Nova Rara
17/01/2025
BANGKIT SETELAH DIGIL1R 4 PRIA (4)
Penulis : Rafasya
“Seruni!”
Mata Nilam membulat sempurna, dia terkejut melihat kobaran api di depannya.
“Seruni awas, Nak!”
Seruni menoleh, kemudian mengelap sudut bibirnya yang meninggalkan n0da mer4h.
Nilam sibuk memadamkan api sehingga tidak melihat apa yang di lakukan Seruni.
Api pun padam, Nilam menghembuskan napas k4sar.
Dia bergegas menghampiri Seruni, “Kau tidak apa-apa, Runi?”
Mata t4jam Runi mengerjap, kemudian menggeleng.
“Syukurlah, api itu sudah ibu padamkan. Kau sedang apa, jika tidak bisa memasaknya minta tolong pada Ibu?!”
Seruni bergeming.
“Sudahlah, yang penting kamu baik-baik saja, biar ibu masakan lagi untukmu.”
Nilam membuka lemari pendingin, dia mengernyitkan kening melihat stok ayam yang dia simpan hanya menyisakan tulang. Pandangannya beralih pada Seruni yang sedang menjilati ujung jarinya.
Seruni terdiam, mendapatkan tatapan aneh dari Nilam.
“Runi, kau apakan ayamnya? Apa kau makan semua?”
Seruni mengangguk, “Rasanya sangat lezat, jadi aku makan semuanya, apa ibu keberatan?”
Nilam menggeleng, “Tidak, sayang. Justru ibu merasa senang, kau makan dengan banyak.”
Seruni tersenyum, matanya berkilat. Nilam bergeming menatap Seruni, dia merasa sedikit aneh.
***
“Seruni, Ibu telah menyiapkan makan siang untuk ayahmu. Kamu sudah bisa mengantarkannya, tapi langsung p**ang, ya, setelah mengantarkannya. Jangan seperti kemarin, Ibu sangat khawatir.” ujar Nilam menyerahkan rantang berisi makanan kepada Seruni.
“Kemana?” Seruni melirik tajam.
“Perkebunan sawit, milik juragan Karta, kemana lagi, aneh kamu.”
Mendengar yang di ucapkan Ibunya, Seruni langsung menyering4i.
Seruni mengambil rantang yang telah di siapkan Nilam, dia pergi tanpa pamit, membuat Nilam sedikit merasa heran.
“Mungkin saja, Seruni lupa. Aku tidak boleh berpikir yang macam-macam.” gumamnya.
Seruni menikmati suasana desa, sejuk dan menyegarkan, rambutnya yang tergerai, semakin menambah kecantikannya. Semua pasang mata sepanjang jalan tak luput memandangnya.
“Runi, mau kemana?” sapa seorang wanita yang seumuran dengan Nilam.
“Mengantar makan siang untuk Bapak, Bu.” sahut Seruni tersenyum, seperti tak pernah terjadi apapun dalam hidupnya.
“Yasudah hati-hati, ya.” balas orang tersebut tak kalah ramah dari Seruni.
Seruni melanjutkan perjalanannya menuju ke perkebunan sawit, dari kejauhan sudah terlihat perkebunan sawit milik juragan Karta, di mana Ayah angkatnya bekerja.
Seruni melewati hutan yang telah menjadi saksi bisu di mana mahkota yang selama ini dia jaga di r3nggut paksa secara bergilir, Miris.
Mata Seruni berkilat penuh dendam, wajahnya memerah, amarahnya telah memunc4k.
“Aku akan membalas kalian semua!” suara Seruni terdengar ramai, dengan gerakan leher patah-patah. Giginya bergemelatuk.
Semua mata para pekerja di perkebunan sawit, menoleh ke arah Seruni, yang sedang mencari keberadaan Ayah angkatnya.
“Permisi, apa bapak tau di mana Bapak saya, namanya Wahyudi. Saya kemari hendak mengantar makan siangnya."
Salah satu pekerja itu menelisik Seruni dari atas hingga bawah.
“Oh si Wahyudi, itu dia di dekat gubuk, kau kesana saja lah. Jika tidak ada, kau bisa tanya pada Den Bara."
"Baiklah, terimakasih." Seruni menunduk tanda terima kasih. Kemudian segera berjalan menuju gubuk yang di bicarakan orang tadi.
Benar, di sana ada Wahyudi, Wahyudi sedikit terkejut melihat kedatangan Seruni. Padahal dirinya sedang bermasalah. Dan tengah di marahi oleh putra dari Juragan Karta.
“Runi, kamu kemari?"
"Iya, Pak. Runi bawa makan siang buat bapak, ibu yang menyuruh Runi.”
Wahyudi menerima rantang yang di bawa oleh Seruni, matanya memindai sekitar, takut jika Den Bara melihat Seruni.
“Ada apa, Pak?” tanya Seruni mengikuti arah pandang Wahyudi.
“Tidak ada, setelah ini kau langsung p**ang ya, jangan kemana-mana."
“Iya, tapi kenapa?” Seruni penasaran.
“Bapak hanya takut terjadi sesuatu padamu.”
