Diyan Angga Permana
04/12/2025
Empat Pemburu Harta
Bab 11
Arthur Conan Doyle
Polisi tadi datang membawa kereta, dan dengan menggunakan kereta inilah aku mengantar Miss Morstan p**ang ke rumahnya. Sesuai sifat mulia wanita, ia menghadapi masalah ini dengan ekspresi tenang, selama masih ada orang lain yang lebih lemah daripada dirinya yang harus dihibur, dan aku mendapatinya bersikap cerah dan tenang di samping pengurus rumah yang ketakutan. Tapi di kereta ia mula-mula berubah pucat pasi, lalu terisak-isak hebat—begitu menyakitkan ujian yang dihadapinya selama petualangan di malam hari ini. Kelak ia memberitahuku bahwa sepanjang perjalanan malam itu, ia merasa aku bersikap dingin dan menjauh. Ia tak bakal bisa menebak kebingungan dalam diriku, atau usaha menahan diri yang mencegahku. Aku bersimpati dan jatuh cinta kepadanya, bahkan sewaktu kami berpegangan tangan di kebun. Aku merasa bahwa pengenalan bertahun-tahun dengan cara konvensional tidak akan bisa mengajariku betapa manis dan beraninya wanita ini, sebagaimana pengalaman-pengalaman aneh yang kami alami sekarang.
Sekalipun begitu, ada dua pemikiran yang mencegah terlontarnya kata-kata penuh perasaan dari bibirku. Ia sedang dalam keadaan lemah dan tak berdaya, terguncang benak dan sarafnya. Menyodorkan cinta dalam keadaannya sekarang jelas merupakan pengambilan kesempatan dalam kesempitan. Yang lebih buruk lagi, ia kaya. Kalau penyelidikan Holmes berhasil, ia akan menjadi jutawan. Apa adil, apa terhormat, bagi seorang ahli bedah dengan gaji minim untuk mengambil keintiman menguntungkan yang bisa diraihnya dari kesempatan ini? Apa tak mungkin ia akan menganggapku sekadar mengejar harta? Aku tidak berani mengambil risiko ia jadi punya pemikiran seperti itu. Harta karun Agra ini turut campur bagaikan sebuah penghalang yang tak tertembus di antara kami.
Hampir jam dua sewaktu kami tiba di rumah Mrs. Cecil Forrester. Para pelayan telah tidur berjam-jam yang lalu, tapi Mrs. Forrester begitu tertarik oleh surat aneh yang diterima Miss Morstan, sehingga ia masih terjaga menunggu kep**angan Miss Morstan. Ia sendiri yang membukakan pintu, seorang wanita setengah baya yang anggun, dan aku sangat senang melihat betapa ia memeluk pinggang Miss Morstan dengan lembut, dan betapa keibuan suaranya saat menyambut.
Jelas Miss Morstan lebih dari sekadar karyawan, tapi juga teman yang dihormati. Aku diperkenalkan, dan Mrs. Forrester dengan tulus memintaku mampir dan menceritakan petualangan kami kepadanya. Tapi kujelaskan akan pentingnya tugasku, dan berjanji untuk melaporkan perkembangan apa pun yang mungkin kami raih dalam kasus ini. Saat melaju pergi aku berpaling, dan aku masih melihat keduanya di tangga—kedua sosok yang anggun dan saling memeluk tersebut, pintu yang separuh terbuka, cahaya dari ruang dalam menerobos kaca jendela mosaik, barometernya, tangga. Pemandangan rumah Inggris yang tenang benar-benar menenangkan di tengah-tengah urusan liar dan gelap yang tengah meliputi kami.
Dan semakin kupikirkan apa yang terjadi, semakin rumit kasusnya. Kupikirkan kembali seluruh rangkaian kejadian luar biasa saat melaju melewati jalan-jalan yang sunyi dan diterangi lampu-lampu gas. Masalah awal itu, paling tidak, sekarang sudah cukup jelas. Kematian Kapten Morstan, pengiriman mutiara-mutiaranya, iklannya, suratnya—kami sudah memahami seluruhnya dengan jelas. Tapi semua itu hanya membawa kami menghadapi misteri yang jauh lebih dalam dan lebih tragis. Harta karun India, rancangan yang ditemukan di antara barang-barang Morstan, adegan aneh saat kematian Mayor Sholto, penemuan kembali hartanya yang segera diikuti pembunuhan terhadap penemunya, keanehan kejahatan ini, jejak-jejak kakinya, senjata yang luar biasa, tulisan di kertas, yang sesuai dengan peta milik Kapten Morstan—ini benar-benar sebuah labirin, dan orang yang tidak sehebat temanku pasti sudah putus asa untuk menemukan petunjuk-petunjuknya.
