GSA DAILY
09/07/2026
Ketika Abah Guru Sekumpul melaksanakan ibadah haji, beliau juga menuntut ilmu kepada ulama ulama besar Makkah. Salah satu ulama besar Makkah yang menjadi guru beliau adalah Sayyid Amin Kutbi.
Diantara pendidikan Sayyid Amin Kutbi kepada Abah Guru Sekumpul yang berkesan adalah amalan bersedekah setiap hari. Sayyid Amin Kutbi selalu singgah dipasar yang banyak berkumpul pengemis. Lalu Sayydi Amin Kutbi membagi bagikan uang beliau.
Sayyid Amin Kutbi bahkan pernah menyerahkan uangnya kepada Abah Guru Sekumpul untuk dibagikan kepada para pengemis. Inilah pendidikan pemurah Sayyid Amin Kutbi kepada Abah Guru Sekumpul. Pendidikan secara "Bil Hal" (Secara praktek).
Begitulah salah satu sifat Wali Allah SWT. Wali Allah itu sifat aslinya adalah pemurah dan tidak pemarah. Diantara sifat pemurah adalah s**a bersedekah.
Sambil membagikan uang, Sayyid Amin Kutbi selalu sambil membaca salah satu ayat Qur'an. Ayat Qur'an yang dimaksud artinya kurang lebih yaitu : "Segala perkara pada hari itu hanya milik Allah sendirian"
Al-fatihah buat beliau 🤲
09/07/2026
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari ketika selesai menuntut ilmu di Makkah, tidak langsung p**ang ke Kalimantan Selatan. Beliau sempat singgah dulu kebeberapa tempat, salah satu nya singgah ke Betawi (Jakarta).
Ketika di Jakarta banyak beliau mengunjungi berbagai Masjid. Salah satu nya Masjid Jembatan Lima Jakarta. Namun beliau melihat kiblat masjid ini terlalu miring ke kiri. Lalu beliau sampaikan hal ini kepada tokoh masyarakat sekitar.
Tetapi, penyampaian beliau ini tidak mendapat sambutan semesti nya dari masyarakat dan hampir terjadi sedikit salah pengertian. Melihat kejadian ini, Datu Kalampayan pun berdiri di posisi kiblat yang benar menghadap jamaah. Lalu bliau acungkan jari beliau hingga tampak dicelah jubah beliau Ka'bah yang dilihat langsung oleh jamaah.
Suasana pun menjadi tenang. Malah masyarakat Betawi merasa senang karena Datu Kalampayan membetulkan kekhilafan mereka.
Kemudian, Masyarakat membuat sebuah memoria dalam bahasa Arab yang bertuliskan : "arah kiblat masjid ini dipalingkan ke kanan sebanyak 25 derajat oleh Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, pada 4 shafar 1186 H".
Selain masjid jembatan lima, beliau juga membetulkan kiblat masjid lain di Jakarta. Diantaranya adalah Masjid Pekojan dan Masjid Luar Batang.
Sumber : buku "Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari" tulisan Abu Daudi, sub judul "Membetulkan arah kiblat masjid jembatan lima " hal 34
07/07/2026
Tak syak lagi, haulnya dihadiri jutaan umat Islam dari berbagai pelosok Nusantara dan Mancanegara. Mulai dari pusat haul sampai ratusan kilometer dari lokasi, warung makan banyak yang menggratiskan makan minum. Pertalite di SPBU gratis, ojek dan becak gratis, tukang tambal gratis, penginapan dan rumah-rumah membuka lebar-lebar untuk dijadikan tempat singgah dan menginap, semuanya gratis. Semata-mata mengharap keberkahan hidup dunia akhirat. Semua karena cinta. Cinta mengalahkan logika. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bilamana Allah mencintai seseorang maka la umumkan kepada penduduk langit (malaikat) untuk mencintai hamba tersebut. Dan penduduk bumipun mencintai hamba tersebut. Subhanallah. Itulah yang kita lihat saat menghadiri suasana Haul Abah Guru Sekumpul. Semakin tahun yang datang semakin bertambah, gelombang lautan manusia yang hadir membuat hati berdecak kagum.
KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, yang dikenal dengan julukan karismatik Guru Ijai atau Abah Guru Sekumpul, lahir di Martapura pada malam Rabu, 11 Februari 1942 M dari pasangan Abdul Ghani dan Masliah. Beliau adalah keturunan ke-8 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Silsilahnya, Muhammad Zaini Ghani bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Samman bin Saad bin Abdullah M***i bin Muhammad Khalid bin Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan).