“Cepatlah p**ang, sebelum Den Bara melihatmu, nanti Bapak bisa kena marah.” titah Wahyudi, mendorong pelan Seruni agar cepat p**ang.
“Baiklah,” Seruni mengangguk.
“Hei, siapa gadis itu?" seseorang baru saja datang, dia adalah Juragan Karta.
“Dia ... dia putriku Juragan.”
Juragan Karta tersenyum, “Aku baru melihatnya, putrimu sangat cantik.”
Wahyudi hanya tersenyum menanggapinya.
“Suruh dia duduk dulu, dia pasti lelah,” sambung Juragan Karta, dia terus tersenyum hangat.
“Teriamkasih juragan, tapi aku harus segera pergi, Ibu pasti menungguku.“
“Anak yang baik, semoga jodohmu pria baik-baik,“ sahut juragan Karta.
Seruni menunduk memberi hormat, juragan Karta tersenyum. Dia selalu bersikap ramah dan hangat kepada seluruh bawahannya.
Tanpa di sadari, anak buah Bara, melihat kedatangan Seruni. Mereka berniat menghampiri bosnya, untuk memberitahukan hal itu.
“Kita harus memberitahu Bos tentang hal ini, ternyata gadis itu masih hidup," ujar pria bernama Sam kepada kawannya Amar. Mereka telah bekerja lama pada keluarga Juragan Karta.
“Iya, kau benar. Aku juga pikir dia sudah mat1, dan menjadi hantu, ha ha ha.”
Mereka tergelak bersama. Entah dari mana, tiba-tiba saja Seruni melintas melewati mereka, tatapannya tajam menghunus, mengisyaratkan kemarahan.
Gerakan mulut Seruni saat berbicara pelan, membuat bulu kuduk mereka meremang. “Ka—lian ha—rus ma—t1!” kata terakhir yang seruni ucapkan mampu membuat mereka bergetar.
***
Tengah malam...
Rustam terbangun, napasnya tersengal-sengal setelah mimpi buruk. Dia segera duduk, lalu mengatur napas.
Rustam turun dari r4njang, berjalan menuju dapur, dia berniat untuk mengisi kerongkongannya yang terasa havs.
Sesampai di dapur, Rustam segera menuang air ke dalam gelas, kemudian meminumnya sampai tandas.
KRIEK!
Pintu kamar mandi terbuka, menampakan Seruni yang keluar hanya berbalut handuk. Rambutnya tergerai basah, sepertinya gadis itu habis mandi, tapi ... kenapa harus tengah malam? Apa tidak merasa dingin? Segala macam pertanyaan berkecamuk di benak Rustam.
Seruni berjalan melewati Rustam, “Hei, kau mandi malam-malam begini?”
“Memangnya kenapa? Aku merasa gerah dan ingin mandi, apa tidak boleh?”
Rustam mengalihkan pandangan ke arah lain, jujur saja melihat Seruni dalam keadaan seperti itu mengusik jiwa kelelakiannya. Jika saja bukan di rumah, sudah di terkam dia oleh Rustam.
Seruni segera pergi dari sana melewati keberadaan Rustam.
Rustam menautkan alis saat mencium aroma bvsuk. Lagi-lagi aroma tak sedap itu datang setelah Seruni melewatinya.
Rustam menatap punggung polos Seruni dari belakang, kemudian pandangannya tak sengaja melihat ke bawah. Rustam membekap mulut saat melihat jejak darah bekas kaki Seruni.
“D4rah?” gumamnya.
“Runi, tunggu.” Panggilnya kemudian.
Langkah kaki Seruni terhenti, namun dia tidak menoleh, Rustam segera menghampirinya.
“Kenapa banyak darah di kakimu, d4rah apa?”
“D4rah? D4rah apa yang kau maksud?”
“Kenapa kau malah balik bertanya, lihatlah ke bawah.” Rustam terlihat kesal. Bukannya melihat ke bawah, Seruni malah menoleh. Gerakan lehernya patah-patah, wajahnya berubah, gigi nya mengeluarkan t4ring, bola matanya berubah menjadi merah, menatap t4jam ke arah Rustam. Air liur kehitaman keluar saat dia menyeringai.
Seketika wajah Rustam menjadi pucat, “Si—siapa kau?” ucapnya tergagap, dia berjalan mundur.
“Kemari, kau! Arggh,” Seruni menggeram.
Rustam yang ketakutan segera berlari dari sana menuju ke arah ruang tamu, napasnya memburu, merasa takut. Wajah Seruni berubah menyeramkan. Semoga saja dia saat ini sedang bermimpi.
“Rustam, kau kenapa? Kau seperti orang ketakutan?” ujar Wahyudi yang tengah membaca majalah. Wajahnya tak terlihat sebab terhalang oleh majalah itu.
Huh! “Syukurlah ada bapak di sini.” ucap Rustam dalam hati. Dia bernapas lega.
“Ada apa, Rustam. Kenapa kau ketakutan?”
Dengan napas yang masih tersengal-sengal, Rustam mendekat, kemudian duduk di sebelah Wahyudi.