Pinchin Lane merupakan sederetan rumah bata dua tingkat yang kumuh di kawasan bawah Lambeth. Aku harus mengetuk beberapa lama di rumah No. 3 sebelum berhasil menarik perhatian. Tapi akhirnya tampak cahaya lilin dari balik tirai, dan seseorang memandang ke luar dari jendela atas.
”Pergi, pemabuk,” katanya. ”Kalau kau membuat keributan lagi, akan kubuka kandangnya, agar kau diserang empat puluh tiga ekor anjing.”
”Kalau kau mau mengeluarkan satu ekor saja, aku memang datang untuk itu,” kataku.
”Pergi!” teriaknya. ”Aku membawa ular dalam kantong ini, dan akan kujatuhkan ke kepalamu kalau kau tidak minggat!”
”Tapi aku mau mengambil anjing,” seruku.
”Aku tidak mau berdebat!” teriak Mr. Sherman. ”Sekarang mundur, kalau tidak, begitu kuhitung ’tiga’ akan kujatuhkan ularnya.”
”Mr. Sherlock Holmes...” Betapa ajaibnya kata-kata tersebut, karena jendelanya seketika dibanting menutup, dan semenit kemudian pintunya telah terbuka lebar. Mr. Sherman seorang pria tua yang kurus, dengan bahu bungkuk, leher kurus panjang, dan berkacamata kebiruan.
”Teman Mr. Sherlock selalu diterima,” katanya. ”Masuklah, Sir. Hati-hati dengan anjingnya, dia menggigit. Ah, nakal, nakal, apa kau mau menggigit tuan ini?” Ia mengatakan itu pada seekor anjing yang menjulurkan kepala dan matanya yang merah ke sela-sela jeruji kandangnya. ”Jangan pedulikan, Sir, dia hanya seekor cacing yang lamban. Tidak ada taringnya, jadi kubiarkan dia berkeliaran bebas untuk mengurangi gangguan kutu. Harap jangan tersinggung dengan sikapku tadi, karena aku sering diganggu anak-anak kecil, dan banyak yang datang kemari hanya untuk mengetuk pintuku. Apa yang diinginkan Mr. Sherlock Holmes, Sir?”
”Dia menginginkan salah satu anjingmu.”
”Ah! Pasti Toby.”
”Ya, Toby namanya.”
”Toby tinggal di No. 7, sebelah kiri tempat ini.”
Ia melangkah maju perlahan-lahan, sambil membawa lilin di antara berbagai jenis hewan yang dikumpulkannya. Dalam cahaya remang-remang, aku bisa melihat ada mata-mata tengah memandang kami dari setiap sudut dan ceruk. Bahkan balok penopang di atas kepala kami dipenuhi jajaran unggas, yang dengan malas memindahkan berat tubuh mereka dari satu kaki ke kaki yang lain, karena tidur mereka terganggu suara-suara kami.
Toby ternyata seekor makhluk jelek berbulu panjang, dengan telinga menjuntai, campuran spaniel dan anjing kampung, berwarna cokelat dan putih, dengan langkah sangat ceroboh dan terhuyung-huyung. Setelah ragu-ragu sejenak, ia menerima sebongkah gula yang kudapat dari pencinta hewan tua tersebut. Dan setelah mendapatkan kepercayaan Toby, hewan tersebut mengikutiku ke kereta dan dengan senang hati menemaniku. Jam Istana baru berdentang tiga kali saat aku kembali ke Pondicherry Lodge. McMurdo, si mantan petinju bayaran, telah ditangkap atas tuduhan membantu melakukan kejahatan, dan baik ia maupun Mr. Sholto telah dibawa ke kantor polisi. Dua orang petugas sekarang menjaga gerbangnya yang sempit, tapi mereka mengizinkan aku masuk membawa anjing begitu kusebutkan nama Holmes. Holmes tengah berdiri di tangga pintu, dengan tangan di dalam saku, mengisap p**anya.
”Ah, kau membawanya!” katanya. ”Anjing yang baik! Athelney Jones sudah pergi. Di sini ada pameran kekuasaan yang cukup besar sewaktu kau pergi. Dia bukan saja menangkap Thaddeus, tapi juga penjaga gerbang, pengurus rumah, dan pelayan Indian-nya. Tempat ini kosong, hanya ada seorang sersan di lantai atas. Tinggalkan anjingnya di sini dan ikut aku ke atas.”
Kami mengikat Toby di meja ruang depan dan menaiki tangga. Kamarnya masih tetap sebagaimana sewaktu aku pergi, hanya saja sekarang ada selimut yang menutupi si korban. Seorang sersan polisi yang tampak bosan tengah duduk di sudut.
