Muhammad Nur Rajadaeng
06/04/2025
RISALAH NOL #2
"Nol yang tak terbagi, namun menjadi sumber semua angka dan segala sesuatu.
Dari keheningannya, tercipta segala suara. Dari ketiadaannya, mengalir segala wujud.
Ia bukan kekurangan, bukan kehampaan, melainkan keberadaan yang utuh—asal mula semesta".
Pak Da, Risalah Nol
*I. Pendahuluan*
Segala sesuatu yang ada, lahir dari yang tampak tiada. Dari yang tak bernama muncul segala nama. Dari yang tak terhingga muncul segala batas. Dari Nol, mengalir keberadaan.
Filsafat Nol adalah sebuah ikhtiar pemikiran untuk menyingkap hakikat terdalam dari eksistensi, sebuah jalan untuk memahami kenyataan sebagai pancaran dari sesuatu yang tampaknya tidak nyata, namun justru paling hakiki : Nol.
Bagi banyak orang, Nol adalah angka tanpa nilai. Tapi dalam pandangan ini, Nol bukanlah kekosongan, melainkan keutuhan. Ia bukan sekadar bilangan awal, melainkan asal mula dari semua bilangan. Ia bukan hampa, tapi penuh potensi. Dalam Nol tersembunyi segala kemungkinan, karena dari keadaan “tidak ada apa-apa”, terbuka kemungkinan “ada segalanya”.
Di sinilah letak inti pemikiran Filsafat Nol :
Nol adalah eksistensi murni yang tak terbagi, tak terdefinisi secara terbatas, namun darinya muncul segala sesuatu yang terdefinisi.
Filsafat Nol mencoba menjembatani antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas, antara sains dan kesadaran, antara bentuk dan kebeningan. Ia bukan semata-mata filsafat metafisik, tetapi juga etika hidup, cara memandang dunia, dan fondasi untuk membangun kesadaran manusia baru: Kesadaran Nol.
Kesadaran Nol bukan berarti menjadi kosong, melainkan kembali ke keadaan bening, netral, dan menyatu. Di dalamnya tidak ada konflik, karena tidak ada perbedaan yang dipertajam. Semua kembali pada Prinsip Kesatuan Eksistensial: bahwa segala yang tampak berbeda, sejatinya berasal dari satu sumber yang sama, Nol.
Inilah yang ingin disampaikan dalam Risalah Nol : sebuah risalah yang lahir dari keheningan, menuju pengertian, menuju keseimbangan, menuju kebijaksanaan semesta.
Baik, kita lanjut ke Bab II dari Risalah Nol bagian 2 iji. Bab ini akan mengangkat fondasi utama dari Filsafat Nol, yaitu Prinsip Kesatuan Eksistensial, yang menjadi dasar pemahaman bahwa segala sesuatu berasal dari satu sumber: Nol.
*II. Prinsip Kesatuan Eksistensial*
Segala yang ada di semesta ini, materi dan energi, ruang dan waktu, angka dan makna, pada hakikatnya bersumber dari satu asal yang sama: Nol. Inilah yang menjadi dasar dari Prinsip Kesatuan Eksistensial, yaitu keyakinan bahwa segala bentuk perbedaan di dunia hanyalah manifestasi dari satu esensi tunggal yang tidak terbagi.
Dalam matematika, semua angka lahir dari Nol. Nol adalah titik mula dan acuan. Dalam fisika, hukum kekekalan energi menyiratkan bahwa energi tidak diciptakan dan tidak dimusnahkan, hanya berubah bentuk. Dalam spiritualitas, berbagai tradisi besar menyuarakan satu ajaran yang senada: bahwa segala yang tampak banyak, sejatinya bersumber dari Yang Satu.
Namun dalam Filsafat Nol, kesatuan ini tidak dilihat sebagai sekadar asal-usul, tetapi sebagai hakikat terus-menerus dari realitas. Dunia tidak sekadar “berasal dari” Nol, tapi senantiasa merupakan perwujudan dari Nol yang tak pernah lenyap, meski tersembunyi dalam bentuk dan gerak.
