Desainer Kampung
Jangan pernah menilai seseorang ketika Anda tidak mengenal mereka. Tidak peduli apa yang orang katakan selama Anda tahu apa yang Anda lakukan adalah benar. Seperti cerita yang sangat menyentuh ini. Berdasarkan Kisah Nyata. Anda harus menonton dari awal sampai akhir. Ini benar-benar menyentuh hati.
Sumber : Considus.com.
27/06/2015
Cowok Ini Ke sekolah Sambil Membawa Dagangan “slondhok”
Namanya Desi Priharyana (17), siswa kelas 1 SMKN 2 Jetis. Desi bisa disebut pekerja keras di kehidupan desa dan kota. Demi sekolah dia bangun tidur jam 3 pagi di sebuah toko sembako tempat dia menumpang tinggal malam untuk bekerja menjaga toko kelontong paruh waktu di Desa Toino, Pandowoharjo, Sleman Yogyakarta. Dia mau melakukan pekerjaan apa saja yang penting halal, mulai berjualan slondok hingga menjadi buruh bangunan.
Desi Priharyana adalah warga Dusun Taino, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sleman, berangkat sekolah dengan mengayuh sepeda dengan krombong hijau di jok belakang yang berisi bungkusan-bungkusan slondok. Jika pagi hujan deras tidak pernah menyurutkan niat pelajar kelas 1 SMKN 2 Jetis jurusan Teknik Konstruksi Batu dan Beton ini untuk terus mengayuh sepedanya sejauh 15 kilometer menuju sekolahnya di SMKN 2 Jetis, Kota Yogyakarta.
Saat ini dia tinggal bersama Ayahnya pak Kamto dan adiknya dititipkan ke budhenya, nama adiknya Rini Dwi Lestari. Disepanjang jalan tak pernah ada KATA MENYERAH, hanya terus kayuh sekuatnya untuk SAMPAI SEKOLAH. Semangat YANG LUAR BIASA untuk seumurannya. Demi sekolah dan biaya hidup keluarganya dia harus menjalani seperti ini. Salut dan bangga. Saya tanya mulai kapan berjualan Slondok? cukup lama sejak dia kelas SMP. Setiap harinya Desi membawa sekitar 25 bungkus slondok di dalam krombong-nya. Seharian bisa menjual 10-25 bungkus slondok. Harga satu bungkus slondok dijual Rp 7.000. Kadang sampai sekolahan dagangan slondoknya sudah habis di beli para pengguna jalan yang memberhentikan Desi mengayuh sepeda onthelnya.
Pembelinya ya orang-orang yang ada di pinggir jalan. Ada juga guru-guru serta teman-teman sekolah. Ya sekitar 200ribuan dapetnya, lumayan buat beli alat tulis dan uang saku buat adik.
Meski ke sekolah sambil berjualan slondok dengan sepeda onthel dan krombong, Desi tidak pernah merasa malu dengan teman sebayanya yang kebanyakan berangkat sekolah dengan sepeda motor. Desi merasa apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang memalukan.
Sumber: FB Ama Yudiawan, gaulfresh.com
19/04/2015
" Kisah Bapak Tua Penjual Amplop"
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat.Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop.
Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu.
Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusan plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.
Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.
Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.
Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.
Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.
Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua.
Sumber : rinaldimunir.wordpress.com
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Address
Kajoran
Magelang