Dj selly

Dj selly

Share

06/09/2025

# : Senyapnya Malam, Pecahnya Hati

Adegan 1: Puing-Puing Rutinitas

Malam itu, di kediaman mewah keluarga Hartono, keheningan terasa begitu pekat, lebih berat dari biasanya. Jam dinding di ruang tamu bergema, setiap detiknya seolah memukul hati Kirana, sang istri, yang duduk sendirian di sofa kulit berwarna krem. Lampu kristal yang tergantung di langit-langit memancarkan cahaya kekuningan yang redup, seolah enggan menerangi sudut-sudut rumah yang kini terasa hampa. Di meja kopi di hadapannya, secangkir teh chamomile yang sudah mendingin mengepulkan uap tipis, sebuah simbol dari kehangatan yang telah lama memudar dalam pernikahannya.

Kirana, dengan rambut hitam panjangnya yang terurai, sesekali menghela napas panjang, tatapannya kosong menembus jendela kaca besar yang memperlihatkan taman belakang yang gelap gulita. Hanya ada siluet pohon-pohon palem yang bergoyang pelan diterpa angin malam, seolah ikut merasakan kesendiriannya. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, suaminya, Ardi, belum juga kembali. Pukul sepuluh malam telah lewat, dan tidak ada pesan, tidak ada telepon, tidak ada kabar. Hanya kebisuan yang memekakkan telinga.

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Ardi mungkin masih terjebak pekerjaan di kantor. Ardi adalah seorang CEO perusahaan teknologi yang sukses, selalu sibuk, selalu dikejar deadline. Namun, alasan itu kini terdengar seperti mantra yang rapuh, mudah runtuh dihempas badai keraguan yang semakin hari semakin membesar di dadanya. Ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang lebih dingin, lebih jauh, dalam tatapan Ardi akhir-akhir ini. Sentuhan-sentuhan yang dulu penuh gairah kini terasa hambar, ciuman-ciuman yang dulu menghanyutkan kini hanya sekadar formalitas.

Kirana meraih ponselnya, ibu jarinya melayang di atas nama Ardi di daftar kontak. Ia ingin menelepon, menuntut penjelasan, meminta kepastian. Namun, keberaniannya menciut. Ia takut mendengar suara dingin Ardi, atau lebih buruk lagi, tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Ia takut konfrontasi akan semakin memperjelas keretakan yang selama ini berusaha ia tutupi dengan senyuman palsu dan kesibukan mengurus rumah tangga.

Ia mengingat percakapan terakhir mereka pagi tadi, di meja makan. Ardi terburu-buru menghabiskan sarapan, matanya terus-menerus melirik jam tangannya yang mahal.

"Aku harus cepat, banyak rapat hari ini," Ardi berucap singkat, tanpa menatap mata Kirana.
"Kamu tidak sarapan dengan benar," jawab Kirana lembut, mencoba meraih tangannya, namun Ardi sudah menarik tangannya lebih dulu.
"Aku sudah kenyang. Nanti malam jangan menungguku, mungkin aku pulang larut," tambahnya, suaranya datar.

Kirana hanya mengangguk, hatinya sudah terlatih untuk menelan kekecewaan demi kekecewaan. Ia sudah terbiasa dengan janji-janji kosong, dengan kepergian yang tanpa kejelasan. Dulu, Ardi selalu pulang tepat waktu, selalu bercerita tentang pekerjaannya, tentang teman-temannya. Dulu, mata Ardi selalu berbinar saat menatapnya, bibirnya selalu tersenyum hangat. Sekarang, semua itu tinggal kenangan, seperti foto-foto lama yang tersimpan rapi di album usang.

Ia bangkit dari sofa, melangkah perlahan menuju jendela besar. Di luar, tetesan embun mulai terbentuk di dedaunan. Udara dingin merasuk ke pori-pori kulitnya, namun tidak sedingin hatinya. Ia merenungkan kembali tiga belas tahun pernikahannya dengan Ardi. Mereka memulai segalanya dari nol, dari sepasang kekasih yang saling mencintai tanpa batas, berjuang bersama meniti tangga kesuksesan. Kirana selalu menjadi pendukung setia Ardi, mengorbankan kariernya sendiri demi kebahagiaan rumah tangga. Ia tidak pernah menyesalinya, setidaknya, dulu tidak.

Namun kini, saat ia melihat Ardi mencapai puncak kariernya, ia justru merasa semakin jauh. Ia merasa seperti sebuah furnitur tua yang masih ada di sudut ruangan, namun sudah tidak lagi menarik perhatian. Ia tidak lagi menjadi prioritas. Ia tidak lagi menjadi satu-satunya. Insting seorang istri tidak pernah salah, dan insting Kirana berteriak kencang: ada yang tidak beres. Ada seseorang yang lain.

Air mata mulai mengalir di p**inya, hangat membasahi kulitnya yang dingin. Ia tidak ingin menangis, ia sudah terlalu sering menangis. Namun, rasa sakit itu terlalu kuat, terlalu nyata untuk ditahan. Ia merasa bodoh, merasa naif, karena selama ini masih berharap. Ia tahu, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu segalanya telah berubah. Ardi bukan lagi Ardi yang dulu. Dan ia, Kirana, bukan lagi Kirana yang dulu, yang penuh semangat dan optimis. Ia kini hanya bayangan, sebuah cangkang kosong yang menunggu untuk dihancurkan.

Ia memejamkan mata, mencoba menghalau pikiran-pikiran buruk yang terus berputar di benaknya. Ia berharap semua ini hanya mimpi, sebuah mimpi buruk yang akan segera berakhir saat ia terbangun. Namun, sayangnya, ini adalah kenyataan. Kenyataan pahit yang harus ia hadapi.

Ia memutuskan untuk menunggu, seperti yang selalu ia lakukan. Menunggu dengan hati yang hancur, menunggu dengan harapan yang semakin menipis. Menunggu suaminya pulang, berharap ada sedikit keajaiban yang akan mengembalikan kehangatan dalam rumah tangganya yang telah lama membeku. Namun, malam itu, yang ada hanyalah keheningan. Keheningan yang menakutkan, keheningan yang menjadi saksi bisu dari puing-puing rutinitas yang telah menghancurkan hati Kirana secara perlahan.

Want your establishment to be the top-listed Arts & Entertainment in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Jakarta