AceNime
23/04/2026
Awalnya aku lihat orang bilang "Anime jaman sekarang kok gini amat ya?". Tapi buatku dan teman yang aku kenal sudah nonton banyak anime jadul, tentu bilang, "Bukannya dulu lebih parah?".
Contoh paling parah anime pasca covid itu Kaifuku Jutsushi dan Mahoako. Anime yang dilabeli sebagai hard e***i jaman dulu seperti Aki-Sora setara sama kedua anime ini, yaitu ada "adegannya", cuman gak eksplisit sampai keliatan "barangnya".
Kalau menurutku, bedanya sekarang ceritanya lebih ditekankan, jadi nilai jualnya bukan fanservice sensual doang. Anime yang dilabeli sebagai hard e***i sekarang, justru lebih banyak yang mirip kayak Megami no Ryoubo-kun atau Haite Kudasai Takamine-san. Yang lebih banyak kulit yang terlihat tanpa adegan "itu" gitulah. Hanya tingkatan yang lebih terbuka dari e***i biasa.
Aku iseng cek di Myanimelist, ternyata jaman dulu dan sekarang beda format.
Sekarang mungkin keliatan main aman karena animenya dibuat untuk tayang di TV (terutama siaran tengah malam) regulasinya tentu lebih ketat dari format yang digunakan anime hard e***i lawas.
Dan formatnya adalah OVA.
Buat yang belum tau, kata google OVA itu diproduksi dan langsung dirilis daman bentuk DVD/Blu-ray tanpa dirilis ke TV ataupun bioskop terlebih dahulu.
Jadi, anime hard e***i jaman dulu gak dibebani kewajiban sensor, makanya bisa lebih parah.
Cuman setelah aku cek lebih jauh lagi dari keterangan semua anime semacam ini yang pernah ku tonton, plot twits-nya adalah... anime jadul dan sekarang sama aja😂
Yang membedakan tetap format TV dan OVA. Dan jaman juga gak seberpengaruh itu dalam konteks ini.
Mungkin, aku dan temanku bilang kalau jaman dulu lebih parah karena dulu nonton bajakan di masa sebelum paham soal format penayangan anime. Itulah yang mengaburkan pengetahuan soal ini.
Tapi setelah nonton Ishuzoku Reviewers di Bastation sebagai contoh anime hard e***i jaman sekarang yang tayang dalam format TV series, aku menyimpulkan:
GAK ADA BEDANYA ðŸ˜
Bedanya memang dari awal ada hard e***i yang sampai ada adegan itu tapi gak eksplisit dan ada yang cuma versi lebih terbuka dari e***i biasa.
12/04/2026
Ada yang belum sempet ku bahas tapi bersinggungan dengan topik "antara fiksi dan kenyataan di anime", yaitu... Cosplayer. Ini juga kritik untuk orang yang sepaham denganku soal memisahkan fiksi dan kenyataan tapi yang keblabasan.
Kita tahu, cosplayer itu bermain di garis antara fiksi dan kenyataan.
Mereka bawa karakter fiksi ke dunia nyata, tapi tetap manusia nyata yang punya batas. Bukan objek bebas buat dikomentari seenaknya, apalagi yang aneh-aneh.
Masalahnya, masih banyak yang nganggep sosial media itu ruang tanpa konsekuensi. Padahal yang dihadapin tetap orang nyata.
Kalau kamu paham batas antara fiksi dan kenyataan, harusnya kamu juga paham kapan itu berhenti jadi "fiksi" dan mulai butuh tanggung jawab sebagai manusia.
— Ace Aizawa
09/04/2026
Ah, jadi inget aku diblokir sampai sekarang oleh seorang sepuh perkara beda pendapat waktu bahas chapter ini 😔
Lagian kenapa ya, orang-orang yang mampir di akun ini, bukan followerku, tapi pakai postinganku buat membantah postingan beliau. Mana aku di-tag p**a.
Aku kan cuma menyampaikan interpretasi ku sendiri atas Kanokari Chapter 215 di akunku sendiri, bukan berniat membantah postingan beliau.
Tega kalian, tega~ ðŸ˜
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the business
Telephone
Website
Address
Depok