Short Video
14/02/2025
"Permisi. Ibu kenal orang ini?"
Wanita memakai daster itu menggeleng. Rambutnya kelihatan mengembang, seperti tak pernah disisir. Yang benar saja, tidak ada seorang pun yang mengenali wajah wanita yang katanya adalah ibu kandungku. Sama sekali tak mirip. Sudah puluhan desa dengan nama yang sama yang telah kudatangi. Merepotkan saja. Kalau bukan karena Papa dan Mama, aku tak mau bertemu mereka. Lebih baik, aku sekalian tak kenal mereka. Untuk apa coba, mereka tega menjualku untuk uang senilai sepuluh juta.
"Dik."
Seorang wanita penjaga warung melambai ke arahku.
"Nyari siapa?"
Demi mencoba peruntungan. Aku masuk ke dalam toko kelontong itu. Menghampiri si penjual.
"Ini. Ibu kenal?" Kutunjukkan foto dalam galeri ponsel.
"Oh, si As, kenal-kenal. Langganan dicari orang dia yo. Pasti Mbak mau nagih utang juga, iyo kan?"
Aku tak menjawab. Orang tuaku langganan utang? Yang benar saja?
"Itu, rumahnya di belakang musola Mbak. Jam segini orangnya pasti ndak ada. Paling-paling tahu jam-jamnya bank jeguk datang. Wong hutang di saya saja ndak dibayar Mbak!"
Bibir Ibu itu sampai maju lima senti. Aku terkena shock culture. Ibu ini sama sekali tak merasa berdosa telah membuka aib tetangganya ke orang asing? His, bisa kurus aku kalau punya tetangga seperti dia.
"Oke. Terima kasih, Bu."
"Yo, kalau ndak dibayar. Mbak sita saja barang berharganya, itu pun kalau ada. Oh iya Mbak, tadi yang Mbak tanyai itu orang gila. Untung Mbaknya ndak dijambak."
Tidak penting. Aku masuk ke dalam mobil broken white fj cruiser kesayanganku, mobil ini hadiah dari Papa di ulang tahunku kemarin. Tahun ini, entahlah, aku hanya ingin Papa dan Mama hidup lagi untuk memberiku selamat. Mustahil bukan?
Baru saja memarkir mobil di halaman depan rumah bercat hijau itu, suara pekikan terdengar jelas saat aku turun.
"Halah, jelas kamu ngerayu anakku! Anakmu ini, sok cantik, kecentilan. Aku ndak sudi yo punya mantu wong kere!"
Keributan terjadi di sana. Aku berhenti. Seorang gadis menangis di lantai, memeluk lutut seorang ibu tua. Kasihan sekali. Ada apa sebenarnya.
"Maaf. Maaf kalau genduk Tantri berbuat salah, Ning."
Aku hampir maju saat wanita sedikit gemuk itu menepis tangan si ibu tua. Jahat. Seorang pria muda kelihatan menarik-narik tangan wanita gendut itu. Oh, dia ibunya ya?
"Sudah, Buk. Ayo pulang, Tantri ndak salah. Aku yang salah, Buk."
"Ingat yo Tan. Jangan morotin anakku lagi. Jangan hubungan lagi sama anakku. Gibran bakal nikah sama orang kota yang punya pendidikan tinggi, jadi kamu jangan ngarep!"
Masih zaman ya melabrak-labrak dengan cara serendah itu? Ah, aku yang tak mengenal mereka semua serasa darah tinggi. Sebentar. Ibu tua itu, apa dia, kulihat foto Ibu Astiah di ponsel untuk memastikan dan memang, dia adalah ibuku. Berangkat kemari, aku sangat membenci keluarga itu, keluarga yang membuangku, tapi kini, ada keinginan besar untuk mengubah nasib mereka. Terlebih saat ibu gendut itu mendorong Ibu Astiah hingga terbentur tembok. Sabar. Sabar Selena. Masih hari pertama.