“Seruni, Pak. Wajahnya sangat menyeramkan.” sahut Rustam, sesekali dia menoleh ke belakang.
“Mungkin kau salah liat.”
“Tidak, aku tidak salah liat, wajah Seruni sangat menakutkan, Pak.”
“Seperti apa?”
“Seperti ... em, seperti....” Rustam kesulitan untuk menjabarkannya.
“Seperti....”
“Apa seperti ini?” tukas Wahyudi, kemudian membuka majalahnya.
Seketika Rustam terbelalak. Wajah Wahyudi tak kalah menyeramkan dari Seruni, dengan bola mata memutih, gigi bertaring, dan luka borok di sekitar wajah. Wahyudi menyering4i, lagi-lagi air liur hitam menetes membasahi bajunya.
________________
Penulis : Rafasya
Akun KBM : Rafasya
Judul : Bangkit dari kematian
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
14/01/2025
BANGKIT SETELAH DIGIL1R 4 PRIA (3)
Penulis : Rafasya
Mata Marsih membola, dia menggeleng kuat. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi lagi!"
Seruni yang di rasuki oleh jelmaan iblis itu melompat dari air terjun dengan tinggi 7 meter.
"Aaaaaaaaaaaaa!"
Mata Marsih dan Bromo terbelalak. "Bromo, cepat selamatkan gadis itu. Ini tidak boleh terjadi lagi."
"Aku tidak bisa, dia sudah melompat. Lihatlah!"
Marsih terlihat k4cau. Jika gadis itu mati, maka dirinya lah yang harus di korbankan. Mendadak dia menyesal telah mengikuti saran Bromo untuk membantu gadis itu. Padahal si pemilik raga, lebih memilih mati.
BYUR!
Suara tubuh Seruni yang jatuh di air membuat Marsih menoleh. "Bromo! Cepat!"
Mengerti apa yang di maksud oleh Marsih, Bromo segera menyebutkan diri dalam aliran sungai mencari tubuh Seruni.
Tak berselang lama Bromo muncul di permukaan, dia menggelengkan kepala ke arah Marsih.
"Arrggh, dimana gadis itu!" Marsih terlihat kesal.
"Tenangkan dirimu dulu, Marsih!" ujar Bromo.
"Ini semua salahmu! Aku sudah bilang. Gadis itu lebih baik mati."
Dan tak lama kemudian seseorang muncul, dan berjalan ke permukaan, seorang—gadis.
Marsih yang sedikit terlibat adu mulut menoleh, kemudian mengangkat sudut bibir.
Marsih melihat ke arah Seruni, gadis itu terlihat lebih segar dari sebelumnya. Darah dan luka di tubuh Seruni menghilang. Iblis itu benar-benar sudah merasuki tubuh Seruni sepenuhnya.
"Kau sudah siap?" tanya Marsih pada Seruni.
Gadis itu mengangkat sudut bibirnya, membentuk sebuah seringaian.
"Aku siap untuk membalas dendam!" suara gadis itu terdengar ramai. Kepalanya berlenggak-lenggok dengan kuku yang masih t4jam.
Marsih dan Bromo saling berpandangan.
***
Pagi hari.
Nilam segera turun dari ranjang, lingkaran mata tercetak jelas di wajahnya. Dia tidak bisa tidur semalaman sebab selalu memikirkan Seruni yang tak kunjung p**ang.
Nilam berniat untuk menemui kepala desa, agar meminta bantuan pada warga untuk mencari Seruni. Nilam membasuh wajahnya agar tampak sedikit segar. Sejak pagi suaminya—Wahyudi sudah berangkat ke perkebuna sawit tempatnya bekerja. Jadi Nilam akan kesana sendiri.
KREK!
Pintu terbuka, Nilam yang berdiri di ambang pintu terkejut saat melihat putranya—Rustam telah kembali.
"Dari mana saja kamu?" tanya Nilam.
Rustam yang p**ang dengan wajah kusut, hanya menjawab dengan asal. "Mencari Seruni."
"Bohong!"
"Benar, Bu. Rustam memang mencari Seruni."
"Mana ada mencari seseorang sampai semalaman tidak p**ang, memangnya kau tersesat di hutan?! Apalagi semalam hujan deras, Ibu yakin kau tidak mencari Seruni," ujar Nilam dadanya naik turun menahan emosi. Dalam situasi seperti ini Rustam tidak bisa di andalkan.
"Yasudah jika ibu tidak percaya, Hoamm!" Rustam menguap. "Aku mengantuk, Bu. Ingin tidur. Jangan ganggu aku."
"Jika memang kau mencari Seruni, mana dia? Kenapa tidak p**ang?"
"Aku tidak tau dimana gadis itu, aku sudah mencarinya. Mungkin saja dia sudah m4ti di makan binatang bu4s!"
"Rustam! Tutup mulutmu!" hardik Nilam, dia merasa murka mendengar ucapan putranya.
"Jangan bicara sembarangan! Seruni masih hidup, dia adikmu!"
