Inspirasi Master Rajneesh
14/06/2026
SEBATANG LILIN KECIL
Fungsi sang Master adalah untuk membatalkan apa yang telah dilakukan oleh para guru, imam, orang tua, dan politisi kepadamu. Di sini aku hanya membuat segalanya jelas bagimu. Aku tidak memaksakan disiplin apa pun. Aku tidak memberimu karakter apa pun. Aku hanya memberimu lebih banyak kesadaran, lebih banyak cahaya. Maka engkau harus menemukan karaktermu. Kemudian engkau harus menemukan gaya hidupmu, pola hidupmu.
Aku hanya memberimu sebatang lilin kecil; maka engkau bisa menemukan jalanmu ke dalam kegelapan kehidupan. Dan bahkan sebatang lilin kecil saja sudah cukup. Jika sedikit ruang di sekitarmu menjadi diterangi dan engkau bisa mengambil tiga, empat langkah dalam terang tersebut, itu sudah cukup; karena pada saat engkau telah mengambil empat langkah, cahayanya pergi empat langkah di depanmu. Dengan sebatang lilin kecil seseorang bisa melewati sepuluh ribu kilometer kegelapan.
Osho ~ Dhammapada, The Way of the Buddha, Vol 6, Chpt 2
14/06/2026
KISAH SUFI: BIJAK DALAM KEBODOHAN, BODOH DALAM KEBIJAKSANAAN
Ego selalu berusaha menjadi lebih sempurna, dan ketika engkau ingin menjadi sempurna, engkau harus memilih - engkau tidak bisa total. Jika engkau ingin menjadi bijak, engkau harus memilih: engkau harus meninggalkan kebodohan, engkau harus berjuang melawan kebodohan. Dan jika engkau ingin menjadi sangat bijak, engkau harus memotong segala kemungkinan dari ketidaktahuan, kebodohan, kegilaan.
Tetapi manusia seutuhnya benar-benar berbeda. Dia bijak dalam kebodohannya; dia bodoh dalam kebijaksanaannya. Dia tahu bahwa dia bodoh - itulah kebijaksanaannya. Dalam dirinya, yang berlawanan saling bertemu. Lao Tzu berkata: Semua orang tampaknya bijaksana kecuali aku. Aku tampaknya bodoh. Semua orang berusaha menjadi bijak, berusaha menjadi berpengetahuan, berusaha menjadi cerdas - memotong, menyembunyikan, menekan kebodohan. Tetapi kebodohan memiliki keindahannya sendiri - jika ia bisa digabungkan dengan kebijaksanaan. Maka kebijaksanaan adalah total. Dan orang bijak terbesar dalam dimensi totalitas juga selalu bodoh. Mereka sangat sederhana dan polos, sehingga mereka terlihat bodoh. Lao Tzu pasti terlihat bodoh bagi banyak orang. Dia terlihat bodoh; dia adalah keduanya. Dan itulah kesulitannya: pikiran mencari kesempurnaan. Siapa yang akan mendatangi Lao Tzu? Tidak ada yang ingin menjadi bodoh dan bijaksana. Dan engkau bahkan tidak bisa memahami, bagaimana seseorang bisa menjadi keduanya. Bagaimana orang bisa menjadi keduanya?
Dikisahkan bahwa seorang Sufi mistikus sedang bepergian dan datang ke sebuah kota. Dan namanya telah sampai ke sana sebelum dirinya, ketenarannya sudah dikenal. Maka orang-orang berkumpul dan berkata, "Ajarkanlah sesuatu kepada kami."
Mistikus itu berkata, "Aku bukan orang yang bijak, karena aku juga bodoh. Engkau akan bingung dengan ajaranku, jadi lebih baik biarkanlah aku diam." Tetapi semakin dia berusaha menghindarinya, semakin mereka bersikeras, semakin mereka tertarik dengan kepribadiannya.
Akhirnya dia menyerah dan berkata, "Baiklah. Jumat yang akan datang ini, aku akan datang ke masjid ..." Itu adalah desa muslim. "... dan apa yang engkau ingin aku bicarakan?"
