Rumah Riyadhoh
01/09/2022
Ibadah kamu untuk siapa?
Mungkin ini shalat paling tidak khusyu yang kulakukan. Memiliki anak anak usia balita dan batita itu, ujian banget buat ibu ibu sepertiku. Bukan karena masalah repot mengurusi mereka, tapi ibadah seringkali terganggu. Aku yakin semua ibu yang punya anak balita atau batita pasti pernah merasakannya.
Saat lagi shalat, pas sujud, anak naik ke punggung main kuda kudaan. Saat berdiri, anak merangkul kaki dan bergelayut layaknya ayunan. Saat lagi duduk, minta digendong di punggung. Belum lagi mukena ditarik, atau main sembunyi di dalam mukena. Grrh, pokoknya mau shalat khusyu itu susah banget kalau ada anak anak.
Tidak hanya pas shalat, saat mau ngaji, Al Quran yang kupegang diambil. Kadang, ada sebagian halaman yang disobek.
Dan barusan, aku rasanya kesal sekali. Pasalnya, saat shalat berjamaah bersama suami dan anak anak, si kecil berkali kali naik punggung pas aku duduk dan sujud. Lalu merangkul kaki dan bergelayut saat berdiri. Sedangkan aku harus mengikuti gerakan imam shalat yang saat itu sulit kuimbangi. Jadilah shalatku benar benar terganggu.
Mau marah sama anakku, gak bisa. Karena dia masih batita. Marah sama suami yang jadi imam juga gak bisa karena gak ada alasan. Akhirnya jadi kesal sendiri. Sudah shalat gak khusyu, kesel, lagi. Akhirnya aku diam. Mencoba menenangkan diri.
Begini nasib ibu ibu. Mau khusyu shalat saja gak bisa. Duduk buat ngaji digangguin terus sama anak. Gimana target ibadahku bisa tercapai? Keluhku.
“Kenapa mengeluh sih? Santai ajalah, ibadah digangguin anak anak kan biasa.” Innerku.
Masalahnya, target ibadahku jadi terhambat. Liat, hari ini aku cuman bisa ngaji tiga lembar. Belum lagi shalat maghrib tadi gak khusyu sama sekali. Sedekah hari ini kepake jajan sama anak anak. Shalat dhuha gak jadi karena kerjaan rumah sama ngurus anak anak. Dzikir ku sampai lupa hitungan karena tasbihnya diambil anak anak. Gimana mau lomba ibadah kalau kayak gini?
“Emang lomba ibadah sama siapa?” Tanya innerku lagi.
Ya bukan sama siapa siapa. Tapi kan aku punya target. Dan target ibadahku harus nambah tiap bulannya. Masak ibadah aku gak ada peningkatan. Dari dulu segitu segitu juga. Kan malu.
“Malu? Malu sama siapa?” Tanya innerku lagi.
Malu sama Allah lah. Udah dikasih rezeqi tiap hari, koq ibadahnya gak ningkat.
“AstaghfiruLlah. Emang kamu fikir Allah itu kayak manusia?”
“Yang berfikir picik, melihat ibadah hanya sebatas shalat, dzikir dan teman temannya itu hanya manusia. Yang sok pintar menilai amal ibadah hanya dari zhahirnya saja juga cuman manusia. Dan yang tidak apresiatif terhadap ibadah seseorang juga cuma manusia. Jangan samakan Allah dengan manusia.”
“SubhanaLlahu. Allah Maha Suci dari sifat sifat dan prasangka buruk manusia.”
Maksudnya? Tanyaku heran.
“Allah itu Maha Mengetahui. Allah itu Maha Melihat Zhahir dan Bathin. Allah Tahu kalau kamu sudah berusaha khusyu saat ibadah padaNya. Lalu Allah juga Tahu kalau anak anak yang Dia titip padamu ikut partisipasi saat kamu shalat, ngaji, dzikir, dan ibadah lainnya. Apa lantas Allah menilai ibadah mu jelek?”
“Allah Maha Mengapresiasi. (Laa udhii’u ‘amala ‘aamilin minkum min dzakarin au untsa). Allah tidak menyia nyiakan amal perbuatan seseorang diantara kalian, laki laki atau perempuan. Fa man ya’mal mitsqoola dzarrotin khoiron yarroh. Allah akan Membalas amal baik manusia, walaupun amalnya hanya sebesar biji atom.”
