Pdt. Gomgom R. Tumanggor

Pdt. Gomgom R. Tumanggor

Share

06/06/2026

DUNIA DAN SEGALA ISINYA ADALAH MILIK TUHAN
Mazmur 50: 7 - 15

Nats ini menyatakan kepada kita tentang Tuhan yang sesungguhnya dan siapa kita sesungguhnya bagi Tuhan. Diberitahukan kepada kita tentang apa yang membuat hati Tuhan senang bila kita datang ke hadapan-Nya.

Nats ini dimulai dari seruan dari Tuhan dan menunjukkan otoritas yang tertinggi yang dimiliki-Nya. Kata "dengarlah!" Dan "Aku hendak bersaksi terhadap kamu" menjelaskan apabila kita datang kepada Tuhan kita adalah sebagai pendengar. Banyak dari antara kita yang tidak menyadari ini, sehingga yang terjadi adalah sebaliknya. Ketika kita datang ke hadirat Tuhan, justru kitalah yang berbicara lebih banyak bahkan berteriak menyampaikan apa isi hati kita kepada Tuhan. Sementara kita lupa bahwa sesungguhnya yang kita lakukan adalah untuk mendengar.

Mengapa banyak dari antara kita yang merasa tidak diperdulikan, merasa sepi, dan seperti tidak dianggap? Sesungguhnya itu karena dia tidak mau mendengar. Kita menghabiskan waktu untuk berdoa dan menyampaikan segala yang ada dalam hati kita kepada Tuhan, lalu setelah itu kita merasa doa kita tidak menemukan jawaban. Itu karena setelah kita berdoa menyampaikan seluruh isi hati kita kepada Tuhan, kita berhenti dan tidak mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita.

Banyak orang yang sangat rajin berdoa namun sangat jarang untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan. Lalu bagaimana kita bisa menemukan jawaban atas doa kita apabila demikian? Lebih lengkap lagi, banyak orang dengan semangat memuji Tuhan, bernyanyi dengan penuh semangat, memberikan persembahan, namun saat Tuhan berfirman dia tidak lagi berfokus untuk mendengarkan. Hal itulah yang ditegur Tuhan melalui nats ini.

Lebih spesifik Tuhan membahas tentang ritual ibadah dan korban persembahan yang diberikan umat kepada-Nya. Mereka sangat rajin memberikan korban bakaran kepada Tuhan, namun satu hal yang sangat penting mereka lupakan, yaitu mempersembahkan syukur kepada Tuhan. Mereka berprinsip apabila mereka telah melakukan ritual ibadah dengan rajin dan mempersembahkan korban kepada Tuhan maka Tuhan pasti senang, dan akan memberikan berkat. Transaksional sekali pemikiran seperti ini.

Tuhan memjelaskan bahwa Dia adalah pemilik segala sesuatu yang ada di dunia ini, bahkan lembu atau harta yang kita akui sebagai milik kita sesungguhnya adalah di bawah kuasa Tuhan. Bila Tuhan membutuhkan sesuatu tidak perlu Dia meminta kepada kita, sebab Dialah pemilik segalanya. Jadi jangan pernah merasa bahwa dengan apa yang kita berikan kepada Tuhan, lalu Tuhan senang kepada kita.

Yang Tuhan lihat dari kita bukanlah dari apa yang kita bawakan dan berikan kepada Tuhan, melainkan dari hati kita saat kita membawanya. Apakah kita membawanya dengan rasa syukur atau sekadar kewajiban belaka? Bila kita membawanya dengan rasa syukur tentu yang kita bawa itu sudah kita persiapkan dengan sebaik-baiknya, sebagai wujud hormat kita kepada Tuhan. Bila demikian tentulah Tuhan senang dengan apa yang kita bawakan.

Bila kita telah berfokus dahulu untuk mendengar Tuhan, dan datang kepada-Nya dengan rasa syukur, maka datanglahlah kita untuk menyempaikan apa yang membuat hati kita terasa sesak. Pada saat itu Tuhan akan menolong dan kita juga akan senantiasa memuliakan Tuhan.