"Ah ... berapa kali aku harus mengingatkan ibu, Seruni itu hanya anak pungut, tapi ibu selalu saja berlebihan jika menyangkut gadis itu. Ingat Bu, aku ini putra kandung ibu, sedangkan Seruni bukan!"
"Tapi masalahnya bukan itu, Rustam! Seruni sejak kemarin belum kembali, dia seorang gadis. Ibu takut terjadi sesuatu padanya."
Rustam membuang pandangan ke arah lain. Merasa muak dengan ucapan Nilam. Rustam sama sekali tidak perduli bagaimana pun keadaan Seruni.
Saat perdebatan antara Ibu dan Anak, deru langkah kaki mendekat.
"Ibu ...!"
Nilam dan Rustam menoleh, Nilam terkejut melihat sosok yang ada di hadapannya. Begitu dengan Rustam, dia lebih terkejut lagi.
"Seruni!" pekik Nilam, dia segera berlari menuju ke arah Seruni.
Nilam memeluk Seruni dengan posesif, dia sangat takut akan kehilangan gadis itu.
"Kau dari mana saja, Runi? Ibu mengkhawatirkan mu," ujar Nilam menatap nanar sosok yang ada di hadapannya.
"Runi, Baik-baik saja, Bu."
"Benar kamu baik-baik saja, tidak ada yang luka?" Nilam menelisik Seruni dari atas hingga bawah. Benar, tidak ada luka sedikitpun di tu buh Seruni.
Nilam menghembuskan napas perlahan, dia merasa lega. Putri angkatnya telah kembali tanpa kekurangan satu pun.
Rustam menatap aneh pada Seruni.
"Ini tidak mungkin, dia telah menghilang seharian, dan p**ang dalam keadaan baik-baik saja, sungguh aneh." Rustam menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kamu dari mana saja Runi, kami semua telah mencarimu kemana-mana, Tapi tidak menemukanmu, bahkan Ibu sudah menyuruh Rustam untuk mencarimu, dia juga tidak menemukanmu,"
"Kang Rustam mencari Runi?"
"Iya, iya kan Rustam? Kamu telah mencari Runi ke hutan semalaman, dan tidak menemukannya?" pandangan Nilam beralih ke arah Rustam.
Rustam terlihat gugup, "I—iya, Bu." jawabnya sedikit tertekan.
Seruni tersenyum sinis, seperti tahu bahwa Rustam berbohong.
"Maaf telah merepotkan kalian, Ibu tahu kemarin hujan deras, Runi berteduh di dalam hutan dan malah ketiduran sampai pagi."
"Benar begitu?"
"Iya."
"Tapi—" tiba-tiba saja Nilam teringat akan Wahyudi yang mengatakan bahwa Seruni tidak mengantarkan makan siangnya. Nilam hendak bertanya namun niatnya menjadi urung saat melihat wajah lelah Seruni.
"Sebaiknya kau istirahat, kamu kelihatannya sangat lelah, Nak."
Seruni tersenyum, kemudian masuk ke dalam melewati Rustam yang masih berdiri di pintu.
Rustam menutup hidung saat mencium aroma tak sedap setelah Seruni lewat.
"Hoek, baumu bvsuk sekali Seruni!" pekik Rustam.
Langkah Seruni terhenti, kemudian menoleh.
"Bau? Benarkah Seruni bau, Bu?" tanya Seruni pada Nilam. Nilam mendekat, kemudian membaui tu buh Seruni.
"Tidak, Rustam. Tu buh Seruni wangi. Wangi bunga." Nilam menatap aneh ke arah Rustam.
"Benar, Bu. Tu buh Seruni bau bvsuk. Macam b4ngkai saja baunya, Hoek! Aku saja hampir munt4h."
Nilam menautkan alis, melihat dari ekspresi Rustam sepertinya dia juga jujur. Namun dia tak mencium bau busuk yang Rustam katakan pada tu buh Seruni.
"Ah, sudahlah, sebaiknya kalian istirahat." ujar Nilam kemudian, dia sedikit bingung.
Seruni masuk ke dalam kamarnya, begitu juga Rustam dia masuk ke dalam kamarnya, hari ini sungguh melelahkan untuknya, dia juga tak habis pikir kenapa Seruni bisa p**ang.
***
Sore hari Rustam keluar dari kamarnya, tidur seharian membuat perutnya sedikit keroncongan.
Rustam berjalan melewati kamar Seruni yang sedikit terbuka. Di rumah tidak ada siapapun, Nilam sedang pergi entah kemana, dan Wahyudi tentu saja masih bekerja di kebun sawit milik juragan Karta.
Sebenarnya, Rustam tak ingin mengintip, namun melihat celah pintu terbuka dan suara bisik-bisik membuatnya penasaran, dan ingin meng1ntip, apa yang sedang di lakukan gadis itu.
Rustam mulai berjalan mendekat ke arah pintu kamar Seruni. Dia menyipitkan matanya. Alangkah terkejutnya Rustam melihat pantulan Seruni di cermin.
Wajah Seruni sangat mengerikan dengan tanduk dan taring di giginya. Sedang duduk di ranjang, menyeringai ke arahnya.