“Kamu fikir Allah akan menyia nyiakan shalat kamu yang sambil harus memegang anak yang naik ke punggung kamu? Atau kamu fikir hanya ibadah mahdhoh kamu saja yang Membuat Allah senang?”
“Allah Akan Mencintaimu saat kamu mengurus titipan titipanNya, anak anak yang kamu rawat. Anak anak yang kamu ajak shalat, anak anak yang ikut kamu ngaji, anak anak yang kamu ajari, anak anak yang kamu ajak main, kamu beri jajanan, kamu gembirakan dan hibur setiap saat. Allah juga Sangat Menghargai pekerjaan kamu mengurus rumah, mencuci, memasak, membersihkan rumah, melayani suami dan anak anakmu. Semua itu amal ibadah kamu yang ghoiro mahdhoh. Dan semua itu Bernilai Besar di sisi Allah.”
Ingat gak dengan kisah para shahabiyah zaman Rasul?”
“Atsma binti Yazid, wakil kaum perempuan, pernah protes pada Rasul. Karena para laki laki bisa mendapat pahala dari shalat berjamaah dan jihad sedangkan para perempuan lebih diutamakan beramal di dalam rumah. Mengurus rumah, melayani suami dan anak anak mereka. Bagaimana bisa mereka mampu menyamai ibadah para laki laki dan mendapat pahala seperti kamu laki laki?”
“Dan RasulluLlah SAW menjawab bahwa amal nya para wanita di dalam rumah bisa menyamai amal para laki laki. Para perempuan bisa mendapat pahala yang menyamai pahala untuk para laki laki dengan pekerjaan dan urusan mereka di dalam rumah.”
“Dengan jawaban itu, para wanita mukmin merasa senang. Karena yang mereka tuju adalah Allah. Bagaimana bisa Menyenangkan Allah. Bukan jenis amalnya. Dan saat mereka tahu bahwa amal ibadah mereka dalam bentuk mengurus rumah dan keluarga bisa menyenangkan Allah, sama seperti shalat berjamaah di masjid atau jihad, mereka, para wanita itu gembira.”
“Jadi kenapa kamu mesti kesal dan merasa terganggu dengan masalah anak anak yang terkesan mengganggu ibadah kamu?”
Aku paham itu. Aku hanya kesal karena target targetku jadi banyak terbengkalai karena anak anak.
“Memangnya kamu ibadah untuk siapa? Untuk Allah atau untuk target Ego kamu?”
Jleb.
“Kalau kamu ibadah untuk Allah, dan kamu yakin Allah Maha Mengapresiasi amal ibadah manusia, kenapa kamu kesal saat target harian tidak tercapai karena kamu mengurus titipan titipan Allah?”
“Kenapa mesti mengeluh saat harus shalat sambil digelayuti anak yang Allah titip? Toh kamu shalat untuk Allah, ngurus anak juga untuk Allah. Meski repot, tapi kalau untuk Allah, berharap Allah Ridho Allah, kenapa kesal ?” Retoris Innerku.
Masalahnya target ibadah harian aku jadi gak tercapai.
“itulah masalah utamanya. Kamu ibadah untuk mencapai target. Kamu ibadah untuk memenuhi ego kamu. Bukan murni untuk Allah. Kamu merasa puas saat target harian kamu tercapai. Ibadah kamu bukan untuk Allah semata. Tapi untuk kepuasan ego kamu. Kamu jadi merasa tertekan saat target tak tercapai. Lalu kamu tumpahkan rasa tertekan itu dalam bentuk kesal pada anak anak kamu. Menganggap mereka sebagai pengganggu Ego kamu. Pada akhirnya, ibadah seperti itu bukan mendekatkan, malah menjauhkan kamu dari Allah.”
“Esensi ibadah menghamba pada Allah jadi hilang. Berganti menghamba pada ego diri. Yakinlah jika ibadahmu seperti ini, Kamu akan lelah. Jangankan kenikmatan ibadah, bahkan kedekatan dengan Allah pun tidak akan tercapai. Pada titik tertentu, ibadah seperti ini hanya akan berakhir tanpa hasil. Ibarat bulir padi yang kosong. Tidak ada isi.”
Aku diam.
Benar.
