Picasso Rugs & Carpets
04/05/2025
Sudah dua pekan Mbah Taryo tinggal di masjid itu.
Bukan karena tak punya pilihan
tapi karena hatinya mulai menetap lebih dulu, bahkan sebelum tubuhnya betul-betul diterima.
Setiap hari, ia membersihkan karpet sebelum subuh,
menyapu dedaunan yang terbawa angin ke serambi,
dan kadang—tanpa diminta—mengisi galon wudhu dengan memanggul jeriken dari belakang masjid.
Tidak ada yang memintanya.
Tidak ada yang menyuruh.
Tapi Mbah Taryo tahu: ini satu-satunya cara agar ia tak sekadar menumpang… tapi juga ikut menjaga.
Malam itu malam Jumat.
Biasanya, jamaah sedikit lebih banyak.
Karpet wangi baru disemprot, dan suara ngaji terdengar dari anak-anak yang sedang tahfidz ba’da Maghrib.
Tapi malam itu juga—sandal jepit satu-satunya milik Mbah Taryo hilang.
Ia baru sadar saat hendak keluar mengambil udara.
Dua pasang sandal masih tertata di rak…
tapi miliknya tidak ada.
Ia hanya berdiri beberapa detik.
Lalu duduk di anak tangga.
Menatap rak kosong itu… seperti menatap kehilangan yang diam-diam mengintai.
Bagi sebagian orang, sandal hanyalah alas kaki.
Tapi bagi Mbah Taryo, itu adalah satu-satunya yang ia beli sendiri, setelah mengumpulkan receh dari antar-jemput berhari-hari.
Ia tidak marah. Tidak mengadu.
Ia hanya menarik napas…
dan kembali masuk ke dalam.
Di tengah malam, saat semua sudah terlelap,
marbut masjid melihat Mbah Taryo duduk di serambi.
Kakinya telanjang.
Tangannya memegang lap, membersihkan gagang pintu dan keran wudhu satu per satu.
“Lho, Mbah… nggak tidur?”
Mbah Taryo tersenyum tipis.
“Tidur bisa nanti, Pak.
Tapi saya nggak enak kalau besok pagi masih kotor.”
Marbut itu hanya diam.
Tapi sebelum ia pergi, ia meninggalkan sesuatu di samping sajadah Mbah Taryo.
Satu pasang sandal baru.
Bukan mahal. Tapi bersih, dan pas ukurannya.
Mbah Taryo tidak pernah bertanya siapa yang membelikan.
Ia hanya menatapnya…
lalu membisikkan sesuatu dalam sujud panjangnya malam itu:
“Ya Allah…
Terima kasih sudah mengajarkan,
bahwa kehilangan kadang hanya jalan-Mu…
untuk memberi yang lebih layak.”
Malam itu, tidak ada air mata.
Hanya sunyi yang menenangkan.
Dan seorang lelaki tua
yang semakin yakin:
ia tidak sedang menumpang di rumah Allah.
Ia sedang pulang.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Grand Emerald Apartment Lantai 1 Blok G 01-WF, Jalan Pegangsaan Dua No. 3 Kelapa Gading
Jakarta
14250
Opening Hours
| Monday | 08:00 - 17:00 |
| Tuesday | 08:00 - 17:00 |
| Wednesday | 08:00 - 17:00 |
| Thursday | 08:00 - 17:00 |
| Friday | 08:00 - 17:00 |
| Saturday | 08:00 - 14:00 |