Mixmax Books

Mixmax Books

Share

20/01/2026

Mereka bilang aku beruntung bisa berpacaran dengan Rafi, siswa tampan seantero sekolah. Pujian ini menjadi jembatan kehan cu ranku di masa depan. Aku terlena bujuk rayu manisnya ra cun asmara, hingga aku kehilangan ...
===

"Sofi ..."

Panggilan Tania membuat tumitku tertahan di udara. Aku menurunkan kaki kembali, lalu berputar pelan menghadapnya. Senyum Tania sudah merekah lebar. Jenis senyum yang menyimpan sedikit rasa iri namun tertutup rapi oleh keakraban kami.

"Kamu itu memang pemenang lotre kehidupan ya, Sof," ujarnya sambil menggeleng pelan. Matanya berbinar jenaka. "Dapat pacar modelan Rafi. Sudah ganteng, anak baru pindahan kota, kaya raya p**a. Dia itu paket lengkap yang mustahil ada di dunia nyata, tahu."

Aku hanya bisa menarik kedua sudut bib irku sedikit. Bingung harus membalas apa. Kalau aku mengiyakan, nanti dikira sombong. Kalau menolak, dikira tidak bersyukur. Jadi aku hanya mengangguk samar.

"Aku p**ang dulu, ya. Sudah sore."

"Heum," gumam Tania, tapi matanya memi cing cu riga. "Sudah dijemput pangeran berkuda besinya?"

Aku menggeleng cepat. "Enggak. Aku naik angkot."

Tania mendeng kus, lantas dagunya menunjuk ke arah jalan raya di depan gerbang rumahnya. "Yakin? Coba lihat tuh."

Mau tidak mau, kepalaku menoleh mengik*ti arah tunjuknya.

Napasku terce kat. Di sana, tepat di depan pagar ru mah Tania yang bercat putih gading, Rafi sedang bersandar santai pada motor Ducati hitam kesayangannya. Dia terlihat kontras dengan latar jalanan komplek yang sepi. Seragam putih abu-abunya masih terlihat rapi meski seharian dipakai, lengannya terlipat di dda, dan tatapannya lurus menungguku.

Saat mata kami bertemu, dia menegakkan tu bu h.

Wajahku rasanya panas seketika. Pasti sudah merah padam seperti udang rebus yang terlalu lama di panci.

"Duh, manis banget sih kalian. Bikin diabetes," celetuk Tania di belakangku.

Aku buru-buru memalingkan wajah, kembali menatap Tania yang kini tertawa kecil. "Duluan, ya, Tan."

Tania melambaikan tangan dengan gaya berlebihan. "Hati-hati, Tuan Putri!"

Aku mempercepat langkah kaki keluar dari halaman ru mah Tania. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Bukan karena ta k*t, tapi karena tatapan Rafi yang tidak lepas mengik*tiku sampai aku berdiri tepat di hadapannya.

"Sudah dari tadi?" tanyaku pelan. Aku berusaha menata suara agar terdengar biasa saja, padahal lututku sedikit lemas melihat senyum tipisnya.

"Lumayan," jawabnya singkat. Tanpa banyak bicara, dia meraih helm hitam dari jok belakang. "Sini."

"Terima kasih," ucapku saat dia memasangkan helm itu di kepalaku.

Gerakannya pelan dan hati-hati, seolah kepalaku ini terbuat dari keramik mahal yang mudah pe cah. Jarak kami begitu dekat sampai aku bisa menci um aroma parfumnya yang maskulin bercampur sedikit bau matahari. Wangi yang anehnya selalu membuatku merasa aman.

Setelah bunyi klik terdengar, aku mend**gak menatapnya lewat kaca helm yang masih terbuka. "Kenapa enggak ngabarin dulu kalau mau jemput? Aku kan bisa nunggu di depan gang biar kamu enggak perlu masuk komplek."

"Aku bosan di ru mah sendirian. Jadi kepikiran buat nemuin kamu aja." Dia merapikan sedikit an ak rambutku yang keluar dari sela busa helm.

"Memangnya Paman sama Bibi ke mana?"

"Biasa. Dinas luar kota." Suaranya terdengar datar, seolah hal itu bukan masalah besar lagi baginya.

Rafi kemudian naik ke atas motor besarnya. Mesin menderu halus saat dia menyalakannya. Dia menoleh sedikit ke belakang. "Pegangan."

Satu kata itu cukup membuatku ragu sejenak. Tapi melihat dia menunggu, aku akhirnya naik ke jok belakang yang tinggi itu. Dengan canggung, tanganku meling kar di pinggangnya. Punggungnya terasa kokoh di balik seragam sekolah.

Ekor mataku sempat menang kap pergerakan di jendela rumah Tania. Gorden abu-abu itu bergo yang sedikit. Aku yakin Tania dan beberapa teman kelompok belajarku sedang mengintip sambil terkikik. Duh, besok pasti aku jadi bahan ledekan di kelas.

"Sudah siap?" tanya Rafi setengah berteriak.

"Sudah."

Motor pun melaju meninggalkan pekarangan ru mah Tania.

