GPIB Nazareth

GPIB Nazareth

Share

Photos from GPIB Nazareth's post 08/04/2023

"Dilema Pontius Pilatus"

NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spiritualitas umat. Karena itu, Komisi Teologi Nz menyelenggarakan Penelaahan Alkitab (PenA) mulai Sabtu pertama sesudah Rabu Abu (25/03/2023) hingga Sabtu Sunyi (08/04/2023). PenA mengangkat tema tentang tokoh-tokoh Alkitab yang berperan dalam proses penyaliban Tuhan Yesus. Hasil dalam PenA tersebut, akan menjadi bahan refleksi pada saat Ibadah Keluarga (IK) setiap hari Rabu yang disampaikan oleh beberapa reflektor dari warga jemaat GPIB Nazareth.

Pada minggu IV Pra Paskah, tokoh keempat yang diangkat untuk dijadikan sebagai bahan refleksi adalah Pontius Pilatus, hasil PenA Sabtu (18/03/2023) dengan fasilitator Pdt. Izzak Lattu. Bahan refleksi tersebut disampaikan oleh Adik Matthew Graciano Joseph, Adik Jo Ann C. Tarigan, Adik Jordine Simanjuntak, Adik Otniel Emmanuel Pieritsz, dan Sdr. Jonathan Marvin Simatupang.

Berdasarkan hasil refleksi dari adik Matthew dan adik Otniel, Pontius Pilatus dipaksa oleh rakyat sekaligus di bawah hukum Romawi untuk membunuh Yesus. Keputusan ini bertentangan dengan hati nurani Pilatus. Seperti yang dikatakan juga oleh adik Jo Ann bahwa Pilatus tahu kalau Yesus tidak bersalah, namun Pilatus tidak ingin daerah yang ia pimpin terjadi pemberontakan atau kekacauan sehingga ia memilih menyalibkan Yesus sesuai keinginan para imam-imam atau tuan-tuan. Adik Jordine pun menyampaikan jika Pontius Pilatus menyerahkan Yesus dengan berat hati, tetapi ia memiliki tugas untuk membangun hubungan baik dengan para pemuka agama Yahudi serta untuk menghindari konflik. Maka dari itu, ia tidak dapat menyelamatkan Yesus, padahal Pilatus mempunyai kuasa besar untuk menyelamatkan Yesus.

Setiap orang selalu memandang Pontius Pilatus adalah sosok yang jahat. Namun apakah kita pernah melihat sisi lain dari seorang Pilatus? Sdr. Jonathan menyampaikan bahwa Pontius Pilatus tidak serta merta jahat. Pada saat itu ia pun dilema untuk memilih pilihan apa yang harus ia ambil. Lalu Mengapa Pontius Pilatus ‘mencuci tangan’? Sdr. Jonathan mengatakan bahwa Pilatus bukan orang Kristen karena ia tidak percaya tentang keberadaan Tuhan. Ia ‘mencuci tangan’ demi keamanan dirinya sendiri agar tidak dijatuhkan oleh rakyatnya dan menghindari terjadinya kericuhan,.

Pernahkah kita berpikir apa yang akan terjadi jika Pontius Pilatus tidak ‘mencuci tangan’? Sdr. Jonathan mengatakan bahwa tidak akan ada kekristenan jika Pilatus tidak melakukan hal demikian. Dengan perlakuan Pilatus ini, Yesus pun mengalami kematian di kayu salib, lalu bangkit ke Sorga untuk menebus umat manusia dari belenggu dosa. Ketika kita mengingat tokoh Pontius Pilatus, janganlah kita berpikir dari aspek kesalahannya dan kemudian menyudutkannya. Karena perilaku tersebut dapat terjadi juga di dalam kehidupan kita. Kesalahan-kesalahan yang sering kita jumpai di dalam kehidupan sesama manusia, kiranya tidak mengurangi nilai kasih kita kepada mereka. Ketika sesama umat manusia melakukan kesalahan, maka itu akan menjadi urusannya bersama dengan Tuhan dan aspek hukum lain yang berlaku di dalam kehidupan. Tanggung jawab kita hanya menghargainya dan mendukungnya sebagai sesama manusia.