”Tolong pinjami aku lenteramu, Sersan,” kata temanku. ”Sekarang tolong ikatkan tali ini di leherku, sehingga menjuntai di depanku. Terima kasih. Sekarang aku harus menanggalkan sepatu bot dan kaus kakiku. Tolong bawa turun, Watson. Aku mau memanjat sedikit. Celupkan saputanganku ke dalamcreosote itu. Cukup. Sekarang ikut aku ke atas sebentar.”
Kami memanjat melewati lubang. Holmes mengarahkan lenteranya ke jejak-jejak kaki di debu sekali lagi.
”Tolong perhatikan jejak-jejak ini dengan lebih teliti,” katanya. ”Apa ada hal-hal penting yang kautemukan di sana?”
”Jejak itu,” kataku, ”milik seorang anak atau seorang wanita yang kecil.”
”Selain ukurannya. Apa ada yang lain?”
”Tampaknya sama seperti jejak-jejak kaki lainnya.”
”Sama sekali tidak. Lihat ini! Ini jejak kaki kanan di debu. Sekarang aku akan membuat jejak kakiku sendiri di sampingnya. Apa perbedaan utamanya?”
”Jemarimu semuanya rapat satu sama lain. Jejak yang itu masing-masing jarinya terpisah cukup lebar.”
”Benar. Itu intinya. Ingat itu baik-baik. Sekarang, apa kau tidak keberatan ke pintu atap dan mencium tepi bingkainya? Aku akan tetap di sini, karena aku membawa saputangan ini.”
Aku melakukan permintaannya, dan seketika menyadari bau aspal yang tajam.
”Kakinya menginjak itu saat dia keluar. Kalau kau saja bisa melacaknya, kupikir Toby tidak akan menemui kesulitan untuk itu. Sekarang turunlah ke bawah, lepaskan anjingnya, dan hati-hati terhadap penyusup itu.”
Saat aku keluar di bawah, Sherlock Holmes telah berada di atap, dan aku bisa melihatnya bagai seekor ulat raksasa yang bercahaya, merayap perlahan-lahan di sepanjang tepi atap. Aku tak bisa melihatnya sewaktu ia berada di balik cerobong, tapi kemudian ia muncul dan kembali menghilang di sisi seberang. Sewaktu aku berputar, kulihat ia duduk di salah satu sudut rumah.
”Itu kau, Watson?” serunya.
”Ya.”
”Ini tempatnya. Benda apa yang berwarna hitam di bawah itu?”
”Tong air.”
”Ada tutupnya?”
”Ya.”
”Tidak terlihat ada tangga di sana?”
”Tidak.”
”Benar-benar hebat! Ini tempat yang paling berbahaya. Kurasa aku bisa turun melalui jalur naiknya. P**a airnya mungkin cukup kuat. Pokoknya, ini dia.”
Terdengar kaki-kaki bergeser, dan lenteranya mulai turun dengan mantap di dinding. Lalu dengan loncatan ringan Sherlock Holmes mendarat di tongnya, dan dari sana melompat ke tanah.
”Mudah mengikutinya,” katanya, sambil mengenakan kaus kaki dan sepatu botnya. ”Banyak bata yang kendur di sepanjang jalurnya, dan karena tergesa-gesa dia tanpa sengaja menjatuhkan ini. Ini mengonfirmasi diagnosaku, sebagaimana istilah kalian para dokter.”
Benda yang diacungkan kepadaku adalah sebuah kantong kecil yang dianyam dari rerumputan berwarna-warni, dengan beberapa butir manik-manik diikatkan di sekelilingnya. Bentuk dan ukurannya sangat mirip kotak rokok. Di dalamnya terdapat setengah lusin kayu hitam, tajam di satu ujungnya dan bulat di ujung yang lain, seperti duri yang menancap di Bartholomew Sholto.
”Ini benda-benda jahat,” kata Holmes. ”Hati-hati, jangan sampai tertusuk. Aku gembira menemukannya, karena kemungkinan hanya ini miliknya. Kemungkinan kita menemukan salah satunya menancap di kulit kita sudah berkurang. Aku sendiri lebih s**a berhadapan dengan peluru Martini. Kau siap berjalan sejauh sepuluh kilometer, Watson?”
”Jelas,” jawabku.
”Kakimu mampu bertahan?”
”Oh, ya.”
