Echomora
"You kept pushing forward, even when the world went silent. Your strength is a masterpiece, unseen by many, but felt by all."
15/02/2026
Beginikah Rasanya Dipeluk Seorang Bapak?
DI TUBUH ANAK INI, ADA SEBAGIAN DIRIKU DI DALAMNYA.
Part 8
"Ya Hayyu ya qayyumm... Yaa Allah... Hamba mohon keajaiban mu untuk anakku Sagara Ya Allah" Arumi tak henti-hentinya berdzikir.
Lampu indikator ruang operasi akhirnya padam.
Arumi yang sejak tadi meremas tangannya sendiri sambil merapal doa tanpa henti, langsung bangkit berdiri. Kakinya gemetar saat melihat pintu otomatis itu terbuka.
Elio keluar lebih dulu. Wajah dokter tampan itu terlihat sedikit pucat—efek pengambilan darah dalam jumlah banyak secara mendadak—namun sorot matanya menyiratkan kelegaan.
"Dokter..." Suara Arumi tercekat. "Sagara..."
Elio menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Dia pejuang yang tangguh, Bu Arumi. Operasinya berhasil. Pendarahannya sudah berhenti dan masa kritisnya sudah lewat. Dia anak yang kuat."
"Alhamdulillah..." Arumi langsung merosot kembali ke lantai. Tangisnya pecah. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru yang membuncah.
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat. "Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih..."
Elio menatap wanita yang bersimpuh di depannya itu. Ada perasaan aneh yang menjalar di dada Elio. Melihat ketulusan cinta Arumi pada Sagara, padahal wanita itu sendiri baru saja mengakui bahwa Sagara bukan darah dagingnya.
"Bangunlah, Bu Arumi," ucap Elio, suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya, meski wibawanya tetap terasa. "Jangan menangis di lantai kotor begini."
Arumi menghapus air matanya kasar, lalu berdiri dengan canggung. Ia menatap Elio dengan tatapan penuh hutang budi. "Terima kasih banyak, Dokter Elio. Dokter sudah menyelamatkan nyawa anak saya... Saya... saya tidak tahu harus membalas dengan apa. Darah Dokter sudah mengalir di tubuh Sagara. Saya berhutang nyawa untuk Sagara pada dokter"
"Itu intinya," potong Elio cepat. Tatapannya berubah serius, mengunci manik mata Arumi. "Karena darah saya sekarang mengalir di tubuh anak itu, saya rasa saya berhak tahu kebenarannya."
Arumi tersentak. "Maksud Dokter?"
"Ikut ke ruangan saya. Sekarang. Ada hal medis dan non-medis yang harus kita bicarakan mengenai Sagara."
Tanpa menunggu jawaban, Elio berbalik badan, melangkah tegas menuju ruang kerjanya. Arumi menelan ludah susah payah. Ia ingin menolak, tapi bagaimana mungkin ia menolak perintah orang yang baru saja mendonorkan darah untuk anaknya? Dengan langkah berat, Arumi mengekor.
Ruangan kerja Elio terasa dingin dan mengintimidasi. Aroma antiseptik dan buku-buku tebal yang berjajar rapi membuat Arumi semakin merasa kecil.
"Duduk," titah Elio.
Arumi duduk di ujung kursi, tangannya saling meremas di pangkuan. Ia merasa seperti terdakwa yang sedang diinterogasi.
Elio duduk di kursi kebesarannya, menatap Arumi lekat-lekat selama beberapa detik sebelum membuka suara.
"Tadi di depan ruang operasi, saat kamu panik... Kamu bilang kamu bukan ibu kandungnya," Elio memulai pembicaraan langsung ke inti. "Benar begitu?"
Wajah Arumi pias. Ia merutuki mulutnya yang tidak bisa dikontrol saat panik tadi.
"S-saya..." Arumi tergagap, matanya bergerak gelisah menghindari tatapan tajam Elio. "Saya cuma panik, Dok. Saya bingung harus cari donor ke mana, makanya saya bicara ngawur."
"Bicara ngawur?" Elio tersenyum miring, senyum yang tidak mencapai mata.
"Bu Arumi, saya ini dokter. Secara medis, golongan darah Sagara itu AB Rhesus Negatif. Sangat langka. Sementara kamu... dari data administrasi rumah sakit saat pendaftaran tadi, golongan darahmu O Positif. Secara genetika, mustahil ibu bergolongan darah O melahirkan anak bergolongan darah AB."