Meskipun berasal dari keluarga yang secara ekonomi terbatas-ayahnya, Abdul Ghani, hanya bekerja sebagai penggosok batu intan-beliau menerima pendidikan agama yang sangat ketat di lingkungan keluarga Kampung Keraton, terutama dari ayah, neneknya (Salbiah), dan paman beliau, Syekh Semman Mulya. Syekh Semman Mulya, yang sebenarnya adalah pakar di berbagai bidang ilmu Islam namun bersikap tawadhu’ (rendah hati), sangat menjaga pergaulan Guru Zaini sejak kecil. Pada usia 5 tahun, beliau mulai belajar membaca Al-Qur’an di bawah bimbingan Guru Hasan Pesayangan. Setahun kemudian, saat berusia 6 tahun, beliau melanjutkan pendidikannya di Madrasah Kampung Keraton. Di usia 7 tahun, beliau masuk di Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Guru Zaini menempuh pendidikan formal selama 12 tahun di Pondok Pesantren Darussalam Martapura (1949-1961), lulus dengan nilai jayyid mumtaz. Guru-guru beliau di tingkat Ibtida iyah dan Tsanawiy/Aliy merupakan ulama-ulama besar Banjar,
seperti KH. Sulaiman, KH. Abdul Hamid Husein, KH. Mahalli Abdul Qadir, KH. M. Zein, KH. Rafi, KH. Syahran, KH. Husein Dahlan, KH. Salman Yusuf, KH. Semman Mulia, KH Salınan Jalil, KH Salim Ma’ruf, KH. Husin Qadri, dan KH. Sya’roni Arif, KH Nashrun. Thahir, KH. Semman Mulia, dan KH. M. Aini. Selain di Darussalam, beliau aktif menimba ilmu dari berbagai halagah ulama di sekitar Martapura dan luar daerah, seperti KH. M. Aini di Kandangan KH. Muhammad di Gadung Rantau.
Atas kecerdasan dan ilmu yang dimiliki, Guru Zaini sempat diminta mengajar di Darussalam. Permintaan ini diperkuat oleh ketiga gurunya, KH. Abdul Qadir Hasan, KH. Anang Sya’rani Arif dan KH. Salim Ma’ruf. Namun, setelah lima tahun mengajar dengan mendedikasikan seluruh gaji honornya untuk sedekah, beliau memutuskan berhenti untuk lebih fokus pada perjalanan spiritual.
Pada usia 23 tahun (sekitar tahun 1965), beliau berangkat ke Bangil untuk dibimbing khusus oleh Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil). Setelah itu, beliau diperintahkan gurunya melanjutkan perjalanan ke Mekkah untuk bertemu Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Sebelum ke Mekkah, beliau sempat bertemu Kyai Falak Bogor untuk mendapatkan ijazah suluk dan thariqat.
Di Mekkah, beliau menunaikan haji sambil menerima bimbingan sufistik. langsung dari Sayyid Muhammad Amin Kutbi. Dengan demikian, beliau menguasai Tarekat Sammaniyah dan memiliki sanad keilmuan yang tersambung dengan ulama-ulama besar di Makkah seperti Sayyid Abdul Qadir al-Bar, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Syekh Ismail al-Yamani Alwiy al-Malikiy, Syekh Hasan Masyath, dan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.
Pada tahun 60-an, beliau mulai mengadakan pengajian di kediamannya di Kampung Keraton. Awalnya pengajian ini bersifat mudzakarah (diskusi) kitab-kitab Ilmu Alat (Nahwu/Sharaf) untuk membantu santri. Karena lokasi pengajiannya, beliau dikenal sebagai “Guru Keraton”.
