Khallima Shada
Kisah inspiratif ini”Sang santri bodoh girang mendengarnya, dan sang santri pintar terpaku tidak percaya.Hukuman pun dilaksanakan atas sang santri pintar, yang dilakukan oleh sang Ustadz sendiri. Setelah tertawa girang, sang santri bodoh pun pulang dengan riang gembira.
“Saya kecewa dengan anda Ustadz,” kata sang santri pintar. “Saya kira anda adalah orang yang pintar. Anda pun sangat paham agama. Tapi anda berbohong seperti itu dan mencelakakan saya serta membodohi orang bodoh itu! Bagaimana anda tidak tahu hasil dari 3 x 9?”
“Tentu saja saya tahu!” Kata sang Ustadz. “Masalahnya adalah, kok bisa orang sepintar kamu mau-maunya berdebat seputar persoalan sepele seperti itu sampai-sampai membahayakan nyawa temanmu sendiri!
Kamu tentu sadar kalau kamu pintar dan temanmu itu tidak begitu pintar, lantas kenapa kamu membahayakan nyawa dia dengan kepintaranmu? Dan itu hanya demi memuaskan egomu!
”Sang santri pintar terdiam. “Silakan kamu bilang ke semua orang betapa saya Ustadz yang bodoh karena tidak paham matematika dan telah berkata dusta. Lebih baik begitu ketimbang saya diingat sebagai Ustadz yang membunuh santrinya sendiri karena persoalan remeh!
”Pesan moralnya tentu bisa kita simpulkan sendiri. Kita bisa saja unggul dari orang lain atas banyak hal: harta, tahta, status, kekuasaan, keahlian, kecerdasan, dan terus lain sebagainya.
Tapi buat apa juga semua keunggulan itu, kalau kita tetap menjadi orang yang tidak bermoral?
Semoga kita selalu menjadi pribadi yang lebih baik dan mahir mengungguli diri sendiri.
20/12/2015
JAWA POST .
Dalam bahasa Jawa, terdapat penyimpangan pola penamaan bilangan yang konon memiliki falsafah yang amat mendalam jika dikaitkan dengan penyebutanusia seseorang.
Jika dicermati dengan seksama, penyimpangan ini memang berbeda dari lazimnya penyebutan angka-angka di kepulauan melayu atau nusantara. Penyimpangan tersebut terjadi mulai dari beberapa angka belasan hingga sampai angka 60. Ya, sampai angka 60 saja!
Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa penyebutan tersebut memang erat kaitannya dengan usia manusia, mengingat usia 60 merupakan rata-rata panjang usia seseorang.
Dalam bahasa Jawa, angka 11tidak disebut sebagai ‘sepuluh siji’,12bukan ‘sepuluh loro’,13bukan ‘sepuluh telu’ dan seterusnya hingga angka19yang tidak disebut sebagai ‘sepuluh songo’. Namun, angka11disebut sebagai ‘sewelas’,12disebut sebagai ‘rolas’ dan seterusnya hingga19 yang disebut sebagai ‘songolas’.Apa makna dibalik semua ini?
Mengapa sepuluhan diganti dengan welasan? Filosofinya, bahwa pada usia11 tahun hingga 19tahun adalah saat-saat berseminya rasawelas asih (belas kasih)pada jiwa seseorang, terutama terhadap lawan jenis.
Itulah usia di mana seseorang memasuki masa akil baligh, masa remaja. Sementara dalam banyak bahasa, bilangan 11 hingga 19 memang diberi nama dengan pola yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia disebut dengan belasan. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut denganteen, sehingga para remaja pada usia tersebut disebut teenagers.
Seterusnya, bilangan 21 hingga 29dalam bahasa Jawa juga dinamakan berbeda dengan pola umum yang ada. Dalam bahasa lain biasanya sesuai pola. Misal dalam bahasa Indonesia diucapkan dua puluh satu, dua puluh dua, dan begitu seterusnya hingga dua puluh sembilan. Sedangkan dalam bahasa jawa tidak demikian, angka21tidak disebut sebagai ‘rongpuluh siji’,22tidak disebut rongpuluh loro, dst,melainkan 21disebutselikur, 22disebut rolikur,dan seterusnya hingga29 yang disebut songo likur, kecuali angka25 yang disebut sebagai selawe.
Di sini terdapat satuan Likur yang tidak lain merupakan kependekan dari LIngguh KURsi, artinya duduk di kursi. Mengapa disebut demikian? Falsafahnya, bahwa pada usia 21 hingga 29 itulah pada umumnya manusia mendapatkan “tempat duduknya”, baik itu berupa pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, seniman, penulis, dan lain sebagainya.
Bahkan yang lebih menarik, angka25 memiliki sebutan khusus, yang mana bilangan 25 tidak disebut sebagai limang likur, melainkan selawe. Apa maknanya, Selawe konon merupakan singkatan dari SEneng-senenge LAnang lan WEdok, itulah puncak asmaranya seorang laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh pernikahan.
