LKWS
05/12/2023
BUTA MEMBACA, PINCANG MENULIS & ALERGI DISKUSI
Data terbaru (2023) dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telah mengungkapkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen, atau satu dari 1.000 orang yang gemar membaca. Jika melihat tradisi didalam satu keluarga saat ini sangat jarang ditemukan mentradisikan anak-anaknya untuk membaca, jika ditanya perihal anggaran bulanan untuk membelanjakan buku dan ketika membeli buku yang harganya seratus ribu dianggap mahal. Tetapi ketika menggolontorkan dana untuk piknik, fashion, nongkrong diresto dan lainnya maka itu dianggap sebagai hal biasa, murah, dan penting. Hal demikian menggambarkan bahwa orientasi untuk perut lebih besar daripada otak. Sangat menyedihkan lagi ketika tidak membaca sehari tidak merasa rugi dan kehilangan akan tetapi tidak makan sekali dalam hitungan makan tiga kali sehari seperti pada umumnya, maka mereka merasa rugi. Tidak hanya terjadi didalam keluarga tapi juga dilembaga pendidikan, literasi dan wawasan bacaan peserta didik dan pendidik bersifat kontekstual. Mereka hanya berpedoman pada buku dari kementerian sebagai konten. Sehingga peserta didik disiapkan untuk menjadi seorang budak.
Inilah yang diistilahkan oleh Taufik Ismail sebagai sastrawan “Tuna Baca, Pincang Tulis” artinya disuruh membaca tidak s**a dan disuruh menulis tidak terampil. Sehingga orang yang tidak membaca tidak akan bisa menulis dan semestinya orang yang s**a membaca harus belajar bagaimana orang menulis. Meminjam istilah Prof. Dr. KH. Hamid Zarkasyi “syariat akademik” yaitu membaca, menulis dan berdiskusi. Ketika seseorang hanya membaca tanpa berdiskusi itu akan stres karna ilmunya hanya dibathin dan tidak diujikan. Sama halnya dengan orang senang makan banyak tanpa olahraga.
Ketika menengok tradisi ulama terdahulu seperti Muhammad bin Jarir ath-Thabari wafat diumur 57 tahun. Ia menghabiskan umurnya setiap hari menulis sebanyak 40 halaman dan selama 40 tahun, kurang lebih selama hidupnya ia telah menulis sebanyak 584.000 halaman kemudian dia membaca 100.000 hadis setiap harinya. Kemudian ketika ia menulis kitab Tafsir al-Thabari yang berisi hadis sekitar 38 ribu hadis. Imam Ibnu 'Aqil, penulis kitab al-funun telah menulis kitab berjumlah 800 jilid, sepanjang sejarah dunia tidak ada yang melampaui pencapaian tersebut. Bahkan ulama Indonesia KH. Ahmad Dahlan ketika dari belajar di Timur Tengah buku beliau satu gerbong.
Manfaatkan Media Untuk Belajar Menambah Literasi Anda
09/04/2022
LKWS awalnya Lembaga Kajian Webinar Santri
Beralih Menjadi
LKWS Literasi dan Kajian Webinar Santri
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the school
Website
Address
Jalan Dahlia No. 9, Pattirosompe, Kec. Tempe, Kabupaten Wajo Jl. Dahlia No. 9, Pattirosompe, Kec. Tempe, Kabupaten Wajo, Indonesia
Sengkang
90913