”Ini dia, doggy Toby tua yang baik! Cium, Toby, cium!” Holmes mengulurkan saputangan yang terendam creosote ke bawah hidung anjing tersebut, sementara makhluk tersebut berdiri dengan kaki terpentang, sambil memiringkan kepala dengan cara sangat lucu, seperti seorang pakar hidangan mengendus anggur terkenal. Holmes lalu melemparkan saputangan tersebut, mengaitkan tali ke kalung anjingnya, dan membawanya ke kaki tong air. Makhluk tersebut seketika menyalak-nyalak dan, dengan hidung menempel ke tanah dan ekor menunjuk ke atas, mengikuti jejaknya dengan kecepatan yang menyebabkan talinya menegang dan kami berlari-lari sekuat tenaga.
Kaki langit timur perlahan-lahan mulai terang, dan sekarang kami bisa melihat lebih jauh dalam keremangan yang dingin. Rumah persegi yang besar, dengan jendela-jendelanya yang hitam dan kosong, dindingnya yang tinggi dan telanjang, menjulang menyedihkan dan terpencil di belakang kami.
Bersambung...
03/12/2025
Empat Pemburu Harta
Bab 10
Arthur Conan Doyle
”Kita jelas beruntung,” katanya. ”Sekarang seharusnya tidak banyak masalah lagi. Nomor Satu sudah sial karena menginjak creosote. Kau bisa melihat bentuk kakinya di samping tumpukan berbau tajam ini. Tempatnya sudah retak, kaulihat, dan benda ini sudah bocor keluar.”
”Lalu kenapa?” tanyaku.
”Kita berhasil mendapatkannya, itu saja,” kata Holmes. ”Ada anjing yang bisa mengikuti bau itu hingga ke ujung dunia. Kalau anjing geladak bisa melacak bau ikan melintasi negara, berapa jauh seekor anjing pelacak terlatih
bisa mengikuti bau setajam ini? Kedengarannya sudah pasti. Jawabannya akan memberi kita—Halo! Pihak berwenang sudah datang.”
Langkah-langkah berat dan keributan orang berbicara keras-keras terdengar dari lantai bawah, dan pintu ruang depan tertutup diiringi debuman keras.
”Sebelum mereka tiba di sini,” kata Holmes, ”coba pegang lengan orang malang ini, juga kakinya. Apa yang kaurasakan?”
”Otot-ototnya sekeras papan,” jawabku.
”Benar. Otot-ototnya menegang sangat kencang, jauh melebihi kekakuan mayat biasa. Dikombinasikan dengan kernyitan wajahnya, senyum Hippokcrates ini, atau wisus sardonicus, sebagaimana istilah penulis-penulis lama, kesimp**an apa yang melintas dalam benakmu?”
”Kematian akibat alkaloid sayuran yang sangat kuat,” jawabku, ”bahan berbasis mirip strychnine yang mengakibatkan tetanus.”
”Itu yang melintas dalam benakku begitu melihat otot-otot wajah yang tertarik. Begitu memasuki ruangan, aku segera mencari alat yang sudah memasukkan racun itu ke dalam sistemnya. Sebagaimana sudah kaulihat, aku menemukan duri yang entah ditusukkan atau ditembakkan tanpa kekuatan besar ke kulit kepala. Kaulihat bahwa bagian yang terkena mengarah ke lubang di langit-langit apabila orang ini berdiri tegak di kursinya. Sekarang periksa durinya.”
Aku mengambilnya dengan hati-hati dan mengacungkannya ke dekat lentera. Duri tersebut panjang, tajam, dan kehitaman, dengan bagian ujung mengilat, seakan ada cairan yang telah mengering di sana. Ujungnya yang tumpul telah dihaluskan dan dibulatkan dengan sebilah pisau.
”Apa itu duri dari Inggris?” tanya Holmes.
”Jelas bukan.”
”Dengan semua data ini, seharusnya kau mampu menarik kesimp**an yang layak. Tapi sekarang penegak hukum sudah datang.”
Sementara ia berbicara, suara langkah-langkah terdengar semakin keras di lorong, dan seorang pria pendek kekar bersetelan kelabu berderap memasuki ruangan. Wajahnya kemerahan, kasar, dengan sepasang mata sangat kecil yang berkilau-kilau di antara kantong-kantong mata yang membengkak. Ia segera diikuti seorang inspektur berseragam dan Thaddeus Sholto yang masih gemetaran.
”Ini dia!” seru pria bersetelan tersebut, ”ini urusan yang sangat bagus! Tapi siapa semua ini? Kenapa rumah ini seperti sudah berubah menjadi liang kelinci?”
”Kurasa Anda mengenaliku, Mr. Athelney Jones,” kata Holmes pelan.