"Sudah makan belum, Sayang?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja di tengah deru angin. Tidak seperti di video-video viral di mana si perempuan harus berter iak "Hah? Apa?" berkali-kali, suara Rafi selalu terdengar jelas di telingaku. Mungkin karena dia tahu cara berbicara yang tepat, atau mungkin karena hatiku memang selalu pasang telinga untuknya.

Aku mendekatkan wajah ke punggungnya. "Belum."

Rafi mengangguk paham. Dia memacu motornya sedikit lebih kencang, membe lah jalanan kota yang mulai ramai oleh jam p**ang kantor.

Dua puluh menit kemudian, kami sampai di sebuah kafe bernuansa kayu yang hangat. Lampu-lampu kuning gan tung mulai dinyalakan meski matahari belum benar-benar tenggelam.

Begitu motor berhenti sempurna, aku bersiap melepas helm. Tapi tangan Rafi lebih cepat. Dia menahan tanganku, lalu jemarinya yang cekatan membuka pengait helmku.

"Terima kasih," gumamku sambil merapikan rambut yang pasti berantakan. "Tapi padahal aku bisa lepas sendiri, lho."

Rafi meletakkan helm itu di atas tangki motor, lalu menatapku lekat. "Bisa. Aku tahu kamu bisa. Cuma aku pengen aja meratukan kamu, sebelum ..."

Kalimatnya menggan tung.

Jantungku yang tadi berdebar karena senang, kini berdebar karena firasat bu ruk. Ada nada getir yang asing di suaranya.

"Sebelum apa?" tanyaku hati-hati.

Rafi menghela napas panjang. Dia tidak langsung menjawab, malah menatap aspal parkiran seolah mencari jawaban di sana. "Sebelum aku berangkat ke luar negeri."

Duniaku rasanya berhenti berputar sedetik.

Aku mene lan ludah yang tiba-tiba terasa pahit dan kasar di tenggorokan. Rafi buru-buru meraih tanganku, menggenggamnya erat seolah ta k*t aku akan lari.

"Mama sama Papa minta aku lanjutin sekolah di sana. Aku sudah diterima di Wharton. Kamu tahu kan, sekolah bisnis di Pennsylvania itu? Mereka maksa aku ambil kesempatan ini. Aku ... aku minta maaf, Sofi."

Matanya menatapku penuh rasa bersalah. Ada keta k*tan di sana. Keta k*tan kalau aku akan ma rah, atau menangis, atau memintanya membatalkan segalanya.

Aku berusaha sekuat tenaga menahan getar di bibi rku. Otakku bekerja keras menyusun kalimat yang terdengar dewasa, meski hatiku rasanya seperti dire mas tangan tak kasat mata.

Aku menarik kedua ujung bibi rku, memaksakan seulas senyum. "Ya bagus, d**g. Itu kan impian banyak orang. Sesuai sama passion kamu di bisnis, kan?"

Genggaman tangan Rafi mengerat. Dia pasti merasakan telapak tanganku yang mendadak dingin dan berkeringat.

"Tapi itu artinya kita harus LDR. Jarak jauh, Sof. Beda benua. Beda waktu."

Aku mengangguk cepat, berusaha meyakinkan diriku sendiri. "Enggak apa-apa. Aku percaya kok sama kamu. Toh, ini buat masa depan kamu juga. Buat ... kita, mungkin? Tinggal kamunya aja, percaya enggak sama aku?"

Aku sengaja meng go danya di akhir kalimat, berharap bisa mencairkan suasana yang mendadak beku ini. Aku tidak mau perpisahan sementara ini dimulai dengan air mata.

Rafi menatapku dalam-dalam, lalu mengangguk mantap. "Aku selalu percaya sama kamu. Cintaku sudah ha bis buat kamu, Sofia."

Tangannya terulur, menge lus pipiku perlahan. Sen tu hannya hangat, kontras dengan udara sore yang mulai dingin. Aku memejamkan mata sebentar, menik mati rasa sayang yang dia salurkan lewat ujung jarinya.

"Ayo makan. Aku lapar," ajakku kemudian, me me cah momen melankolis itu sebelum aku benar-benar menangis.

Langit sudah berubah jingga tua saat motor Rafi berbelok ke jalan ru mahku. Sejak tadi di jalan, aku sudah mewanti-wanti dia.

"Turunin aku di perempatan depan aja, Raf," bisikku setengah berteriak melawan angin.

Tapi Rafi malah memelankan motornya tepat di depan pagar ru mahku yang bercat hijau kusam.

Setelah turun, aku langsung memberinya tatapan protes sambil menyerahkan helm. "Tadi kan aku sudah bilang di perempatan aja."

"Kenapa sih?" tanyanya santai sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. Gaya yang selalu membuatku lupa cara bernapas, tapi kali ini cuma bikin kesal.

Aku memutar bola mata. "Kamu tahu kenapa."

Rafi tersenyum miring. "Tak*t ketahuan Ibu?"

Bahuku merosot lemas. Dia tidak mengerti. Ibuku bukan sekadar "ibu". Dia adalah Bu Ratna, guru Ekonomi paling ki ll er se-kecamatan yang memegang teguh prinsip bahwa pacaran adalah gerbang menuju kehan curan masa depan.

