Vemma Solusi_Sehat
24/06/2014
Hampir semua orang tahu bahaya terlalu banyak duduk bagi kesehatan. Tidak hanya membuat gemuk, penelitian juga telah membuktikan, terlalu banyak duduk lebih dari 11 jam sehari dapat meningkatkan 40 persen risiko kematian karena penyakit apapun.
Belum lama ini, sebuah studi dalam Journal of the National Cancer Institute menemukan, orang yang menghabiskan paling banyak waktu duduk memiliki risiko kanker usus 24 persen lebih besar. Risiko tersebut meningkat menjadi 54 persen pada orang yang menghabiskan waktunya paling banyak di depan televisi.
Bahkan meski seseorang berolahraga, namun ketika banyak menghabiskan waktunya sehari-hari untuk duduk, ia tetap memiliki risiko mengalami penyakit-penyakit degeneratif. Peneliti menyebutnya, penyakit terlalu banyak duduk.
Nah, berikut ini merupakan beberapa cara yang mungkin akan membantu untuk mengurangi waktu duduk Anda sehari-hari.
1. Menyetel alarm
Terdengar aneh, namun alarm bisa membantu mengingatkan Anda bila sudah terlalu lama duduk. Para ahli merekomendasikan untuk selalu berdiri 10 menit setiap satu jam duduk.
2. Mulailah bergerak
Ada beberapa kegiatan yang mampu dilakukan sambil berdiri, misalnya mengangkat telepon atau mengobrol. Coba mulai sekarang untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan tersebut dengan duduk, tetapi berdiri.
3. Berjalanlah kapanpun bisa
Anda akan terkejut mengetahui berapa banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk berjalan, namun selama ini Anda lupakan, ,misalnya waktu setelah makan siang. Bahkan berjalan setelah makan akan membantu Anda untuk membakar lemak lebih banyak. Selain itu, Anda juga bisa memarkir kendaraan lebih jauh daripada biasanya untuk memberikan kesempatan kaki Anda bergerak lebih banyak.
4. Pilih tempat duduk yang tepat
Daripada duduk di depan meja makan, cobalah untuk duduk di kursi bar. Bentuk kursi tersebut akan membantu Anda menjaga tulang punggung tetap lurus sehingga distribusi berat badan pun lebih merata.
5. Beranjaklah untuk menemui orang
Dengan akses teknologi yang lebih mudah, orang menjadi cenderung lebih malas untuk bergerak. Keperluan dengan orang lain pun bisa diselesaikan dengan mengirim email, telepon atau pesan, bahkan orang yang berada tidak jauh dari Anda. Nah, kini mulailah untuk berjalan menemui orang tersebut selama masih mampu dijangkau.
Sumber :
www.health.com
06/06/2014
NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL
Awas Maut... Ini Serangan Jantung, Bukan Masuk Angin!
Banyak orang mengenal serangan jantung seperti yang digambarkan dalam film atau sinetron, yakni mata mendelik, dada sesak, dan tangan memegangi dada ketika pingsan. Padahal, adakalanya rasa sakit tidak mengikuti pola tertentu, bahkan tanpa diikuti rasa nyeri dada.
Simak kisah serangan jantung seperti yang dialami M Latief (38). Jurnalis yang memiliki hobi naik gunung ini mengalami serangan jantung ringan dengan gejala mirip masuk angin. Inilah pengalamannya.
Serasa baru selesai joging jarak jauh, keringat seketika mengucur deras dari kening, leher, dan sebagian badan saya. Anehnya, itu keringat dingin, bukan hangat. Dingin sekali.
Sedetik keringat menderas, tiba-tiba dada juga terasa sesak, diikuti tengkuk hingga bahu yang menegang. Fun City, tempat permainan anak Margo City, Depok, tempat saya berdiri itu, seperti pelan-pelan menyempit, mengimpit.
Pikiran saya mulai kalut. Maklum, baru kali ini mendadak kondisi badan drop secepat itu dengan tanda-tanda yang aneh, tak biasanya.
Ketika itu, rasa sesak di dada semakin menjadi. Awalnya memang sesak biasa, tetapi perlahan-lahan makin terasa nyeri, seperti diremas-remas dengan keras, bahkan lebih dari itu, seperti diinjak-injak. Napas makin sulit.
"Aneh, kok begini," batin saya.
Maklum, perubahan kondisi tubuh mendadak seperti ini baru saya alami. Rasanya seperti masuk angin, tetapi anehnya bukan seperti masuk angin biasa. Lebih dari masuk angin.
Pelan-pelan saya coba bernapas. Keringat makin deras. Kaki juga mulai lemas.
Ada sekitar hampir tiga menit perubahan aneh itu berlangsung pada diri saya. Saya lalu panggil kedua anak saya.
