatakannya.

"Apa?! Kak Naila kabur dari rumah?!" Kaila tanpa sadar meninggikan suaranya. Beruntung sekarang dia ada di kamar mandi. "Apa yang terjadi? Kenapa kak Naila tiba-tiba kabur dari rumah?" lanjutnya.

[Emak juga tidak tahu. Tapi semua baju-bajunya sudah tidak ada lagi di dalam lemari. Nomornya juga sudah tidak bisa dihubungi lagi.]

"Lalu bagaimana dengan anaknya?" tanya Kaila yang tiba-tiba teringat dengan keponakannya Angel.

[Angel ditinggal.]

Kaila tanpa sadar menghela nafas kasarnya. "Apa yang dipikirkan Naila? Kenapa tiba-tiba kabur dari rumah? Bahkan juga meninggalkan putrinya," ucap Kaila merasa kesal dengan kakak perempuannya.

[Emak juga bingung. Ryan bilang kalau mereka baik-baik saja.]

"Ya sudah. Aku akan mencoba menghubunginya dulu," ucap Kaila sebelum menutup telpon dari emaknya.

Kaila langsung menghubungi kakak perempuannya, tapi malah tidak tersambung. Kaila juga mengirimkan pesan ke semua media sosial kakak perempuannya, tapi kakak perempuannya malah memblokir semua media sosialnya. Sepertinya kakak perempuannya benar-benar tidak ingin ditemukan oleh siapapun.

Tak tahu harus berbuat apa lagi. Kaila melangkah keluar dari dalam kamar mandi, lalu berakhir di dekat suaminya yang sedang tidur.

"Sayang! Bangun...," ucap Kaila sembari mengguncang tubuh suaminya.

Farhan langsung membuka matanya lalu melirik ke arah sang istri. "Ada apa sayang?" tanyanya dengan mata yang masih mengantuk.

"Kak Naila kabur dari rumah," ucap Alya memberitahu.

Sontak Farhan membuka matanya dengan lebar dan setelah itu dia mengubah posisinya menjadi duduk. "Apa yang terjadi? Kenapa kak Naila kabur dari rumah?" tanya Farhan yang sengaja memelankan suaranya karena tidak ingin membuat anak kembar mereka terbangun.

"Aku juga tidak tahu," jawab Kaila dengan menggelengkan kepalanya, raut wajahnya tampak sedih tapi juga marah secara bersamaan. "Aku sudah menelponnya, mengirimkan pesan kepadanya, dan sepertinya dia memblokirku. Aku merasa kesal karena kak Naila kabur tanpa membawa putrinya, padahal dia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan," lanjutnya yang terdengar kesal.

"Ya sudah. Aku akan meminta Wahyu untuk mencari informasi ke mana kak Naila pergi," ucap Farhan yang langsung dibalas anggukan oleh istrinya.

Farhan turun dari atas tempat tidur. "Tidurlah lagi. Aku akan memberitahu sayang kalau nanti Wahyu sudah mendapatkan informasi tentang kak Naila," ucap Farhan menuntun wanita itu agar kembali berbaring di atas tempat tidur.

Kaila hanya pasrah mengikuti perkataan suaminya. Meski pikirannya sedang kacau, tapi apa yang bisa dia lakukan selain percaya kepada suaminya.

"Sayang jangan terlalu banyak pikiran. Pasti ada alasan kenapa kak Naila memilih kabur dari rumah. Selain itu kak Naila seorang wanita dewasa. Dia pasti akan baik-baik saja di manapun kak Naila berada saat ini." Farhan mencoba menenangkan istrinya sembari mengusap lembut kepala istrinya.

"Hm," balas Kaila dengan mengaguk.

"Aku akan menemui Wahyu dulu," ucap Farhan dan lagi-lagi dibalas anggukan oleh istrinya.

Farhan mencium kening istrinya sebelum melangkah keluar dari dalam kamar. Menuruni anak tangga hingga berakhir di depan pintu. Farhan langsung mengetuk pintu tersebut.

Tok, tok, tok!

"..."

Tidak ada suara seseorang akan membuka pintu dari dalam. Farhan mengetuk pintu itu lagi. Tak lama pintu dibuka dari dalam, menampakkan Wahyu yang baru bangun dari tidurnya.