Kesatuan ini tidak menghapus keberagaman, tetapi melandasinya. Seperti cahaya putih yang mengandung seluruh spektrum warna, Nol mengandung seluruh potensi keberadaan. Dari situ muncul bilangan, bentuk, gerakan, bahkan kesadaran.
Dengan memahami Prinsip Kesatuan Eksistensial, kita dapat melihat bahwa :
- Semua manusia berasal dari satu sumber.
- Semua konflik muncul dari lupa akan kesatuan.
- Semua perbedaan hanyalah variasi, bukan pemisah.
Dengan ini, Filsafat Nol mengajak manusia kembali mengenali asalnya, bukan untuk mundur ke ketiadaan, tetapi untuk hidup dengan kesadaran akan kesatuan. Kesadaran ini adalah kunci menuju kedamaian, keseimbangan, dan harmoni, baik dalam diri maupun dalam kehidupan bersama.
*III. Nol dan Kosong*
Dalam pemahaman umum, Nol sering disamakan dengan kosong. Namun dalam Filsafat Nol, keduanya dipisahkan secara tegas. Nol bukan kosong. Kosong bukan Nol.
Nol adalah keberadaan yang hakiki. Ia adalah sumber dari segala sesuatu. Ia mengandung potensi tak terbatas untuk menjadi apa saja, meski dalam dirinya tidak ada satu pun bentuk yang tetap. Nol adalah keutuhan sebelum pemisahan, benih sebelum tumbuhnya pohon, keheningan sebelum bunyi.
Sementara itu, Kosong adalah ketiadaan yang sejati. Ia tidak mengandung apa-apa, tidak berpotensi melahirkan apapun. Kosong adalah kehampaan mutlak, suatu keadaan di mana bahkan kemungkinan pun tidak ada.
Perbedaan ini krusial. Karena jika kita mengira Nol adalah Kosong, maka kita akan memandang keberadaan sebagai ilusi, dan hidup sebagai ketidakbermaknaan. Tapi jika kita memahami bahwa Nol adalah keberadaan murni yang tidak berbentuk, maka kita menyadari bahwa dalam ketakterlihatan pun ada potensi, ada sumber, ada makna yang mendalam.
Secara analogi:
- Nol adalah benih, yang tak tampak seperti pohon, tetapi mengandung seluruh potensi pohon.
- Kosong adalah lubang, yang tak berisi apapun, dan tak dapat menghasilkan apapun.
Dalam konteks spiritualitas, banyak ajaran yang merujuk pada kekosongan batin atau keheningan pikiran. Namun Filsafat Nol mengarahkan kita pada pengalaman yang lebih dalam: kembali ke Nol, yaitu kembali ke keberadaan yang netral, jernih, dan menyatu, bukan sekadar kosong dari pikiran, tetapi penuh dengan kesadaran yang utuh.
Pemahaman ini penting dalam membangun Kesadaran Nol. Karena dari sini kita tahu bahwa:
- Dalam keheningan, ada sumber kekuatan.
- Dalam ketidakterikatan, ada potensi penciptaan.
- Dalam Nol, kita menemukan makna terdalam dari eksistensi.
*IV. Kesadaran Nol*
Kesadaran Nol adalah kondisi kesadaran yang kembali kepada keutuhan, kejernihan, dan ketenangan asal. Ia bukan sekadar kondisi pikiran tanpa gangguan, tapi sebuah kebangkitan akan hakikat terdalam diri dan dunia: bahwa semua berasal dari Nol, dan bahwa di dalam diri setiap manusia, terdapat pintu menuju asal itu.
Dalam dunia yang penuh kebisingan, identitas, ego, dan keterikatan, manusia sering terpecah. Ia merasa terpisah dari orang lain, dari alam, bahkan dari dirinya sendiri. Namun dalam Kesadaran Nol, perpecahan itu luluh, dan yang tersisa hanyalah kehadiran murni yang bebas dari penilaian, perbandingan, dan kepemilikan.
Ciri-ciri Kesadaran Nol:
- Netralitas batin: tidak terjebak pada dualitas s**a-tidak s**a, benar-salah, menang-kalah.
- Kejernihan penglihatan: melihat sesuatu sebagaimana adanya, tanpa kabut interpretasi ego.