Maka pada usia tersebutlah(25)pada umumnya seorang laki-laki berumah tangga (dadi manten), Memang tidak semua orang menikah pada usia tersebut, tapi jika dirata-rata memang di antara usia 21-29. Pada saat kedudukan sudah diperoleh, pada saat itulah seseorang siap untuk menikah.
Dari angka 30 hingga 49, penamaan angka dibaca normal seusai pola urutan, misalnya telung puluh, telung puluh siji, telung puluh loro, dst. Tapi ada penyimpangan lagi nanti pada bilangan 50. Mestinya, angka ini disebut sebagai limang puluh, namun sebutan populernya tidaklah demikian, angka 50 lebih sering disebut denganseket.
Apa makna dibalik semua ini? Konon SEKET merupakan kependekan dari kalimat SEneng KEthonan, artinya s**a memakai kethu / alias tutup kepala/topi/kopiah dan sebagainya.
Hal ini menandakan usia seseorang semakin lanjut, dan tutup kepala merupakan lambang darisemua itu. Selain itu tutup kepala merupakan alat untuk menutup rambut yang mulai botak atau memutih.
Di sisi lain, tutup kepala bisa juga berupa kopiah yang melambangkan orang yang sedang beribadah. Memang demikian, pada usia 50 sudah seharusnya seseorang lebih memperhatikan ibadahnya.
Setelah sejak umur likuran bekerja keras mencari kekayaan untuk kehidupan dunia, sekitar 25 tahun kemudian, yaitu pada usia 50 perbanyaklah ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat. Lain 50, lain pula60.
Angka ini tidak populer dengan sebutan enem puluh, tapi lebih sering disebut dengan sewidak atau suwidak. Usut punya usut, konon sewidak merupakan kependekan dari ‘SEjatine WIs wayahe tinDAK’. Maknanya, sesungguhnya pada usia tersebut sudah saat seseorang bersiap-siap untuk pergi meninggalkan dunia fana ini.
Maka kalau usia kitasudah mencapai 60, lebih berhati-hatilah dan tentu saja semakin banyaklah bersyukur, karena usia selebihnya adalah bonus dari Yang Maha Kuasa.
INFO PENGETAHUAN UMUM.
Dari katanya saja, Melankolis bisa disimpulkan bahwa arti atau maksudnya adalah sedih. Itu sih memang menurut penafsiran orang kebanyakan. Tapi mungkin kita lebih familiar dengan kata melow dan galau.
Memang, orang yang memiliki karakter Melankolis dikenal sebagai karakter yang selalu melow dan galau. Benarkah begitu??? Ah tidak juga.
Melankolis berasal dari kata melanchole (bahasa Yunani) yang berarti empedu hitam. Dalam dunia psikologi, memang ada empat watak atau karakter manusia, yaitu Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Plegmatis.
Kebanyakan orang menyimpulkan orang Melankolis itu “Cemen” karena sifat mereka yang sering melow. Padahal orang Melankolis itu orang yang luar biasa. Si sempurna, itulah julukan untuk orang-orang yang memilik karakter ini. Julukan ini diberikan untuk mereka karena para Melankolis selalu menginginkan segala hal berjalan dengan baik.
Selain itu, para Melankolis juga seorang pengamat dan pendengar yang baik. Walaupun mereka cenderung pendiam, tapi bukan berarti mereka acuh akan sekitarnya. Mereka dapat menganalisa hal-hal disekelilingnya. Sebagai seorang pengamat, mereka menyimpulkan segala hal yang mereka lihat, dengar dan rasakan sesuai definisi.
Itulah istilahnya, “definisi”, langkah hati-hati yang selalu mereka lakukan. Walaupun mereka teliti dalam mengamati, mendengar dan menganalisa, terkadang sifat kehati-hatian mereka tersebut membuat mereka menjadi lambat dalam bertindak dan mengambil keputusan. Karena mereka membutuhkan waktu lebih lama dalam berfikir. Yah, walaupun tujuan mereka baik, yaitu untuk yang terbaik dan mencapai kesempurnaan. Para Melankolis juga seorang pemerhati yang baik.
Jika orang-orang disekitar kalian ada yang sangat perhatian, kemungkina besar orang tersebut memilikiwatak Melankolis. Para Melankolis biasa perhatian pada orang-orang disekitarnya, seperti keluarga, sahabat, teman dan kekasih.
Namun terkadang perhatiannya s**a disalahtafsirkan oleh orang lain (terutama jika si Melankolis dan orang tersebut berbeda jenis kelamin). Seolah ada udang di balik batu. Jadi janganlah terkejut dengan orang yang s**a perhatian.
Para Melankolis melakukan hal ini semata-mata karena dirinya memang harus melakukannya karena ikatan di antara dirinya dengan orang tersebut. Entah sebagai anggota keluarga, sahabat, teman ataupun pacar.
Melankolis juga seorang pencinta keindahan. Maka dari itu, mereka akrab dengan seni dan otak kanan mereka lebih mendominasi dari otak kiri mereka. Namun bukan berarti para seniman pasti memiliki karakter Melankolis dan para ilmuwan tidak berkarakter Melankolis.
