SMP Negeri 17 Kendari
11/05/2025
"Untuk Beliau"
Saya ingin bercerita tentang seseorang yang jasanya begitu besar bagi sekolah kami dan bagi diri saya pribadi. Saya mengenal beliau saat duduk dibangku kelas delapan. Namanya Pak Suhardin. Beliau adalah guru yang sederhana, tapi penuh semangat. Sikapnya ceria, senyumnya tak pernah absen setiap pagi, seakan lelah dan masalahnya hilang setiap kali bertemu kami. Tapi semua murid tahu, kalau beliau marah… lebih baik diam. Marahnya tidak sering, tapi kalau terjadi, kelas kami yang terkenal paling ribut pun langsung terdiam seperti patung.
Yang membuat saya kagum, meskipun kami sering terlambat mengejar materi, sering ribut dan malas, Pak Suhardin tetap sabar. Hari demi hari beliau datang mengajar dengan semangat yang sama, bahkan lebih. Seakan beliau tidak pernah lelah untuk terus percaya pada kami. Percaya bahwa kami bisa berubah. Percaya bahwa setiap anak di kelas ini punya masa depan yang layak diperjuangkan.
Sebelum saya naik ke kelas delapan, saya membaca buku yang beliau tulis, berjudul “Keringat di Pelupuk Mata, Inspirasiku di Sekolah Ubi.” Buku itu saya dapat dari lomba buletin sekolah yang beliau adakan sendiri pada 12–19 Juni 2023. Dalam lomba itu, saya menjadi Juara Favorit II. Kompetisinya tidak main-main: ada desain poster digital, penulisan berita, fotografi, penulisan opini, dan seni pilihan. Enam juri menilai dengan ketat, dan saya belajar banyak. Bukan cuma soal menang atau kalah, tapi tentang kerja keras, ide, dan bagaimana menuangkan suara hati ke dalam karya.
Saya masih ingat salah satu bab berjudul "Menginjakkan Kaki di Stadion Gelora B**g Karno" ceritanya tentang perjalanannya ke Bogor pada 18–21 November 2011, saat beliau mengikuti lomba tingkat nasional: Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran. Setelah kegiatan selesai, beliau menyempatkan diri menonton ke Stadion Gelora B**g Karno, bukan karena ada tugas resmi atau keperluan penting, hanya karena beliau ingin melihat langsung stadion kebanggaan Indonesia. Di sana, katanya sambil berdiri di tribun, beliau berbisik sendiri: “Inilah stadion kebanggaan negeri.” Kalimat sederhana itu mengendap dalam ingatan saya—karena dari sana saya belajar, bahwa rasa cinta tanah air bisa tumbuh dari mimpi-mimpi kecil yang kita jaga dengan hati besar.
Dari sana saya makin mengenal sosok Pak Suhardin. Beliau bukan hanya guru yang berdiri di depan kelas, tapi juga seorang pencerita. Di sela pelajaran, beliau sering bercerita tentang masa SMA-nya, tentang teman-temannya dulu, tentang bagaimana ia tumbuh sebagai pribadi yang tidak pernah berhenti belajar. Saya ingat salah satu cerita yang paling berkesan: tentang muridnya yang ia bimbing hingga bisa naik pesawat untuk pertama kalinya demi ikut lomba luar daerah. Dengan mata berbinar, beliau bilang, “Saya ingin murid saya punya pengalaman yang bisa mereka kenang seumur hidup.” Dan benar saja—setiap ceritanya memberi kami semangat, seakan mengatakan: kalau mereka bisa, kami juga pasti bisa.
Di antara semua hal yang ingin saya sampaikan, izinkan saya berkata:
Terima kasih, Pak Suhardin. Bagi saya, Bapak bukan hanya seorang guru biasa, melainkan sosok yang telah mengubah cara saya memandang dunia dan pendidikan. Dari Bapak, saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar mengajar di depan kelas, tetapi juga membimbing dengan hati dan memberi inspirasi yang tulus. Kesabaran dan semangat Bapak yang tak pernah pudar membuat saya yakin bahwa setiap tantangan bisa dihadapi dengan keyakinan dan kerja keras.
Cerita-cerita yang Bapak bagikan, mulai dari pengalaman mengikuti lomba nasional hingga momen sederhana di Stadion Gelora B**g Karno, telah membuka mata saya tentang arti cinta tanah air dan pentingnya menjaga mimpi-mimpi kecil dengan sepenuh hati. Buku “Keringat di Pelupuk Mata, Inspirasiku di Sekolah Ubi” yang saya baca bukan hanya kump**an kisah, tetapi juga sumber motivasi yang membuat saya terus berusaha dan tidak mudah menyerah.
Saya juga sangat berterima kasih atas kesempatan yang Bapak berikan melalui lomba buletin sekolah. Dari situ, saya belajar banyak tentang kerja keras, kreativitas, dan bagaimana mengekspresikan suara hati ke dalam karya. Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa kemenangan bukanlah segalanya, melainkan proses belajar dan berani mencoba yang paling berharga.
Saya berharap, setiap langkah Bapak selalu dilimpahi kemudahan dan keberkahan. Semoga kisah dan semangat Bapak terus menginspirasi saya dan teman-teman saya, serta generasi berikutnya. Saya berjanji akan menjaga dan meneruskan harapan yang Bapak tanamkan, agar suatu hari nanti saya bisa menjadi pribadi yang berguna bagi orang lain, seperti Bapak yang telah begitu banyak memberi.
Sekali lagi, terima kasih, Pak Suhardin. Saya bangga pernah menjadi murid Bapak dan mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari Bapak. Semoga Bapak selalu sehat, bahagia, dan terus menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Semangat dan kebaikan Bapak akan selalu saya kenang dan jadikan motivasi dalam setiap langkah hidup saya.
Akhir kata, izinkan saya menuliskan nama saya di sini, sebagai ungkapan rasa hormat, bangga, dan terima kasih yang tulus atas segala kebaikan dan inspirasi yang telah Bapak berikan.
Hormat saya,
Maria Hermina Rega
29/03/2024
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the school
Telephone
Website
Address
Kendari
Opening Hours
| Monday | 06:00 - 12:15 |
| 12:20 - 17:15 | |
| Tuesday | 06:00 - 12:15 |
| 12:20 - 17:15 | |
| Wednesday | 06:00 - 12:15 |
| 12:20 - 17:15 | |
| Thursday | 06:00 - 12:15 |
| 12:20 - 17:15 | |
| Friday | 06:00 - 12:15 |
| 12:20 - 17:15 | |
| Saturday | 06:00 - 12:15 |
| 12:20 - 17:15 |