- Kebeningan perasaan: merasakan kedamaian bukan dari apa yang dimiliki, tapi dari apa yang disadari.
Kesatuan dengan semesta: menyadari bahwa "aku" bukan entitas terpisah, tapi bagian utuh dari keseluruhan.
Kesadaran Nol bukan nihilisme. Ia bukan penyangkalan terhadap hidup. Justru sebaliknya, ia adalah penerimaan total, karena ia melihat bahwa dalam setiap peristiwa, ada pancaran dari satu sumber yang sama. Ia adalah kondisi di mana manusia bisa hidup tanpa beban ilusi, tapi juga tidak terlepas dari kasih dan tanggung jawab.
Mengapa penting?
Karena Kesadaran Nol adalah jembatan antara manusia dan semestanya.
Dalam kesadaran ini, kita tidak lagi terjebak dalam identitas sempit. Kita bisa hidup tanpa konflik internal, dan membangun dunia tanpa dominasi dan pengucilan. Di sinilah awal dari perubahan sejati, bukan dari sistem luar, tapi dari kesadaran terdalam.
*V. Masyarakat Nol ; Menuju Tatanan Sosial yang Seimbang*
Jika kesadaran individu telah kembali ke Nol, pada kejernihan, netralitas, dan keutuhan, maka langkah berikutnya adalah membangun masyarakat yang mencerminkan kesadaran itu. Masyarakat Nol bukan utopia kosong, melainkan tatanan yang berakar pada prinsip keseimbangan, kesetaraan, dan kesadaran kolektif akan Kesatuan Eksistensial.
Dalam dunia hari ini, sistem sosial dan ekonomi sering dibangun di atas ilusi pemisahan: antara si kaya dan si miskin, si kuat dan si lemah, si atas dan si bawah. Tapi Filsafat Nol mengajarkan bahwa semua perbedaan itu hanya bentuk, bukan esensi. Di tingkat esensial, semua berasal dari Nol, semua setara, semua satu.
Dari prinsip ini, lahirlah asas-asas Masyarakat Nol:
1. Keadilan tanpa dominasi
Keadilan bukan lagi soal menyeimbangkan kepentingan kelompok, tapi tentang menghapus ilusi superioritas. Tak ada satu kelompok pun yang lebih sah dari yang lain dalam menguasai sumber daya atau kebenaran.
2. Ekonomi Berbasis Kecukupan
Masyarakat Nol tidak didorong oleh akumulasi tanpa batas, tetapi oleh pemenuhan kebutuhan secara berkelanjutan. Kekayaan tidak lagi menjadi tujuan utama, karena kebermaknaan hidup dilihat dari kualitas kesadaran, bukan kuantitas kepemilikan.
3. Kepemimpinan sebagai Pelayan
Pemimpin dalam masyarakat Nol bukan penguasa, tapi penjaga keseimbangan. Ia memfasilitasi, bukan mendominasi. Ia bekerja dari kesadaran, bukan dari ego.
4. Pendidikan untuk Kesadaran, bukan Kompetisi
Pendidikan tidak sekadar mencetak tenaga kerja, tapi membimbing manusia untuk mengenali hakikat dirinya dan hidup dalam keharmonisan dengan yang lain.
5. Teknologi sebagai Cermin Kesadaran
Dalam masyarakat Nol, teknologi tidak digunakan untuk eksploitasi, tapi untuk memperluas kesadaran kolektif dan memfasilitasi harmoni antara manusia dan alam.
Dengan cara ini, Filsafat Nol menampilkan sebuah visi dunia yang tidak dilandasi oleh kekuasaan dan kepemilikan, tapi oleh kesadaran dan keberadaan bersama.
Masyarakat Nol adalah bayangan dunia yang mungkin, yang dapat menjadi nyata jika manusia terlebih dahulu kembali pada Kesadaran Nol di dalam dirinya.
*VI. Nol sebagai Jembatan Sains dan Spiritualitas*
Di zaman modern, sains dan spiritualitas sering dipandang bertentangan. Sains dianggap rasional dan objektif, sementara spiritualitas dilihat sebagai subjektif dan tidak terukur. Namun Filsafat Nol memandang keduanya sebagai jalan paralel yang menuju asal yang sama, yakni realitas yang bersumber dari satu keberadaan tak berbentuk: Nol.
