AMT Syndicate
CENDOL MANIS JUALAN DAENG TE’NE
armin mustamin toputiti
CENDOL, dawet dibubuhi gula aren, juga tape beras ketan. Masyarakat Bugis, akrab pada akronimnya; "Cinta" (Cindolo’ na-tape). Penganan ini, saya s**ai buat berbuka puasa.
Wajar, tiap kali Ramadhan, tiap itu p**a saya teringat pada Daeng Te’ne (Makassar; julukan perempuan berparas manis, cantik). Namun, saya ingat bukan pada paras Daeng Te’ne yang manis, tapi pada jualan cendolnya yang memang manis. Semanis, paras Daeng Te’ne.
Daeng Te’ne menjajakan jualan cendolnya, di bulan Ramadhan saja. Bulan lain, Daeng Te’ne di Malino, di lereng pegunungan Bawakaraeng, berhawa sejuk. Membersamai lelaki pujaannya, menyemai kebun, tumpuan hidup keluarganya. Tiap Ramadhan, Daeng Te’ne turun gunung. Di Makassar, ia menjajakan cendolnya. Bagi saya, rasanya khas. Sedaplah, begitu kira-kira!
Saya mula tahu cendol khas Daeng Te’ne, sejak saya masih bujang, 30-an tahun lalu. Isi dompet masih pas-pasan. Membeli penganan buka puasa, jajanan di tepi jalan, cukuplah. Sejak itu, tiap Ramadhan, saya berurusan Daeng Te'ne, pelanggan setianya. Usia Daeng Te’ne kala itu, sekira 45-an tahun.
Peralatan jualannya, sederhana. Bermodal meja kayu, mulai melapuk. Di atasnya diletakkan termos dan toples. Ramadhan sekian tahun lalu, saya masih mampir. Nyaris tak ada berubah. Paling berubah, paras Daeng Te’ne yang kian menua. Gerakan tangannya, mengaduk cendol, tak segesit dulu lagi.
Lokasinya berjualan, tak bergeser. Masih di lokasi sama, tepi jalan Hertasning Makassar, meski di jalan itu tak sesepi dulu lagi. Kini dipadati kendaraan berlalu lalang, seolah ingin menghempas Daeng Te’ne dari posisinya. Namun ia bergeming. Dalihnya kuat, makin ramai orang berlalu lalang, berkah baginya. Pembelinya kian berjubel, mengerubung jualannya. Semua harus antri, apapun status sosial dimiliki.
Di masa-masa awal, pembelinya dihitung jari. Kini makin padat, pelanggannya berjubel. Daeng Te’ne makin sibuk melayani pembeli. Sebaliknya saya justru risau, menduga-duga nasib jualan Daeng Te’ne selanjutnya. Haruskah dia bergeser dari prinsip, mazhab dagang sekian lama dia taruh. Kukuh, gigih dia anut.
Bagi Daeng Te’ne, semua pembeli mesti dapat bagian. Pembeli yang lebih dulu datang, dibolehkan hanya membeli secukupnya. Sisa sebagian jualan cendolnya, disisih bagi pembeli berikutnya. Tak lasim, wajar jika tak sedkit pembelinya mengajukan protes. “Kenapa hanya secukupnya, toh juga saya bayar?”.
Mazhab dagang dia anut, menyimpang dari teori ekonomi pakar manapun. Bahwa; kian laris, jualan kian cepat habis, kian laba diraih berlipat. Daeng Te’ne hanya tamatan SMP, jauh dari buku ditulis pakar marketing, Phillip Kotler atau Hermawan Kartajaya misalnya. Tapi ajaibnya, teori dagangnya menyimpang, tapi dia mampu bertahan. Telah 30-an tahun, dia berjualan di situ.
Sekian hari lalu, saya mampir lagi. Daeng Te’ne sudah tak lagi ada di sana. Daeng Te’ne telah berp**ang.
Makassar, 26 Maret 2025
Sepenggal Cerita
UANG PEMBERIAN AMIN SYAM
armin mustamin toputiri
SIANG itu, Oktober 2003. Tepat 20 tahun lalu.
“Apa benar, ini Pak Armin?” tanya seseorang di seberang sana, masuk lewat hape saya.
“Iyya”, jawab saya. “Siapa?”, balik, saya bertanya.
“Maaf pak, saya ajudan Bapak Gubernur”. Dimaksud tentu saja Bapak Amin Syam. “Pak Armin, diminta menghadap beliau!”, jelas ajudan asal kepolisian itu.
“Kapan?”, tanya saya. Dijawab, sekarang! “Dimana?“. Dijawab, ruang kerja gubernur.
***
Perjalanan ke kantor gubernur, pada adik yang menyopiri saya, tak henti saya tanyai, sekira apa urusan orang selevel gubernur meminta saya menemui. Saya ini, bukan siapa-siapa.
Kala 2003 itu, saya Sekretaris KNPI. Juga Sekretaris AMPG, organisasi sayap Golkar Sulsel, parpol yang diketuai Pak Amin Syam.