Aku sudah tersesat. Ibadahku bukan untuk Allah. Untuk ego pribadi. Atas nama target. Pantas saja aku tidak merasakan nikmatnya. Dan pantas saja jika aku jadi merasa anakku pengganggu ibadahku.
Padahal jika saja aku tidak terbuai target si ego, se repot apapun ibadah sambil ngurus anak anak, tidak akan membuatku kesal. Bukankah Rasul pun pernah sujud lama saat shalat karena cucu beliau bermain main di punggungnya? Dan Beliau tidak kesal apalagi marah pada cucu Beliau SAW.
Ya karena shalat adalah ibadah mahdhoh yang disukai Allah. Mengurus anak titipan Allah, dan membuat anak senang juga ibadah ghoiro mahdhoh yang disukai Allah. Jadi, seharusnya kedua amal tersebut, aku lakukan saja dengan senang hati.
“Memiliki target dalam ibadah bukanlah hal yang salah. Jadikanlah target sebagai penyemangat untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Namun jangan jadikan target sebagai tujuan. Karena itu hanya akan memperbesar ego dan menjauhkan keikhlasan dalam ibadah. Simplenya, jika ibadah kita untuk Allah, sadarilah bahwa Allah lah yang membuat kita mampu mencapai target. Bukan diri kita sendiri. Dan pada saat target tidak tercapai, kita segera sadar betapa lemahnya diri kita. Bahkan untuk ibadah pun kita butuh Bantuan Allah.”
Laa haula wa laa quwwata illa biLlahi.
Ampuni aku yaa Allah. Aku tersesat. Ibadahku bukan untukMu. bimbing aku yaa Allah agar bisa beribadah hanya untukMu. Aamiin.
Mau mendapat bimbingan untuk bisa ikhlas ibadah untuk Allah? Ikuti privateclass MMA “Mudahnya Mencintai Allah” bersama Komunitas Rumah Riyadhoh. Acara diselenggarakan setiap hari ahad. Bertempat di ruang training Toko Kue Rafita’s Cake. Training ini terselenggara atas kerjasama Komunitas Rumah Riyadhoh bersama Toko Kue Rafita’s Cake.
Wassalam.
www.rumahriyadhoh.com
25/08/2022
Pertarungan Sepanjang Masa (part 1)
Obrolan sore ini cukup menguras energiku untuk berfikir. Awalnya, Anak remajaku bertanya tentang kasus pembunuhan yang sedang marak diulas oleh Media Nasional. Ya, kasus yang sangat menohok jantung aparat bahkan institusi keamanan di negeri ini. Seorang perwira yang dibunuh oleh Atasannya. Entah apa alasannya, karena begitu banyak ulasan alasannya, dimulai masalah skandal, hingga LGBT. Terus terang, aku tidak tertarik untuk menyimaknya. Karena kasus-kasus seperti ini acapkali sering terjadi, dan di boomingkan, entah untuk alasan politik, kekuasaan dan jabatan ataupun untuk menutupi isu lain.
Bukan tidak mau tahu, hanya saja aku cukup muak dengan permasalahan seperti itu. Kriminalitas, masalah ekonomi, dan politik sering berkaitan dalam satu kasus. Mungkin benar kata novel yang kubaca. Negeri ini penuh dengan para bedebah yang haus kekuasaan, harta, dan jabatan. Dan mereka sama sekali tidak peduli dengan yang Namanya Keadilan, ataupun Kemakmuran bagi rakyat negeri ini.
Pertanyaan anakku saat itu cukup kritis. “Kenapa sih manusia membunuh manusia lain? Seolah nyawa itu begitu murah? Jika pada akhirnya seseorang hanya menjadi seorang pembunuh, kenapa Allah menciptakan dia? Bukankah lebih baik Allah ciptakan saja semua manusia itu baik. Sehingga tidak akan ada kejahatan di dunia ini. Dan kita semua bisa hidup dengan tenteram.” Ujarnya.
Aku tidak mengira pertanyaan itu bisa lolos dari mulut anakku yang sehari hari kerjaannya hanya main game dan nonton anime pertarungan. Namun, mungkin inilah sisi keajaiban yang Allah beri pada manusia. Akal Fikiran, hati Nurani yang ada pada manusia. manusia bisa mencerap fakta yang terjadi, dan memberikan penilaian atas fakta. Di tambah hati Nurani yang tidak menyukai hal hal yang kejam, serakah, tidak adil, dan hal hal yang dirasa tidak baik serta menyalahi fithrahnya.