Arumi membeku. Ia lupa bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli medis. Kebohongannya patah seketika.
"Jadi, siapa Sagara sebenarnya?" desak Elio. Nada suaranya rendah, namun menuntut.
"Siapa orang tuanya? Dan kenapa anak dengan golongan darah langka seperti itu bisa hidup bersamamu saat ini?"
Arumi menunduk dalam. Ia tidak mungkin menceritakan aib keluarganya. Ia tidak mungkin bilang bahwa adiknya, Diva, membuang bayi itu di panti asuhan lalu ia memungutnya kembali.
"Dia... Dia anak yang dititipkan Tuhan pada saya, Dok," jawab Arumi lirih, namun tegas.
"Siapapun orang tua kandungnya, mereka sudah tidak menginginkannya. Bagi Sagara, sayalah ibunya. Dan bagi saya, dialah segalanya. Hanya itu yang perlu Dokter tahu."
"Tidak menginginkannya?" Elio membeo. Rahangnya mengeras. Ingatannya kembali pada Aldi, adiknya yang tidak bertanggung jawab.
"Apakah ayahnya seorang pria yang... meninggalkan ibunya?"
Arumi mendongak kaget. Pertanyaan itu terlalu spesifik.
"Saya tidak tahu soal Ayahnya," elak Arumi cepat. "Saya hanya merawatnya sejak bayi merah. Sejak dia... dibuang."
Satu kata itu. Dibuang.
Kata itu menghantam dada Elio dengan telak. Jadi benar. Keponakannya dibuang. Cucu keluarga Adhitama dibuang seperti sampah. Kemarahan pada Aldi dan wanita yang melahirkan Sagara semakin membara di dada Elio.
"Baiklah jika kamu belum mau jujur sepenuhnya," Elio menyandarkan punggungnya, mengubah strategi. Ia tidak boleh terlalu agresif atau Arumi akan kabur membawa Sagara.
"Tapi ingat satu hal, Bu Arumi. Sagara butuh pemulihan panjang. Dan karena darah saya ada di tubuhnya, saya akan memantau perkembangannya secara pribadi. Jangan coba-coba menyembunyikan apapun lagi."
"Saya... Saya permisi mau lihat Sagara, Dok," Arumi buru-buru bangkit. Ia merasa sesak berada di ruangan itu. Tatapan Dokter Elio seolah menelanjangi semua rahasia yang ia simpan rapat-rapat selama lima tahun ini.
"Silakan."
Arumi bergegas keluar, menutup pintu ruangan itu dengan jantung yang masih berpacu gila-gilaan.
Sepeninggal Arumi, Elio tidak tinggal diam. Keyakinannya sudah bulat seratus persen.
Sagara adalah anak Aldi. Golongan darah langka itu adalah stempel tak terbantahkan dari garis keturunan Adhitama. Dan Arumi... wanita itu jelas menyembunyikan identitas asli orang tua Sagara.
Elio mengambil ponselnya, menekan panggilan cepat nomor 1.
"Halo, Raka," ucap Elio dingin.
"Siap, Bos. Ada perintah?" suara di seberang menjawab sigap. Raka adalah orang kepercayaan Elio, detektif swasta yang biasa menangani masalah "bawah tanah" keluarga Adhitama.
"Saya kirimkan foto KTP seorang wanita bernama Arumi. Dia sekarang ada di Rumah Sakit Medika Pusat."
"Oke. Apa yang harus saya cari?"
"Gali semuanya sampai ke akar-akarnya," perintah Elio tajam. "Cari tahu siapa keluarganya, siapa orang tuanya, dan cari tahu siapa saudara perempuannya. Saya curiga, Arumi ini hanya 'tangan' yang memungut dosa saudaranya."
"Siap, laksanakan. Besok pagi laporannya sudah di meja Bos."
Elio mematikan sambungan telepon. Ia memutar kursi kerjanya menghadap jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta.
"Kamu boleh menyembunyikannya dari dunia, Arumi," gumam Elio pelan, matanya berkilat penuh ambisi.
"Tapi kamu tidak bisa menyembunyikan darah daging Adhitama dari keluarganya sendiri. Sagara akan kembali pada kami. Dan kamu... akan kita lihat, apakah kamu pahlawan atau justru penculik bertopeng malaikat."
Bersambung...
Yuk baca kelanjutannya di aplikasi KBM app ya kak
JUDUL : JANGAN BERHENTI JADI IBUKU
PENULIS : ERIN MARTA LINA
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Padang
Padang
25113