Ida Raihan

Ida Raihan

Share

07/12/2025

Part 8
POV Vania

Ponselku nyaris terlepas dari genggaman saat aku membuka pesan dari Rina.

Sebuah foto.

Jantungku seperti diremas hingga berhenti berdetak. Di sana, di layar ponselku, terpampang wajah Kamal. Ia tersenyum, ah bukan, ia tertawa. Begitu lepas, begitu bebas. Di depannya seorang perempuan yang sangat kukenali.

“Janda itu!” dengusku kesal.

Mereka duduk di kursi dekat tembok yang ada simbol sebuah hotel besar. Dari nuansanya sepertinya mereka sedang berada di sebuah acara seminar bisnis, karena ada tanda pengenal menggantung di leher mereka.

“Alasan aja datang ke seminar, padahal niat ketemuan sama janda gatel itu!”

Ah…

Jadi, ini kesibukan dia? Melupakan anak kandungnya sendiri demi janda yang juga memiliki anak? Kloplah mereka, sama-sama pengkhianat!

“Pembohong!” teriakku.

Amarah yang panas langsung menjalari seluruh tubuhku. Aku memperbesar foto itu, menatap wajah Fero dengan jijik. Perempuan biasa saja. Tidak ada apa-apanya dibanding aku. Tapi kenapa Kamal bisa tertawa selega itu di depannya?

“Rin, ini kapan?” balasku cepat kepada Rina.

“Barusan, Van. Diposting sama teman bisnisku yang ikut seminar itu. Katanya mereka kelihatan akrab banget.”

Akrab. Kata itu terasa seperti bara api di telingaku.

“Tentu saja akrab, bisa jadi mereka sudah tidur bareng!” balasku dikuasai oleh murka yang memuncak.

“Siapa perempuan itu?”

“Si jalang Fero!”

Aku melempar ponselku ke sofa. Berjalan mondar-mandir di apartemen yang terasa semakin menyesakkan. Pikiranku berkecamuk.

Tiga bulan. Ya tiga bulan aku menunggu dalam ketidakpastian, berharap ia akan sadar dan kembali. Tapi ternyata, di luar sana, ia sedang membangun dunia barunya. Dunia tanpa aku.

“Anaknya sendiri dilupakan,” gumamku getir. “Sibuk pacaran sama janda gatal.”

Aku tidak akan diam saja. Jika dia bisa memamerkan kebahagiaannya, maka aku akan memamerkan penderitaanku. Biar semua orang tahu, siapa penjahat sebenarnya di sini.

Jariku bergerak cepat di atas keyboard. Aku membuka WhatsApp.

‘Katanya sibuk kerja untuk masa depan a nak. Ternyata sibuknya tebar pesona sama janda a nak satu. Miris.’

Status pertama. Aku sengaja membuatnya samar, tapi aku tahu semua teman kami akan mengerti siapa yang kumaksud.

Aku melihat daftar ‘dilihat oleh’. Nama Kamal tidak ada di sana. Tentu saja. Pengecut itu pasti tidak punya nyali. Tapi aku tahu ia punya cara lain untuk melihatnya. Nomor kantornya.

Nomor yang dulu sering kugunakan untuk menghubunginya jika nomor pribadinya tidak aktif. Admin yang memegangnya, tapi aku yakin setiap statusku akan dilaporkan padanya.

“Huh dasar sok jaim! Masih cinta saja sok bikin panas!”

Dan benar saja. Tak lama kemudian, ikon nomor kantor itu muncul di daftar ‘dilihat oleh’. Aku tersenyum puas. Pesanku tersampaikan.

Satu jam kemudian, aku membuat status baru. Kali ini, dengan foto Meira yang sedang tertidur pulas.

“Tidur yang nyenyak ya, Nak. Nggak usah tungguin Papa pulang. Mungkin Papa sudah lupa kalau punya bidadari kecil di sini.”

Aku sengaja memilih foto Meira yang paling menggemaskan. Biar semua orang iba. Biar Kamal terlihat seperti ayah paling brengsek di dunia.

Tidak lama kemudian, Rina meneleponku.

“Van, kamu nggak apa-apa Aku lihat statusmu.” Ia terdengar cemas. Baguslah. Aku senang kalau ada orang yang memperhatikanku, atau mencemaskanku

“Aku nggak apa-apa, Rin,” jawabku dengan suara yang kubuat serak, seolah habis menangis. “Aku cuma sedih saja. Kasihan Meira. Dia sering banget panggil-panggil nama papanya.”

“Ya ampun, tega banget sih Kamal,” sahut Rina, langsung termakan umpanku. “Terus perempuan itu gimana? Dia nggak tahu apa kalau Kamal sudah punya a nak?”

“Ya taulah, dia kan teman kerjaku dulunya. Kami akrab dulunya.” jawabku. “Mungkin dia sengaja pura-pura nggak tahu. Namanya juga pelakor, kan?”

Padahal aku tidak kenal dekat dengan Fero. Tetapi, sedikit berbohong demi kebaikanku gak papa kan?