Farhan langsung meminta maaf karena sudah mengganggu bawahannya yang tengah beristirahat. "Maaf, mengganggu kamu malam-malam Wahyu," ucapnya.

"Iya, tidak apa-apa, Pak. Bapak butuh bantuan apa?"

"Kakak ipar saya kabur dari rumah. Apa kamu bisa mencarikan informasi ke mana dia pergi?"

Wahyu langsung mengagukan kepalanya. "Tentu saja, Pak," jawabnya. "Silahkan masuk, Pak," lanjut Wahyu yang kemudian mempersilahkan atasannya itu masuk ke dalam kamarnya.

Farhan mengagukan kepalanya lalu berjalan mengikuti Wahyu masuk ke dalam kamar. Wahyu mengambil kursi untuk Farhan duduk. "Silahkan duduk dulu, Pak," ucap Wahyu mempersilahkan.

"Terima kasih," balas Farhan yang kemudian duduk di kursi tersebut.

Wahyu kemudian duduk di kursi yang biasanya dia gunakan untuk bermain game saat merasa bosan, lalu menyalakan komputer di depannya.

"Ini informasi tentang kakak ipar saya," ucap Farhan sembari memperlihatkan akun media sosialnya Naila di ponselnya.

Setelah melihat sebentar, jari-jari tangan Wahyu dengan cepat menari-nari di atas layar keyboard, dan kedua mata yang begitu fokus menatap angka-angka yang tidak dimengerti oleh orang lain. Selain menjadi supir dan bodyguard keluarganya Farhan, pria berbadan kekar itu memang memiliki keahlian dalam mencari informasi siapapun. Bisa dikatakan kalau dia seorang hacker profesional. Namun sengaja dia tidak menggunakan keahliannya untuk bekerja.

Butuh sekitar sepuluh menit sebelum dia menemukan informasi tentang keberadaan kakak iparnya Farhan. "Pak, saya sudah menemukan Buk Naila. Saat ini Buk Naila ada di Jakarta," ucapnya sembari menunjukkan lokasi keberadaan Naila di layar komputernya.

Mencari keberadaan Naila sama sekali tidak sulit bagi Wahyu. Selama ponselnya masih menyala, maka Wahyu masih bisa menemukan keberadaan orang tersebut.

"Terima kasih, Wahyu," ucap Farhan tampak senang.

"Iya, Pak," balas Wahyu dengan mengaguk.

Farhan bangun dari duduknya lalu mengambil ponselnya di atas meja. "Kalau begitu kamu bisa beristirahat kembali," ucapnya sebelum melangkah pergi.

Wahyu hanya mengagukan kepalanya. Setelah Farhan pergi, Wahyu mematikan kembali komputernya dan berjalan menuju ranjangnya karena pria berbadan kekar itu masih merasa mengantuk.



Farhan baru saja sampai di kamarnya, istrinya ternyata sudah tidur. Mau tak mau Farhan harus membangunkan istrinya itu.

"Sayang!" panggilnya.

Kaila langsung membuka matanya lalu melirik ke arah sang suami. "Apa sayang sudah menemukan informasi tentang keberadaan kak Naila?" tanyanya.

Farhan mengagukan kepalanya. "Aku sudah menemukan keberadaan kak Naila. Saat ini kak Naila ada di Jakarta."

"Jakarta?" ulang Kaila dengan mengerutkan keningnya.

"Hm," balas Farhan dengan mengaguk.

Seketika Kaila dibuat bingung. Mereka sama sekali tidak memiliki kerabat di sana. Kaila sungguh penasaran dengan alasan kakak perempuannya pergi sejauh itu. Apa kakak perempuannya memiliki banyak masalah?

Benar saja. Ternyata kakak perempuannya memiliki banyak hutang. Kakak perempuannya juga bahkan menggadaikan motor miliknya. Kepergian kakak perempuannya benar-benar membuat keluarganya mengalami masalah. Penagih hutang silih berganti datang ke rumah emaknya untuk menanyakan keberadaan kakak perempuannya.

Dua minggu berlalu. Naila akhirnya menghubungi Buk Yanti. Dia kemudian memberitahu alasannya kabur dari rumah. Bukan karena lari dari hutangnya, tapi karena wanita itu sudah tidak sanggup lagi menjalani rumah tangga bersama suaminya itu.

