Unofficial Tim Ahli

Unofficial Tim Ahli

Share

24/06/2025

Sep**ang sekolah, Fikri bergegas pergi ke tempat nya bekerja. Ia menjadi buruh pengupas kelapa. Padahal usianya baru 9 tahun.

Dari siang hingga sore hari ia bekerja. Seharian Fikri mengupas 150 buah kelapa, ia diupah 20rb. Semua dilakukan Fikri untuk membantu kedua orang tuanya.

Sedangkan ayahnya sudah tak bisa bekerja berat lagi, setelah kecelakaan beberapa tahun lalu, hingga tangannya patah dan mengecil sebelah kanan.

Kini ayahnya hanya mencari umpan pancingan untuk dijual.

Fikri harus bantu ayah juga menghidupi dua adiknya yang masih kecil yaitu Iqbal (8) dan Rahmud (3). Walaupun sering kali, Fikri dan keluarga hanya makan dengan nasi dan sambal saja.

Bocah kelas 3 SD ini setiap hari harus menjalani sekolah sampai bekerja. Fikri berharap ia bisa terus sekolah dan menggapai cita-citanya jadi tentara.

24/10/2024

Hanya kepada-Nya aku pasrah. Entah apa yang ada dalam pikiran pada suatu ketika di seberang lautan di ujung dunia. Page Eska Shofwan Karim III Shofwan Karim Shofwan Bin Abdul Karim Shofwan Karim II.

20/10/2024

Tanapa prenah tahu kapan fajar tiba, kubuka semua pintu. (Emily Elizabeth Dickinson. Dari Torey Hayden, Sheila, Kenangan yang Hilang: Qanita Mizan, 2003)

Photos from Unofficial Tim Ahli's post 16/08/2024

Bank Naskah. Selamat Hari Merdeka ke-79.

Segar Ulang Islam Berkemajuan, Poros Minang-Jawa.

PERTANYAAN yang sering muncul di kalangan publik adalah, apakah dengan diksi Islam berkemajuan ada p**a Islam berkemunduran? Pemikiran ini bagai tesa dan antitesa serta bagaimana sintesanya.

Muhammad Darwis atau lebih dikenal KH Ahmad Dahlan (1888-1923) pada awal mendirikan Muhammadiyah (1912) sudah memulai diksi pendek, Islam berkemajuan. Sebenarnya, di Minangkabau wacana Islam berkemajuan secara intrinsik (makna hakiki dari dalam) sudah mendahuluinya.

Istilah kaum muda yang ada di Minangkabau kala itu menjadi mantra bagi kaum paham "modern" merespons perkembangan masyarakat. Oleh kaum tua mereka kurang diperhatikan di awal abad lalu. Kira-kira kaum muda Minangkabau ini pemikiran mereka mirip dengan apa yang menjadi wacana dan ikhtiar Dahlan yang dimaksudnya berkemajuan.

Tokoh kaum muda merupakan hulu dinamika berkemajuan di Minang. Promotornya empat serangkai ulama. Mereka adalah Abdul Karim Amrullah (1879-1945) atau Inyiak Rasul-Inyiak DeEr. Abdullah Ahmad (1878-1933) keduanya tahun 1925 beroleh Doktor Kehormatan (Dr.HC) dari Universitas Al-Azhar, Mesir (bukankah ini berkemajuan?).

Syekh Djamil Jambek (1860-1947). Serta Ibrahim Musa Inyiak Parabek (1884-1963). Dengan begitu agaknya bisa disebut bahwa diksi Islam berkemajuan itu bagai air hujan yang datang dari langit nusantara menggenang di dua danau. Danau itu mengalirkan dua poros sungai kemajuan: Minang dan Jawa.

Bila ditilik dari pemahaman pemikiran dan logika masa awal tadi maka perdefinisi Islam berkemajuan lebih kepada makna memahami dan mengamalkan akidah tauhid murni. Ibadah yang murni tak bercampur dengan khurafat, takhayul dan bid'ah, bersih dari budaya nenek moyang serta kultur lokal.

Mereka agaknya derkelindan dengan kaum apa yang dinamakan di Arabia sebagai kaum al-muwahidun. Penganut tauhid mutlak. Secara teoritis, inilah yang sering disebut sebagai purifikasi atau pemurnian agama.

Sejalan dengan itu, tidak cukup dengan permurnian, Islam harus membumi untuk ikhtiar kehidupan yang baik di dunia. Doa "sapu jagat" memohon kebaikan di dunia dan akhirat harus diiringi dengan paralelisme kedua konten pokok tadi.

Maka untuk tujuan dunia, itulah makna kemajuan dan pembaruan atau modernisme. Bersamaan dengan itu untuk kebaikan akhirat inilah pada masa itu yang disebut pemurnian tadi.