Ajaibnya, semalam saya baru saja tiba di Makassar, setelah sebulan berada di Jakarta. Tapi siang itu, saya diminta menemui. Dari mana ia tau, saya telah berada di Makassar? Apakah Brigjen TNI (Purn) itu memata-matai saya? Entah, juga buat apa?
***
Memasuki ruang tunggu, ruangan kerja gubernur, sesak banyak orang antri menunggu giliran bersua gubernur. Tak ada lagi, kursi kosong. Beruntung, ajudan -- yang tadi menelpon -- menyodori saya kursi kosong.
Agar tak membelakangi tetamu lain, kursi saya geser ke samping. Tapi, ajudan mejegat. “Pak Armin di posisi situ saja”. Lalu, membisiki saya. “Agar Pak Armin tersorot kamera cctv dari meja kerja Pak Gub!”
Ohw, begitu! Ajudan itu, benar. Tak lama, bell dari meja kerja gubernur, berbunyi. Ajudan gesit masuk, lalu balik memberi isyarat, mengikuti masuk ruang kerja gubernur.
“Saya lebih dulu antri dari Bapak itu!”, jegat seorang tamu menunjuk ke arah saya. Ajudan memberi penjelasan, dia makhfum. Tetamu lain, hanya bisa melongo.
“Silahkan duduk dek!”, sapa Gubernur. Saya duduk, tepat depan meja kebesaran orang nomor wahid di Sulsel. Gerangan urusan apa saya diminta menghadap? Muka saya, merunduk. Jantung saya, berdegub kencang. Kedua tungkai kaki saya, gemetaran. Berada dalam ruangan itu, seolah mustahil bagi saya.
Inilah kali pertama saya bersua empat mata dengan seorang gubernur. Juga sekalian ketua parpol dimana saya bergabung. Sambutannya ramah, senyuman khasnya tiada henti dikulum, membuat saya lebih tenang.
Lebih lagi, kala Jenderal Bintang Satu itu, meninggalkan kursi kebesarannya, menghampiri saya. Menepuk-nepuk pundak saya. Lalu, menyodori saya benda berbungkus koran, terlilit karet gelang.
***
Diucapkan, hanya sekian patah kalimat. Dari mulut saya, tak ada kata selain, “Siap Pak”. Lima menit, saya pamit keluar. Sekalian menjauhi area kantor gubernur.
Perjalanan p**ang, didera rasa penasaran, ujung bungkusan koran itu, saya sobek. Wow, setumpuk uang warna merah. Ada lima lilitan kertas merek sebuah bank, masing-masing tertulis Rp. 10.000.000,- Maka, totalnya Rp.50.000.000,-
Semur-umur, baru kali itu saya memegang uang sebanyak itu. Juga kali pertama, seseorang memberi uang sebesar itu, tanpa saya minta.
Tapi, diberi sekira alasan apa? Juga buat apa? “Kamu caleg, pakailah itu agar kamu peroleh suara sebanyaknya!”.
Pemilu 2004, sistem tertutup. Keterpilihan berdasar nomor urut. Kali itu, saya belum terpilih.
***
Kini, Pak Amin Syam, telah tiada. Jika peristiwa itu saya kenang, bola mata saya berkaca-kaca.
Bukan semata di 2003 itu, saya diberi uang sebesar itu. Tapi jauh lebih dari itu, tauladan kerendahan hati seorang pemimpin yang saya hormati. Mengucap maaf pada saya, bukan siapa-siapa, selain anak buahnya. Juga, empatinya pada saya, anak muda usia 36 tahun yang kala itu menjajak karir di rimba politik.
“Dek Armin, saya minta maaf. Nomor urutmu (caleg), bagian bawah. Dek Armin masih muda, mesti bersabar. Masih punya waktu cukup panjang untuk berjuang meraih masa depan”.
Terima kasih Pak Amin Syam, kelak 2009-2019 harapan Bapak terkabul, 10 tahun saya menduduki kursi DPRD Sulsel.
Selamat jalan. Selamat berpisah. Kebaikan Bapak, amal jariyah, abadi dalam kenangan. Ila arwahu, al-Fatihah.
Makassar, 07 September 2023
08/09/2023
Sepenggal Cerita di Balik Layar
AMIN SYAM, YUNUS BANDU DAN MAJID TAHIR
armin mustamin toputiri
Kolonel Inf (Purn) Yunus Bandu, hari ini berp**ang. Hanya selisih tiga hari, menyusul Mayor Jenderal TNI (Purn) HM Amin Syam yang lebih dulu berp**ang, 1 September 2023.
Di sela kep**angan kedua tokoh ini, 4 September 2023, juga berp**ang seorang tokoh masyarakat Luwu, Abdul Majid Tahir.
Dan hanya karena kebetulan, ketiganya menyimpan sepenggal cerita di balik layar.
***
Yunus Bandu, juga Amin Syam, sama-sama berlatar militer. Keduanya, tentara aktif yang sama-sama pernah mendapat giliran bertugas mengejawantahkan “Dwi Fungsi ABRI”.