Naila sudah sering meminta pisah kepada suaminya, tapi suaminya bersikukuh menolak dengan alasan putrinya. Jika dia memilih bertahan dengan pernikahannya itu, maka hutang mereka semakin bertambah karena desakan dari kebutuhan hidup. Sedangkan suaminya tidak ingin mencari pekerjaan selain berjualan di pasar yang penghasilannya tidaklah terlalu besar. Hingga akhirnya Naila memutuskan untuk pergi dari rumah meski terkesan egois. Mungkin sebagian orang tidak bisa mengerti rasa sakit yang dialaminya saat menjalani kehidupan rumah tangga bersama Ryan, tapi biarlah waktu yang menjawabnya.

Kaila yang awalnya merasa marah dengan kakak perempuannya, tapi kemudian dia mengerti setelah mengetahui alasan kakak perempuannya memilih pergi. Terkadang rasa sakit kita hanya diri sendiri yang tahu. Sementara orang-orang hanya melihat dari luar tanpa tahu yang terjadi sebenarnya kepada kita.

"Jika dipikir-pikir kak Naila cukup kasihan. Aku menyesal karena sudah marah kepadanya. Aku tidak tahu kalau selama ini kak Naila selalu hidup menderita," ucap Kaila dengan buliran bening mengalir begitu saja di p**inya.

Farhan langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Kamu sebelumnya juga tidak tahu," ucap Farhan dengan mengusap lembut kepala istrinya.

Kaila kemudian mulai menceritakan tentang kisah sebelum Naila menikah dengan Ryan. "Dulu emak sebenarnya juga tidak setuju kak Naila menikah dengan Bang Ryan. Emak tahu kalau Bang Ryan bukan suami yang bisa diandalkan. Namun kak Naila tetap bersikukuh ingin menikah dengan Bang Ryan. Pada akhirnya nenek yang mengurus surat-suratnya kak Naila. Hanya saja kak Naila dan Bang Ryan tidak bisa menikah secara hukum, karena ternyata Bang Ryan sudah pernah menikah. Saat mereka baru-baru menikah, kak Naila sering bertengkar dengan suaminya. Aku akhirnya tahu kalau mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena Bang Ryan sengaja pergi ke orang pintar untuk membuat kak Naila tergila-gila kepadanya."

Ya begitulah kehidupan rumah tangganya Naila. Tidak seberuntung adik perempuannya Kaila. Selama ini Naila sudah mencoba bertahan hidup bersama pria yang sama sekali tidak dia cintai, tapi pada akhirnya dia menyerah karena sudah tidak sanggup lagi.

* * *

Di season1 hanya menceritakan tentang kisahnya Kaila dan Farhan. Tapi dalam Season2 akan menceritakan tentang kisahnya Naila, Nathan, Ningsih, Wahyu, dan anak-anak dari pasangan utama.

Cerita ini akan lebih cepat update di akun Wattpad saya. Ayu Azizah

23/09/2025

MY LOVE JOURNEY
03 : Anak Komisaris

Ayam jantan dalam kandang berkokok sangat keras, kemudian disahut oleh ayam jantan lainnya. Sementara Naqila masih tertidur pulas di bawah selimutnya. Suara kokok ayam-ayam jantan sama sekali tidak menggangu tidurnya. Buk Amelia tiba-tiba masuk ke dalam kamar yang terbilang cukup sederhana.

"Ayo bangun, Qila!" panggil Buk Amelia dengan mengucang tubuh sang putri.

Naqila langsung membuka matanya saat mendengar suara sang ibu. "Ada apa, Mak?" tanya Naqila yang masih mengantuk.

"Nanti pakaian dalam keranjang tolong dijemur, terus bikinin adek nasi goreng. Emak mau ke pasar dulu," ucap Buk Amelia.

"Iya, Mak," jawab Naqila dengan mengaguk.

"Jangan lanjut tidur lagi. Sebentar lagi mau siang," ucap Buk Amelia sebelum keluar dari dalam kamar.

Naqila langsung meraih ponsel yang berada di atas meja, lalu menyalakan layar ponselnya. Jam ponselnya menunjukkan pukul 05.15, seketika ia menghela nafas kasarnya. Baginya itu masih terlalu pagi, dengan malas ia beranjak bangun dari tidurnya, mengambil bendo di atas lemari kayu yang sudah usang, dan kemudian memakai bendo dengan boneka beruang sebagai hiasannya.