Aku kembali masuk ke dalam mobil. Kupakai kaca mata hitam saat ibu gendut itu melewati mobilku. Matanya terlihat mengawasi.
"Daripada buang-buang duit untuk perempuan jelek itu, mending kamu nabung biar kebeli mobil kayak gini." Perempuan itu mengomel. Tidak tahu saja kalau mobil ini milik anak dari keluarga yang baru saja ia hina.
Aku memakai kacamata hitam. Turun dari mobil. Tas slempang hitam di bahu mengayun seirama dengan langkah sepatu kets yang kukenakan. Ibu gendut tadi melihatku dari atas hingga bawah, dia lalu tersenyum padaku. Sayang sekali, ibu gendut itu akan masuk dalam daftar orang yang tak kus**ai.
Kedatanganku membuat keluarga itu buru-buru mengusap p**i dengan kerudung. Senyum mengembang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Aduh ada tamu, mari-mari silakan masuk."
Aku masuk ke dalam ruangan kecil. Kursi kayu berderit saat aku duduk. Kulepas kacamataku.
"Tantri, buatkan teh yo."
"Gak usa repot-repot, Bu," sanggahku. Gadis yang matanya masih sembab itu tersenyum lebar, sambil berkata, "Nggih, Mak."
Emak. Jadi panggilan ibuku di rumah ini Emak ya. Baiklah. Aku akan mulai mencoba memanggil beliau dengan sebutan itu.
"Tadi ada apa kok ramai-ramai, Mak?"
Beliau hanya menggeleng, dua tangannya memijit lutut. "Bukan apa-apa, genduk. Hem, ada apa ini kok sampai ada perempuan cantik bertamu di rumah Emak yang kumuh ini?"
Aku mengulurkan tangan.
"Saya Cahaya Selena, Mak, panggil saja Selen. Kebetulan saya sedang liburan di desa ini. Saya sedang mencari kontrakan atau kamar untuk saya tinggali. Mungkin, Mak punya kamar atau--"
"Biar setelah ini Mak bantu carikan yo. Di depan dusun banyak perumahan kosong."
Aku memainkan jemari. Ah, bagaimana caranya agar aku bisa tinggal di sini?
"Begini saja Mak. Saya ngekost di rumah Mak saja bagaimana?"
"Rumah ini keadaanya ndak layak kalau untuk ngekost, nduk."
"Saya bayar lima juta perbulan."
Emak menggeleng. Tantri, gadis itu datang membawa teh hangat.
"Jangan wes, nduk. Kamu ndak bakalan betah. Diminum dulu nduk, Mak janji bakal bantu mencari kost."
"Bagaimana kalau sepuluh juta?"
Emak dan Tantri saling pandang. Kali itu, kupegang tangan Emak yang dingin.
"Saya bukan kriminal, Mak. Bukan juga penipu." Kukeluarkan uang lima juta cash di meja. "Saya hanya wanita kota yang rindu suasana desa."
"Ya Allah, nduk. Jangan seperti ini, uang segini terlalu banyak. Kamu ndak usah bayar kalau memang kamu merindukan suasana desa. Insyaallah Emak bisa ngobati kangenmu itu, yo?" Uang itu disodorkan lagi kepadaku.
"Saya harus tetap bayar, Mak."
"Mak ndak narik uang, tapi kalau ingin bayar, samakan dengan harga kost di sekitar sini saja, nak."
"Berapa?"
"400 ribu sebulan."
"What, murah banget?" kataku, reflek.
Tantri tertawa kecil. "Mbak bisa tidur di kamarku saja nggih, Mbak. Lumayan layak untuk ditempati."
Baiklah, kita mulai hari baruku.
***
Semua ini tak akan pernah terjadi kalau Mama dan Papa tidak meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan. Dokter ternama hingga manca negara tak dapat menyembuhkan Mama dan Papa. Luka berat di kepala mengakibatkan malfungsi berbagai organ dan aku harus menerima kenyataan bahwa kini aku yatim piatu.