"Tenang aja, Sof. Biar aku yang ngomong sama Ibu. Aku ini mau serius sama an ak gadisnya, masa sembunyi-sembunyi kayak maling."

"Enteng banget kamu ngomong." Aku mendeng kus. "Ibu itu enggak kayak orang tua modern di film-film, Raf. Dia kolot. Ketinggalan zaman. Buat dia, laki-laki yang apel ke ru mah itu sama ba ha yanya kayak serangan fajar."

Belum sempat Rafi memba las, suara pintu depan yang dibuka paksa membuat kami berdua tersen tak.

KREK.

Aku mengangkat kepala perlahan. Di sana, di ambang pintu, Ibu berdiri tegak dengan daster batik cokelat dan kacamata berantai yang melo rot di hidung. Tatapannya datar, dingin, dan menu suk. Tangan kanannya memegang gagang sapu—bukan untuk menyapu, tapi sebagai tongkat komando.

Suasana mendadak hening. Jangkrik pun sepertinya ta k*t bersuara.

Rafi yang biasanya percaya diri, terlihat sedikit menegakkan punggungnya, mencoba bersikap sopan. "Selamat sore, Bu ..."

Hening. Tidak ada jawaban. Wajah Ibu tidak berubah sedikit pun. Masih sedingin kulkas dua pintu.

"Sofi, masuk!" Suara Ibu berat dan rendah. Jenis suara yang tidak menerima ban ta han.

Aku masih terpaku di tempat, kakiku rasanya dipa ku ke tanah.

Melihat aku diam saja, Rafi memberanikan diri maju selangkah. "Maaf, Bu. Tadi Sofi baru saja saya jemput dari ..."

"Saya tidak bicara sama kamu. Sofi, masuk sekarang!" po tong Ibu ta jam. Matanya bahkan tidak melirik Rafi sedikit pun, seolah Rafi hanyalah ornamen pagar yang tidak penting.

Aku menelan ludah, lalu menatap Rafi sekilas dengan pandangan maaf-kamu-p**ang-aja. Tanpa menunggu lagi, aku mengambil langkah seribu, setengah berlari melewati Ibu dan masuk ke dalam ru mah.

Rafi sepertinya hendak membuka mulut lagi, tapi Ibu langsung memutar tumit, masuk ke rumah, dan memban ting pintu tepat di depan wajah Rafi.

BRAK!

Bunyi pintu itu menggema di ruang tamu yang sempit.

Belum sempat aku mendengar suara motor Rafi menjauh, langkah kaki Ibu sudah membu ru di belakangku. Aku baru saja masuk ka mar dan hendak mele pas seragam ketika Ibu sudah berdiri di ambang pintu kam ar.

"Sudah Ibu bilang, ja ngan berpacaran, Sofi! Kamu ini bandel banget dibilangin!"

Gerakan tanganku yang sedang membuka kancing seragam terhenti. Aku menarik napas panjang, mencoba membela diri. "Kami pacaran sehat kok, Bu. Enggak ngapa-ngapain."

"Mana ada pacaran sehat? Itu cuma istilah an ak muda buat melegalkan dosa! Itu alibi setan!" Suara Ibu meninggi satu oktaf.

Aku berbalik cepat, menatap wajah Ibu yang mulai memerah. "Rafi beda, Bu. Dia enggak pernah macem-macem sama aku. Dia menghormati perempuan. Tadi juga dia jemput aku di ru mah Tania, kami belajar kelompok di sana. Dia sopan, Bu."

"Semua laki-laki itu sama saja! Kalau sudah berani pacaran, berarti pikirannya sudah tidak benar. Kamu itu tugasnya belajar, Sofi. Masih kelas sebelas. Jangan mentang-mentang sudah merasa gede, terus enak-enakan main cinta-cintaan. Buang waktu! Nanti kalau nilaimu turun, siapa yang rugi?"

Kata-kata Ibu yang beruntun seperti pelu ru membuat telingaku panas. Rasanya tidak adil. Aku selalu juara kelas, tidak pernah bolos, dan Rafi juga an ak pintar. Kenapa Ibu selalu berpikir yang terburuk?

"Ah, Ibu kayak enggak pernah muda aja!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku sebelum sempat kurem.

Hening sejenak. Mata Ibu membelalak lebar.

"SOFI!"

Teri akan Ibu menggelegar memenuhi kamar kecilku. Aku memejamkan mata, menyesali keberanian sesaatku barusan. Saat aku membuka mata, wajah Ibu sudah merah padam menahan ama rah yang meluap. Napasnya memburu.

Ibu melangkah maju, menunjuk tepat ke depan mukaku dengan jari telunjuk yang gemetar.

"Kalau sampai kamu hamil, aw as kamu!"
***

Semoga saja Sofi gak kebablasan 🫣

Lanjut, gak, nih? Selengkapnya baca di KBM app.
Judul: Janda Tanpa Menikah
Penulis: Sitta city



KBM App Cerita KBM

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Website

Address


Jakarta