Naqila melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarnya. Di luar Buk Amelia tampak akan pergi dengan sang bapak menggunakan motor.

"Hati-hati di jalan," ucap Naqila berdiri di depan pintu utama.

Pak Yanto, suaminya Buk Amelia mulai menjalankan motornya pergi meninggalkan kawasan rumah. Naqila langsung menutup pintu setelah motor sang bapak menghilang dari pandangannya, melangkah ke dapur untuk memasak nasi goreng.

Dari kecil Naqila memang sudah diajarkan hidup mandiri. Memasak nasi goreng adalah hal mudah untuknya. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya memasak nasi goreng.

"Nathan! Noval! Ayo bangun!" teriak Naqila dari dapur.

Beberapa menit kemudian, dua adiknya masih belum juga muncul. Naqila melangkah keluar dari dalam dapur.

"Nathan! Noval! Ayo bangun!" teriak Naqila sembari menggedor-gedor pintu kamar adiknya.

Tidak ada jawaban. Naqila membuka pintu kamar adiknya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar tersebut.

"Ayo bangun ...!" teriak Naqila, dan seketika kedua adiknya terbangun dari tidur, lalu dua remaja cowok itu kompak menutup telinga mereka.

"Iya-iya, kita bangun, Kak," jawab mereka yang langsung bergegas turun dari atas tempat tidur dan berlari keluar dari dalam kamar.

"Qila kok dilawan," gumannya dengan tersenyum smirk.

Naqila tidak langsung keluar dari dalam kamar adiknya, ia lebih dahulu merapikan tempat tidur itu. Tugasnya memang cukup banyak sebagai anak perempuan satu-satunya yang belum menikah.

Naqila masih memiliki tiga saudara lagi. Dua di antaranya sudah menikah dan tinggal jauh dari rumah, sedangkan adik cowok yang paling dewasa kini sedang bekerja di luar kota.

Saat tugas rumahnya sudah selesai, Naqila akan pergi ke ladang untuk mengurus kebunnya. Naqila tidak memiliki ijazah SMA maupun SMP. Dulu ia sering di-bully saat masih bersekolah. Tak hanya tekanan dari anak-anak sekolah, ia juga harus dihadapkan dengan pelajaran yang memusingkan, dan akhirnya ia lebih memilih berhenti saat baru masuk kelas tiga SMP.

Memang sangat disayangkan Naqila berhenti sekolah, padahal hanya butuh beberapa bulan sebelum lulus sekolah. Namun, Naqila tidak pernah menyesal atas keputusannya dulu. Meski tidak bisa bekerja di toko-toko, tapi ia masih bisa bekerja sebagai petani seperti perkataannya saat masih kecil.

Belum beberapa jam bekerja, Naqila sudah mulai mengeluh karena cahaya matahari yang begitu terik.

"Panasnya," ucapnya dengan mengusap keringat di keningnya. "Sebaiknya aku berteduh dulu," lanjutnya bangun dari duduknya, meninggalkan pekerjaannya yang belum seberapa.

Saat sampai di pondok, Naqila langsung menanggalkan caping dari kepalanya, mengambil botol air dan meminum air dalam botol tersebut hingga tersisa setengah botol.

"Leganya," ucapnya dengan kembali menaruh botol air tadi.

Naqila mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, lalu duduk di pintu pondok.

"Kenapa kak Delvan masih belum mengirimkan aku pesan? Apa dia sudah melupakan aku?" guman Naqila terlihat kecewa saat tidak ada pesan maupun panggilan dari nomor baru. Sejak pertemuan mereka semalam, Naqila memang selalu memikirkan Delvan.

"Naqila, kamu tidak boleh jatuh cinta kepada kak Delvan. Mungkin saja kak Delvan sudah memiliki pacar. Bagaimanapun kak Delvan seorang pria tampan. Tidak mungkin dia tidak memiliki pacar di umurnya segitu. Mungkin saja kak Delvan sudah menikah," ucapnya kepada diri sendiri.