Dua puluh tujuh tahun hidup. Aku baru mengerti makna kehilangan. Dua sosok hebat yang membesarkan, memberikan kehidupan mewah, mengajari sopan santun, dan mendidikku menjadi anak yang tak pendendam kini sudah kembali ke rengkuhan Tuhan.
Aku menatap jendela kantor Papa. Seminggu sejak kepergianmu, Pa, semua terasa hampa dan asing.
"Bu, pengacara dan notaris sudah tiba."
"Persilakan masuk."
"Baik Bu."
Setelah sekretaris keluar. Dua pria masuk ke dalam ruangan. Pria satu, tinggi tegap, masih kelihatan muda. Pakaiannya cenderung casual untuk ukuran seorang ahli hukum. Pria satu lagi, aku mengenalnya. Beliau pengacara kepercayaan Papa, Om Stefanus.
"Kantung matamu semakin kelihatan, nak."
Om Stefanus menarik kursi. Aku meletakkan dagu di tangan. Berusaha tersenyum.
"Kamu melewati hari-hari yang berat, nak. Sekarang tersenyumlah karena Papamu telah menitipkan sesuatu kepada Pak Alkana."
Alkana. Yang Om Stefanus maksud adalah notaris di sebelahnya. Laki-laki itu menatapku, tanpa senyuman! Dia langsung meletakkan kotak kayu ukiran bunga, dengan pelamir mengkilat dan gembok kecil menggantung di meja.
"Hak waris sepenuhnya jatuh ke tanganmu, nak. Tetapi Papamu ingin kamu tahu satu hal sebelum kamu mendapatkan semuanya." Om Stefanus tersenyum singkat ke arah pria angkuh bernama Alkana. Kemudian ia membuka kotak itu. Dia memiliki kuncinya.
"Aku tahu itu, Om. Sebelum kecelakaan, Papa pernah membahas soal itu." Ah, Papa. Padahal ceritamu belum selesai. Kenapa semua harus usai?
"Menurut surat wasiat yang Tn. Aliandra Mahmud titipkan kepada saya tiga tahun lalu, beliau menyerahkan seluruh kekayaan baik dalam bentuk konkret maupun tidak kepada putri semata wayang Tn. Aliandra Mahmud dan Ny. Aisyah Mahmud yaitu ananda Cahaya Selena Geolova Aliandra."
Aku sudah tahu itu.
"Kepemilikan akan sah apabila ananda Cahaya Selena Geolova Aliandra telah berusia di atas dua puluh lima tahun."
Usiaku bahkan sudah lebih. Dua puluh tujuh tahun!
"Dan telah menemukan keluarga kandungnya serta menghadiahkan sebagian hartanya untuk membantu kesusahan keluarga kandung sedarah yang diketahui bermukim di desa--"
"Cukup." Aku masih belum mengerti.
"Maaf, Pak Alkana. Anda tidak salah baca?"
Kutoleh Om Stefanus yang kini tersenyum tipis dan mengangguk.
"Bacalah. Surat ini dirahasiakan oleh Papa dan Mamamu sejak lama. Dan Om bangga kepada Papamu sejak memilikimu, nak. Dia pindah agama hanya agar dia tahu cara mendidikmu, karena kamu lahir dari rahim keluarga muslim. Papa dan Mamamu dengan s**a cita memeluk islam, hingga akhir hayatnya."
Dadaku hampir berhenti membaca larik demi larik surat yang Papa tulis. Jadi selama ini, aku hanya anak adopsi dari keluarga miskin?
