Pondok Pesantren Riyadhul Muhibbin
21/11/2019
Kecintaan pohon kurma kepada Nabi Muhammad ﷺ
Dalam riwayat Anas : "Masjid Nabawi dulunya bertiangkan pohon-pohon kurma, dan Nabi Muhammad ﷺ ketika berkhutbah senantiasa berdiri di sebelah salah satu batang pohon kurma, ketika dibuatkan untuk Nabi ﷺsebuah mimbar (dan Nabiﷺ berkhuthbah di mimbar tersebut), kami mendengar rintihan dari pohon kurma tersebut seperti rintihan induk unta ketika akan melahirkan, sehingga Nabi letakkan tangannya di pohon tersebut sampai terdiam"
Kisah ini masyhur dan mutawatir dan dikeluarkan oleh para pakar hadits shahih, diriwayatkan oleh begitu banyak sahabat seperti : Ubay bin Ka'b, Jabir bin Abdillah, Anas, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Sahl bin Sa'd, Abu Sa'id al-khudri, Buraidah, Ummu Salamah, Muthallib bin Abi Wada'ah dan lain-lain.
Dalam riwayat Sahl, pohon tersebut dikuburkan di bawah mimbar.
-Asysyifa Qadhi 'Iyadh-
Ada perkataan yang bagus dari Al-Hasan Al-Bashri ketika ia menyebutkan hadits rintihan pohon kurma ini, ia berkata,
يَا مَعْشَر الْمُسْلِمِينَ الْخَشَبَة تَحِنّ إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَى لِقَائِهِ فَأَنْتُمْ أَحَقّ أَنْ تَشْتَاقُوا إِلَيْهِ
“Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.” (Fath Al-Bari, Kitab Manaqib 6: 697)
اللهم صل و سلم على سيدنا محمدﷺ
07/11/2019
Sebuah catatan :
Tentang Kiai Abdul Manan dan Jejak Transmisi Keilmuan Ulama Al-azhar dengan Pesantren di Indonesia.
Dzikra Haul Muassis Pondok Tremas, Mbah Kiai Abdul Manan Dipomenggolo, tahun ini sudah memasuki tahun ketujuh, yang diselenggarakan awal bulan Juli yang lalu.
Bila saat ini beliau hanya dikenal sebatas muassis Pondok Tremas, diselenggarakannya Dzikra Haul ini salahsatunya untuk mengenalkan jasa besar beliau sebagai salahsatu perintis jejaring ulama dan pesantren nusantara, yang mulai bermunculan pada akhir abad 19 hingga awal abad 20.
Sangat disayangkan, tokoh sekaliber KH Abdul Manan Dipomenggolo kurang dikenal di kalangan pesantren nusantara. Padahal beliaulah generasi pertama yang belajar di Al-Azhar, Mesir, dimana hampir sebagian besar kitab yang dikaji di pesantren tanah air dan menjadi kurikulum wajibnya adalah kitab2 karangan ulama Mesir.
Meskipun saat ini sumber tertulis riwayat hidup dan perjuangan KH Abdul Manan Dipomenggolo relatif terbatas, beberapa informasi dan catatan yang mengungkap kiprah beliau, sedikit demi sedikit mulai terkuak. Meski demikian, masih diperlukan usaha untuk terus menggali dokumen2 bersejarah yang bisa mengungkap peran beliau pada awal perjuangan, termasuk biografi perjalanan intelektualnya.
Sebagaimana diketahui, dalam buku Jauh di Mata Dekat di Hati; Potret Hubungan Indonesia – Mesir terbitan KBRI Kairo, tersebut bahwa pada medio tahun 1850-an di komplek Masjid Al Azhar telah dijumpai komunitas orang Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Ruwak Jawi (hunian bagi mahasiswa dari nusantara/ Indonesia), dimana salahsatu mahasiswa yang tinggal di ruwaq tersebut adalah Abdul Manan Dipomenggolo.
Sebagai bagian dari catatan sejarah perjalanan intelektualnya, studi Abdul Manan di Al-Azhar sebenarnya merupakan rihlah ilmiyah kedua beliau belajar di mancanegara. Pilihannya ke Mesir juga dalam rangka ngalap berkah, belajar di tanah kelahiran guru besarnya, Syaikh Muhammad Syatha, ulama Makkah kelahiran Dimyath, Mesir. Sebagaimana disebut dalam buku Sanad Ulama Nusantara, yang ditulis alumnus Al-Azhar, Ustaz Adhi Maftuhin, tigapuluh tahun sebelum menginjakkan kaki di Mesir, beliau telah lebih dahulu belajar agama pada ayah dari Syaikh Abu Bakar Syatha itu, selama beberapa tahun hingga sang guru wafat (1226 H).
Sepulang dari Makkah, sekitar tahun 1820 beliau mendirikan pesantren di desa kelahirannya, Semanten. Menurut opini penulis, saat meletus perang Diponegoro, beliau memilih memindahkan pesantren ke pedalaman ( Tremas ) demi menghindari kontak dengan para penguasa kolonial. Pada saat yang bersamaan, kemungkinan besar putra tertua beliau (KH Abdulloh) telah dikader dengan mengirimnya belajar ke Makkah dibawah bimbingan keluarga Syatha. Setelah dirasa cukup dan kondisi pesantren telah stabil dan kondusif, Kiai Abdul Manan kembali melanjutkan studinya, sementara pondok di bawah kendali sang anak, Kiai Abdulloh .
Pilihan studi ke Mesir bagi Kiai Abdul Manan adalah impian yang telah lama dipendam demi bisa tabarruk di tanah kelahiran guru besarnya, yang juga pernah mengenyam pendidikan di Al Azhar.
Kedekatan keluarga Syatha dengan Tremas bisa dilihat dari kelanjutan studi putra dan cucu beliau, Kiai Abdulloh dan Syeikh Mahfuzh, yang belajar kepada putra Syeikh Muhammad Syatha, Abu Bakar Syatha.
Seperti cerita Syaikh Mahfuzh dalam kitab Kifayatul Mustafid, ayahnya mengajarinya kitab-kitab karya ulama Mesir, seperti Fath Al-Qarib, Minhaj Al-Qowim, Fath Al-Wahab, Syarah Syarqawi atas kitab Hikam, Tafsir jalalain, Fath Al-Muin dan beberapa kitab lain. Meski Fath Al-Muin bukan karangan langsung ulama Al-Azhar, tapi merupakan ringkasan dari ulasan Ibnu Hajar Al haitami (Ulama Al-Azhar), yang merupakan guru dari pengarang kitab Fath Al-Muin, Zainuddin Al-malibary.
Dari sini bisa kita lihat, betapa kitab-kitab ulama Al-Azhar, Mesir, memiliki pengaruh besar pada sistem pengajaran hampir di seluruh pesantren di nusantara, dimana kitab-kitab yang beredar luas di pesantren, sebagian besar karya ulama Al-Azhar maupun ulama-ulama nusantara yang pernah belajar pada ulama2 Mesir atau mengenyam pendidikan di Al-Azhar.
Bila demikian, Kiai Abdul Manan, yang pernah berguru kepada ulama-ulama Mesir dan belajar di Al-Azhar, punya andil besar membuka jalur transmisi keilmuan ulama Al-Azhar dengan pesantren di nusantara.
Wallahu a’lam bisshawab.
Lahul Fatihah.
(Copas)
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Address
Jalan H. Wahid, Kp. Gelonggong Rt. 04/05 Kedung Waringin, Bojong Gede
Bogor
16923