"Abang, adik, ayo udahan dulu mainnya. Dada ayah sesak, ayah mau ke dokter sekarang. Nanti kalau ketemu ibu, kamu bilang ke ibu ya, Bang, dada ayah sesak dan keluar keringat dingin," kata saya kepada kedua putra saya, Azka (9) dan Azzam (5).
Sebelum kejadian itu, istri saya memang izin pergi sejenak ke toilet. Hanya saya yang menemani kedua anak saya di tempat hiburan di lantai dasar pusat belanja tersebut. Namun, tak sampai lima menit istri saya pergi, kejadian itu berlangsung.
Saya dan kedua anak saya pun bergegas ke lantai satu, menyusul istri saya. Prinsip saya, jalan pelan-pelan dan usahakan tetap sadar atau tidak pingsan. Otak saya hanya memerintah untuk selekasnya ke rumah sakit.
Hanya dituntun dua bocah berumur belum genap 10 tahun, saya cuma bisa pasrah. Sambil menahan sesak, saya berjalan pelan-pelan dituntun kedua anak saya. Azka di kiri, Azzam memegang tangan kanan.
Saya tak menghiraukan ramainya pusat belanja ini. Meskipun kepala tidak terasa pusing, kaki saya lemas sehingga saya harus pelan-pelan mengikuti langkah kedua anak saya. Bahkan, dengan berusaha tetap tenang, kami bisa melewati eskalator menuju lantai satu.
"Lho, kamu kenapa? Kok dingin banget? Kamu masuk angin nih kayaknya," kata istri saya, setelah kami bertemu dengannya.
Azka, anak saya yang nomor satu memotong. "Dada ayah sesak, keringatnya dingin Bu, ayah minta ke dokter," ujar Azka.
Saya masih sadar, tetapi saya memang sudah tak mau bicara apa-apa. Dada saya makin sesak. Karena itu, saya biarkan anak saya yang bicara untuk menghemat energi supaya tidak pingsan.
"Kamu masuk angin nih. Ya sudah, kita p**ang sekarang saja ya," kata istri saya.
"Enggak, ini aneh. Rumah sakit... ke rumah sakit sekarang," kata saya.
"Kok ke rumah sakit. Pulang aja ya. Kamu tunggu dan duduk di sini, aku beli minyak angin dulu," jawab istri saya.
Nyaris, marah saya meledak. Tetapi saya sadar, marah hanya akan menguras energi. Jadi, saya acuhkan ucapan istri saya.
Saya juga tak mau duduk, tetapi tetap berdiri sembari berpegangan pada dinding mal. Pikir saya, duduk hanya akan bikin sesak di dada semakin parah.
Setengah berlari, istri saya kembali menghampiri. Dia baru selesai dari apotek.
"Kamu masuk angin nih, sini aku olesin dada kamu. Punggungnya juga sini," kata istri saya.
Saya diamkan istri saya berbuat demikian. Tetapi, hati saya makin kuat bahwa ini bukan masuk angin. Entah, feeling saya bilang lain.
"Sekarang ke rumah sakit. Cari taksi sekarang. Ini jantung, jantung," bentak saya.
Tanpa banyak cakap, kami berempat bergegas ke luar pusat belanja. Dari tempat kami berdiri, gerbang mal ini masih sekitar 200 meter.
Rasanya, sudah lebih dari lima menit perubahan aneh pada kondisi badan saya ini berlangsung. Saya sadari itu. Maka, pelan-pelan kami berjalan melewati kerumunan. Saya dituntun kedua anak saya di kiri dan kanan. Istri saya berjalan di belakang untuk menahan punggung saya.
"Itu taksi," kata istri saya, beberapa meter di pintu gerbang.
"Pak, ke rumah sakit ya, yang paling dekat," ujar istri saya.
Taksi langsung meluncur. Namun, baru sesaat masuk ke jalan raya, panik mulai melanda. Bukan apa-apa, dada saya makin sesak. Dashboard taksi ini seperti mengimpit. Badan saya juga makin lama semakin lemas.
"Tuhan... saya ingin sampai lebih dulu ke rumah sakit, jangan dulu biarkan saya mati," batin saya terus berkata demikian di antara istigfar saya di mulut.
Doa saya terkabul. Saya sadari itu meskipun mata saya terpejam menahan sakit di dada. Pasalnya, Jalan Margonda Raya yang biasanya macet pada hari libur, siang itu nyaris lengang. Hari itu, Kamis, 29 Mei 2014, adalah hari libur Kenaikan Isa Almasih.
Tak sampai 10 menit, saking ngebutnya, taksi sudah berbelok ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, tak jauh dari Terminal Depok.