Rustam langsung mundur kebelakang, jantungnya berdegup kencang.
"Ini tidak mungkin, apa aku salah liat?" ujarnya dengan napas tersengal-sengal.
Rustam mendekat kembali, mengintip di celah pintu. Semuanya normal tidak ada yang aneh, bahkan Seruni sedang tertidur.
Puk!
Seseorang menepuk pundak Rustam, sontak membuatnya langsung terkesiap.
"Aaaaaa!" Rustam berbalik, melihat siapa di belakangnya.
"Ibu! Mengagetkan saja!" ketus Rustam.
"Kau sedang apa? Mengintip Seruni yang sedang tidur?"
"Ingat Rustam, Seruni itu adikmu, meskipun dia bukan adik kandungmu, tapi aku yang membesarkannya."
"Em, aku, aku hanya ...."
"Jika sampai kau macam-macam dengannya, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Ancam Nilam.
Merasa terpojok, Rustam langsung pergi dari sana tanpa sepatah kata pun. Nilam menutup Kembali pintu kamar Seruni.
Awas saja, jika sampai putranya itu macam-macam pada Seruni, dia tidak akan memaafkannya.
***
Malam hari semuanya berkumpul di meja makan, ada Nilam, Wahyudi, Rustam dan juga Seruni. Semua hidangan telah tersaji di meja makan.
Wahyudi dan Rustam makan dengan lahap. Kep**angan Seruni dengan selamat membuat Nilam bersemangat untuk memasak, ada rendang, dan juga ayam goreng di atas meja.
Seruni belum mengambil satu pun lauk di piringnya, dia hanya menatap satu persatu mereka yang sedang makan.
"Seruni, kenapa kau diam saja, Nak? Ayo makan," ujar Nilam.
"Apa tidak ada ayam yang setengah matang?"
Semua mata tertuju pada Seruni, baru kali ini Seruni meminta ayam setengah matang, padahal biasanya dia tak s**a jika tidak di goreng kering.
"Tumben,"
"Runi, sedang ingin makan yang setengah matanga saja."
"Em, sepertinya ibu menyimpan yang belum di masak. Ambil saja di lemari pendingin, kamu bisa goreng sesuai keinginanmu,"
Seruni mengangguk, matanya mengkilat. Dia bangun dari kursi menuju dapur berada.
Mata Seruni berkilat, melihat seonggok daging ayam mentah, masih berlumur darah di depannya. Hampir saja air liurnya menetes.
"Ini pasti lezat." Seruni mulai menyantap daging ayam mentah itu dengan lahap. Giginya keluar t4ring yang panjang, lensa matanya berubah menjadi merah. Sering4ian keluar dari bibirnya.
"Arrggh, lezat." gumamnya.
"Kenapa Seruni menjadi aneh ya, Lam?" tanya Wahyudi.
"Aneh bagaimana sih, Mas? Runi mungkin bosan makan ayam goreng terus, mungkin saja sekarang ayamnya sedang di masak menu lain," Sahut Nilam tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Hmm, ya. Mungkin saja." lirih Wahyudi.
Rustam yang ikut merasa aneh dengan sikap Seruni mulai gelisah. Duduknya tak tenang.
"Bagaimana kerjaan kamu, Mas? Apa Den Bara masih k4sar?"
Hufft! Wahyudi menghembuskan napas kasar.
"Den Bara itu masih s**a seenaknya. Mentang-mentang dia anak juragan Karta dia sering membentak dan memarahiku, padahal aku hanya minta waktu istirahat 5 menit," terang Wahyudi.
"Untuk saat ini sabar saja dulu, Mas. Setelah ada pekerjaan yang lebih, baik baru kau pindah."
"Iya, aku juga sudah tidak betah kerja padanya."
Rustam berdiri dari tempat duduknya, mendadak rasa laparnya menguar begitu saja.
"Lho, kenapa tidak di habiskan?"
"Aku kenyang, Bu." Rustam beranjak dari sana masuk ke dalam kamarnya.
"Mas, kau mau nambah lagi?"
"Tidak, ambilkan aku minum saja."
"Baiklah." balas Nilam. Dia bangun dari tempat duduknya, berjalan menuju dapur.
Srek, srekk!
Nilam menautkan alis, saat mendengar suara aneh, suara seperti geraman seekor bin4tang. Semakin dia berjalan ke arah dapur, suara itu semakin jelas di telinganya.
Perdana tapi pasti Nilam berjalan mendekat. Seketika netranya terbelalak. Gelas di tangannya terjatuh hingga pecah.
Prak, pyarr!
"Seruni!" teriaknya.
_____________
Judul di KBM : BANGKIT DARI KEMATIAN
Penulis : Rafasya
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
14/01/2025
BANGKIT SETELAH DI GIL1R 4 PRIA (2)
Penulis : Rafasya
"Akang...." lirih seorang perempuan memanggil Rustam.
Rustam segera berbalik, melihat ke arah sumber suara. Mata Rustam membulat sempurna.
"Ini tidak mungkin!" lirihnya.