~
Papa ingin kamu bertemu dengan mereka untuk menyampaikan terima kasih. Papa kira, Papa sudah sangat jahat karena mengambilmu dari keluarga itu walau kami sudah sepakat, dan Papa amat sangat menyesal telah kehilangan jejak mereka selama bertahun-tahun. Selena anak Papa Mama, sampai kapan pun kamu anak Papa Mama. Papa tak siap melihatmu menemui mereka dan kelak Selena membenci Papa Mama. Maka kelak, saat Papa kembali ke sisi Allah, kamu harus menunaikan tugas mulia ini. Sayangku, maaf yang besar dan terima kasih yang tinggi kepada keluarga kandungmu, Papa dan Mama bisa merasakan memiliki anak cantik dan baik mulia sepertimu, anakku, Cahaya Selena Geolova Aliandra.
—Aliandra Mahmud
Dan air mata itu menjadi awal aku menemukan mereka. Ya mereka, keluarga kandungku yang telah menukar kehidupanku dengan uang 10 juta.
♡♡♡
Judul d! KBM A-p-p: ANAK BERHARGA 10 JUTA
Penulis: Heraa_Kless
L@NJUT B@CA D!! KBM a-p-p
12/02/2025
BABY SITTER RASA ISTRI
Bagian 1
"Sepuluh juta!"
Nilai nominal yang ditawarkan seorang pria pada gadis seksi berusia 22 tahun bernama Sera. Ia baru saja lulus kuliah dan sudah mencari pekerjaan ke sana kemari, tapi belum satu pun yang memanggilnya untuk interview. Sampai terakhir ia memilih untuk menjadi pemandu lagu, sebuah pekerjaan yang membuatnya hampir menyerah karena godaan hidung belang yang luar biasa.
Pekerjaan sendiri itu atas rekomendasi temannya, ia yang putus asa karena orang tua menumpuk hutang, akhirnya menerima pekerjaan itu.
"Oke, baiklah! Hanya jaga dua anak anda saja tuan?"
"Panggil saya Arkan."
"Oke, Tuan Arkan!"
"Jangan pakai Tuan!"
"Lalu?"
"Terserah! Asal jangan panggilan itu," ucap pria bertubuh tinggi sekitar 180 cm, usianya 32 tahun dan seorang wiraswasta.
"Oke, baik!"
"Sebetulnya bukan dua anak, tapi tiga. Satu diantaranya masih bayi berusia dua bulan."
Sera mengangguk, sepertinya mengurus tiga anak bukan hal yang sulit, apalagi diketahui bila kedua anaknya sudah berusia sepuluh tahun. Sudah lebih dewasa dan akan lebih mudah diarahkan pikir Sera.
"Kamu tidak sendirian, ada dua asisten rumah tangga yang mengurus rumah, jadi tugasmu hanya menemani mereka saja."
"Oh, semudah itu ternyata," jawab
"Satu lagi persyaratannya."
"Apa itu?"
"Kamu harus menginap!"
Sera tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan, itu memang keinginannya, setidaknya ia bisa menghemat biaya makan dan kos. Harga kontrakan di Jakarta yang melangit.
"Setuju!"
"Baiklah, nanti saya siapkan surat kontraknya. Sekarang bisa ikut saya ke rumah untuk melihat situasinya. Tapi ...." Arkan menghentikan ucapannya dan melihat dari atas ke bawah ke arah Sera dan buru-buru mengalihkan pandangan.
"Ada persyaratan satu lagi."
"Apalagi, Pak?"
"Kamu jangan menggunakan pakaian kurang bahan seperti itu!"
Sera melihat dirinya, ia mengenakan kaos ketat dan rok pendek selutut, ia merasa tidak seksi apalagi kurang bahan.
"Aku harus pakai gamis?"
"Iya, kalau perlu!"
"Tapi, Pak?"
"Itu salah satu syarat, kalau kamu keberatan bisa ditolak."
"Oke! Baiklah! Saya setuju!"
***
Setelah membeli beberapa pakaian yang sesuai keinginan bosnya, ia pun dibawa ke rumah Arkan, sebuah rumah yang membuat Sera berdecak kagum, tidak hanya luas, tapi designnya benar-benar indah. Dari gerbang menuju pintu rumah panjang membentang, mungkin cukup untuk lima sampai sepuluh mobil, di sana pun lengkap dengan petugas keamanan dan pekerja lainnya, tak hanya asisten rumah tangga.