”Wah, tentu saja!” katanya. ”Mr. Sherlock Holmes, si teoretis. Aku ingat Anda! Aku tak pernah lupa bagaimana Anda menguliahi kami semua mengenai sebab dan kesimp**an dan akibat dalam kasus perhiasan Bishopgate. Memang Anda berhasil mengembalikan kami ke jejak yang benar, tapi keberhasilan Anda lebih dikarenakan keberuntungan daripada keandalan.”
”Semuanya hanya masalah logika yang sangat sederhana.”
”Oh, yang benar saja! Tak perlu malu-malu. Tapi ada apa ini? Urusan yang buruk! Urusan yang buruk! Semuanya fakta di sini—tidak ada tempat untuk teori. Beruntung sekali aku sedang berada di Norwood, menangani kasus lain! Aku sedang di kantor sewaktu pesan itu tiba. Menurut Anda, apa penyebab kematian orang ini?”
”Oh, kasus ini sulit untuk diteorikan,” kata Holmes datar.
”Tidak, tidak. Sekalipun begitu, kami tak bisa mengingkari bahwa Anda terkadang berhasil. Wah, wah! Pintu terkunci, kalau tak salah. Perhiasan senilai setengah juta hilang. Bagaimana jendelanya?”
”Terkunci, tapi ada jejak-jejak di kusennya.”
”Well, well, kalau jendelanya dikunci, jejaknya pasti tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Itu logika biasa. Orang ini mungkin tewas karena serangan ayan, tapi perhiasannya hilang. Ha! Aku punya teori. Gagasan-gagasan seperti ini terkadang melintas dalam benakku Silakan keluar dulu, Sersan, dan kau juga, Mr. Sholto. Temanmu bisa tetap di sini—Apa pendapat Anda, Holmes? Sholto, sesuai pengakuannya sendiri, bersama dengan saudaranya semalam. Saudaranya tewas karena serangan ayan, dan Sholto membawa pergi hartanya? Bagaimana?”
”Maksud Anda, sesudah itu almarhum bangkit berdiri untuk mengunci pintu dari dalam.”
”Hmmm! Itu kelemahannya. Coba kita terapkan logika dalam masalah ini. Thaddeus Sholto ini ada bersama saudaranya, terjadi pertengkaran, itu yang kami ketahui. Saudaranya tewas dan perhiasannya hilang. Kami jugamengetahui hal itu. Tak seorang pun melihat saudaranya sejak Thaddeus meninggalkannya. Dia tidak tidur di ranjangnya semalam. Thaddeus jelas sedang kacau pikirannya. Penampilannya—well, tidak menarik. Anda lihat aku mulai merajut jaring-jaringku di sekitar Thaddeus. Jeratnya mulai merapat pada dirinya.”
”Anda belum mengetahui fakta-faktanya,” kata Holmes. ”Potongan kayu ini, yang aku yakin beracun, menancap di kulit kepala orang ini, dan bekasnya bisa terlihat. Kertas ini, ditulisi sebagaimana Anda lihat, ada di meja, dan di sampingnya tergeletak alat berkepala batu yang aneh ini. Bagaimana penyesuaian semua ini dengan teori Anda?”
”Mengonfirmasinya dalam segala hal,” kata detektif gendut tersebut dengan sikap sok. ”Rumah ini penuh dengan barang-barang aneh dari India. Thaddeus yang meletakkannya di situ, dan kalau potongan kayu ini beracun, Thaddeus mungkin sudah menggunakannya untuk membunuh. Kertas itu hanya sulapan—pengalih perhatian. Satu-satunya pertanyaan adalah, bagaimana dia meninggalkan tempat ini? Ah, tentu saja, lubang di atap.”
Dengan lincah, mengingat tubuhnya yang besar, ia menaiki tangga dan menerobos ke atas, dan tak lama kemudian kami mendengarnya berseru bahwa ia telah menemukan pintu.
”Pintar juga dia,” komentar Holmes sambil angkat bahu. ”Terkadang akalnya jalan juga. II n’y a pas des sots si incommodes que ceux qui ont de l’esprit!—Tidak ada orang bodoh yang lebih menyulitkan daripada yang punya sedikit akair."
”Anda lihat!” seru Athelney Jones, muncul kembali menuruni tangga. ”Bagaimanapun, fakta lebih baik daripada teori. Pendapatku mengenai kasus ini sudah terkonfirmasi. Ada pintu kecil yang menuju atap, dan agak terbuka.”
”Aku yang membukanya.”
”Oh, sungguh! Anda mengetahuinya kalau begitu?” Jones tampak kecewa mendengarnya. ”Well, siapa pun yang menemukannya, pintu itu jelas merupakan jalan keluar orang yang kita cari. Inspektur!”
”Ya, Sir,” jawab yang dipanggil dari lorong.
