Gung

Gung

Share

09/01/2026

Ibu Tiriku Menjualku pada Pria Penyandang Disabilitas seharga 1 Miliar. Malam Pengantin, Aku Menggendong Suamiku ke Ranjang... dan Satu Tersandung Mengubah Hidup Kami Berdua.

Sejak ayahku meninggal, aku hidup di rumah yang tak lagi hangat. Ibu tiriku adalah perempuan yang hanya tahu menghitung. Dia selalu bilang padaku: "Anak perempuan miskin harus tahu meraih kesempatan. Dapatkan suami kaya, dianggap mengubah nasib."

Mengubah nasib? Atau dijual seperti barang? Aku tahu jawabannya, tapi tetap diam. Di rumah ini, aku tak pernah punya hak memilih. Suatu sore, ibu tiriku memberi kabar: "Besok, kamu pulang ke rumah suami. Suamimu adalah Arka – dari keluarga Wijaya. Dia penyandang disabilitas, tapi keluarganya sangat kaya."

Aku terpana. Belum pernah bertemu, belum satu kata sapa, sudah dinikahkan seperti mengirim paket. Pernikahan berlangsung dalam keheningan yang aneh: tak meriah, tanpa musik, tanpa ucapan selamat. Hanya aku berdiri di samping Arka – pria yang duduk tak bergerak di kursi roda, wajahnya tampan tapi matanya dalam dan dingin bagai es. Saat kursi rodanya didorong keluar gerbang, ibu tiriku membisik di telingaku: "Ingat, jaga mulut. Keluarga mereka tidak s**a kamu bikin masalah." Dan begitulah aku – anak perempuan yang dianggap barang selesai bertransaksi – memasuki pernikahan yang tak seorang pun menyebutnya dengan nama.

Vila keluarga Wijaya megah tapi sepi bagai tak berpenghuni. Arka hanya mengatakan satu kalimat padaku: "Kamu jalani hidupmu saja. Aku tidak menuntut apa-apa." Tidak memanggilku "istri", tidak menanyakan apa pun lagi.

Siang hari dia duduk di ruang baca, matanya menatap halaman buku tapi sepertinya tak membaca satu huruf pun. Malam hari aku tidur di kamar sebelah, hanya mendengar suara roda kursi berputar teratur di lantai kayu — suara yang membuat rumah semakin sepi menyedihkan. Kadang aku bertanya: Hidupku... sudah selesai?

Malam itu, para pembantu sudah pulang semua. Kamar pengantin luas kosong, sepi hingga mengganggu napas. Arka duduk di tepi ranjang, pandangannya menunduk: "Kamu tidak perlu kasihan padaku," bisiknya. "Aku tahu... aku hanya beban." Aku menggeleng: "Aku tidak berpikir begitu."

Entah mengapa, hatiku terasa sesak. Pria ini, meski dingin, memancarkan kesepian yang menyedihkan. Aku membungkuk: "Biar aku... bantu kamu ke ranjang."

Dia terdiam, lalu mengangguk lemah. Perlahan aku menyelipkan kedua tanganku ke punggungnya, berusaha mengangkat. Dia lebih berat dari yang kuduga, bahuku gemetar. Hanya beberapa langkah, kakiku tersandung ujung karpet — dan braak — kami berdua terjatuh ke lantai kayu yang dingin.

Aku berteriak kecil, hendak duduk dan minta maaf, lalu... membeku. Di bawah tanganku — kaki Arka bergerak. Jelas. Lebih kuat dari sekadar refleks normal. "Kamu... kakimu baru saja bergerak..." suaraku gemetar.

Wajah Arka pucat, bagai rahasia tergelapnya terbongkar:👇👇

09/01/2026

"Wah, rumahmu besar dan luas juga ya, Arya. Ibu menyesal karena dulu nggak mau ikut kamu ke Jakarta dan tinggal di sini," ucap Bu Desi. Kedua bola matanya tampak berbinar-binar memindai seisi rumah yang ditempati Arya dan Shanum, dengan berbagai macam perabotan mewahnya.

"Ya iyalah, ibu sih. Lila kan udah bilang, mending tinggal di rumah Mas Arya aja. Eh, ibunya nggak mau!" celetuk Lila menimpali penyesalan sang ibu.

Sementara itu, Shanum hanya diam dan memerhatikan gerak-gerik mereka berempat. Arya, Ibu mertua, adik ipar, serta seorang perempuan yang asing bagi Shanum.
Bu Desi dan Lila yang masih terpesona dengan desain rumah mewah itu, dan Arya juga perempuan yang sedari tadi menundukkan kepalanya, enggan membalas tatapan Shanum. Mungkin … takut.

"Mas Arya, tolong jelaskan semua ini," pinta Shanum mulai membuka suara. Wanita itu menaruh kedua tangannya di perut sembari memindai keempat orang di hadapannya dengan tatapan menyelidik.

"Ah iya, aku sampai lupa untuk mengenalkannya padamu, Sha," ucap Arya santai, seakan tanpa beban, pun juga rasa bersalah telah membawa istri barunya ke istana yang ditempatinya dengan Shanum selama tiga tahun terakhir.