Selamat Hari Minggu

02/05/2026

AKU MENYANYI BAGI TUHAN
Keluaran 15: 1 - 14

Bernyanyi adalah salah satu cara untuk mengekspresikan diri dan juga perasaan. Kita bisa saja mengungkapkan rasa syukur dan s**a cita melalui nyanyian, demikian juga dengan kesedihan, jatuh cinta, putus cinta dan ekspresi emosi lainnya. Bahkan melalui nyanyian dapat kita merasakan ungkapan yang lebih tulus dari pada sekadar kata-kata. Dalam ibdah juga kita tidak terleapas dari nyanyian. Kita memuji Tuhan dan bersyukur dengan nyanyian, mengungkapkan pertobatan melalui nyanyian, mengungkapkan harapan juga melalui nyanyian, dll.

Demikianlah Musa dan bangsa Israel mengungkapkan kebahagiaan mereka setelah terlepas dari kejaran Firaun dengan nyanyian. Sebelumnya saat mereka sedang berjalan meninggalkan Mesir, Firaun justru mengejar mereka dan hendak menjadikan mereka kembali sebagai tawanan. Namun kuasa Tuhan nyata di hadapan mereka saat mereka melewati Laut Teberau dengan berjalan dari dasar laut yang kering. Kuasa Tuhan membelah lautan tersebut sehingga mereka dapat menyeberanginya dari tanah yang kering. Saat mereka telah tiba di seberang, masuklah juga pas**an Firaun ke dalam laut, namun saat itu juga Tuhan mengembalikan laut seperti semula sehingga tenggelamlah tentara Firaun dengan segala perlengkapan mereka.

Melihat itu tentu Musa dan segenap bangsa Israel sangat bers**acita dan mereka mengekspresikan s**a cita mereka melalui nyanyian. Dalam nyanyian ini ada beberapa pengakuan dan perenungan tentang kuasa Tuhan dalam hidup ini.

Pertama Tuhan kuat dan perkasa, tidak ada yang menandingi-Nya. Tuhan laksana pahlawan perang yang tidak pernah terkalahkan. Akhir-akhir ini kita sering menonton berita tentang peperangan antar bangsa-bangsa di dunia ini. Tentu dalam peperangan yang penting dipersiapkan adalah panglima perang dengan pas**annya juga peralatan tempurnya. Namun bagi Tuhan semuanya itu tidak perlu sebab Tuhan bisa menyatakan kehendak-Nya dengan caranya sendiri. Itulah yang terjadi di depan mata bangsa Israel.

Kemudian Tuhan berkuasa atas alam semesta untuk mewujudkan kehendak-Nya. Lihatlah laut dapat terbelah oleh kuasa Tuhan demi keselamatan Israel. Maka sangat disalahkan bagi kita orang percaya bila ada keraguan di dalam hati kita kepada Tuhan. Tuhan bisa memakai apa saja dan siapa saja untuk mewujudkan kehenda-Nya. Sekalipun itu mustahil bagi manusia, namun bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Dengan keluhuran Tuhan yang besar, Dia dapat meruntuhkan siapa saja yang menentang-Nya. Kalimat ini termasuk pengakuan yang menarik. Firaun dengan pas**annya yang gagah dan peralatan perangnya merasa yakin dapat membawa kembali bangsa Israel sebagai budak mereka. Namun walaupun dia memiliki kekuatan yang besar, itu tidak akan mampu mengagalkan rencana Tuhan. Sebaliknya mereka justru diruntuhkan oleh Tuhan dan membiarkan laut menelan mereka. Demikianlah kita jangan sekali-sekali mengandalkan diri kita seolah-olah mampu menandingi kuasa Tuhan.

Pada bagian yang terakhir dengan kasih setia-Nya, Tuhan menuntun umat-Nya yang telah ditebus dan membimbing mereka ke tempat kediaman Tuhan yang kudus. Dalam hidup ini biarlah Tuhan yang menuntun hidup kita dan membimbing kita berjalan agar perjalanan kita menuju rumah Tuhan yang kudus. Jangan sekali-sekali mengandalkan diri sendiri seolah mampu melawan Tuhan. Sebaliknya hendaklah kita tunduk dan taat pada tuntunan Tuhan dalam kehidupan ini.

Selamat Hari Minggu

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Medan?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Website

Address


GKPPD Sada Arih Medan
Medan