”Suruh Mr. Sholto masuk kemari—Mr. Sholto, sudah tugasku untuk memberitahumu bahwa apa pun yang akan kaukatakan mungkin digunakan untuk memberatkan posisimu. Kau kutangkap atas nama Ratu, dengan tuduhan membunuh saudaramu.”
”Nah, lihat! Sudah kukatakan, bukan!” seru pria malang tersebut, sambilmelontarkan tangan dan memandang kami bergantian.
”Jangan khawatir, Mr. Sholto,” kata Holmes. ”Kurasa aku bisa membebaskan Anda dari tuduhan itu.”
”Jangan berjanji terlalu berlebihan, Mr. Teoretis, jangan berjanji terlalu berlebihan!” sergah Detektif Jones. ”Anda mungkin akan mendapati masalah ini lebih sulit dari dugaan Anda.”
”Bukan saja aku akan membebaskan dia, Mr. Jones, tapi aku juga akan memberikan hadiah gratis berupa nama dan deskripsi salah satu dari kedua orang yang berada di ruangan ini semalam. Namanya, aku yakin, adalah Jonathan Small. Dia seorang pria berpendidikan rendah, kecil, aktif, dengan kaki kanan sudah putus dan mengenakan tunggul kayu yang telah aus sisi dalamnya. Sepatu bot kirinya bersol kasar dan bergigi persegi, dengan pelat besi di bagian tumitnya. Dia sudah setengah baya, dengan kulit kecokelatan terbakar matahari, dan mantan narapidana. Beberapa indikasi ini mungkin bisa membantu Anda, ditambah fakta bahwa sebagian besar kulit telapak tangannya terkelupas. Orang yang satu lagi...”
”Ah! Orang yang satu lagi?” tanya Athelney Jones dengan nada mencibir, tapi tetap saja terkesan oleh keyakinan Holmes, sebagaimana bisa kulihat dengan mudah.
”Orang yang satu lagi menarik,” kata Sherlock Holmes, sambil berputar pada tumitnya. ”Kuharap tak lama lagi aku bisa memperkenalkan mereka berdua pada Anda. Bisa kita bicara, Watson?”Ia mengajakku ke puncak tangga.
”Kejadian yang tidak terduga ini,” katanya, ”telah menyebabkan kita agak melupakan tujuan awal kita kemari.”
”Aku baru saja berpikir begitu,” kataku, ”tidak baik kalau Miss Morstan tetap berada di rumah ini.”
”Benar. Kau harus mengantarnya p**ang. Dia tinggal bersama Mrs. Cecil Forrester di Lower Camberwell, tidak jauh dari sini. Akan kutunggu kau di sini, kalau kau bersedia. Atau mungkin kau sudah terlalu lelah?”
”Sama sekali tidak. Kurasa aku tidak akan bisa beristirahat sampai mengetahui lebih banyak mengenai urusan yang fantastis ini. Aku pernah melihat sisi keras kehidupan, tapi kejutan-kejutan aneh malam ini sudah mengguncang sarafku sepenuhnya. Tapi aku ingin membongkar kasus ini bersamamu, berhubung aku sudah terlibat sejauh ini.”
”Kehadiranmu akan sangat membantuku,” jawab Holmes. ”Kita harus menangani sendiri kasus ini dan membiarkan si Jones ini membangga-banggakan khayalan apa pun yang ingin dicip-takannya. Sesudah mengantar Miss Morstan, kuminta kau pergi ke Pinchin Lane No. 3, di dekat batas air di Lambeth. Rumah ketiga di sebelah kanan merupakan rumah pembuat burung isian, namanya Sherman. Kau bisa melihat seekor musang yang menggigit kelinci di jendelanya. Bangunkan Sherman dan katakan, dengan salam dariku, bahwa aku membutuhkan Toby sekarang juga. Bawa Toby kemari.”
”Kurasa Toby itu seekor anjing?”
”Ya, seekor anjing kampung yang aneh, dengan daya penciuman paling mengagumkan. Aku lebih s**a mendapat bantuan Toby daripada seluruh satuan detektif di London.”
”Kalau begitu, akan kuambilkan,” kataku.
”Sekarang sudah pukul satu. Kurasa aku bisa kembali sebelum pukul tiga, kalau bisa mendapatkan kuda yang masih segar.”
”Dan aku,” kata Holmes, ”akan mencari tahu apa yang bisa kupelajari dari Mrs. Bernstone dan dari pelayan India, yang, kata Mr. Thaddeus kepadaku, tidur di bangunan sebelah. Sesudah itu aku akan mempelajari metode Jones yang agung dan mendengarkan kesinisannya yang tidak terlalu halus. Wir sind gewohnt dass die Menschen verhohnen w as sie nicht verstehen—Kita sudah biasa melihat Manusia memandang rendah apa yang tidak bisa dipahaminya. Goethe memang lugas.”