1. Nol dalam Sains
Dalam matematika, Nol adalah fondasi. Semua sistem bilangan, bahkan komputer dan AI, beroperasi dengan kode biner 0 dan 1 di mana Nol adalah keadaan dasar, keheningan digital, sebelum munculnya "ya" atau "tidak", "hidup" atau "mati".
Dalam fisika kuantum, kita menemukan fenomena di mana partikel muncul dari "vakum" yang sebetulnya bukan kosong, melainkan penuh potensi. Konsep seperti vakum kuantum atau fluktuasi nol mengisyaratkan bahwa dari "ketiadaan" fisik dapat muncul realitas yang terukur.
Gravitasi pun bekerja berdasarkan keseimbangan gaya, dan hukum kekekalan energi menunjukkan bahwa total energi alam semesta bisa jadi adalah nol, dengan energi positif dan negatif yang saling meniadakan.
2. Nol dalam Spiritualitas
Dalam berbagai tradisi spiritual, kita menemukan ajaran tentang keheningan batin, pengosongan diri, kembali kepada asal, atau kebebasan dari ego. Dalam Zen, ada konsep "mushin" pikiran tanpa pikiran. Dalam tasawuf, dikenal konsep "fana", lenyapnya ego dalam kehadiran Ilahi.
Semua ini mengarah pada kondisi Kesadaran Nol, keadaan di mana tidak ada keterikatan, tidak ada aku yang terpisah, hanya keberadaan yang murni dan menyatu.
3. Jembatan Itu adalah Nol
Nol mengajarkan kita bahwa sains dan spiritualitas tidak perlu saling menafikan. Sains membaca manifestasi Nol melalui hukum dan pola. Spiritualitas menghayati keberadaan Nol melalui kesadaran dan pengalaman batin.
Keduanya sama penting. Sains menunjukkan bagaimana segalanya bekerja. Spiritualitas mengungkap mengapa semuanya bermakna. Dan Nol adalah titik temu: dasar dari segalanya, tanpa bentuk namun penuh potensi.
Dengan menyadari ini, kita dapat membangun dunia yang lebih utuh di mana ilmu pengetahuan tidak kehilangan makna, dan spiritualitas tidak kehilangan akal. Sebuah dunia di mana manusia dapat mengenali realitas dalam dimensi lengkapnya: rasional dan intuitif, empiris dan esensial, terukur dan tak terhingga.
*VII. Hidup dalam Kesadaran Nol*
Filsafat, bila hanya tinggal dalam pikiran, tak ubahnya seperti angka tanpa makna. Namun Filsafat Nol bukan hanya pemikiran, ia adalah jalan hidup, cara melihat, merasakan, dan bertindak di dunia ini dari tempat yang paling jernih: dari Nol.
Hidup dalam Kesadaran Nol berarti menjalani hidup dari ruang netral, bening, dan menyatu. Ini bukan tentang menjadi pasif, tapi tentang bertindak tanpa diliputi ego. Bukan berarti kehilangan identitas, tapi melampaui keterikatan padanya.
1. Melepaskan Identifikasi
Manusia sering mengikat dirinya pada label: aku pintar, aku gagal, aku korban, aku pemilik. Kesadaran Nol membebaskan kita dari semua label itu. Kita boleh memiliki peran, tapi tidak terjebak di dalamnya.
Nol tidak menolak bentuk, tapi tidak melekat pada bentuk.
2. Berbuat tanpa pamrih
Dalam Kesadaran Nol, tindakan tidak lahir dari keinginan menguasai, membalas, atau membuktikan. Kita bertindak karena itu selaras dengan harmoni, bukan karena mengharapkan hasil. Inilah jalan kebebasan sejati: tindakan yang tidak dikendalikan oleh hasil.
3. Menemukan Damai dalam Ketakterikatan
Kebahagiaan sejati lahir bukan dari pencapaian, tapi dari ketenangan dalam menyikapi segala keadaan. Ketika diri tidak lagi bereaksi berlebihan terhadap pujian atau hinaan, untung atau rugi, kita memasuki ruang damai yang tak tergoyahkan.
