Rias Rise
01/02/2026
[Review Buku "Teruslah Bodoh, Jangan Pintar": Tentang Tambang, Kuasa, dan Kebenaran]
Setiap kali mencari buku "Teruslah Bodoh, Jangan Pintar"-nya Tere Liye di perpustakaan, buku itu hampir selalu berstatus dipinjam. Hingga pertengahan bulan lalu, akhirnya aku bisa meminjamnya.
Saat membaca halaman-halaman awal, aku sempat mengira buku ini akan banyak membahas sosok Ahmad dan penyebab kematian Badrun. Namun, setelah masuk ke bab-bab selanjutnya, barulah aku memahami bahwa secara garis besar buku ini bercerita tentang perusahaan milik Tuan Liem yang ingin membangun konsesi proyek pertambangan, sebuah proyek terbesar sepanjang sejarah perusahaannya.
Meski presiden terpilih telah memberikan izin, banyak aktivis lingkungan yang merasa keberatan dengan proyek tersebut. Akhirnya, presiden terpilih membentuk sebuah komite independen dan menggelar persidangan tertutup untuk menentukan apakah proyek itu diterima atau ditolak.
Dalam persidangan tersebut, pihak Tuan Liem dan pihak aktivis sama-sama menghadirkan saksi. Ada saksi yang merasakan langsung dampak pertambangan, ada p**a yang pernah bekerja di perusahaan milik Tuan Liem. Latar tempat cerita pun sebagian besar berada di sebuah ruang sidang berukuran 3x6 meter. Meski ruangannya sempit, aku merasa diajak menyelami latar belakang kehidupan setiap saksi, sebagian membuatku simpati, sebagian lain justru membuatku kesal. Ada saksi yang kesaksiannya terasa getir, ada p**a sosok pengacara yang begitu lihai bersilat lidah: memutarbalikkan fakta, memanip**asi kebenaran, demi bayaran tinggi dan kepentingan tertentu.
Saat membaca buku ini, aku ikut merasakan pedih dan sakitnya ketika rumah digusur, ketika kampung halaman yang tadinya nyaman berubah menjadi mencekam. Apalagi belakangan ini banyak bencana alam yang penyebabnya adalah ulah manusia yang merusak alam.
Beberapa tokoh dalam buku ini pun mengingatkanku pada pejabat publik di negeri ini. Bahkan konsesi proyek pertambangan yang diceritakan di dalamnya membuatku teringat pada IKN. Membaca buku ini membuatku merasa miris, betapa mudahnya sebuah kebenaran dibeli dengan uang.
[Apa Arti Cinta? ]
Dulu, saat menjalani proses ta’aruf dengan Abatinya Umar, salah satu hal yang paling kutakutkan adalah aku takut tidak bisa mencintainya. Apalagi waktu itu kami baru sekitar satu bulan saling mengenal, bahkan sebatas tahu nama masing-masing. Namun, berbekal visi dan misi pernikahan yang sama, kami pun memantapkan langkah untuk menikah.
Seiring berjalannya kehidupan rumah tangga kami, Allah perlahan menumbuhkan rasa cinta itu. Cinta yang tidak datang sekaligus, tetapi tumbuh bersama proses, kebiasaan, dan doa-doa yang kami panjatkan dalam diam.
Dari proses itulah aku teringat sebuah nasihat dalam kajian Ustadz Oemar Mita. Beliau menyampaikan bahwa cinta tertinggi dalam kehidupan manusia adalah ketika kita membutuhkan pasangan kita untuk beribadah kepada Allah. Maka, mencintai pasangan bukan hanya tentang saling melindungi, memberi perhatian, atau menjaga satu sama lain.
Lebih dari itu, cinta juga tentang mengerjakan amal salih secara bersama-sama: saling menguatkan saat iman melemah, saling mengingatkan ketika lalai, dan saling menggandeng untuk kembali kepada Allah. Karena cinta bukan hanya soal bersama di dunia, tetapi tentang ingin tetap bersama saat menghadap-Nya.
03/01/2026
[Menunggu Roti Favorit]
Hari ini aku ingin bercerita tentang roti favoritku sejak SD. Dulu, aku cukup sering menunggu kehadiran Pak Untung (penjual roti keliling Rammona Bakery) yang biasa lewat depan rumah. Dari sekian banyak pilihan rasa, aku hampir selalu memilih roti keju spesial. Jarang sekali berganti, seolah roti itu sudah menjadi bagian dari kebiasaan masa kecilku.
Karena itulah, saking seringnya membeli, Pak Untung sampai hafal dengan keluarga kami. Hubungan itu pun tak berhenti sebatas penjual dan pembeli. Bahkan, Pak Untung pernah menghadiri walimah pernikahanku dengan Abatinya Umar. Sebuah kenangan kecil yang selalu membuatku terharu setiap mengingatnya.
Sejak merantau ke Jogja, setiap kali aku p**ang ke Purwokerto, ada satu hal yang hampir selalu kulakukan: membeli roti Rammona dari Pak Untung. Termasuk saat aku p**ang pada Juni tahun lalu. Namun, cerita kali ini sedikit berbeda. Saat liburan sekolah ini, sudah lebih dari sepekan aku berada di Purwokerto, tetapi suara jingle Rammona Bakery tak kunjung terdengar. Padahal biasanya, sekitar pukul 5.00–5.30 sore, jingle itu selalu menjadi penanda kehadirannya. Padahal kata ibu, Pak Untuk masih berjualan keliling.
Karena penasaran, aku sempat sengaja duduk di ruang tamu, menunggu sambil mengaji, berharap suara itu muncul seperti biasanya. Namun, hari demi hari berlalu, dan tetap belum ada tanda-tanda kehadiran Pak Untung. Dalam hati, aku hanya bisa berharap dan berdoa, semoga Pak Untung selalu dalam lindungan Allah.
Rasa rindu pada roti itu akhirnya membawaku pada pilihan lain. Tadi, kami memutuskan untuk pergi langsung ke outlet Rammona Bakery. Untuk pertama kalinya aku datang ke sana. Alhamdulillah, roti keju spesial yang selama ini selalu kupilih ternyata masih ada. Rasanya tetap sama, meski cara mendapatkannya kini sedikit berbeda.
02/01/2026
[Allah Tidak Pernah Salah Waktu]
Beberapa tahun lalu, aku pernah mendapatkan hadiah yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tapi begitu berarti bagiku. Namun, hingga beberapa bulan berlalu, hadiah itu tak kunjung datang. Aku terus bersabar hingga suatu hari hadiah itu pun datang.
Ajaibnya, hadiah itu datang ketika aku sedang benar-benar membutuhkannya. Saat itu rasanya begitu haru dan takjub akan ketetapan Allah yang waktunya benar-benar pas, tidak terlambat. Allah tahu kapan aku benar-benar membutuhkan hadiah itu.
Seperti kutipan yang ada di kalender bulan Januari itu: "Tak ada yang terlalu cepat, atau terlambat. Setiap hal Allah takdirkan di waktu yang tepat."
Kejadian itu pun menyimpan hikmah bagiku untuk terus berhusnuzzan sama Allah. Dan belajar untuk terus percaya bahwa kalau sesuatu ditakdirkan kepadaku, pasti akan Allah datangkan dengan cara terbaik dan pada waktu terbaikNya.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the public figure
Website
Address
Purwokerto
53116