Yang pertama dipahami sebagai tajdid dan yang kedua dipahami sebagai tashlih. Agaknya perdefinisi itulah yang dikonstruk ulang atau redefinisi oleh Dahlan, ketika kata berkemajuan menjadi membumi ketika Dahlan selama 8 bulan mengajarkan kepada santrinya mempraktekkan isi surat surat al-Ma'un.

Ikhtiar menyantuni anak yatim dan orang miskin berarti sekaligus memberdayakan mereka. Untuk maksud itu harus dinisbahkan ke banyak ayat dalam Al Quran dan Hadist serta sirah nabawiyah. Lalu disinkronkan aplikasinya dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Di Minangkabau definisi itu mendahului Jawa. Gerakan Paderi (1803-1821) dan Perang Paderi (1821-1837) bersumbu kepada hal di atas. Sementara Perang Paderi sudah berkemajuan plus. Plus di sini dimaknai sebagai nilai perjuangan dari dalam (kebebasan) dan ekstrinksik (mengejar kebaikan). Kedua faksi kaum agam dan adat menyatu melawan Belanda.

Bukankah itu inspirasi pencuatan energi dari dalam. Dan boleh jadi KH Dahlan terinspirasi dari gurunya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkawi secara simultan juga dengan gerakan Paderi tadi. Diskursus dan aplikasi Islam berkemajuan mengalami pasang naik dan turun.

Naik ketika munculnya semangat baru ber-Islam. Mereka dulu dianggap ketinggalan dalam merespons kemajuan dunia, lalu meningkatkan sumber daya manusia umat dengan pendidikan ketaqwaan (iman dan ibadah), kognitif (ilmu), afektif (moral-akhlak) dan psikomorotik (skil-vokasional).

Pada awal dan sepanjang abad lalu, Muhammadiyah mendirikan dan menggebiarkan dunia pendidikan, kesehatan dan santunan sosial serta kemanusiaan. Kini terus melakukannya dan jamaah, jam'iyah serta kelompok lain pun sudah melakukan p**a hal yang sama meski terasa getaran, aura dan capaian mereka berbeda-beda.

Di Minangkabau Inyiak DeEr bersama tokoh sezaman membangun Thawalib. Abdullah Ahmad mendirikan Sekolah Adabiyah. Inyiak Syekh Djambek berbasis surau Tangah Sawah dan Surau Kamang dengan mensyiarkan taklim Islam moda tabligh.

Sejalan dengan melek baca dan tulis percetakan buku, belakangan mengispirasi Tsamaratul Ikhwan dan Pustaka Sa'diyah, Bukittingi dan Padangpaanjang. Ibrahim Musa berbasis Surau Parabek mendirikan Madrasah Thawalib Parabek. Semuanya masih bekembang oleh pelanjutnya sampai sekarang.

Sejalan dengan itu dalam redefinisi Islam berkemajuan, dalam bidang pendidikan mesti dimasukkan Inyiak Canduang. Adalah Syekh Sulaiman ar-Rasuli (1871 19970). Ulama yang sedang diperjuangkan menjadi Pahlawan Nasional ini, mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang Tahun 1928..

Ia dianggap sebagai tokoh yang menyebarluaskan gagasan keterpaduan adat Minangkabau dan syariat lewat kredo Adaik basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (ABS-SBK). Pada beberapa kajian, inyiak Candung dianggap merevitalisasi serta mereaktualisasi Sumpah Sati Bukik Marapalam satu abad sebelumnya yang dianggap proklamasi awal SBS-SBK tadi.

Dan sekarang bukan hanya Inyiak Canduang dan pengikutnya mengubah definisi lama. Sekarang semua sudah berorientasi kemajuan. Dan sebaliknya para penganut purifikasi ajaran dan peraktik ibadah mahdhah masih tetap sama. Namun mereka melakukan reorientasi (pendekatan ulang). Mereka lebih akomodatif di tingkat public dan konsisten dalam sikap dan amaliah perorangan.

Maka terjadilah reaktualisasi dalam aplikasi berkemajuan. Purifikasi mereka tetap dilakukan namun menghindari ketidaknyamanan pihak lain. Inilah titik awal dan ujung, QS, al-Anbiya' 107: "Kami tidak mengutus engkau wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."

Maka tesa dan anti tesa pada awal tulisan ini, seolah sudah menemukan sintesanya, Islam berkemajuan menjadi paradigma dan praktek kaum muda, kaum tua, tradisional, modern, pasca-modernisme, bahkan di kalangan milineal. Alla a'lam bi al-shawab. (Shofwan Karim, SShofwan Bin Abdul Karim SShofwan Karim III SShofwan Karim SShofwan Karim IIadalah Dosen-Lektor Kepala, Pascasarjana UM Sumbar)

Sudah tayang di Padang Ekspres dan Kompasiana. Akses, 17/8/2024)

Want your business to be the top-listed Clothing Store in Padang?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Address


Padang