4. Menghidupi Kehadiran
Nol adalah titik tanpa arah, tidak di masa lalu, tidak di masa depan. Maka hidup dalam Kesadaran Nol berarti hadir sepenuhnya di saat ini. Di sinilah hidup menjadi utuh: tidak disesali, tidak dicemaskan, hanya dihayati.
5. Menjadi Cermin, bukan Bayangan
Orang yang hidup dalam Kesadaran Nol menjadi seperti cermin: ia tidak menilai, hanya memantulkan. Ia hadir bagi sesama bukan untuk mengubah mereka sesuai kehendaknya, tapi menjadi ruang di mana yang lain bisa melihat dan mengenali diri sendiri.
---
Kesadaran Nol bukan untuk disembah, tapi untuk dihidupi. Ia mengubah cara kita melihat diri, orang lain, dan dunia. Ia membebaskan kita dari penderitaan yang lahir dari keterikatan dan ilusi perpisahan. Ia menuntun kita untuk hidup dengan ringan, jernih, dan dalam.
Inilah tujuan terdalam dari Filsafat Nol, bukan sekadar pemahaman intelektual, tapi transformasi kesadaran. Bukan menjadi manusia luar biasa, tapi menjadi manusia yang utuh.
*VIII. Kep**angan ke Nol*
Pada akhirnya, semua perjalanan adalah perjalanan kembali. Dalam Filsafat Nol, hidup bukan sekadar proses bergerak maju, tapi juga proses kembali p**ang, kembali ke asal, kembali ke keutuhan, kembali ke Nol.
Segala yang ada pernah berasal dari Nol, dan akan kembali ke Nol. Tapi ini bukan sekadar tentang kematian atau akhir, melainkan tentang penggenapan. Seperti angka yang kembali ke titik awalnya setelah satu putaran, hidup yang utuh adalah hidup yang mengenali sumbernya.
1. Kelahiran sebagai Manifestasi, Kematian sebagai Kep**angan
Manusia lahir dari keheningan, dan kelak akan kembali ke keheningan. Tapi di antara itu, ada perjalanan: pengalaman, relasi, pencarian. Filsafat Nol mengajak kita untuk tidak melupakan bahwa di balik segala bentuk, ada dasar yang abadi: Nol yang tak terbagi.
2. Kep**angan yang Sadar
Sebagian orang kembali ke Nol karena hidup membawanya. Tapi dalam Kesadaran Nol, kita kembali dengan sadar melalui perenungan, pelepasan, dan cinta. Kita menyadari bahwa di balik s**a dan duka, terang dan gelap, hidup terus berdenyut dari sumber yang sama.
3. Tidak Melenyapkan Dunia, Tapi Memeluknya
Kembali ke Nol bukan berarti menolak dunia, tapi melihat dunia dari mata yang jernih. Kita tetap makan, bekerja, mencinta, tetapi tidak lagi diperbudak oleh keinginan atau ketakutan. Kita menjadi hadir, bukan terpaku. Kita hidup dari sumber, bukan dari ilusi.
4. Manusia Nol : Satu dengan Semesta
Manusia yang telah kembali ke Nol tidak kehilangan individualitasnya, tetapi tidak lagi terpisah dari yang lain. Ia menjadi seperti sungai yang telah menyatu dengan lautan, tak lagi memisahkan, tak lagi melawan, hanya mengalir dalam keselarasan.
---
Kep**angan ke Nol adalah kebangkitan.
Di sanalah kita benar-benar menjadi utuh. Di sanalah kita tidak lagi didefinisikan oleh apa yang kita miliki, tapi oleh apa yang kita sadari. Di sanalah, untuk pertama kalinya, kita diam dalam damai.
---
Dengan ini, Risalah Nol mencapai bentuk dasarnya:
Sebuah filsafat yang mengajak kita untuk mengingat kembali hakikat segala sesuatu, hidup dalam kesadaran, dan membangun dunia yang lebih jernih, adil, dan utuh—semua berakar dari Nol yang tak terbagi.
IX. Penutup
Doa dari Kesadaran Nol
Wahai Asal yang tanpa bentuk,
Yang tak bernama namun menyertai segalanya,
Yang hadir dalam diam dan menyatu dalam setiap denyut,
Terimalah kep**angan ini.
