Sumber Sehat Alami
16/04/2020
Pada level energi, perasaan rendah memiliki frekuensi vibrasi dan kekuatan yang lebih rendah. Ketika kita berada dalam kondisi energi rendah seperti amarah, kebencian, kekerasan, rasa bersalah, kecemburuan, atau perasaan-perasaan negatif lainnya, kita secara fisik rapuh terhadap orang lain. Sebaliknya, pengampunan, rasa syukur, dan cinta kasih memiliki vibrasi energi dan kekuatan yang jauh lebih besar. Ketika kita beralih dari pola energi rendah ke energi yang lebih tinggi, kita menciptakan perisai yang melindungi kita pada level energi, dan kita tidak lagi rapuh secara fisik terhadap orang lain. Ketika marah, misalnya, energi kita rentan terkuras oleh amarah-balasan dari orang lain. Secara paradoksal, jika kita ingin mempengaruhi orang lain, kita harus mencintai mereka. Maka, amarah mereka pada kita akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri, tanpa menimbulkan efek apa pun pada kita! Simak sabda bijak Sang Buddha dalam Dhammapada, “Kebencian tidak takluk oleh kebencian. Kebencian takluk oleh cinta. Inilah hukum abadi.”
05/04/2020
BANGSA KITA PALING MAMPU BERSWADAYA PANGAN DIBANDING BANGSA LAINNYA.
(DAN MEMILIKI TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN YANG CANGGIH)
Beberapa hari yang lalu saya mampir ke rumah keluarga sahabat di Garut; lokasinya tak jauh dari kota, namun masih berada dalam area pesawahan/pertanian.
Kami disambut dengan keramahan dan kehangatan ala masyarakat lokal yang kini tak begitu banyak lagi dijumpai di kota, dan juga dijamu makan malam dengan seperangkat jamuan makan malam yang cukup lengkap, dari mulai nasi beras merah, tahu, sayur, lalap, pete, ayam, ikan, telur, sambal dll.
Yang membuat saya kagum luar biasa adalah bahwa seluruh bahan dasar makanan itu hasil 'halaman belakang' sendiri. Tahu mengolah sendiri, ayam memelihara sendiri, sayur, lalap dan bumbu menanam sendiri, telur dari ayam yang dipelihara sendiri, ikan dari kolam sendiri, bahkan beras dari padi sendiri (bersawah tak musti memiliki lahan yang sangat luas).
Tak berhenti hingga di sana kekaguman saya; ternyata pengolahannya pun menggunakan sistem tradisi leluhur kita. Sebagai contoh pengolahan sawah, beras dan nasi. Dengan cara ini, konon produksi beras menjadi jauh lebih banyak dan juga jauh lebih menyehatkan bagi tubuh**
Berlainan dengan mengolah nasi dengan cara umum saat ini, nasi kadang bisa menjadi penyebab diabetes dan ketidaknyamanan pencernaan lainnya.
Bayangkan, di kebanyakan negara lain, untuk bisa menghidangkan satu set makanan, anda harus melibatkan beberapa daerah, karena seringkali suatu wilayah hanya memproduksi bahan makanan yang spesifik, sehingga harus saling bertukar dengan wilayah lainnya. Berbeda dengan keadaan tanah dan iklim negara kita yang menumbuhkembangkan apa saja dan berlaku pada seluruh musim sepanjang tahun tanpa batas.
Jika di negara lain konsep swasembada pangan hanya mungkin dalam skup wilayah tertentu, misal swasembada tingkat propinsi, desa dll. maka di negara kita SETIAP RUMAH TANGGA-pun mampu berswaDAYA.
Memang yang lebih memungkinkan adalah di daerah pedesaan, karena ketersediaan lahan berbeda dengan di kota; namun pada skala tertentu setiap rumah tangga bisa melakukannya, paling tidak menanam bumbu sendiri. Jika ini dilakukan, mustahil harga cabe atau bawang bisa mencapai Rp. 100,000 per kg.
Negara kita memiliki kuantitas, kualitas dan kisaran sumber daya yang paling tinggi di dunia. Andai setiap negara di dunia saling menutup diri tak boleh melakukan ekspor dan impor, maka Indonesia akan jadi negara yang jauh paling makmur di dunia; tak akan ada yang kelaparan; yang mana hal ini sepertinya akan banyak terjadi di negara lainnya, yang selain sumber daya alamnya tak sebanyak di kita, juga memiliki hambatan perbedaan musim.
***
___________________________________________________
*Bagi masyarakat lokal yang menjaga tradisi, menjamu makan merupakan suatu tradisi yang dijaga kelestariannya; karena mencerminkan nilai tertentu, yang bersandar pada prinsip 'saling berbagi' sekaligus merefleksikan kondisi bahwa, orisinilnya, kita adalah bangsa yang cukup kaya untuk saling berbagi.