Bersambung...
02/12/2025
Empat Pemburu Harta
Bab 9
Arthur Conan Doyle
”Sekarang, Watson,” kata Holmes, sambil menggosok-gosok tangannya, ”kita punya waktu setengah jam, tanpa terganggu. Ayo kita gunakan sebaik-baiknya. Kasusku, sebagaimana sudah kukatakan padamu, sudah hampir selesai. Tapi jangan sampai kita melakukan kesalahan dengan bersikap terlalu percaya diri. Sekalipun kasus ini sekarang tampak sederhana, mungkin ada sesuatu yang lebih dalam di baliknya.”
”Sederhana!” semburku.
”Jelas,” kata Holmes dengan sikap seorang profesor klinis yang tengah mengajar di kelasnya. ”Duduk saja di sudut sana, agar jejak kakimu tidak menambah kerumitan masalah. Sekarang saatnya bekerja! Pertama-tama, bagaimana orang-orang ini datang dan bagaimana mereka pergi? Pintu tidak dibuka sejak semalam. Bagaimana dengan jendela?” Ia membawa lentera ke sana, menggumamkan pengamatannya keras-keras sepanjang waktu, tapi lebih ditujukan pada dirinya sendiri daripada kepadaku. ”Jendelanya diselot dari sebelah dalam. Kerangkanya kokoh. Tidak ada engsel di tepi-tepinya. Coba kita buka. Tidak ada p**a air di dekatnya. Atap cukup jauh dari jangkauan. Tapi ada yang memanjat melalui jendela. Semalam hujan turun sedikit. Ini ada jejak kaki yang mengeras di kusennya. Dan di sini ada jejak berlumpur berbentuk lingkaran, dan di lantai ini juga ada, dan di sini dekat meja. Lihat di sini, Watson! Ini benar-benar demonstrasi yang bagus.”
Aku memandang lingkaran berlumpur yang bulat dan sempurna tersebut. ”Itu bukan jejak kaki,” kataku.
”Ini jauh lebih berharga bagi kita. Ini jejak kaki palsu dari kayu. Kaulihat di kusen ada jejak sepatu bot, sepatu bot berat dengan tumit berlapis logam yang lebar, dan di sampingnya ada jejak kaki kayu.”
”Itu pria berkaki kayu.”
”Benar. Tapi juga ada orang lain lagi—sekutu yang sangat kompeten dan efisien. Kau bisa memanjat dinding itu, Dokter?”
Aku memandang ke luar jendela yang terbuka. Bulan masih bersinar dengan terangnya pada sudut rumah seperti semula. Kami berada sekitar delapan belas meter dari tanah, dan ke mana pun aku memandang, tidak ada pijakan, tidak ada apa pun kecuali celah-celah kecil di sela-sela batanya. ”Jelas mustahil,” kataku.
”Tanpa bantuan memang mustahil. Tapi seandainya ada temanmu di atas sini yang menurunkan tali kaku yang kokoh—yang kutemukan di sudut—dan mengikatkan salah satu ujungnya ke kaitan di dinding ini... Lalu, kupikir, kalau kau orang yang aktif, kau mungkin bisa merayap naik, sekalipun berkaki kayu. Tentu saja kau akan pergi dengan cara yang sama, dan sekutumu akan menarik talinya, melepaskan ikatannya dari kaitan, menutup jendela, menyelotnya dari dalam, dan melarikan diri melalui jalan masuknya. Satu hal kecil, patut dicatat,” lanjutnya, sambil mengelus-elus talinya, ”teman berkaki kayu kita, sekalipun seorang pendaki yang cukup andal, bukanlah seorang kelasi profesional. Tangannya tidak kapalan seperti kelasi. Kaca pembesarku menemukan lebih dari satu bercak darah, terutama mendekati ujung tali. Kurasa dia meluncur dengan kecepatan begitu rupa, sehingga kulit tangannya terkelupas.”
”Bagus sekali,” kataku, ”tapi situasinya jadi lebih sulit dijelaskan. Bagaimana dengan sekutu misterius ini? Bagaimana caranya masuk kemari?”
”Ya, sekutunya!” ulang Holmes. ”Ada beberapa hal menarik mengenai sekutu ini. Karena keberadaannya, kasus ini tidak lagi menjadi sebuah kasus biasa. Kurasa sekutu ini sudah membuka jalan baru dalam melakukan kejahatan di negara ini—sekalipun kasus-kasus yang paralel menunjukkan bahwa asalnya dari India dan, kalau ingatanku masih baik, dari Senegambia.”