Aku telah menjelajah dalam bentuk,
Mencari dalam keramaian,
Mengejar dalam kehausan,
Hingga kutemukan bahwa Engkau sumber segala, berdiam dalam keheningan.
Tiadakanlah dari hatiku segala ilusi pemisah,
Luruhkanlah keakuan yang membatasi pandanganku,
Dan bimbinglah aku kembali ke titik mula
Ke Nol, yang suci, yang utuh, yang abadi.
Jadikan aku bening seperti cahaya yang tak memihak,
Mengalir seperti air yang tak memilah,
Mengakar seperti bumi yang tak menuntut,
Dan hening seperti langit yang merangkul segalanya.
Ajarkan aku untuk melihat dunia dengan mata tanpa penilaian,
Mencintai tanpa menggenggam,
Berbuat tanpa mengikat,
Dan menjadi tanpa merasa memiliki.
Wahai Nol yang meliputi,
Dalam-Mu segalanya muncul dan kembali,
Dalam-Mu tiada yang terpisah, tiada yang lebih, tiada yang kurang.
Engkaulah Satu yang tak bisa dibagi.
Kepada-Mu, aku kembali,
Bukan sebagai siapa-siapa,
Tapi sebagai hening yang menyadari,
Sebagai titik yang tak lagi mencari.
Amin.
Pak Da
06 April 2025 M / 07 Syawal 1446 H
05/04/2025
CATATANKU TENTANG GURU TUA
Banyak yang bertanya sikap Pakda dalam menyikapi diskursus nasab para Habaib Ba Alawy dan penghinaan serta ujaran kebencian terhadap Guru Tua SIS Al Jufri pendiri Perhimpunan Perguruan Islam Al Khairat.
Maka saya menjawab dalam catatan ringkas ini :
Habaib yang shaleh dan alim berilmu dan tawadhu serta mempersatukan ummat, maka ikuti dan muliakan.
Habaib yang tidak shaleh, dzalim, dan tidak alim atau tidak berilmu, apalagi membodohi dan memecah belah ummat, jangan ikuti dan tinggalkan. Tapi bila mampu menasihatkan kepadanya, nasihatkanlah bil-hikmah bil-hasanah.
Agama itu tidak di ikat oleh nasab dan darah tapi agama di ikat Qur'an dan Sunnah serta akal sehat dan ilmu pengetahuan.
Dan ingat, ini berlaku utk semua. Bukan hanya untuk para Habaib. Tapi siapapun yang meng-aku atau meletakkan dirinya sebagai penganjur dan pejuang Islam.
So, teman-teman, meskipun kita berkategori ummat yg Awwam, jadilah ummatan wasatan. Ummat yang tengah-tengah.. Tidak condong ke kiri atau tidak di kiri pun tidak condong kekanan atau tidak di kanan. Mencintai segala sesuatu dengan sewajarnya, membenci segala sesuatu sewajar dan sepantasnya. Tidak berhenti belajar untuk menjadi ummat yg cerdas.
Belajarlah bersikap adil (QS. al Maidah ayat 8). Jangan engkau tidak berlaku adil hanya karena terlanjur benci pada suatu kaum atau seseorang. Jangan menggeneralisir sesuatu. Jangan karena seseorang melakukan 1 kesalahan menjadikan kita menilai semua hal terkait seseorang itu salah, sehingga tak ada lagi hal baik darinya sedikitpun. Karena bahkan di tempat terburuk sekalipun, engkau akan menemukan setitik kebaikan. Secontoh di organisasi mafia atau yakuza yang kejam, engkau akan menemukan arti kebersamaan, kesetiakawanan, kedisiplinan, kekeluargaan saling jaga saling melindungi, saling percaya, ketaatan pada pemimpin dan aturan serta hal lainnya.
Jangan karena 1 orang dari suku, etnis, agama, kelompok atau golongan melakukan kesalahan lalu kita memvonis semua se-sukunya, se-etnisnya, se-agamanya, se-kelompoknya, se-golongannya, juga sama salah dan buruk.