Seorang perempuan muda memakai kebaya berwarna merah, berdiri di belakang Rustam. Dengan senyum yang mengembang.
"Ruhmini? Kau disini?" Rustam sangat terkejut.
Wanita itu berhambur memeluk Rustam. Kemudian bergelayut manja.
"Kenapa kau ada disini? Sekarang kan hujan deras?" tanya Rustam, masih tak percaya wanita itu ada disana.
"Tadi Ruhmi liat Kang Rustam, akang masuk ke dalam hutan, padahal cuaca sedang hujan dan gelap. Jadi Ruhmi ikutin akang," ujar si wanita sambil memeluk lengan Rustam.
"Akang sedang apa disini?" sambung Ruhmini.
Rustam menghembuskan napas kasar. "Akang sedang mencari Seruni. Gadis itu belum p**ang sejak siang tadi."
"Ih, makin menyusahkan saja si Seruni itu!" umpat Ruhmini.
"Menyebalkan memang, tapi akang yakin Seruni sudah m4ti di makan binatang bu4s." Rustam terkekeh.
"Terus akang mau kemana setelah ini? Mencari gadis itu?" Ruhmini mengangkat sebelah alisnya.
"Tentu saja tidak, lebih baik Akang bermesraan denganmu," rayu Rustam mencolek dagu kekasihnya.
"Ih akang, Ruhmi juga rindu sama Kang Rustam." Ruhmini tersipu malu.
"Bagaimana jika kita disini saja dulu? Sampai hujannya reda. Lagi p**a orang bod0h mana yang mau ke hutan, hujan dan gelap seperti sekarang." tunjuk Rustam pada sebuah gubuk di depannya.
Mata Ruhmini membola, "Jadi maksud Akang kita ini bod0h?" Rustam menempuk dahinya saat salah bicara.
"Haish, bukan begitu. Ruhmi! Justru ini adalah kesempatan kita. Bukankah tadi kau bilang rindu sama akang." Rustam menaik-turunkan alisnya.
Ruhmini mengangguk. Mereka berdua tersenyum penuh arti.
Di tempat lain. Wahyudi baru saja p**ang dari tempatnya bekerja. Melihat kedatangan suaminya Nilam langsung keluar.
"Mas, Apa kau tau Seruni kemana, setelah mengantar makan siangmu?" tanya Nilam, dia masih saja cemas.
"Loh, memangnya Seruni kemana? Siang tadi Seruni tidak datang ke tempatku bekerja, Lam."
"Tadi siang aku menyuruh Seruni mengantarkan makanan untukmu. Tapi sampai saat ini dia belum kembali. Di luar hujan dan cuaca mulai petang. Aku sangat khawatir, Mas."
"Apa kau sudah menyuruh Rustam mencari Runi?"
"Sudah, dan Rustam juga belum p**ang." Nilam semakin gelisah. Ia mondar-mandir tak jelas.
"Sudahlah, Nilam. Sebaiknya kita berdoa saja, semoga Seruni baik-baik saja dan segera p**ang bersama Rustam."
Nilam mengangguk, mungkin dia memang terlalu mengkhawatirkan Seruni.
"Aku lapar, Lam. Apa ada makanan? Sejak siang aku belum makan. Den Bara anaknya—Juragan Karta itu sangat kejam, dia tidak memberi karyawannya makan. Aku sedikit kelaparan tapi masih bisa ku tahan." ujar Wahyudi sambil menghempaskan tubuhnya pada kursi.
"Meskipun aku sibuk memikirkan Seruni yang tak kunjung p**ang, tapi aku sisakan makanan untukmu. Tunggu sebentar, akan aku ambilkan." jawab Nilam.
***
SREK, SREK!
Pria paruh baya itu terus menyeret tubuh Seruni yang penuh luka. Di pedalaman hutan di dekat air terjun. Disana ada sebuah gubuk yang hanya di huni oleh dua orang.
Pria paruh baya itu meletakan Seruni di atas tikar. Di sebelah wanita tua dengan rambut yang telah memutih tengah menyirih. Dia melirik sekilas pada seseorang yang baru datang.
"Siapa wanita itu?" tanya si wanita tua.
"Aku tidak tau, Marsih. Aku menemukannya di hutan. Sepertinya gadis ini korban pemerkos@2n." ujar pria paruh baya itu.
"Apa dia masih hidup?" tanya wanita tua lagi.
"Aku tidak tau, makanya aku membawanya kemari."
Dengan masih mengunyah sirih, Marsih—wanita tua itu mendekat lalu mengecek leher Seruni. kemudian memperhatikan seruni dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pandangan Marsih melihat ke arah selangk4ng2n Seruni. Dia mendekat kemudian menyeka darah yang terus keluar dari kem4luan Seruni.
Marsih bangkit lalu kembali pada tempat duduknya. Marsih membuang sirih dari mulutnya kemudian membuat yang baru.
"Apa dia masih hidup?" tanya Bromo—pria paruh baya yang telah membawa Seruni kesana. Dia sangat penasaran kenapa sikap Marsih biasa saja.