Pengajiannya semakin populer dan meluas. Beliau meninggalkan kegiatan dakwah keliling yang sebelumnya sering ia lakukan sebagai gari bersama gurunya, KH. Husein Dahlan. Fokus pengajiannya kemudian bergeser, meliputi kitab-kitab inti seperti Tafsir Jalalain, Riyadhus Sholihin, Kifayatul Awam, Sabilal Muhtadin (Fiqih), dan kitab tasawuf seperti Ihya Ulumuddin, Minhajul Abidin, Syarah Hikam, dan Sairus Salikin. Seiring waktu, pengajiannya membludak, dihadiri tidak hanya oleh santri tetapi juga masyarakat umum. Suasana pengajian semakin semarak ketika beliau melantunkan Maulid al-Habsyi (Simth al-Durar) dengan suara merdu. Karena jemaah yang tak tertampung, pada tahun 1988, atas restu gurunya terutama KH. Syarwani Abdan dan KH. Semman Mulya, beliau memindahkan pusat pengajian ke lahan baru di Kampung Kacang, yang kemudian dikenal sebagai Sekumpul. Di sana, beliau membangun kediaman dan Mushalla Ar-Raudhah, dan sejak itu julukannya berubah. menjadi “Guru Sekumpul.”
Guru Sekumpul dikenal memiliki kharisma luar biasa, gaya bicara yang tenang dan diselingi humor segar, serta wajah yang tampan. Pop**aritasnya menarik kunjungan dari berbagai kalangan, termasuk ulama, habaib, serta pejabat negara (Presiden/Menteri) dan tokoh publik, yang datang untuk silaturahmi, meminta doa, atau nasihat. Beliau juga dikenal sebagai “Abah Guru Sekumpul karena sifat kebapakannya.
Selain dihormati karena keilmuan dan karisma sebagai seorang ulama, Guru Sekumpul juga terkenal karena kedermawanan dan kekayaan yang dimilikinya. Walaupun masa kecilnya diliputi keterbatasan ekonomi, situasi finansial beliau mulai membaik pada tahun 1970-an, terutama setelah menikah pada tahun 1975.
Beliau memulai kegiatan bisnisnya dengan menanamkan modal pada usaha kebutuhan pokok (sembako) yang dikelola oleh salah satu muridnya di Pasar Lima Banjarmasin, yang berlangsung hingga tahun 1990. Memasuki era 1990-an, beliau beralih berinvestasi pada bisnis jual beli permata dan berlian melalui beberapa muridnya. Keuntungan besar dari berbagai investasi ini memungkinkannya mendanai pembangunan kediaman pribadi dan Mushalla Ar-Raudhah Sekumpul, menanggung biaya keluarga, dan melakukan banyak sedekah.
Kekayaan beliau terus bertambah melalui berbagai aset lain, termasuk kepemilikan ruko sewaan di Banjarbaru dan bisnis jual beli mobil. Beliau juga merintis unit bisnis formal, seperti Percetakan Ar-Raudhah dan kelompok usaha bernama Al-Zahra. Usaha Al-Zahra ini bergerak di bidang ritel, menjual berbagai perlengkapan ibadah, pakalan muslim, makanan, dan parfum,
dengan jangkauan distribusi yang meluas hingga ke Kalimantan Tengah dan Timur. Pendapatan yang signifikan dari beragam sektor usaha ini memungkinkan Guru Sekumpul beramal besar. Beliau mampu mendirikan Madrasah Darul Ma’rifah, menyokong pembangunan berbagai pesantren, membiayai renovasi kubah ulama, dan menyalurkan sedekah rutin dalam jumlah besar kepada masyarakat.
Beliau dikenal antikritik dan menggunakan pendekatan kasih sayang dalam dakwah. Beliau juga tegas menolak terlibat politik praktis, baru bersedia menjadi Mustasyar NU setelah organisasi tersebut kembali ke khittah (pedoman) awalnya sebagai organisasi keagamaan murni.
Kesehatan Guru Sekumpul mulai menurun pada awal 2000-an dan beliau harus menjalani cuci darah rutin sejak 2002. Dalam kondisi sakit, beliau tetap menyiarkan pengajian dari dalam rumah melalui televisi. Pada tahun 2005, beliau sempat dirawat di RS Mount Elizabeth Singapura. Namun setelah sekitar 10 hari, beliau balik ke Sekumpul. Ulama karismatik ini wafat pada subuh Rabu, 10 Agustus 2005 (5 Rajab 1424 H) pada usia 63 tahun. Beliau meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Hj. Juwairiyah, Hi Laila dan Hj. Siti Noor Jannah, dan dua anak yaitu Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali. Dimakamkan di Komplek Sekumpul di samping Mushalla Ar-Raudhah, Martapura, Kalimantan. Mushalla ini menjadi pusat dakwah sejak beliau aktif mengisi pengajian hingga sekarang.