Salah satu seni yang kebanyakan Melankolis geluti adalah sastra atau dunia tulisan. Sangat mudah untuk mengetahui karya para Melankolis. Karena tulisan mereka begitu menyentuh dan terkesan pesimis. Itu karena isi tulisan mereka lebih menekankan pada perasaan. Para Melankolis mampu mendeskripsikan ide mereka dengan sangat baik melalui tulisan karena mereka memiliki kepekaan yang tinggi dan erat hubungannya dengan perasaan.
Mereka dapat mendeskripsikan dengan baik sebuah perasaan hingga si pembaca dapat terhanyut dalam tulisannya. Namun dengan kepekaanya, Melankolis dapat menjadi pribadi yang berbahaya. Untuk tingkat rendah, mereka dapat dikategorikan sebagai orang yang tidak s**a disebut salah.
Itu karena mereka selalu hati-hati dalam berencana dan bertindak. Jadi, jika mereka divonis bersalah, mereka sangat tidak s**a. Dan untuk kategori yang besar, mereka adalah pendendam sejati. Sifat mereka yang peka ini mendorong kuatnya fikiran jangka panjang mereka, sehingga jika ada hal yang tak menyenangkan menusuk perasaanya secara berkelanjutan, mereka akan sangat marah dan terus menimbun perasaan marah ini hingga menjadi dendam.
Untuk menghapus perasaan dendam ini, mereka butuh waktu yang sangat lama hingga bertahun-tahun.
Kembali pada julukan “cemen”, julukan ini diberikan mungkin karena para Melankolis cenderung pesimis dan sering merasa tertekan. Dua sifat tersebut, pesimis dan tertekan, memang fakta dari karakter ini dan juga menjadi sisi kekurangan karakter “Sempurna” ini. Namun ada alasan mereka tetap bergelut dalam sifat ini, yaitu mereka butuh kekuatan. Walaupun mereka “sempurna”, mereka tak berpendapat bahwa diri mereka bisa menaklukkan apa saja. Mereka butuh motivator dan sandaran yang mampu mendongkrak kekuatan mereka. Dan berbicara tentang kekuatan besar, tentu ini mengacu kepada Yang Maha Tinggi.
Benar, Tuhanlah tempat ketergantungan mereka. Dengan sugesti mereka yang selalu menginginkan ekuatan besar sebagai penopang, ini membuat kebanyakan Melankolis dekat dengan Tuhan (religius). Dalam muamalah, Melankolis cenderung dekat dan nyaman dengan para Plegmatis.
Ini dikarenakan sifat kedua karakter ini tak jauh berbeda. Plegmatis yang memiliki julukan “Juru Damai” ini memang senang berada di belakang layar, dengan kata lain mereka orang yang kalem bahkan cenderung pendiam. Selain itu sifat mereka yang optimis dan “Speak Up” mampu mengubur sifat pesimis dari para Melankolis. Maka tak heran bila para Melankolis lebih menunjuk para Plegmatis untuk menjadi orang terdekatnya, baik itu sebagai sahabat ataupun teman hatinya.
Walaupun mereka merasa nyaman berada dekat para Plegmatis, ini bukan berarti mereka menjauh dari Koleris dan Sanguinis. Dua watak ini juga mempengaruhi hidup mereka dengan penuh warna.
Melankolis tetap butuh Sanguinis dan Koleris dalam kehidupan mereka. Sanguinis sebagai penyeimbang, antara pendiam (Melankolis) dan cerewet(Sanguinis). Sedangkan Melankolis butuh Koleris dalam persaingan, antara “Si sempurna” dan “Si ambisius”.
Melankolis memang tak pilih-pilih dalam berteman, namun Melankolis sangat selektif dalam sharing. Dan tak diragukan, jika Melankolis akan cepat merasa nyaman dengan Plegmatis dan tak segan untuk “membuka diri” dengan mereka.
"Menurut kehidupan manusia adalah rasa takut"
Manusia selalu berhasil menemukan alasan untuk punya rasa takut. Jalan hidup yg kita pilih dalam hidup kita, itu juga diputuskan oleh rasa takut.
Tapi, apa rasa takut semua itu nyata? Pikirkanlah hal itu…
Rasa takut artinya di masa mendatang harus bisa mengatasi masalah, tetapi siapakah penguasa waktu? Penguasa waktu itu bukan kita sendiri, musuh kita, atau bahkan pesaing kita.
Waktu itu sepenuhnya milik Allah SWT. Jadi kalau seseorang berencana untuk berbuat jahat pada dirimu, apakah dia memang bisa menyakitimu? Tidak! Tapi sebuah hati yang penuh rasa takut akan menyakiti kita lebih besar lagi.
Di masa yang sulit hati yg penuh dengan rasa takut akan membuat keputusan yang salah dan membuat masalah jadi lebih sulit, tapi sebuah hati yang penuh dengan iman bisa mengatasi masalah seperti hembusan angin.
Dengan kata lain, alasan untuk rasa takut ada dalam hati manusia tergantung pada tindakan yg kita lakukan dalam menghadapinya. Benarkah itu?
Coba kau pikirkan… :)
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Brebes