Shanum menatap lekat ke arah Arya, menanti kata demi kata yang akan keluar dari mulutnya.

"Katakan, siapa dia Mas?" Penuh penekanan, Shanum bertanya. Kedua matanya tengah memindai sosok asing yang duduk di samping suaminya, bahkan bergelayut manja di lengan sang suami.

"Perkenalkan, dia adalah Anara, istri baruku." Tanpa dosa, lelaki yang masih berstatus suami sah Shanum itu memperkenalkan perempuan dengan riasan tebal, dan pakaian yang aduhai se*$sinya sebagai istri barunya. Bagaikan petir di musim kemarau ketika Arya mengenalkan sosok itu.

"Aku sudah menikah dengan Anara tiga bulan yang lalu," sambungnya sembari menatap mesra Anara yang duduk di sampingnya, melempar senyum remeh terhadap istri sah Arya.

"Hahaha…." Shanum tiba-tiba saja tertawa lepas. Dia menertawakan dirinya sendiri. Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Tiba-tiba saja dirinya dilanda kenyataan sedemikian rupa. 'Sedih, iya. Tapi hanya sedikit saja. Hatiku terlalu berharga untuk meratapi lelaki pecundang seperti Mas Arya. Mirisnya hidupku!' keluh Shanum dalam hati.

Shanum menghentikan tawanya. "Lalu, maksudmu apa membawanya ke sini, Mas," ucap Shanum dengan wajah datar.

Sementara keempat orang itu menatap Shanum heran. Ya, Arya, Bu Desi, Lila, dan juga perempuan muda yang baru saja dikenalkan Arya sebagai istri keduanya. Mereka tercengang dengan ekspresi Shanum.

Bukan amarah atau makian yang wanita itu lontarkan. Melainkan ekspresi datar dan dingin yang Shanum tunjukkan pada mereka berempat.

'Hah! Jangan harap! Aku tak akan mengotori mulutku dengan mengucapkan bermacam sumpah serapah pada mereka. Tidak akan!' Shanum membatin dalam hatinya.

"M–Maksudku ...." Arya tampak gugup. Pria itu mendadak ciut setelah melihat reaksi santai Shanum...(Baca cerita selengkapnya di kolom komentar di bawah.)👇👇

09/01/2026

Tengah malam, ayah mertua saya "hilang." Saya pergi mencari dan hampir pingsan ketika melihatnya berada di kamar pembantu. Apa yang terjadi di dalam ternyata jauh lebih menjijikkan...

Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Suasana di dalam vila ini sunyi hingga saya bisa mendengar suara jangkrik berdengung di kebun. Saya adalah Maya, menantu tertua di rumah ini. Malam ini saya gelisah tidak bisa tidur karena kehamilan membuat tidak nyaman, tenggorokan terasa kering, jadi berniat turun ke dapur mencari air hangat. Saat melewati kamar mertua saya di lantai 2, saya kaget melihat pintu kamar mereka terbuka sedikit, dan di dalam kosong. Ibu mertua saya masih tertidur pulas, napasnya teratur, tetapi ayah mertua – Bapak Agung – tidak terlihat.

Hati saya berdebar. Ayah mertua saya tahun ini sudah berusia 60-an, terkenal sebagai orang yang terhormat dan tegas. Namun belakangan ini, dia menunjukkan banyak perilaku aneh. Dia sering melamun, ponselnya selalu dikunci, dan kadang saya melihatnya diam-diam ke balkon mendengarkan telepon tengah malam dengan wajah waspada. Firasat saya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres, saya berjalan pelan menuruni tangga. Seluruh rumah gelap gulita, hanya cahaya lampu kekuningan yang menyembul dari celah pintu kamar Wulan – pembantu baru yang baru bekerja sekitar 1 bulan di lantai dasar.

Wulan baru berusia 22 tahun, masih muda, kulit putih, tubuh montok dan terutama memiliki mata basah yang sangat menggoda. Sejak Wulan datang bekerja, saya sudah merasa tidak tenang karena cara pandang ayah mertua kepadanya sangat berbeda. Suatu kali, saya melihat Bapak Agung diam-diam memandangi Wulan sedang menjemur pakaian di halaman belakang, matanya terpana dengan cara yang aneh. Saya menahan napas, mendekati kamar Wulan. Suara berbisik-bisik terdengar.

"Bapak... bapak jangan begitu, saya tidak bisa meninggalkan..." – Suara Wulan tersedu-sedu, terdengar seperti memohon.

"Ambil ini! Jangan banyak bicara lagi, saya bilang tinggalkan ya tinggalkan. Ambil uang ini dan pergi sekarang dari pandangan saya!" – Suara ayah mertua saya kasar namun gemetar, terdengar sangat terburu-buru.

Darah panas mengalir ke otak saya. Saya mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Pemandangan di dalam membuat saya mati rasa, tangan dan kaki lemas hampir menjatuhkan gelas air.

Want your business to be the top-listed Media Company in Negara?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Lingkungan TP45 Pendem
Negara
82211