Naqila memutuskan untuk tidak lagi memikirkan Delvan. Jika Delvan sudah memiliki wanita di sampingnya, Naqila tidak ingin menjadi perusak hubungan mereka, dan tergila-gila kepada orang yang bukan miliknya. Dia kemudian memilih bermain game di ponselnya.

* * *

Rumah Sakit Reynaldi.

Delvan terlihat sedang mengelilingi rumah sakit sendirian. Hari ini dia datang bukan untuk bekerja, melainkan datang untuk mengenali linkungan kerja barunya.

"Dokter Delvan?"

Seseorang tiba-tiba memanggil namanya, membuat Delvan seketika menoleh ke arah suara dan melihat beberapa orang yang berpakaian dokter berdiri tidak jauh darinya.

"Jika tahu hari ini dokter Delvan akan datang ke sini, kami pasti akan menyambut dokter Delvan," ucap Pak Bayu --- menjabat sebagai wakil direktur sekaligus dokter senior.

"Semua orang sibuk, jadi untuk apa membuat keributan dengan kedatangan saya. Lagipula saya ke sini bukan sebagai anak komisaris, tapi sebagai dokter," jawab Delvan dengan wajah datarnya. Dia tampak berbeda saat bersama dengan Naqila.

"Bagaimanapun kami tetap harus menyambut kedatangan dokter Delvan. Bagaimana kalau saya ajak dokter Delvan berkeliling?" Pak Bayu menawarkan dirinya untuk mengajak Delvan berkeliling.

"Tidak perlu. Saya sudah melihat ke sekeliling rumah sakit ini. Anda bisa lanjut bekerja," tolak Delvan.

"Baiklah. Saya permisi dulu."

"Iya. Silahkan."

Dokter Bayu berjalan pergi bersama dokter lainnya. Delvan kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Meski anak dari komisaris, tidak membuat Delvan bersikap semena-mena. Kini Delvan sedang berada di ruang administrasi demi mengurus kepindahannya.

"Pak Wakil Direktur sudah mengurus kepindahan Anda. Sekarang Anda sudah bisa bekerja," ucap staf administrasi sembari menyerahkan kartu pegawainya Delvan.

"Terima kasih," ucap Delvan setelah menerima kartu pegawainya.

"Sama-sama. Mari saya antar ke ruangan Anda."

Delvan membalas dengan anggukan, berjalan mengikuti staf administrasi. Setelah melewati beberapa lorong, Delvan sampai di ruangannya.

"Kita sudah sampai," ucap staf administrasi setelah membuka pintu ruangan Delvan.

"Terima kasih," balas Delvan.

"Sama-sama. Saya permisi dulu."

Setelah staf administrasi pergi, Delvan masuk ke dalam ruangannya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang cukup besar itu.

"Lumayan," gumannya yang kemudian duduk di atas sofa.

"Apa yang Naqila lakukan sekarang?" Delvan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, menelpon nomor milik Naqila.

Naqila yang sedang sibuk bermain game online, terkejut saat ada nomor baru tiba-tiba menelponnya. "Siapa sih yang nelpon aku? Gak tau aku lagi main game," ucap Naqila yang langsung mematikan telpon dari nomor baru itu.

Delvan sontak terkejut saat Naqila tiba-tiba mematikan telpon darinya. Dia kembali menelpon Naqila. Lagi-lagi telponnya dimatikan. Delvan melongos tak percaya. Dia kembali menelpon Naqila untuk ketiga kalinya.

[Halo! Ini siapa?] ucap Naqila dari seberang sana, gadis itu terdengar kesal.

"Ini aku, Delvan."

[Kak Delvan?] Naqila terdengar begitu terkejut. [Maaf, Kak, aku tidak tahu kalau kakak yang nelpon,] imbuhnya.

"Tidak apa-apa. Apa aku mengganggu?"

[Tidak-tidak. Barusan Qila hanya lagi main game,] jelasnya.

"Hm. Sore nanti apa kamu ada waktu?"

[Ada. Kenapa?]

"Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan."

[Bukankah semalam kak Delvan sudah mengajak Qila jalan-jalan? Selain itu ... Qila takut pacar kak Delvan marah.]

"Aku tidak punya pacar maupun istri. Tidak akan ada yang marah jika aku pergi dengan kamu."

Note : Caping adalah topi tradisional yang berbentuk kerucut dan terbuat dari anyaman bambu.

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Solok?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address


Solok