"Masih, tapi nadinya sudah melemah. Dia pasti tidak akan selamat." jawab Marsih dengan enteng, tangannya sibuk mengoles kapur sirih dan juga buah pinang.
"Bawa dia pergi dari sini," sambungnya.
Bromo sedikit terkejut melihat penolakan Marsih.
"Marsih, apa kau tidak kasihan melihat gadis itu?" tanya Bromo, dia mendekat ke arah Marsih yang terlihat tak perduli.
"Lalu, aku harus apa? Percuma! Gadis itu tidak akan selamat, darah yang keluar dari kemalu4nnya saja terus mengalir!"
Bromo tak menghiraukan ucapan Marsih. Dia menatap sendu ke arah Seruni yang sudah puc4t. Tak ada pergerakan sama sekali pada tubuh Seruni. Seruni sudah terlihat bagaikan m4yat.
"Lihatlah Marsih, bukankah gadis ini mirip dengan putri kita? Apa kau tidak ingin membantunya. Untuk membalas pelaku yang telah membuatnya seperti ini. Apa kau tidak merasa iba, Marsih!"
Marsih yang sedang mengunyah sirih itu terhenti, kemudian menoleh ke arah Bromo.
"Putri kita sudah meninggal!" Hardik Marsih.
"Ya, putri kita memang sudah meninggal, dia bunuh diri dengan melompat dari atas air terjun. Tapi gadis ini, dia masih ada kesempatan untuk balas dendam." ujar Bromo.
"Bukankah kau bisa membangkitkan kembali orang yang hampir m4ti. Gunakan kekuatanmu itu, untuk apa kau bertapa selama puluhan tahun. Tapi untuk menolong gadis ini pun kau tak bisa!" sambungnya.
"Itu tidak mudah, Bromo! Nyawaku taruhannya! Bukankah dulu kita pernah melakukan hal yang sama pada putri kita. Namun dia memilih mengakhiri hidupnya! Dan karena itu mahluk itu malah menyerang ku, dan membuatku hampir m4t1!" terang Marsih.
"Kita harus mencobanya sekali lagi, aku yakin gadis ini pasti akan berhasil," pinta Bromo, meyakinkan Marsih.
Marsih terdiam, menimbang ucapan suaminya.
"Cukup putri kita saja, dan gadis ini yang menjadi korban. Aku tidak ingin melihat banyak gadis lain yang di lec3hkan," lirih Bromo.
"Baiklah, Aku akan melakukannya. Dengan syarat, gadis ini harus sadar sebelum 24 jam. Baru ritual itu akan aku lakukan."
Bromo mengangguk pasti. Marsih mulai mendekat ke arah Seruni yang tergeletak di atas tikar. Marsih membuang sepahan daun sirih dari mulutnya. Lalu mengoleskannya pada seluruh tubuh Seruni dari wajah, lengan dan juga kaki. Marsih juga mengobati kem4luan Seruni hingga berhenti mengeluarkan darah.
Bromo terus merapal do'a semoga Seruni segera bangun, agar ritual itu segera di lakukan. Hingga tengah malam Bromo masih terjaga, melihat ke arah Seruni yang semakin memuc4t.
"Astaga, suhu tubunya semakin dingin!" serunya.
Marsih menghembuskan napas pelan, melihat Bromo yang sibuk memberikan keh4ngatan dengan menggosok-gosok telapak tangan Seruni .
"Kita harus melakukan pengasapan agar tubuhnya tidak terlalu dingin." cetus Marsih.
Bromo mengangguk, tidak ada cara lain. Tubuh Seruni semakin dingin dan memucat. Jika terus di biarkan gadis itu akan kehilangan nyawanya. Marsih mulai melakukan ritual pengasapan terhadap tubuh Seruni, sambil membaca ajian, Marsih mulai memutari tubuh Seruni, kep**an asap menguar mengelilingi tubuh Seruni. Tak berselang lama Bromo tersenyum saat merasakan tubuh Seruni hangat kembali.
"Sepertinya dia akan sadar, darah di kemalu4nnya juga sudah berhenti," ujar Marsih.
"Kita tunggu saja, setelah dia sadar nanti. Kita harus segera melakukan ritual itu." sambungnya.
"Baiklah, aku akan tetap berjaga sampai gadis ini sadar," sahut Bromo.
Marsih mengangguk, mungkin yang di katakan oleh Bromo, benar. Gadis ini bisa melakukannya.
Di tengah malam yang gelap, Bromo terus berjaga, dia melihat ke arah sinar rembulan. Semoga kali ini dendamnya bisa terbalaskan, melalui gadis yang tengah berjuang melawan kemat1annya.
"Haaaaaaaaaaaa!"
Terdengar suara teriakan yang menggema. Bromo langsung masuk ke dalam, dia melihat Seruni mulai tersadar. Namun gadis itu mendelik ke atas, bola matanya memutih tubuhnya mengejang, dan tak lama kemudian menatap kosong ke depan. Hanya isakan kecil yang mulai terdengar.
Bromo melirik ke arah Marsih yang berada di dekat Seruni.
"Apa yang terjadi?" tanya nya.
