Irwan Alimuddin Batubara

Irwan Alimuddin Batubara

Share

11/05/2026

Desa Dalihan Natolu Menanti Bupati Tapanuli Selatan: Layak Dapat Rekor MURI

Minum dulu kopinya, Bang. Jangan langsung tegang kali bacanya. Karena cerita ini bukan cuma soal sedih-sedihan. Ini cerita yang isinya campur aduk: ada pilu, ada perjuangan hidup, ada ironi, dan ada sedikit keajaiban yang mungkin terjadi karena dua hal… doa emak-emak atau kekuatan viral media sosial.

Kemarin saya menulis kisah berjudul “Saat Tandu Menggantikan Ambulans: Kisah Pilu dari Pedalaman Arse, Tapanuli Selatan.” Baru beberapa jam naik di media sosial dan media online nasional, eh tiba-tiba muncul kabar angin yang geraknya lebih cepat dari kurir ekspres.

Katanya, Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, mau datang ke Desa Dalihan Natolu. Tepatnya ke Kampung Aek Nabara.

Kalau benar jadi datang, ini bukan lagi kunjungan biasa, Bang. Ini sudah masuk kategori fenomena alam. Langka!

Soalnya begini… menurut cerita warga, semenjak Indonesia merdeka, belum pernah ada bupati yang benar-benar datang sampai ke kampung itu. Jadi kalau Gus Irawan benar datang, warga mungkin bingung antara mau menyambut atau mau memastikan dulu itu benar bupati, bukan editan AI.

Makanya ada yang bercanda: “Kalau jadi datang, ini layak diusulkan masuk rekor MURI.”

Karena selama ini yang paling rajin keluar masuk kampung itu bukan pejabat. Tapi ibu bidan, Nirma Julinda Nasution, bersama kawan-kawan dari Puskesmas Hanopan.

Mereka inilah pahlawan sebenarnya, Bang.

Di saat sebagian orang sibuk bikin konten “healing ke gunung”, mereka naik turun gunung demi memastikan warga tetap bisa berobat.

Jalannya? Jangan ditanya.

Kalau kendaraan masuk ke sana, bunyi shockbreaker-nya kadang sudah seperti orang baca zikir.

Di peta memang jaraknya cuma sekitar 35 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kalau Google Maps bisa bicara, mungkin dia juga sudah menyerah sambil bilang: “Abang yakin mau lewat sini?”

Kampung Aek Nabara sendiri dihuni mayoritas warga bermarga Aritonang. Kehidupan mereka sederhana. Ada yang bertani, ada yang menyadap pinus, dan ada p**a yang jadi pandai besi.

Nah, parang buatan kampung ini terkenal bagus kualitasnya. Tajam, kuat, dan tahan lama. Mungkin karena ditempa langsung dengan bara api dan kerasnya kehidupan.

Padahal kampung ini punya potensi besar. Tanahnya dingin, subur, dan cocok untuk kopi. Kalau akses jalan bagus dan perhatian pemerintah benar-benar serius, bukan tidak mungkin kopi Aek Nabara nanti diminum orang Jakarta sambil bilang: “Wah… ini after taste-nya ada aroma perjuangan.”

Masalahnya, untuk masuk ke sana saja perjuangannya sudah seperti ikut acara survival.

Dan perhatian orang akhirnya tertuju ke Aek Nabara gara-gara kisah seorang ibu hamil bernama Mastuti Daulae, usia 35 tahun. Beliau mengalami kontraksi dan pecah ketuban. Karena akses menuju fasilitas kesehatan sulit, persalinan sempat dicoba di rumah.

Tapi kondisi makin darurat.

Ambulans tidak bisa masuk.

Akhirnya tandu yang bekerja.

Bayangkan Bang… di saat orang kota sibuk debat kamera iPhone atau Android lebih bagus untuk selfie, di sudut negeri ini masih ada ibu hamil yang harus ditandu melewati jalan hutan demi mencari pertolongan medis.

Tapi hebatnya, warga Aek Nabara tetap tabah. Mereka tidak minta mall. Tidak minta bioskop. Tidak juga minta café estetik buat nongkrong sambil buka laptop tanpa kerja.

Mereka cuma ingin jalan yang layak. Ambulans yang bisa masuk. Dan pemerintah yang ingat bahwa di tengah hutan Arse sana… ada rakyat yang juga ingin dianggap bagian dari Indonesia.

Kalau benar nanti bupati datang, mudah-mudahan jangan cuma datang buat foto sambil menunjuk jalan rusak lalu p**ang.

Mudah-mudahan ini jadi awal perubahan.

Karena kampung kecil seperti Aek Nabara sebenarnya tidak butuh janji besar.

Mereka cuma ingin… kalau ada ibu melahirkan lagi nanti, yang datang itu ambulans.

Bukan tandu.

Dan mudah-mudahan dengan datangnya bupati nanti, Desa Dalihan Natolu benar-benar menyentuh start pembangunan, Bang.

Karena rakyat disana bukan butuh dikadih kasihan.

Mereka cuma ingin jalannya diperhatikan...
supaya kalau pemerintah datang lagi nanti, tak perlu pakai mobil dobel gardan, dan muka tegang seperti peserta off-road nasional.
📸 Foto hanya AI
Alimuddin Batubara

orang

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Pati?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Pati