The Conversation Indonesia
04/06/2026
Wacana merombak fokus tugas dosen belakangan ini jadi sorotan 😮
Selama ini, sistem Tri Dharma menuntut mereka jadi "Superman" yang harus jago di tiga bidang sekaligus: Pendidikan, Penelitian, Pengabdian.
Berawal dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang menggagas sistem "Satu Dosen Satu Fokus", muncul ide kalau dosen difokuskan sesuai talenta utamanya saja.
Konsep ini berusaha membebaskan akademisi dari tuntutan yang tidak realistis. Jika seorang dosen memiliki bakat pedagogis yang brilian, ia akan difokuskan ke ruang kelas tanpa ditagih target publikasi riset yang tidak masuk akal. Sebaliknya, jika ia analitis dan produktif di laboratorium, ia diarahkan penuh menjadi peneliti.
Namun, kebijakan yang terlihat sempurna di atas kertas ini menyimpan risiko laten.
Di lapangan, risikonya cukup menantang. Pertama, ada ancaman lahirnya spesialisasi yang terlalu kaku. Padahal, pengajaran yang tajam sering kali lahir dari pengalaman riset yang kuat. Begitu pun sebaliknya, riset menemukan relevansinya dari interaksi kritis dosen dengan mahasiswa di kelas. Jika pemisahan ini terlalu tegas, rantai keilmuan berisiko terputus.
Kedua, kita berhadapan dengan realita ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Kampus-kampus menengah atau daerah dengan rasio dosen dan mahasiswa yang timpang tidak memiliki keistimewaan untuk "memilih fokus". Bagi mereka, sistem dosen palugada adalah satu-satunya cara bertahan hidup agar kegiatan operasional kampus tidak lumpuh total.
Ketiga, dan yang paling rentan secara psikologis, adalah potensi lahirnya kasta akademis. Di dunia pendidikan, jumlah dan reputasi riset sering kali dipandang lebih bergengsi dibandingkan sekadar mengajar. Ada ketakutan besar bahwa kontribusi seorang "Dosen Pengajar" akan dianggap sebagai warga kelas dua dibandingkan "Dosen Peneliti".
Pada akhirnya, sebuah universitas harus memosisikan dirinya sebagai satu kesatuan ekosistem kolaboratif. Keberagaman kapasitas dalam satu fakultas—ada dosen yang hebat meneliti, pendidik yang luar biasa di kelas, dan penggerak sosial yang andal di masyarakat—seharusnya dilihat sebagai elemen-elemen yang saling melengkapi, bukan disekat-sekat secara kaku.
Lalu, bagaimana kita mencari titik keseimbangannya? Kalau menurutmu sendiri, kebijakan ‘satu dosen satu fokus’ akan lebih banyak untung atau ruginya? 🤔
Baca artikel selengkapnya di sini: https://theconversation.com/dosen-bukan-superman-realita-di-balik-memisah-tugas-mengajar-dan-riset-283922
04/06/2026
Iklim makin panas, standar lari makin tinggi, apa kabar nasib pelari kalcer?
Lari menjadi salah satu olahraga yang paling populer dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang memilih lari karena sederhana, tidak membutuhkan fasilitas khusus, dan bisa dilakukan hampir di mana saja.
Namun, aktivitas yang terlihat sederhana ini kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kenaikan suhu global dan memburuknya kualitas udara membuat pengalaman berlari di luar ruangan menjadi lebih berat sekaligus kurang aman.
Laporan Strava menunjukkan 75% pelari mengaku panas ekstrem memengaruhi rencana olahraga mereka. Sementara itu, 27% pelari terdampak kualitas udara yang buruk. Risiko yang muncul bukan hanya rasa tidak nyaman saat berlari. Paparan panas berlebih dapat meningkatkan risiko dehidrasi, heat stroke, hingga gangguan ginjal akut.
Sementara itu, polusi udara bisa mengurangi kemampuan pernapasan, yang dalam jangka panjang dapat memicu iritasi dan peradangan paru.
Di tengah krisis iklim, muncul berbagai teknologi yang seolah menawarkan solusi bagi para pelari. Mulai dari aplikasi latihan, pelacak GPS, program berbasis AI, hingga berbagai perangkat digital pendukung berlari.
Teknologi berbasis data terutama AI sangat boros energi dan air. Pusat data AI juga meningkatkan emisi karbon dan limbah elektronik.
Di sisi lain, masifnya iklan tertarget dan konten bersponsor dari para runfluencer membuat kita silau dan lebih konsumtif terhadap kebutuhan tracking data. Entah untuk kebutuhan personal, maupun pamer pencapaian di media sosial.
Para runfluencer juga mempromosikan sepatu, tren mode pakaian dan peralatan lari terkini, yang menormalkan konsumsi berlebihan fast fashion. Fenomena ini turut berkontribusi terhadap 2-8% emisi karbon global.
Perubahan ini menunjukkan bagaimana budaya lari juga ikut bergeser. Fokus tidak lagi hanya pada aktivitas berlari itu sendiri, tetapi juga pada berbagai produk dan layanan yang mengelilinginya.
Karena itu, tantangan pelari saat ini bukan hanya beradaptasi dengan cuaca yang semakin panas, tetapi juga menjaga agar lari tetap menjadi aktivitas yang menyehatkan, sederhana, dan berkelanjutan.
Memilih waktu latihan yang aman, mendengarkan kondisi tubuh, serta menggunakan perlengkapan sesuai kebutuhan adalah beberapa cara untuk tetap menikmati lari tanpa terjebak pada tekanan performa, tren, maupun konsumsi yang berlebihan.
*Konten ini diolah dari artikel The Conversation Indonesia https://theconversation.com/bukan-sekadar-tren-bagaimana-perubahan-iklim-dan-pengaruh-runfluencer-mengancam-hobi-lari-kita-282152
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Website
Address
Jakarta