Mereka berkata, "Tentu saja, tentang Tuhan."
Jadi dia datang - seluruh desa berkumpul, dia telah menciptakan sensasi yang sedemikian. Dia berdiri di mimbar dan mengajukan pertanyaan: "Apakah engkau tahu apa pun, tentang apa yang akan aku katakan, tentang Tuhan?"
Penduduk desa tentu saja menjawab, "Tidak, kami tidak tahu apa yang akan engkau katakan."
"Kalau begitu," katanya, "tidak ada gunanya, karena jika engkau tidak tahu sama sekali, engkau tidak akan bisa mengerti. Sedikit persiapan diperlukan, dan engkau benar-benar tidak siap. Itu akan sia-sia dan aku tidak akan bicara." Dia meninggalkan masjid.
Penduduk desa bingung: apa yang harus dilakukan? Mereka membujuknya lagi pada hari Jumat berikutnya. Jumat berikutnya dia datang lagi. Dia mengajukan pertanyaan yang sama; semua penduduk desa sudah siap. Dia bertanya, "Apakah engkau tahu apa yang akan aku bicarakan denganmu?"
Mereka berkata, "Ya, tentu saja."
Jadi dia berkata, "Maka tidak perlu berceramah. Jika engkau sudah tahu - selesai. Mengapa tanpa perlu menggangguku dan membuang waktumu?" Dia meninggalkan masjid. Penduduk desa benar-benar bingung: apa yang harus dilakukan dengan pria ini? Tetapi sekarang minat mereka menjadi gila. Dia pasti menyembunyikan sesuatu! Jadi mereka kembali membujuknya.
Dia datang, dan sekali lagi dia menanyakan pertanyaan yang sama: "Apakah engkau tahu apa yang akan aku bicarakan?"
Sekarang penduduk desa menjadi sedikit lebih bijaksana. Mereka berkata, "Setengah dari kami tahu, dan setengah dari kami tidak tahu."
Mistikus itu berkata, "Maka itu tidak perlu. Mereka yang tahu bisa memberi tahu mereka yang tidak tahu."
Inilah orang yang bijak dan bodoh - dia terlihat bodoh tetapi dia sangat bijaksana dalam kebodohannya; dia terlihat sangat bijak tetapi berperilaku seperti orang bodoh. Jika engkau memahami kehidupan, semakin dalam engkau pergi, semakin dalam engkau akan memahami bahwa keseluruhannya pantas untuk dipilih. Itu berarti tidak perlu memilih. Pilihan akan memotong-motong keseluruhannya, dan apa pun yang engkau dapatkan akan terpisah-pisah dan mati. Kebijaksanaan dan kebodohan ada bersama dalam kehidupan; jika engkau memotongnya, maka kebijaksanaan akan terpisah dan kebodohan akan terpisah, tetapi keduanya akan mati. Seni kehidupan terbesar adalah membiarkan mereka tumbuh bersama dalam keseimbangan, sehingga kebijaksanaanmu membawa sifat kebodohan tertentu, dan kebodohanmu membawa sifat kebijaksanaan tertentu. Maka engkau menjadi penuh.
OSHO ~ Tao The Three Treasures, Vol 1, Chpt 2
13/06/2026
MALAM GELAP JIWA
Ketika pikiran mulai menghilang, datanglah sebuah celah, jeda. Sebelum sesuatu yang melampaui pikiran turun, ada celah di sana. Yang lama sudah pergi dan yang baru belum datang, karenanya terasa seperti di padang pasir.
Para mistikus Kristen mempunyai nama yang tepat untuk itu - mereka menyebutnya "malam gelap jiwa." Seseorang merasa benar-benar kering, kosong - dan kosong secara negatif. Kekosongan itu mempunyai sifat kegelapan, bukan cahaya - tidak ada kehijauan di mana pun, bahkan oasis pun tidak ada, bahkan cakrawala yang jauh pun tidak ada. Padang pasir ini harus dilalui.