Semasa hidupnya, beliau sempat menulis beberapa risalah, antara lain: (1) Risalah Mubarakah, (2) Manaqib Asy-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadirial-Hasani as-Samman al-Madani, (3) Ar-Risalah an-Nuraniyyah fi Syarh Tawassulat as-Sammaniyyah, (4) Nubdzah min Manaqib al-Imam Masyhur bi al-Ustadz al-A’zham Muhammad bin ‘Ali Ba’alawi, dan (5) al-Imdad fi Awrad Ahl al-Widad. Ini adalah peninggalan berharga selain ilmu dan uswah yang beliau berikan semasa hidup.
Dr. Nur Hidayatullah, S.H.I, M.H, Dosen UIN Walisongo Semarang, Spesialisasi Ilmu Falak
Penulis: Ustadz Nur Hidayatullah
07/07/2026
Ketika saya mendengar nama Afrika Selatan, tentu hal yang menghinggap di benak saya adalah Nelson Mandela, Piala Dunia 2010, dan tempat penuh satwa-satwa menarik seperti gajah, singa, jerapah, dan lain-lain. Menariknya, tidak hanya itu yang seharusnya kita ketahui dari Afrika Selatan. Di tempat ini terjadi sejarah menarik penyebaran agama Islam, dan tokoh yang cukup dikenal disana merupakan orang Indonesia. Dia adalah Qadhi Imam Abdullah bin Qadhi Abdussalam atau masyarakat Afrika Selatan lebih mengenalnya sebagai Tuan Guru.
Masa Kecil
Tuan Guru merupakan anak dari seorang Qadhi Kesultanan Tidore, Maluku Utara. Beliau lahir pada tahun 1100 Hijriah atau 1712 Masehi dari pasangan Qadhi Abdussalam dan Boki. Selama masa kecilnya, Tuan Guru dikenal sebagai seorang yang cerdas yang hidup dalam kehidupan keluarga yang taat pada Agama. Ia berhasil menghafalkan Al Quran ketika umurnya masih belia, 12 tahun. Dan memahami banyak ilmu-ilmu lain seperti fikih dan tasawuf. Sehingga tidak heran, pada masa dewasanya, selain dikenal sebagai Qadhi dan imam, dia juga dikenal sebagai sufi, bahkan mujahid.
Perjuangan Tuan Guru di Tidore
Perjuangan Tuan Guru melawan penjajah Belanda sangat dirasa. Kemampuannya dalam orasi dan menggalang massa dari mimbar ke mimbar, membuat Belanda kewalahan. Hal demikian dilakukannya karena ketidak relaannya menjadi budak di negeri sendiri dibawah pemerintahan kolonial yang dzalim.
Kehebatannya sebagai pemimpin juga dirasa ketika dia menjadi panglima dalam perang menghadapi Belanda. Belanda kewalahan, dan banyak dari mereka yang berguguran. Semangat perjuangannya ini juga meluas ke wilayah-wilayah lain. Dari sinilah dia menjadi musuh utama Belanda.
Kebencian Belanda yang sangat mendalam kepadanya membuat dia dijuluki sebagai Baditen Rollen atau seorang bandit. Banyak cara dan upaya yang Belanda lakukan untuk menumpasnya. Upaya-upaya itu kebanyakan tidak menemukan hasil. Hingga pada suatu saat pada tahun 1763 di Tidore, dia ditangkap bersama ketiga saudaranya, Abdul Rauf, Badaruddin, dan Nurul Imam.
Belanda tentunya bisa saja menjatuhinya hukuman yang sangat berat. Bisa saja dia dieksekusi mati ataupun disiksa. Namun banyak pertimbangan yang mereka pikirkan karena posisinya yang sangat kuat di masyarakat Tidore. Sehingga apabila mereka membunuhnya, tentu saja akan ada perlawanan dan bekas gejolak yang sangat besar pada para pengikutnya dan masyarakat Tidore umumnya. Karena itulah dia dibawa ke tempat yang sangat jauh dan tidak dikenalnya sebelumnya.
Perjuangan Tuan Guru di Afrika Selatan
Belanda membawanya ke Tanjung Harapan atau Tanjung Harapan Baik (Cape of Good Hope), di Afrika Selatan dan dipenjara di Pulau Robben (Robben Island) selama dua belas tahun. Tempat yang sama dimana Nelson Mandela, Presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan dan tokoh revolusioner antiapartheid, dipenjara selama dua puluh tujuh tahun. Di penjara inilah dia menghabiskan waktunya dan berhasil menulis Alquran dengan tulisan tangan dari hafalannya. Tulisannya terbukti akurat dan tidak ditemukan kesalahan satu pun dengan Alquran yang telah dicetak. Subhanallah.