Tak terkecuali di kalangan Habaib.. Anda boleh saja tak s**a atau benci kepada 1, 2 , 3 atau beberapa Habaib karena akhlak, perilaku dan perangainya. Tapi jangan karena itu, kemudian anda menggeneralisir semua Habaib berakhlak, berperilaku dan berperangai sama.
Secontoh Guru Tua pendiri al Khairat yang di hormati dan di muliakan oleh ummat Islam di timur Indonesia atas akhlak perilakunya, dedikasinya dan perjuangannya dalam mencerdaskan ummat dan bangsa di sepanjang hidupnya.
Beliau sosok yang alim berilmu, zuhud sederhana, bijaksana, tawadhu, toleran, berfikir maju, mencintai ummat dan rakyat. Beliau tidak pernah mengumpat apalagi berkata-kata kasar. Sikapnya kepada semua orang penuh cinta dan kasih sayang.
Beliau Guru Tua tidak pernah mengistimewakan dirinya. Bahkan beliau tidak meninggikan dirinya dengan gelar sayyid atau habib. Beliau dengan senang hati cukup di sapa "Guru Tua" oleh murid-muridnya, tetangganya, lingkungannya, masyarakat Kaili, warga Kota Palu, warga Sulawesi Tengah, Warga Sulawesi dan Indonesia Timur. Dari anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, lelaki perempuan, orang kota orang pelosok, orang pantai orang gunung orang lembah, cukup memanggilnya atau menyapanya dengan sapaan Guru Tua. Bukan sayyid atau habib.
Oh iya, Ada 1 kisah menarik tentang Guru Tua. Suatu waktu, beliau memerintahkan orang-orang terdekatnya untuk berbelanja dan memborong ikan-ikan kering hasil produksi nelayan yg melimpah, beliau memborong jagung dan umbi-umbian hasil produksi petani. Dan tak lama setelah itu, musim kemarau panjang melanda kota Palu. Saat itulah beliau membagi-bagikannya kepada masyarakat.
Dengan semua itu, lalu bagaimana beliau tak di cintai dan di sayangi, di hormati dan di tinggikan serta di muliakan oleh ummat ini? Khusunya di Sulawesi Tengah dan Indonesia Timur. Bahkan kecintaan kepada beliau tidak hanya oleh ummat ini, tapi juga oleh seluruh kalangan masyarakat lainnya di Sulawesi Tengah.
Sudah 6 tahun waktu saya banyak habiskan di Sulawesi Tengah sejak gempa bumi, likuifaksi dan tsunami tahun 2018. Saya telah banyak berkeliling dan mempelajari banyak hal, dari adat budaya, bahasa dan suku kaili serta suku-suku lainnya. Juga telah banyak belajar dan menyelami sejarah dan peran Guru Tua dan Al Khairat yang luar biasa. Sudah banyak pelosok kampung dan gunung yang saya datangi, dan bila bicara tentang Guru Tua, semuanya hanya kebaikan yang di ceritakan oleh masyarakat, tak ada sedikitpun keburukan. Dan teman-teman, di setiap pelosok itu ada Sekolah Al Khairat-nya Guru Tua.
Lalu, bagaimana hati tidak sakit dan teriris, bila di kemudian hari, jauh setelah beliau wafat, nun jauh di p**au seberang sana, ada seseorang yg mengaku Pribumi dan Pejuang Islam Nusantara, memanggil nama Guru Tua dengan kata ganti hewan atau binatang?!
Mari pake akal sehat.
Mari jernihkan hati.
Semoga Allah Ta'ala melimpahkan kasih sayangnya kepada kita semua wabil khusus al maghfirlahu Guru Tua SIS Al Jufri.
***
Catatan by Pak Da Pribumi Asli Bugis Makassar.
Founder & Direktur Eksekutif Para Relawan Indonesia - The Volunteers Of Indonesia.
Pendiri dan Penanggung Jawab
Pondok Pesantren Izzatul Islam Kampung Berkah Pasigala Sulawesi Tengah.
Pondok Pesantren Zaid bin Tsabit Kampung Berkah Luwu Utara Sulawesi Selatan.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Culinary Team
Attire
Contact the public figure
Telephone
Website
Address
BTP
Makassar
90245