Belajar Merdeka

Belajar Merdeka

Share

Makalah Filsafat Pendidikan Jacques Rancière – Romo A. Setyo Wibowo – Jaringan Pendidikan Alternatif 03/11/2016

Cara pengajaran universal dan alamiah menyadarkan bahwa semua teori tentang pendidikan, termasuk pendidikan emansipatoris-pendidikan yang katanya akan mengemansipasikan-, berpusat pada figur gurunya sendiri. Bila sang guru sendiri tidak teremansipasi, sok tahu dan beranggapan dia yang paling pakar sehingga semua orang lain perlu ia cerahkan, maka pada saat itu jugalah kegelapan oligarki sedang menebarkan cakarnya....

Makalah Filsafat Pendidikan Jacques Rancière – Romo A. Setyo Wibowo – Jaringan Pendidikan Alternatif

Permasalahan Pendidikan di India: Mengulik Permasalahan Pendidikan dari Prespektif Politik 16/08/2016

Tulisan ini memberikan opini tentang system pendidikan di India, di era transisi penjajahan oleh Inggris. Thesis utamanya adalah system pendidikan yang diusung oleh Inggris (yang telah menjajah wilayah India selama 1858-1947) tak lain sebagai bentuk berbeda untuk melanggengkan penjajahanya. Pendapatnya tersebut dikuatkan dengan konstruksi pikir dari wilayah kebijakan sampai pada pelaksanaan di lapang.

Dia memulai tulisanya dengan menunjukan sebuah system pendidikan yang ideal. Berikut petikanya:

Hence we find that an ideal system of education should satisfy the following conditions:

It must awaken in boys a sense of their duty to humanity and the nation;
It must form the national type of character;
It must accustom boys to the national modes of life and thought which are around them;
It must make them fit for some form of activity, by which they should develop their nature and carry out their Dharma.
Atas dasar inilah kemudian dia menelaah system pendidikan yang pada waktu itu dikembangkan (yang kalau boleh sedikit luga ‘dipaksakan') oleh Inggris. Yang dalam faktanya, dia sama sekali tidak menemukan unsur-unsur itu. Malah, ada indikasi, system pendidikan menghilangkan kesemuanya.

Mula-mula, Mardayal menelaah kebijakan pendidikan dalam pemerintahan Idia waktu itu. Dalam penyelidikanya, dia menemukan adanya dokumen-dokumen yang menyatakan bahwa kebijakan pendirian sekolah-sekolah dan universitas tak lain untuk menjadi alat pengganti penjajahan. Dalam dokumen-dokemen yang telaah secara teliti dan meyakinkan itu, terbesit kekhawatiran Negara-negara penjajah dan trend pada waktu itu untuk mengubah kepemilikan wilayah jajahan mereka dengan cara-cara yang lebih halus. Dengan cara seperti ini, maka keuntunganya adalah system pendidikan akan bisa mendekatkan masyarakat india dengan orang-orang inggris, di mana mereka akan merasa lebih saling menghargai. Dan hal ini akan menurunkan tensi kemarahan dan keinginan untuk memberontak kepada para penguasa.

Setelah membongkar niat penjajah dalam menyediakan pendidikan, dia lalu meneruskannya dengan merekonstruksi proses ‘asimilasi’ dalam praktek social. Proses dini dilakukan dengan merasuki keluarga-keluarga kaya dan berpendidikan. Secara perlahan, aktifitas sehari-hari keluarga ini seolah duplikasi dari budaya Ingris. Dari mulai Bahasa, selera makan, kebiasaan harian, bacaan pengetahuan dan sastra dll. Kemudian kaum atas ini mencontohkan atau juga dicontoh oleh para kolega, saudara maupun orang-orang disekelilingnya. Tentunya kaum inilah yang pertama kali mendapat transfer pengetahuan pertama kali dari sekolah dan universitas. Lalu kemudian sekolah-sekolah dibangun untuk mempercepat laju penjajahan baru tersebut. Mereka akan Anglo-saxon kan. Hal ini yang di akhir bab disebutnya ‘..(j)adi jelaslah bahwa system pendidikan bermaksud untuk menciptakan sebuah revolusi dalam berbagai aspek termasuk institusi-institusi, Bahasa, kewajiban dan tata-krama, agama, dan kesemuanya itu untuk menciptakan dan mengembangkan sebuah kelas manusia, bangsa india sebagai wujud fisiknya (Indian as blood and color), tetapi dengan citarasa/selera, opini, moral dan pendidikan ala orang Inggris’.

