Prodigy Coffee and Book Store

Prodigy Coffee and Book Store

Share

Photos from Prodigy Coffee and Book Store's post 29/12/2014

Government Not Found
Tema: Government Not Found
Harga: Rp. 69.900,-
Material: Cotton Combed 30s (katun kualitas terbaik, super halus dan super menyerap keringat)
Cat Sablon: Rubber Matsui
Ukuran: S, M, L, XL
Ketersediaan Warna Kaos: Hitam dan Biru Donker
Lengan Panjang: + Rp. 5000
Tambah Ukuran: + Rp. 5000
Batas Waktu Order: 29-10 Januari
*Kaos ini hanya akan diproduksi 20 buah. Lekas saja pesan.

GOVERNMENT NOT FOUND.
Hak menuntut negara. Itulah frasa yang hilang dari demokrasi indonesia hari ini. John Stuart Mill, peletak gagasan demokrasi (katanya), mengungkapkan bahwa protes kepada negara merupakan hak yang harus dilindungi oleh negara. Namun di Indonesia, semangat itu dilenyapkan secara simbolik lewat kampanye: “berikan sesuatu pada negara, jangan lagi tuntut-tuntut negara”. Persis di sini negara muncul sebagai penjaga pos ronda yang takut pada maling. Ia membiarkan Sumber Daya Alam Indonesia diobral dan dikuasai asing. Ia juga diam saja mendengar rakyat yang menjerit atas kenaikan BBM. Hari ini, yang paling menyeramkan bukan lagi negara menyerupai leviathan, melainkan negara yang menyerupai frankenstein, yang seolah-olah hidup, padahal mati.

Cara Pemesanan:

tuliskan format pemesanan:
Nama, Kota Alamat, Tema Kaos, Warna, Ukuran, Panjang Lengan.
Contoh: Fulan, Sleman, Government Not Found, Hitam, XL, lengan pendek.
Kirim ke:
SMS: 085643335592
Email: [email protected] atau....
BBM: 518FF4AA atau....

Anda akan mendapat balasan berupa total biaya yang harus dibayarkan jika ingin memesan kaos ini.

Thanks, Prodigy Coffee and Book Store

Photos from Prodigy Coffee and Book Store's post 12/12/2014
Photos from Prodigy Coffee and Book Store's post 30/11/2014

Kebudayaan dipercaya sebagai unsur yang menentukan sikap, perilaku, pilihan-pilihan keputusan kita, bahkan juga menentukan nasib kaya-miskin. Tahun 70-90an, pernyataan itu banyak dipercaya. Kalau melihat kekalahan Indonesia di segala bidang seperti sekarang: politik, ekonomi, olahraga, bisakah kita menyebutnya sebagai gagalnya proyek pembangunan kebudayaan Indonesia? Bagaimana memperkuatnya kembali?

Di buku ini, Umar Kayam memahami seni dan berkesenian sebagai faktor konstitutif pembangunan moral bangsa. Namun industrialisasi memaksa seni perlahan bukan lagi sebagai sesuatu yang "selaluhadir", melainkan sesuatu yang "dibutuhkan". Di sinilah manusia resmi tersekularisasi, terpecah-pecah dalam beragam dimensi. Seni mulai memisahkan diri dari agama, dan ilmu pengetahuan. Beragama tidak lagi menghiraukan keindahan, begitu juga membuat indah bukan menjadi bagian dari keberagamaan. Seni bukan lagi menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Melainkan menjadi barang komersil yang silakan dicampakkan jika tak punya uang. Seni bukan lagi unsur yang selalu hadir bagi kesempurnaan dan keterpenuhan manusia. Melainkan dihadirkan oleh manusia, disesuaikan dengan waktu senggang.

Lalu, apakah itu salah?

Para kritisi seni dan kebudayaan cm academicus telah menawarkan jawabannya dalam buku ini.

Judul Buku: Tifa Budaya

Penulis: Sapardi Djoko Damono (ed). Umar Kayam, Dick Hartoko, Ignas Kleden, Wiratmo Soekito, Harsja Bachtiar, Putu Wijaya, Nurcholis Madjid, Alfons Taryadi, Soetopo Soetanto, Ayatrohaedi.
Ketersediaan di Pasaran: HAMPIR MUSTAHIL
(kategori: ada beberapa, langka, hampir mustahil)

Cara Beli:
tuliskan format pemesanan: Judul dan Pengarang (Misal: Sutherland, Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi) dan kirimkan ke (silakan pilih)
1) Emailkan pemesanan ke [email protected] atau....
2) Kirim pesan via BBM 518FF4AA atau....
3) SMS ke 085643335592....
tidak lama kemudian kami akan membalas ketersediaan buku dan harga buku.

Salam Hangat.

Photos 27/11/2014

Apa yang anda pikirkan tentang para pejabat dan birokrat di indonesia? Korup? Gemuk? Tidak efektif menyerap aspirasi? Kurang memberikan pelayanan? Masih banyak sekali opini yang bermunculan. Tambahkan sendiri, ya, kalau kurang.

Idealnya, negara hadir dan dibuat untuk memberikan perlindungan lahir bathin bagi warganya. Demi tujuan ini, negara membutuhkan pejabat, birokrat dan aparat (kita sekarang menyebutnya birokrasi) yang ditata sedemikian rupa untuk mengemban tugas merancang dan melaksanakan program (kebijakan). Ringkasnya, meminjam istilah b**g Hatta, mereka adalah “panitia” kesejahteraan seluruh warga indonesia. Ini teorinya.

De facto, (tentu saja tidak semua) pejabat, birokrat dan aparat kita adalah panitia bagi kesejahteraan mereka dan keluarganya sendiri. Mereka melayani atasan, bukan rakyatnya. Mereka menjalankan program, namun abai menyerap aspirasi. Mengapa bisa demikian?

Kalau kita tengok buku yang ditulis Sutherland, jawabnya ialah lantaran pejabat dan birokrat kita terwarisi mentalitas kolonial dan feodal. Birokrat bermental kolonial berciri menjalankan perintah atasan dan memastikan penguasa aman. Sementara birokrat bermental feodal berciri mengedepankan prestise, inginnya dilayani bukan melayani warga. Perkawinan antara dua mentalitas inilah yang terwarisi dalam birokrat sekarang.

Kalau mau tau lebih jelas bagaimana kolonialisme dan feodalisme berandil dalam membentuk wajah birokrat kita, sila baca sendiri buku ini. Bagi anda yang peduli dengan reformasi birokrasi, buku ini perlu. Ingat, membenahi membutuhkan mengetahui. Sebagaimana Lenin yang pernah berujar, tidak ada revolusi tanpa teori revolusi.

Judul Buku: Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi
Penulis: Heather Sutherland.
Ketersediaan di Pasaran: HAMPIR MUSTAHIL
(kategori: ada beberapa, langka, hampir mustahil)

Cara Beli:
tuliskan format pemesanan: Judul dan Pengarang (Misal: Sutherland, Terbentuknya Sebuah Elite Birokrasi) dan kirimkan ke (silakan pilih)
1) Emailkan pemesanan ke [email protected] atau....
2) Kirim pesan via BBM 518FF4AA atau....
3) SMS ke 085643335592....
tidak lama kemudian kami akan membalas ketersediaan buku dan harga buku.

Salam Hangat.
Prodigy Coffee and Book Store

Want your business to be the top-listed Shop in Sleman?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address


Prambanan
Sleman
55515