”Kalau begitu, bagaimana caranya?” tanyaku. ”Pintunya terkunci, jendelanya tidak bisa dimasuki. Apa melalui cerobong?”
”Kisi-kisinya terlalu kecil,” jawab Holmes. ”Aku sudah mempertimbangkan kemungkinan itu.”
”Kalau begitu, bagaimana?” tanyaku.
”Kau masih belum mengerti juga,” kata Holmes sambil menggeleng. ”Sudah berapa kali kukatakan bahwa kalau kausingkirkan semua yang mustahil, apa pun yang tersisa, betapapun mustahilnya, adalah kebenaran? Kita tahu dia tidak masuk melalui pintu, jendela, atau cerobong. Kita juga tahu dia tak mungkin bersembunyi dalam ruangan ini, karena tidak ada tempat persembunyian di sini. Kalau begitu, dari mana dia datang?”
”Dia datang melalui lubang di atap!” seruku.
”Benar. Dia pasti masuk melalui lubang itu. Kalau kau bersedia memegangkan lampunya, kita akan memperluas penyelidikan kita ke ruang di atas—ruang rahasia tempat harta itu ditemukan.”
Ia menaiki tangga, dan setelah meraih sebatang balok penopang, ia mengayunkan diri ke atas. Lalu, sambil menelungkup, ia mengulurkan tangan mengambil lampu dan memeganginya sementara aku mengikuti langkahnya.
Ruangan tempat kami berada luasnya kurang-lebih tiga meter kali dua meter. Lantainya terbentuk dari deretan balok penopang, dengan selapis tipis gipsum dan semen di sela-selanya, sehingga untuk berjalan orang harus melangkah dari balok yang satu ke balok yang lain. Atap tersebut miring, dan jelas merupakan bagian dalam dari atap rumah yang sebenarnya. Tidak ada perabotan apa pun di sana, dan debu yang bertahun-tahun menumpuk di sana tampak tebal di lantai.
”Ini dia, kaulihat,” kata Sherlock Holmes, sambil memegang dinding yang miring. ”Ini pintu kecil yang menuju atap. Aku bisa mendorongnya, dan ini atapnya, dengan kemiringan yang landai. Kalau begitu, melalui tempat inilah si Nomor Satu masuk. Coba lihat apakah kita bisa menemukan jejak-jejak kepribadiannya yang lain.”
Ia mengacungkan lentera ke dekat lantai, dan untuk kedua kalinya malam itu, aku melihat ekspresi terkejut di wajahnya. Aku sendiri, saat mengikuti tatapannya, kulitku terasa dingin di balik pakaianku. Lantai dipenuhi jejak-jejak kaki telanjang, jelas, dengan bentuk sempurna, tapi kurang dari separuh jejak pria biasa.
”Holmes,” bisikku, ”anak kecil yang melakukannya.”
Holmes telah pulih dalam sekejap. ”Aku terkejut sesaat,” katanya, ”tapi situasinya cukup normal. Ingatanku sudah mengecewakanku, atau seharusnya aku mampu menebaknya. Tidak ada yang bisa dipelajari lagi di sini. Ayo turun.”
”Kalau begitu, apa teorimu mengenai jejak-jejak kaki itu?” tanyaku dengan penuh semangat sewaktu kami telah tiba di ruang bawah sekali lagi.
”Watsonku yang baik, cobalah menganalisisnya sendiri,” katanya dengan nada agak tak sabar. ”Kau mengetahui metode-metodeku. Coba terapkan, dan pasti sangat bermanfaat untuk membandingkan hasilnya.”
”Aku tidak bisa menarik kesimp**an apa pun yang mencakup semua faktanya,” jawabku.
”Tak lama lagi kau akan memahaminya dengan jelas,” katanya. ”Kupikir tidak ada lagi yang penting di sini, tapi aku akan tetap mencari.”
Ia mengeluarkan kaca pembesar dan pita pengukur, dan bergegas mengelilingi ruangan sambil berlutut, mengukur, membandingkan, memeriksa, dengan hidungnya yang kurus mancung hanya beberapa inci dari lantai, sementara matanya yang bulat berkilau-kilau dan cekung bagai mata burung. Begitu sigap, tanpa suara, dan lincah gerakannya, bagai seekor anjing pelacak terlatih yang mengendus bau, sehingga aku mau tak mau memikirkan bahwa ia akan menjadi penjahat yang luar biasa menakutkan kalau seandainya ia mengalihkan energi dan keberaniannya untuk melawan hukum, bukan menegakkannya. Sambil melacak, ia terus-menerus bergumam sendiri, dan akhirnya ia berseru keras dengan gembira.
Bersambung...
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Address
Ciamis
46272