Pada masyarakat yang tinggal di pedesaan, khususnya di Jawa Barat (saya tidak begitu tahu di daerah lain) menawari singgah dan makan kepada mereka yang lewat di depan rumah sudah menjadi semacam 'idiom'; "Mangga atuh sindang heula, urang tuang, geura, yu..." (Mari singgah dulu, mari kita makan di rumah).
Idiomatika ini masih ada hingga sekarang; meski pada beberapa kasus mulai lebih kepada 'basa-basi', karena nilai-nilai ini terus bergeser. Misal, perubahan sumber daya ekonomi masyarakat yang semakin terbatas; yang mana menjamu makan tidak lagi terasa murah seperti dulu.
Sering kita jumpai pada masyarakat kalangan tertentu, memenuhi kebutuhan makan sehari-hari keluarganya sendiri saja sudah terasa tak mudah; berbeda dengan dahulu, masyarakat desa memiliki akses yang mudah terhadap beras dan hasil pertanian/perkebunan lainnya.
-
**Dari mulai proses awal, kerbau digunakan daripada traktor, memotong menggunakan sabit tradisional, padi "dinyanyikan" dengan suling dan atau lagu lokal lainnya yang dipercaya dapat membuat padi "senang hati" sehingga, konon, produksinya jauh lebih besar daripada padi yang diproduksi dengan cara umum.
Beras juga disimpan di Gentong daripada di 'rice dispenser', penyimpanan beras pada gentong -yang dibuat dari tanah liat, menimbulkan suatu proses kimia tertentu yang membuat bahan-bahan yang tak baik bagi pencernaan terserap oleh tanah liat. Sebagian proses tertentu mungkin semacam detoks.
Beras juga imasak menggunakan se'eng, aseupan dll. (semacam dandang tradisional), dengan 'digigihan' terlebih dahulu (direbus pada tempat yang berbeda sebelum dikukus, jadi ada dua kali proses dibanding dengan proses 'rice cooker' yang semua proses disekaliguskan. Proses ini juga, konon menurut penelitian' membuat kadar gula yang berlebih yang seringkali menyebabkan diabetes, akan tereduksi pada kadar aman.
Setelah itu nasi diletakan pada boboko, media penyimpan nasi yang terbuat dari anyaman bambu yang konon akan membuat rasa nasi lebih enak, dan terhindar dari ekses toksik yang disebabkan oleh alat semacam logam atau plastik.
Minumnya pun disimpan pada Kendi, yang juga memiliki efek 'cooling' yang alami, serta detoksifikasi air.
Leluhur kita memang jenius.
___
Dari wall Akang Hendra
27/03/2020
PERKATAAN YANG POSITIF DAPAT MENYEMBUHKAN.
Suatu penelitian melaporkan bahwa kata-kata dapat merubah air.
Kata-kata memiliki vibrasi (enerji) dan enerji memiliki pengaruh pada setiap hal, dalam hal ini adalah terhadap air.
Air merupakan media pelarut yang sangat efektif. Ia juga memiliki semacam "memori" yang kuat, atau dapat menyimpan enerji dengan relatif tahan lama.
Orang tua zaman dahulu seringkali "menitipkan" doa, atau afirmasi, pada segelas air, lalu meminumkannya pada yang sakit. Beberapa keyakinan tertentu mencipratkan air "suci" untuk mengobati seseorang, dll.
Ketika kita menyampaikan kata kata dengan vibrasi positif, maka struktur partikel air akan berubah menjadi cantik, membentuk pola tertentu seperti bunga; misal ketika diucapkan kata-kata: terimakasih, aku mencintaimu, atau lagu klasik tertentu.
Sebaliknya, ketika kita menyampaikan kata-kata, atau vibrasi yang negatif, maka struktur air akan berubah tak beraturan, tak berpola; misal kata-kata umpatan, atau lagu heavy metal tertentu.
Air adalah unsur yang paling banyak terdapat pada manusia, sekitar 70% tubuh manusia terdiri dari air. Artinya: kata-kata dan vibrasi yang baik dapat merubah manusia menjadi lebih sehat; karena struktur molekul air yang baik menyehatkan tubuh.
Bunyi manusia yang positif dapat menyembuhkan. Bunyi ini bisa terdapat dalam berbagai bentuk, misal, kata-kata penghiburan, doa, ucapan empati, ucapan terimakasih, dorongan, dukungan, pujian, dll.
Sebaliknya, bunyi juga dapat membuat menjadi sakit; misal kata-kata yang selalu diucapkan dengan berteriak, mengumpat, menghina, iri dengki, tuduhan, prasangka, dll.
Mari kita perbaiki dunia ini dengan berkata hal-hal yang baik dan konstruktif; manusia yang sehat membentuk dunia yang sehat.
Kang Hendra
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Jln. Swadaya No 8 RT 02 RW 09 Pondok Petir Bojongsari Depok
Depok
16434
Opening Hours
| 09:00 - 22:00 |