"Selamat datang, semoga betah, ya!" ucap salah satu pekerja bernama Tuti.
"Iya, semoga betah. Semenjak ibu meninggal dua bulan lalu, sudah ganti empat pengasuh," ujar salah satunya yang terlihat masih muda, namanya Aini.
Sera membelalakkan mata. Sesulit apa mengurus mereka yang membuat empat pengasuh angkat kaki dalam waktu dua bulan.
"Mereka jahil dan nakal, bukan hanya itu, mereka juga manja dan gak boleh dimarahin sedikitpun oleh neneknya."
Sera mengangguk paham, tak lama kemudian datang Arkan dan ketiga anaknya. Yang besar kembar laki-laki dan perempuan, sementara yang kecil juga perempuan. Tak hanya itu, ada seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan di sana. Terlihat dari cara berpakaiannya begitu elegan dan berkelas.
"Ini yang akan bersama kalian, namanya Tante Sera, kalian harus patuh dan hormat," ucap Arkan.
"Siap Ayah," ucap Kenzo anak laki-lakinya.
"Baik Ayah!" sahut Kezia anak perempuannya. Sementara si bungsu bernama Kalina.
"Kenalan dulu Tante," ucap Kenzo. Anak laki-laki itu mendekat mengulurkan tangannya. Sera berpikir mereka tak seseram yang dibicarakan.
Sera menerima dengan tangan mungil itu, tapi tidak disangka Kenzo menembakkan senjata air ke wajah Sera dan membuatnya basah.
"Kenzo!" Arkan sedikit berteriak.
"Jangan kasar sama anak," ucap ibu di sampingnya.
"Hey! Kamu! Gak sopan, ya!" Siapa yang ngajarin?" Teriak Sera. Sebelumnya tidak ada yang berani seperti ini pada si kembar.
"Heh! Kamu jangan bentak cucu saya!" Wanita bernama Haliza itu berteriak.
"Saya bukan sedang membentak, saya sedang mengajarinya."
"Tidak dengan begitu caranya, berani sekali kamu sama cucu saya! Apa hak kamu?"
Kenzo memeluk Omanya, berlindung dari murka Sera.
Sera menghela napas panjang. Si kembar sepertinya mendapatkan pola didik yang salah. "Tentu saya berhak, saya yang akan mengasuh mereka, secara tidak langsung saya juga yang mendidik mereka. Ingat, Bu! Kasih sayang memang menghasilkan kebaikan, tapi bila anak terlalu dimanja banyak dampak negatif yang akan ditimbulkan di masa depan. Apa anda cucu anda tidak berkualitas?"
"Kamu tidak perlu mengajari saya!"
Sera mendelik.
"Kamu dapat dia darimana? Cari pengasuh yang berpendidikan, jangan orang kampung seperti itu!" ujar Haliza pada Arkan.
"Hanya dia yang bersedia, Bu."
"Hati-hati! Biasanya dari kampung s**a pakai jurus guna-guna. Ibu gak mau anak-anak diobatin biar nurut."
Meski berbisik, Sera mendengar ucapan itu dan merasa geram. "Kalau perlu saya guna-guna juga anak ibu biar ikut nurut!"
"Jangan-jangan kamu pengasuh plus plus," ucap Haliza.
"Iya! Kenapa memang?" Sera benar-benar geram.
Cerita selanjutnya di KBM app
Judul : BABY SITTER RASA ISTRI
PENULIS : MEGA DEWI
BABY SITTER RASA ISTRI - Mega Dewi
Jangan lupa sub ya dan nantikan bagi- bagi koinnya. ini
seorang sarjana yang akhirnya memutuskan me...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/feeb8f0a-455f-5a9c-c284-ae9d69280dd1?af=eb16f816-0fb2-b30a-7dd5-f1cedf0f4b5a
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Nangka
Jakarta