Tak hanya berhenti di sini, analisis Hardayal juga menjangkau politisasi system pendidikan ini dilanggengkan. Terkait dengan ini, dia mengaitkanya dengan ‘kontrol terhadap opini publik’. Radiasi dari proyek penaklukan gaya baru ini melebar sampai wilayah non sekolah dan universitas. Mereka meringsek kedalam masyarakat secara umum. Mula-mula mereka menggunakan kekuatan fisik, termasuk diantaran membolehkan ancaman bahkan hukuman fisik bagi penentangnya. Namun anggapan sudah mulai terbantah dengan situasi social kala itu. ‘the body can be restrained or controlled by power; but who shall forge a fetter for the National Mind and Spirit?’ Dengan hanya mengandalkan bedil dan rantai tak akan menjamin untuk menaklukan semangat nasionalisme mereka.

Satu-satunya jalan sudah semakin terang, system pendidikan haruslah menyediakan suatu upaya untuk menghancurkan semangat nasionalisme. Sengaja hal ini diciptakan untuk mengaburkan semangat dari para orang tua mereka yang menggebu-gebu untuk berontak. Ketika para pemudi/a ini mendapat propaganda dari sekolah, tentang kebebasan, tentang hal-hal lain yang tidak ada kaitanya dengan kemerdekaan India, makam cepat atau lambat mereka telah terpisah dari cara berfikir orang tua mereka. Tidak hanya pada sekolah pada umumnya, universitas dan pelatihan bagi angkatan perang muda juga dirasuki. Mereka dijejali dengan patriotism palse, ala Ingris-India. Calon-calon pilar keamanan Negara inilah yang nantinya, sebagai salah satu penjaga keberadaan Ingris di India. Dengan begitu, penjajahanpun semakin langgeng.

Bahkan dalam tata kelola menagemen pemerintahan pun menjadi ajang politisasi. Mereka seolah-olah memberi kepercayaan kepada para kaum atas bangsa India yang telah mendapatkan pengetahuan di sekolah. Mereka diberi ruang dalam hal-hal administrasi. Hal ini seolah-olah ingin menyamakan bahwa lulusan sekolah taka da bedanya dengan orang-orang asli Ingris. Namun, menariknya, Hardayal mengungkap situasi tersebut sebagai sebuah kebohongan yang luarbiasa memalukan dan keji. Alasan utama para penjajah ini memberi ruang pada pribumi kerena mereka ingin menghemat pengeluaran. Sebab, bagi orang asli Inggris pasti akan meminta gaji selangit. Untuk kebutuhan administrasi se India, maka akan banyak sekali pengeluaran. Untuk itu, posisi-posis juru tulis, arsip dan hal-hal lain yang tidak ada kait mengaitnya dengan pengambilan keputusan ini diisi oleh pribumi. Alasan lain adalah mereka sengaja ingin menciptakan sebuah birokrasi ketergantungan dari bangsa pejajah.

Dan selanjutnya, system pendidikan digunakan untuk menusuk jantung perekonomian India. Merek amembuka lebar jalur perdagangan melalui budaya yang dibawa ke anak-anak di India. Trendnya adalah meng Ango-saxon kan bangsa India dengan cara memasukan berbagai hasil produksi dari Inggris. Dengan begitu, taka da satupun bagian dalam social yang lepas dari mangsa kebudayaan penjajah.