•••
Penulis: Anabel Lerrick - Komisi Bid. Komunikasi IL
•••
Sumber (gambar cover): Artnet
(artnet.com/artists/george-hinke/pontius-pilate-washes-his-hands-FZdImtKTwLbznrzNnawOwg2)

Photos from GPIB Nazareth's post 07/04/2023

"Penyangkalan Dalam Pergumulan"

NZ NEWS, JAKARTA – GPIB menggunakan Kalender Gerejawi untuk memperkaya spiritualitas umat. Karena itu, Komisi Teologi Nz menyelenggarakan Penelaahan Alkitab (PenA) mulai Sabtu pertama sesudah Rabu Abu (25/03/2023) hingga Sabtu Sunyi (08/04/2023). PenA mengangkat tema tentang tokoh-tokoh Alkitab yang berperan dalam proses penyaliban Tuhan Yesus. Hasil dalam PenA tersebut, akan menjadi bahan refleksi pada saat Ibadah Keluarga (IK) setiap hari Rabu yang disampaikan oleh beberapa reflektor dari warga jemaat GPIB Nazareth.

Pada minggu IV Pra Paskah, tokoh ketiga yang diangkat untuk dijadikan sebagai bahan refleksi adalah Simon Petrus, hasil PenA Sabtu (15/03/2023) dengan fisiliator Pdt. Margie Ririhena – de Wanna. Bahan refleksi tersebut disampaikan oleh Sdr. Seraya Polii dan Ibu Paula Madethen-Kasenda.

Berdasarkan hasil refleksi dari Sdr. Seraya Polii, Simon Petrus atau Kefas adalah nama yang diberikan Tuhan Yesus kepada salah satu dari dua belas murid-Nya. Ia merupakan seorang nelayan dari Galilea yang diberi posisi sebagai pemimpin oleh Tuhan Yesus. Dari kisah Petrus Sdr. Seraya menyampaikan dua poin besar, yaitu Yesus maha mengetahui dan penyesalan Petrus atas perbuatannya.

Poin pertama yang disampaikan adalah Tuhan Yesus sudah memberi “kode” bahwa Petrus akan menyangkal-Nya sebanyak tiga kali. Artinya, setiap kejadian yang kita lakukan, Yesus sudah tahu. Jadi, kita harus tetap berpegang teguh pada iman percaya dan berserah pada kehendakNya apapun yang nanti terjadi. Poin kedua mengenai penyesalan Petrus adalah keadaan umum yang terjadi pada sifat manusia. Atas setiap kesalahan pada Tuhan, selayaknya kita mengaku, menyesal, memohon pengasihan, pengampunan dan bimbingan dari Tuhan.

Di sisi lain, Ibu Paula mengaitkan kisah Simon Petrus ke dalam pengalaman pribadinya, yaitu dalam konteks penyangkalan Tuhan Yesus. Suatu ketika, anaknya pernah mengamati Ibu Paula tidak berdoa sebelum makan. Ketika anaknya bertanya mengapa Ibu Paula tidak berdoa sebelum makan, Ibu Paula menjawab bahwa ia sudah berdoa di dalam hati. Kemudian anaknya menegur dan memberi nasihat kepada Ibu Paula agar selalu berdoa sebelum makan. Hal ini membuat Ibu Paula malu dan sedih karena ia menyadari sebagai orangtua tidak memberikan contoh yang baik kepada anaknya. Ia dengan mudahnya menunjukkan sikap menyangkal Tuhan Yesus dengan tidak mengucap syukur atas berkat yang diberikan oleh Tuhan Yesus melalui makanan yang ia makan.

Mengucap syukur adalah hal yang paling mudah dan paling sederhana untuk kita lakukan sebagai umat manusia, sekaligus sebuah bentuk pengakuan akan keberadaan Tuhan Yesus di dalam hidup kita. Ketika kita lupa atau bahkan enggan untuk bersyukur, kita sama saja menyangkal kehadiran Tuhan Yesus, seperti penyangkalan yang pernah Petrus lakukan saat sebelum Tuhan Yesus disalib. Ketika kita menyadari kesalahan yang kita lakukan tersebut, segeralah mengaku dan memohon pengasihan serta pengampunan dari Tuhan. Tetap berpegang teguh pada iman percaya kita kepada kehendak-Nya untuk semua hal yang akan terjadi nantinya.

———————————————————————————
Penulis: Anabel Lerrick - Komisi Bid. Komunikasi IL
———————————————————————————
Sumber (gambar cover): Wikipedia
(id.wikipedia.org/wiki/Petrus_menyangkal_Yesus)

Want your place of worship to be the top-listed Place Of Worship in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Website

Address


Jalan Sunan Drajat No. 27-29, Rawamangun
Jakarta
13220

Opening Hours

Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 09:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00
18:00 - 19:00