Setelah dua belas tahun dipenjara di Pulau Robben, akhirnya Tuan Guru dibebaskan. Tuan Guru hidup bersama orang-orang Afrika Selatan di Cape Town yang kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang Islam, hanya saja banyak dari mereka adalah budak dan tidak bisa bebas melaksanakan ajaran agama Islam. Mereka memeluk Islam secara tertutup menurut kepercayaan mereka dan hanya mempraktekan ajaran agama di rumah, tetapi tidak bisa mempraktekannya di depan Pemerintah Kolonial.
Hal ini karena peraturan Pemerintah Kolonial Pada saat itu yang sangat kejam. Pemerintah Kolonial Belanda melarang pelaksanaan ritual keagamaan apapun kecuali kristen. Dengan hukumannya yang sangat berat jika dilanggar.
Karena itulah tidak terdapat masjid di sana dan tidak dilaksanakan p**a shalat Jumat. Hal ini membuat Tuan Guru sangat marah. Dalam hatinya dia merasa hal ini salah dan harus diluruskan. Bagaimana bisa salah jumat tidak dilaksanakan, padahal banyak orang Islam di sana. Sebagai seorang imam yang hebat, Tuan Guru mengerahkan massa untuk melaksanakan salat jumat untuk pertama kalinya di lapangan.
Banyak di antara mereka yang ikut, ada p**a yang masih merasa takut dan hanya melihat dari kejauhan. Takbir dikumandangkan dan salat dilaksanakan. Hal ini membuat Belanda tidak nyaman. Polisi dikerahkan untuk menangkapnya dan mengingatkannya bahwa apa yang dilakukannya dilarang menurut hukum. Tuan Guru dengan entengnya menjawab, “tapi hukum Tuhanku lebih besar daripada hukummu.” Tuan Guru ditangkap dan dipenjara, untuk kedua kalinya.
Hasil yang Manis
Setelah Pemerintahan Belanda berakhir, Inggris datang dan memerintah Afrika Selatan. Berbeda dengan Belanda yang melarang pelaksanaan ritual keagamaan secara umum, Inggris memperbolehkan pelaksanaan ritual keagamaan apapun. Selain itu, Pemerintah Kolonial Inggris juga memandang Tuan Guru sebagai pahlawan. Mereka menawarinya hadiah sebagai keberaniannya melaksanakan salat jumat, dengan memberinya tanah untuk didirikan rumah. Hal ini ditolaknya, baginya, hal terpenting untuk saat itu adalah masjid, dia lebih rela tidak memiliki tempat tinggal, daripada tidak memiliki rumah Allah. Ajaibnya, pemerintah kolonial mengiyakannya.
Masjid pun dibangun dan ibadah dilaksanakan disana. Masjid inipun diberi nama “The Auwal Mosque” atau masjid Auwal atau bisa diartikan lagi sebagai masjid pertama. Dari sisnilah peribadatan umat Islam dilaksanakan dengan bebas dan tanpa ketakutan sedikitpun.
Peninggalan
Selain membangun masjid, Tuan Guru juga mendirikan madrasah sebagai tempat menempa ilmu dan pendidikan. Tuan Guru tidak memilih-milih murid di madrasah ini, siapa saja bisa belajar di tempat ini, bahkan non muslim. Sehingga banyak orang-orang non muslim yang belajar di madrasah ini. Hal ini karena budak dan orang-orang kulit hitam pada waktu itu tidak diperbolehkan belajar di sekolah. Karena inilah banyak diantara mereka yang akhirnya memeluk Islam.
Apa yang diperjuangkan oleh Tuan Guru merupakan bukti bahwa perjuangan atas nama Allah tidak akan pernah bisa dikalahkan. Ketika Tuan Guru tidak bisa memperjuangkan kebebasannya di Tidore, Allah memindahkan arah perjuangannya di tempat lain. Begitulah bagaimana perjuangan seorang mujahid sejati di mata Allah. Subhanallah.
Oleh: Ikmaluddin Fikri*
*Penulis adalah Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.
Dengan judul " Tuan Guru, Pejuang Asal Maluku di Tanah Afrika "
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Address
Prapat
24173