Banyak orang menjadi takut dan mereka melarikan diri kembali ke dunia ilusi mereka. Ini adalah hasil yang wajar, karena semua kehijauan yang sudah ada sebelumnya hanyalah ilusi, hanyalah halusinasi. Engkau yang menciptakannya - ia tidak ada di sana.
Sekarang mimpi-mimpi telah hilang, dan layar kosong ... Engkau telah duduk dalam sebuah bioskop, dan di layar kosong itu ada banyak hal - bunga-bunga dan pegunungan yang indah, dan sungai dan lautan, dan orang-orang, dan semuanya dihuni - dan tiba-tiba proyektornya telah berhenti: layarnya kosong.
Layarnya kosong karena apa pun yang engkau lihat sebelumnya hanyalah ilusi ... itu maya. Banyak orang menjadi takut dan mereka menyalakan proyektornya lagi - sekali lagi mereka mengisi dunia dengan fantasi mereka sendiri.
Inilah saat di mana keberanian dibutuhkan. Inilah saat ketika seseorang benar-benar menjadi sannyasin (pencari kebenaran). Jadi biarlah padang pasir ini ada. Engkau harus melewatinya, dan semakin dalam penerimaanmu, semakin cepat ia akan menghilang. Terkadang ia bisa menghilang dalam sekejap, itu tergantung pada intensitas penerimaannya.
Jika engkau menerima, engkau berkata, "Tidak apa-apa. Aku akan hidup dengan layar yang kosong tetapi aku tidak akan menciptakan ilusi apa pun lagi. Semua urusan cinta, hubungan, semua keinginan, keserakahan, dan semua ambisi itu - aku tidak akan membawa mereka lagi. Jika itu padang pasir, jadi biarlah; aku siap untuk hidup dengan padang pasir ini."
Begitu engkau benar-benar siap, tiba-tiba engkau akan melihat bahwa padang pasir itu juga menghilang. Sama seperti kehijauan telah menghilang, padang pasir juga menghilang. Gambar-gambar menghilang, sekarang layarnya telah menghilang, dan kemudian untuk pertama kalinya engkau menjadi sadar akan kenyataan - yang luar biasa indah. Ia sangat berwarna... ia bercahaya.
Jadi inilah dua hal: pertama-tama film harus dimulai, kemudian layar harus menghilang. Kemudian engkau menghadapi kenyataan, dunia nyata apa adanya. Tetapi untuk menjadi mampu melakukan itu, inilah harga yang harus dibayar.
Para mistikus Kristen mengatakan bahwa ada tiga tahap pertumbuhan batin. Yang pertama mereka sebut via purgativa (melalui penyucian). Orang harus menjadi murni sepenuhnya, murni dari semua ilusi - itulah penyucian.
Tahap kedua mereka sebut via illuminativa (melalui cahaya). Ketika orang telah menjadi sepenuhnya murni dari ilusi, tahap kedua akan datang - cahaya yang besar akan turun. Hidup akan menjadi mulia. Orang akan merasa sangat sangat puas, sangat dekat dengan rumah.
Dan kemudian tahap ketiga mereka sebut via unitiva (melalui penyatuan). Orang menjadi satu dengan kenyataan. Tidak ada orang yang melihat dan tidak ada hal yang dilihat.
Pada tahap pertama tidak ada cahaya dan itu sangat menyakitkan - penyucian. Sangat banyak mimpi berharga yang rusak. Ini menyakitkan, dan orang merasa kering, karena semua yang dia pikirkan sebagai jus tidak lain daripada mimpi.
Pada tahap kedua orang merasa sangat bahagia tetapi masih ada sesuatu yang hilang. Dia bahagia tetapi dia belum menjadi kebahagiaan. Dia bercahaya tetapi dia belum menjadi cahaya. Ya, terang telah datang, tetapi ia terpisah darimu - dualitas masih ada.
Pada tahap ketiga, via unitiva (melalui penyatuan), orang menjadi satu dengan semesta. Hanya kemudian perjalanannya selesai ... ziarahnya selesai.
OSHO ~ What Is, Is, What Ain't, Ain't, Chpt 19
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Address
Jakarta