"Dia sudah sadar, tadi dia berteriak kencang. Namun setelah itu tatapannya menjadi kosong. Sepertinya gadis ini sangat terguncang dengan kejadian yang menimpanya!" jelas Marsih.
"Nak, apa kau mendengarku?" tanya Bromo yang mendekat ke arah Seruni.
Tak ada jawaban, tatapan Seruni masih kosong. Dari bibirnya hanya mengeluarkan rintihan kecil.
"Sepertinya kita harus segera melakukan ritual itu, cepat, Marsih. Panggil mahluk itu kemari,"
"Baiklah, kau minggir lah!" perintah Marsih. Dia mulai duduk bersila, di depannya ada d**a, kembang tujuh rupa dan juga wewangian. Marsih menyayat sedikit pergelangan tangannya kemudia meneteskan darahnya pada d**a yang akan ia nyalakan. Marsih mulai menyalakan d**a tersebut.
Melihat Marsih yang sedang melakukan ritual. Bromo mundur beberapa langkah. Melihat Marsih dari jauh. Dia akan menolong Marsih apabila ritual ini gagal.
Marsih memejamkan mata, dia mulai mengumpulkan seluruh kekuatannya. Angin berhembus kencang. Ranting pohon mulai berderit. Sinar rembulan mulai di tutupi awan hitam yang tebal. Angin yang berhembus kencang itu membuat Bromo kesulitan melihat apa yang terjadi. Daun-daun kering berterbangan.
Tak berselang lama pusaran angin datang di barengi dengan naungan yang memekakkan telinga. Pusaran angin itu mengecil kemudian berhenti tepat di depan Masrih yang masih memejamkan mata. Seketika angin pun berhenti. Kini Bromo bisa melihat apa yang terjadi di depan matanya.
Mahluk hitam tinggi besar, dengan tanduk banteng berdiri di depannya. Kuku-kuku panjang dan taring yang hitam menambah keseraman mahluk itu. Seringaian mahluk itu sangat menakutkan, membuat siapapun yang melihatnya bergidik.
"Ada apa kau memanggilku, Marsih?!" tanya mahluk itu dengan kepala yang berlenggak-lenggok.
Marsih membuka matanya, dia mengangkat sudut bibirnya. "Apa kau ingin d4rah?" tanya Marsih.
"Ya, aku s**a dengan d4rah," mahluk itu terlihat senang.
"Kalau begitu, ambilah dar4hnya." Marsih menunjuk ke arah Seruni.
Bromo terkejut, kemudian mendekat. "Apa maksudmu, Marsih!" bisiknya.
Marsih mengangkat tangan agar Bromo berhenti bicara. "Ayo, makan dia." Sambung Marsih memerintah mahluk tinggi menyeramkan di depannya. Bromo mengusap wajah kasar, tak habis pikir dengan Marsih.
Mahluk itu mendekat ke arah Seruni, dia mulai membaui tubuh Seruni. Lidahnya yang panjang menjulur, menjilat dar*h di pangkal pah4 Seruni yang telah mengering.
Namun mahluk tersebut malah mundur. "Aku tidak s**a dar4hnya! Aku lebih s**a darah sang pendosa!"
Marsih tersenyum, "Baiklah, aku akan memberimu darah yang kau minta. Tapi kau harus membantuku."
"Membantu bagaimana?" tanya mahluk itu dengan kepala yang terus berlenggak-lenggok.
"Masuk ke dalam tubuh gadis ini, dan bantu dia menuntaskan hasratnya untuk balas dendam!"
"Lagi?" ujar mahluk tinggi menyeramkan itu. "Kau ingat, Marsih. Jika gadis ini gagal memberiku dar*h sang pendosa, maka darahmu lah yang harus menjadi santapanku, Arrggh!" Mahkluk itu menggeram.
"Aku setuju. Aku akan mengorbankan diriku lagi. Jika gadis ini gagal."
"Baiklah!"
Makhluk tinggi besar itu mulai berubah menjadi kep**an asap hitam kemudian masuk ke dalam tubuh Seruni. Tubuh Seruni mengejang, bola matanya mendelik ke atas. Jari-jarinya mencakar tikar, dia menggeliat ke kanan dan ke kiri. Tak lama kemudian Seruni bangkit, terlihat kukunya memanjang dengan cepat, dia mengerang, menggeram ke arah Marsih dah juga Bromo. Bola matanya memutih giginya bergemelatuk. Seruni menoleh ke belakangan saat terdengar naungan dari luar. Seruni langsung pergi dari sana.
Marsih dan Bromo saling pandang. Dia belum memerintahkan apapun tapi Seruni malah pegi. "Ayo kita kejar dia, jangan sampai dia menyakiti dirinya sendiri!"
Masrih dan Bromo mengejar Seruni. Seruni berlari dengan cepat, hingga sampai naik ke atas air terjun. Dari gelagatnya Seruni bersiap untuk melompat.
Mata Marsih membola, dia menggeleng kuat. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi lagi!"
____________
Judul : Bangkit Dari Kematian
Penulis : Rafasya
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Jalan Di. Panjaitan Kel. Talang Benih
Curup