Celebes Network

Celebes Network

Share

01/02/2026

MENOLAK LUPA ♥️🤍

DI EKSEKUSI M4TI KARENA MENOLAK MENUNJUKKAN PETA KEKAYAAN IBU PERTIWI‼️

Yogyakarta, 8 Mei 1949, bumi Indonesia berduka. Seorang putra terbaik bangsa, Mayor Arie Frederik Lasut, gugur ditembak secara biadab oleh Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) di Pakem, Yogyakarta. Ia syahid bukan di parit pertempuran, melainkan di garis sunyi perjuangan intelektual, karena menolak menjual rahasia kekayaan alam bangsanya kepada penjajah.

Putra Minahasa yang tegap dan berjiwa baja ini menjabat sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi Republik Indonesia. Dalam dirinya, ilmu pengetahuan berpadu dengan keberanian revolusioner. Pengorbanannya adalah deklarasi agung bahwa kedaulatan bangsa tidak hanya dipertahankan dengan senjata, tetapi juga dengan integritas, ilmu, dan sumpah setia kepada tanah air hingga tetes darah terakhir.
Pahlawan Pertambangan yang “Terlalu Mahal” untuk Dikhianati

Di tengah kobaran Agresi Militer Belanda II, saat Yogyakarta sebagai ibu kota Republik berada dalam tekanan paling genting, Mayor Arie Lasut berdiri sebagai benteng terakhir kedaulatan ekonomi Indonesia. Ia adalah salah satu ahli geologi dan pertambangan pribumi pertama yang diakui keilmuannya—bahkan sejak masa pendudukan Jepang. Keahliannya membuat namanya diperhitungkan, sekaligus diburu.

Pasca Proklamasi, di usia yang baru 28 tahun, negara mempercayakan kepadanya amanah maha berat: mengamankan seluruh data dan peta geologi strategis Nusantara, lokasi mineral, batubara, dan minyak bumi. Dokumen-dokumen itu adalah urat nadi masa depan Republik, kunci kemakmuran bangsa yang baru lahir.

Belanda/NICA paham betul nilainya. Mereka merayu, mengancam, dan merencanakan pencurian. Namun Arie Lasut bukan tipe pejuang yang bisa dibeli. Baginya, ilmu adalah senjata, dan kehormatan bangsa adalah harga mati.

DICULIK DAN DISIKSA, RAHASIA NEGARA DIBAWA KE LIANG LAHAT‼️
Pagi 7 Mei 1949, sekitar pukul 09.00 WIB, tiga serdadu khusus KNIL menyergap kediaman Arie Lasut di Pugeran, Yogyakarta. Ia diculik secara paksa.

Dalam perjalanan menuju utara Yogyakarta, di dalam jip militer penjajah, siksaan kejam dan brutal menghujani tubuhnya. Pukulan demi pukulan dilancarkan. Tujuannya satu: memaksa sang “Bapak Pertambangan Indonesia” membuka lokasi penyimpanan dokumen rahasia negara, data cadangan mineral strategis yang menjadi rebutan imperialis.

Namun Arie Lasut tetap tegak. Di bawah penderitaan yang tak terperi, ia memilih diam yang mulia. Rahasia negara ia kubur bersama tekadnya lebih dalam dari liang mana pun.

EKSEKUSI DI KAKI MERAPI: Gugur dengan Kehormatan
Karena gagal mematahkan pendiriannya, KNIL menunjukkan wajah paling biadab dari kolonialisme. Sekitar pukul 10.00 WIB, di Pakem, Sleman, sekitar 7 kilometer utara Yogyakarta tepatnya di kaki Gunung Merapi, Mayor Arie Frederik Lasut dieksekusi dengan tembakan. Ia gugur di usia 30 tahun bukan sebagai prajurit garis depan, melainkan sebagai intelektual pejuang yang menolak berkompromi dengan pengkhianatan. Ia memilih kematian yang terhormat daripada hidup dengan noda menjual bumi pertiwi.

Jenazahnya dimakamkan di TPU Sasanalaya, Yogyakarta, dengan upacara yang dihadiri Mr. Assaat, Pejabat Presiden Republik Indonesia kala itu, sebuah penghormatan negara kepada pahlawan sejatinya.

Arie Frederik Lasut bukan sekadar pahlawan bersenjata.
Ia adalah penjaga kedaulatan energi dan mineral Indonesia. Berkat keberaniannya, data pertambangan strategis bangsa selamat dari cengkeraman kolonial, dan Republik memiliki fondasi untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Sebagai penghormatan atas jasa dan pengorbanannya, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969. Nama dan perjuangannya diabadikan dalam monumen dan prasasti, termasuk di Museum Geologi Bandung, sebagai pengingat abadi bahwa kemerdekaan Indonesia ditegakkan oleh darah, ilmu, dan idealisme yang tak ternilai harganya.

Arie Frederik Lasut telah gugur.
Namun sumpah setianya hidup abadi di perut bumi Indonesia yang ia jaga hingga akhir hayat. 🇮🇩🔥

Sumber: Radio Citra

Photos from Celebes Network's post 15/12/2025

Astaga ..
Logam berat itu tidak hilang. Ia dimakan ikan kecil, ikan kecil dimakan ikan besar, dan ikan besar berakhir di meja makan warga. Racun itu menumpuk, gram demi gram, tahun demi tahun.

Kita tidak sedang berbicara tentang kerusakan alam semata. Kita sedang membicarakan potensi ancaman kesehatan masyarakat yang masif: kerusakan saraf, cacat bawaan pada bayi, hingga kanker. Tragedi Teluk Minamata di Jepang puluhan tahun lalu dimulai dengan gejala yang sama: air yang tercemar dan hewan yang “sakit”, sebelum akhirnya manusia yang berjatuhan.

[Konferensi Pers] International Conference on the Transformation of Pesantren (ICTP) 26/06/2025

_[Konferensi Pers]_
*International Conference on the Transformation of Pesantren*

[Konferensi Pers] International Conference on the Transformation of Pesantren (ICTP) _Update informasi dari DPP PKB melalui:Website: https://pkb.id/​Instagram: https://www.instagram.com/dpp_pkb​Tiktok: https://tiktok.com/​Twitter: htt...

14/04/2025

Warga net tiktok Talaud beraksi kritis... 😬

30/03/2025

Investigasi dilakukan di berbagai lokasi hiburan malam di Bali selama beberapa pekan terakhir. Dari hasil penelusuran, ditemukan sejumlah kafe dan bar yang diduga mempekerjakan anak di bawah umur sebagai pemandu lagu atau Ladies Companion (LC). Mereka kerap kali mengaku berusia lebih dari 18 tahun, namun setelah dilakukan pendalaman, beberapa di antaranya masih berusia 15 hingga 16 tahun.

Selengkapnya:
https://komentar.id/pilihan/dugaan-praktik-prostitusi-libatkan-anak-di-bawah-umur-di-bali-investigasi-di-balik-gemerlap-dunia-malam/

Want your business to be the top-listed Media Company in Manado?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Address


Manado
95000