Yaitu sebuah gagasan yang diterapkan di era pemerintahan orde baru Soeharto. Bahwa ABRI, khususnya TNI-AD, memiliki dua tugas. Selain menjaga keamanan dan ketertiban negara, juga bertugas memegang kekuasaan pemerintahan untuk mengatur negara.
Pada tahun 1988, Yunus Bandu dan Amin Syam, bersamaan mendapat giliran penugasan. Yunus Bandu ditunjuk sebagai Bupati Sidrap, pengganti Opu Sidik (1978-1988). Sementara Amin Syam ditunjuk menjadi Bupati Enrekang, pengganti Saleh Nurdin Agung (1983-1988).
Yunus Bandu dan Amin Syam, sama-sama mengakhiri satu periode kepemimpinan sebagai Bupati pada tahun 1993. Yunus Bandu, digantikan oleh Bupati Sidrap Andi Salipolo Palalloi. Sementara Bupati Enrekang Amin Syam, digantikan oleh Andi Rachman.
Bersamaan di tahun 1993 itu, Musda Golkar berlangsung. Dua tentara yang baru saja mengakhiri jabatan Bupati itu, sama-sama disebut-sebut sebagai kandidat terkuat memperebutkan kursi Ketua Golkar Sulsel, orsospol yang didirikan sekelompok TNI-AD.
Perebutan Ketua Golkar yang sebelumnya digadang-gadang berlangsung sengit dan alot, justru di ujungnya berakhir happy ending.
Yunus Bandu tak maju, sehingga setelah sidang molor sekian jam, pimpinan sidang Musda Golkar Sulsel, akhirnya mengetukkan palu. Mensahkan Amin Syam, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Golkar Sulsel, pengganti Aliem Bachri, yang juga mantan Bupati Majene (1967-1990).
***
Tak majunya Yunus Bandu, legowo menyerahkan kepemimpinan Golkar Sulsel kepada Amin Syam, belakang hari beredar percakapan di kalangan pemerhati politik, bahwa sikap legowo Yunus Bandu, merupakan hasil kompromi di institusi muasal keduanya di ketentaraan, Pangdam beserta purnawirawan senior TNI AD di Sulsel.
Titik komprominya, Amin Syam diberi kesempatan melanjutkan kepemimpinan Aliem Bachri di Golkar. Sementra Yunus Bandu, sekali lagi diberi kesempatan memimpin salah satu daerah di Sulsel sebagai Bupati. Kabupaten yang ditunjuk adalah Kabupaten Luwu, bertepatan pada tahun yang sama jabatan Bupati Luwu segera ditinggalkan Muh. Dahlan Jampu (1988-1993).
Alhasil, mengawali kepemimpinannya sebagai Bupati Luwu, Yunus Bandu mendapat reaksi penolakan dari sekelompok kecil senior dan mahasiswa asal Luwu di Makassar. Mereka turun melakukan aksi penolakan di Kantor Bupati Luwu di Palopo. Dan sekembalinya ke Makassar, di Pare-pare mereka dihadang dan ditahan sekian hari di kantor Korem Pare-Pare.
Dalih penolakan mereka karena mengharap Sabang Kallang, perwira tinggi kepolisian yang harusnya ditunjuk sebagai Bupati Luwu, bukan Yunus Bandu dari TNI AD.
Dalih mereka, selain karena Sabang Kallang putra Luwu, juga mengharap agar perwira kepolisian diberi kesempatan memimpin daerah, tak hanya TNI AD saja. Mubara Dappi misalnya, Bupati Luwu sebelum Dahlan Jampu, toh juga tak lain muasalnya dari TNI AL.
Di tengah penolakan sekelompok kecil mahasiswa dan senior asal Luwu di Makassar, Abdul Majid Tahir yang tak lain adalah mantan ketua perhimpunan mahasiswa Luwu IPMIL, pada saat itu mengambil sikap memunggungi aspirasi disuarakan sekelompok kecil juniornya.
Abdul Majid Tahir, pada saat yang sama adalah kader Golkar yang mendapat kepercayaan sebagai Anggota DPRD Kota Makassar. Telah mendapat perintah dari Ketua Golkar Sulsel Amin Syam, agar mengendalikan adik-adiknya, memberi kesempatan Yunus Bandu memimpin Kabupaten Luwu.
Dan Yunus Bandu pada akhirnya berhasil menunaikan tugasnya sebagai Bupati Luwu hingga akhir periode di tahun 1999.
***
Ketiganya, kini telah berp**ang di waktu berdekatan, menghadap Sang Maha Pemilik kehidupan. Jejak legacy ketiganya, menjadi pembelajaran tak ternilai bagi generasi selanjutnya.
Ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun, terimalah amalah ibadah ketiganya, dan tempatkanlah dikeabadian syurgaMu. Amin.
Makassar, 4 September 2023
SUMBER
Sepenggal Cerita di Balik Layar: Amin Syam, Yunus Bandu, dan Majid Tahir - Tribun-timur.com Yunus Bandu, hari ini berp**ang. Hanya selisih tiga hari, menyusul HM Amin Syam yang lebih dulu berp**ang, 1 September 2023
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the establishment
Address
Jalan RSI Faisal Makassar
Makassar
90221