Tiba di UGD, semangat saya kembali muncul. Saya keluar dari taksi sendiri tanpa dibantu sopir taksi. Saya berjalan pelan-pelan, dan tetap diapit kedua anak saya serta istri saya yang menahan bahu saya dari belakang.
"Dada sesak, keringat dingin," ujar istri saya ke petugas UGD yang datang membuka pintu sembari menyorongkan tempat tidur.
Saya ingat betul, saat itu saya langsung diminta duduk di tepi tempat tidur dan diminta diam sebentar.
"Angkat lidahnya, Pak, telan ini dan habiskan," ujar seorang petugas sembari memasukkan obat berbentuk bubuk ke balik lidah saya.
Sekonyong-konyong, selesai melumat obat tersebut, nyeri di dada saya perlahan menghilang. Petugas pun meminta saya berbaring, dan kemudian memasangkan selang oksigen ke hidung saya. Tangan kiri saya pun lantas diberi cairan infus.
Memang, meskipun rasa sesak di dada belum hilang, nyerinya sedikit berkurang. Untuk itulah, saya diminta lagi untuk menghabiskan obat yang juga sudah disiapkan oleh seorang suster.
Ada tujuh butir obat disorongkan suster itu kepada saya. Sambil membawa segelas air, dia meminta saya selekasnya minum obat tersebut.
"Habiskan, Pak," ujarnya.
Hanya lima menit seusai menenggak habis ketujuh obat itu, nyeri di dada saya hilang seketika. Tak ada lagi sesak, apalagi nyeri. Suhu tubuh saya pun mulai berubah menjadi hangat.
Seorang dokter muda, dokter jaga di UGD, tampak menghampiri saya. Ia bilang, tujuh obat itu adalah obat jantung.
"Bapak kena serangan jantung ringan. Terlambat lima menit saja, mungkin Bapak sudah enggak ada lagi. Baiklah, Bapak kami rawat di sini ya," ujar dokter muda tersebut.
Saya cuma mengangguk lemah. Dari balik pintu UGD, saya lihat Azka dan Azzam, melambai-lambaikan tangan ke arah saya sembari tersenyum. Kedua "pahlawan" saya itu tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan, termasuk istri saya yang repot ke sana kemari mengurus perawatan selanjutnya.
Pembengkakan jantung
Hari ini, Kamis (5/6/2014), tepat seminggu lalu serangan jantung ringan itu terjadi, kondisi saya sudah berangsur pulih dan semakin baik setelah dirawat selama enam hari di RS Mitra Keluarga. Vonis dokter, saya harus mengurai kembali pola hidup sehat agar kejadian itu tak lagi terulang.
Saya tak punya riwayat jantung. Saya pun s**a berolahraga, terutama joging, meskipun hanya dua kali seminggu. Bahkan, pada umur 38 tahun ini saya masih menyalurkan hobi saya mendaki gunung.
Ya, dua pekan sebelum kejadian ini, saya juga baru p**ang mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, bersama teman-teman. Saya rutin mendaki gunung setahun satu atau dua kali.
"Bapak memang kelihatan sehat dan banyak orang terkena serangan jantung juga dalam kondisi sehat. Tapi, kemarin itu, saat serangan datang, jantung bapak lemah untuk memompa oksigen. Sekarang, kondisi Bapak sudah membaik, meskipun masih ada pembengkakan. Bapak harus mengubah pola makan dan stop merokok," kata Dr Bona Dwiramajaya H, SpJP, FIHA, yang merawat saya.
Beruntung, penanganan ketika terjadi serangan itu bisa dilakukan secara cepat dan tepat, terutama berkat bantuan istri dan kedua anak saya. Biasanya, dengan gejala umum seperti keringat dingin yang berlebihan, dada sesak dan nyeri, serta tengkuk dan bahu tegang bukan main, waktu-waktu krisis (golden time) kala serangan itu datang, orang masih belum ngeh bahwa itu serangan jantung ringan. Lazimnya, orang berpikir itu adalah masuk angin.
Memang, tak bisa dimungkiri, gejalanya seperti masuk angin, yang dalam bahasa Betawi, sudah kedalon atau akut. Orang sering kali menganggapnya demikian. Bedanya, datangnya sangat tiba-tiba dan berbarengan, mulai dari keringat dingin berlebihan, dada sesak dan lebih nyeri, terasa tegang atau pegal mulai sekitar tengkuk hingga bahu.
Di situlah feeling yang kuat perlu Anda gunakan jika sewaktu-waktu gejala itu menimpa Anda. Pasalnya, Anda sendiri yang merasakannya, bukan orang-orang di sekitar Anda. Maka, camkan bahwa itu bukan masuk angin biasa....
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Website
Address
Kuningan Timur
45554