Diakhir bukunya, Hardayal memberikan dampak-dampak dari system pendidikan karya penjajah sebagi berikut:

Degradasi nasionalisme dan degradasi moral bagi masyarakat Indian semisal:
Bahasa, sesuatu yang menjadi Ibu bagi suatu bangsa, di India semakin di geser. Hal yang nyata adalah para kaum atas, yang menjadi otak dari bangsa India, mereka berfikir, berefleksi dan menerjemahkan pikiranya kedalam Bahasa ingris, dalam paper-paper akademis. Ironisnya, hal itu bukan ditujukan bangsa luar, tak lebih sebagai percakapan kaum elit di dalam propinsi, semisal di Lahore. Kedepanya, secara pasti, pengetahuan local akan hilang. Begitu juga kaum bawah, akan menganggap bersosial yang benar adalah dengan cara berbahasa Inggris. Sendangkan Bahasa Ibu, Sangekerta dan Hindi, Bangli, Marathi dll, akan menguap begitu saja.
Sejarah, adanya penulisan ulang sejarah yang dilakukan oleh bangsa non-Idia. Hal ini berdampak pada hilangnya makna terbentuk dan bersatunya India. Dan berakhir dengan hilangnya ke penghargaan pada nasionalisme.
Sastra, keberadaan system pendidikan sekolah telah menjungkirbalikan kekayaan local. Kurikulum sekolah dan universitas tidak mengajarkan untuk menelaah sastra local seperti dalam karya-karya Upanishads atau Smrities. Mereka akan lulus kuliah dengan memperkaya diri dengan ilmu dari luar, bukanya menelaah ulang hasil pemikiran dari orang-orang yang lama hidup diwilayah mereka. Ketika pendalaman sastra local mulai hilang, jalan satu-satunya hanyalah berpegang pada pemikiran dan filosofi luar, khususnya Inggris. Lalu Inda menghilang.
Kehidupan social berganti dengan gaya Ingrris. Melalui system pendidikan ini, kebiasaan dan kewajiban social berganti dengan aturan hokum dan konvensi baru.
Karakter kebangsaan yang berubah; membentuk (1) idealism baru, (2) patriotism baru, (3) keberanian ala Inggris
Konsekuensi lain dengan adanya sekolah dan universitas versi Ingrris adalah:
Degradasi social bagi ras Hindu
Munculnya prestis dalam birokrasi
Hilangnya pemerintah ala India
Adanya perluasan pengaruh Ingrris ke Negara India
Bertumbuhnya industry yang belum tentu diharapkan oleh bangsa India

Sumber buku:

Our Educational Problems, Hardayal M.A, 2012 (first published 1922)

Jakarta, 16 Agustus 2016

Bagus Yaugo Wicaksono

Permasalahan Pendidikan di India: Mengulik Permasalahan Pendidikan dari Prespektif Politik Tulisan ini memberikan opini tentang system pendidikan di India, di era transisi penjajahan oleh Inggris. Thesis utamanya adalah system pendidikan yang diusung oleh Inggris (yang tela…

Mengenal Konsep Pendidikan Levinas 14/06/2016

Ketika dia menyadari bahwa keidentikan diri seseorang itu adalah mengulang keterpisahan dan cenderung menginkorporasi Yang Lain, maka apa jadinya jika pendidikan itu selalu diarahkan untuk menjadi lebih otonom?

Menyadari hal ini maka, Levinas mengusulkan pendekatan pendidikan yang mengutamakan heteronomy sebagai dasar pendidikan itu. Heteronomy dalam pandangan Levinas ini adalah situasi di mana diri seseorang atau sang Aku tunduk pada Yang Lain ‘the state of subjection to the other’.

Mengenal Konsep Pendidikan Levinas Pandangan teori pendidikan dari Levinas ini didapat dari sudut pandang Thomas Hidya Tjaya, dalam kuliah extension course di Driyakara. Thomas menggambil pemikiran Levinas untuk digunakan sebagai ba…

Pemekaran dan Proses Pemusnahan Manusia Papua Melalui Pendidikan 11/11/2015

Kasarnya, pendidikan terbelah dalam dua sisi yang sama sekali berbeda; pendidikan untuk penjinakan dan pendidikan untuk memerdekakan. Tulisan ringkas Mikael Kudiai berikut mampu menyuguhkan pendidikan sebagai alat penjinakan.

Pemekaran dan Proses Pemusnahan Manusia Papua Melalui Pendidikan

Want your school to be the top-listed School/college in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address


Jakarta