“Ya ampun tega banget merusak rumah tangga teman akrabnya.” balas Rina. Aku tersenyum senang mendengar responnya.

Percakapan dengan Rina memberiku ide baru. Aku membuka Facebook. Di sana, jangkauanku lebih luas. Aku menulis sebuah postingan panjang.

“Untukmu, perempuan yang sedang berbahagia di atas penderitaan perempuan lain. Tidakkah hatimu terketuk melihat seorang anak kecil yang merindukan ayahnya? Tidakkah kau merasa bersalah telah merebut satu-satunya miliknya? Kebahagiaan yang kau bangun di atas air mata kami, tidak akan pernah bertahan lama. Ingat itu.”

Aku tidak menyebut nama. Tapi aku yakin, Fero akan merasa tertam par.

Hari-hari berikutnya menjadi medan perang digitalku. Nyaris setiap jam, aku membuat status baru. Sindiran halus, kutipan lagu sedih, foto-foto kenangan saat kami masih ‘bahagia’, semua kuunggah.

Aku ingin dunia tahu bahwa aku adalah korban. Vania yang malang, istri setia yang dikhianati oleh suami yang tak punya hati dan direbut oleh janda penggo da.

Dan sepertinya, strategiku berhasil. Kolom komentarku dibanjiri ucapan simpati. Pesan-pesan dukungan masuk silih berganti.

Lalu, Fero mulai membalas.

Suatu hari, aku membuat status: “Lebih baik miskin har ta daripada miskin harga diri.”

Tak lama kemudian, aku melihat Fero membuat postingan di Facebook-nya, yang di-screenshot dan dikirimkan oleh salah satu ‘mata-mataku’.

“Lebih baik sibuk membangun masa depan daripada sibuk membangun drama. Produktivitas vs Provokasi.”

Da rahku mendidih. Beraninya dia!

Aku langsung membalas. “Ada yang merasa tersindir, ya? Kalau nggak salah, kenapa harus marah?”

Perang tanding status itu berlangsung selama berminggu-minggu. Saling sindir, saling lempar kutipan. Aku menikmatinya. Ini memberiku tujuan. Ini membuatku merasa punya kendali.

Sementara itu, Kamal tetap diam. Ia tidak pernah membalas, tidak pernah berkomentar. Tapi aku tahu, dia melihat semuanya. Nomor kantor itu selalu setia muncul di daftar penonton story-ku. Setiap kali ikon itu muncul, aku merasa menang. Aku merasa berhasil mengganggunya, berhasil merusak ketenangannya.

Aku memang benar-benar cerdas. Pantas Kamal tergi la-gi la kepadaku. Kami hanya sedang tersesat sedikit saat ini, sehingga perpisahaan ini terjadi. Kamal pasti akan kembali kepadaku.

“Dia pasti stres berat, Rin,” kataku pada Rina suatu malam. “Dia pasti pusing menghadapi drama ini. Sebentar lagi juga dia pasti capek dan ngajak rujuk padaku.”

“Kamu yakin, Van?” tanya Rina ragu.

“Yakin seratus persen!” tegasku. “Laki-laki itu benci keributan. Apalagi Kamal. Dia paling nggak bisa lihat aku sedih. Dia cuma lagi gengsi saja sekarang.”

“Semoga saja,” gumam Rina.

Malam itu, setelah perang status yang cukup sengit, aku merasa sangat lelah, tetapi ada kepuasan tersendiri.

Aku baru saja akan memejamkan mata saat ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Rina.

Tumben sekali Rina mengirim pesan selarut ini.

Dengan sedikit rasa cemas, aku membuka pesan itu. Isinya bukan kata-kata, tetapi lagi-lagi sebuah foto.

Kali ini tangkapan layar dari postingan Fero.

“Jika ada wanita paling bahagia saat ini, itu adalah aku. Terima kasih, Sayang. Aku tahu kamu pasti memilihku.” Begitu bunyi caption yang Fero tulis.

Di bawah captionnya, sebuah foto sepasang cincin berlian yang sangat cantik. Mirip cincin yang pernah kubeli, tetapi ditolak oleh Mas Kamal dua tahun yang lalu.

“Malu, Yank, makenya. Ini gak umum di agama kita,” ucap Mas Kamal saat itu.

Tanpa aba-aba, aku langsung melempar sepasang cincin tersebut ke danau, lalu menangis sejadinya. Dadaku terasa sakit sekali saat itu. Jadi aku tidak peduli meskipun banyak orang memperhatikan dan berbisik-bisik. Kuabaikan juga Mas Kamal yang merayu agar aku diam.

Rasain, lebih malu mana, melihat istri gerung-gerung di depan umum, atau memakai cincin nikah?

Ah… Da daku kembali terasa sesak mengingati kejadian itu, sekaligus menatap gambar cincin yang diposting Fero.

“Apa maksud Fero? Apakah itu cincin dari Mas Kamal?”

Judul: TA LAK SATU, KITA MASIH BISA KEMBALI
Penulis: Ida Raihan
Pf: KBM A p p

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in East Jakarta?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address


East Jakarta