“Nak, ingat tidak dalam Surat Al Baqarah ayat 30, tentang Penciptaan Nabi Adam as?” Tanyaku.
“Yang isinya Allah menciptakan manusia untuk menjadi Khalifah Fil Ardh?” Tanyanya.
“Yup. Di dalam ayat tersebut, Allah menyampaikan pada malaikat bahwa Allah akan menjadikan manusia itu Khalifah Fil Ardh. Manajer, yang mengelola bumi ini. Lantas apa kata malaikat?” Ujiku.
“Malaikat bertanya, Apakah Allah akan menjadikan orang yang merusak bumi dan menumpahkan darah di bumi. Sedangkan para Malaikat selalu bertasbih memuji Allah dan mensucikan Allah?” Jawabnya.
“Dan Allah berfirman, sungguh Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh Makhluknya.” Lanjutku.
“Jadi, Allah Tahu bahwa sebagian manusia akan melakukan pertumpahan darah, dan merusak bumi. Namun Allah juga Tahu bahwa ada manusia yang benar benar bisa menjadi Khalifah di bumi. Yang menjaga, mengelola bumi ini dengan benar sesuai keinginan Allah. Bahkan Allah Tahu ada manusia yang akan bertasbih, memuji, dan mensucikan Allah di bumi ini. Kamu tahu kenapa?” Tanyaku.
“Allah Yang Menciptakan Manusia Bu, otomatis Allah Maha Tahu segala hal tentang CiptaanNya ini.” Jawab anakku.
“Exactly, Allah Yang Maha Tahu tentang diri manusia. tentang diri kita. Bagaimana dengan manusia sendiri? Kamu, misalnya tahu tentang diri kamu sendiri? Potensi apa saja yang ada pada diri kamu? Untuk apa kamu diciptakan?” Tanyaku.
“Aku kurang paham bu. Tapi kata pa Ustadz, kita diciptakan untuk beribadah.” Jawabnya.
Aku tersenyum. Yup. Betul.
“Lantas kenapa ada orang yang menumpahkan darah dan merusak bumi? Apa mereka tidak tahu kalau mereka diciptakan untuk ibadah pada Allah? Bukankah itu bertentangan dengan Fithrah manusia?” Tanyanya.
“Nak, Manusia adalah Makhluk ciptaan Allah yang terbaik. Allah menciptakan manusia fii ahsani taqwiim. Bentuk terbaik, karakter terbaik, potensi terbaik. Dan Allah menciptakan manusia itu untuk menjadi hamba, atau abdun, Ibaad nya Allah. Menjadikan Allah satu satunya Rabb. Pemilik, Raja, Penguasa, Pengatur, Pelindung, Pemberi dan seluruh hal yang ada dalam Asmaul husna. Saat Allah menciptakan kita dalam bentuk Ruh, atau arwah, Allah mengumpulkan seluruh Ruh atau Arwah ini. Lalu Allah bertanya. ‘A lastu bi Rabbikum? Bukankah Aku adalah Tuhan kalian?’ dan Ruh Ruh atau Arwah itu menjawab. ‘Balaa syahidnaa’. Yaa Benar, kami bersaksi.”
“Jadi Ruh kita masing masing sudah bersaksi dan berjanji menjadikan Allah sebagai satu satunya Rabb Manusia. Ruh ini bersifat suci karena langsung diciptakan Allah. Ruh ini selalu cenderung pada kebaikan dan segala hal baik sesuai dengan Keinginan Allah. Ruh ini, ditiupkan pada tubuh atau raga manusia saat dalam kandungan ibu.”
Di Hadits Riwayat Bukhari Muslim, disebutkan bahwa ‘manusia diciptakan dalam Rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk Nuthfah, lalu menjadi segumpal darah (Alaqah) selama 40 hari, lantas berubah menjadi segumpal daging (Mudghah) selama itu juga, lalu Allah utus Malaikat untuk meniupkan Ruh kepadanya.
Hanya saja, saat manusia lahir, Ruhnya dalam keadaan lupa.
Manusia lahir dengan karakteristik fisik yang menurun dari orang tuanya. Karakter dan sifatnya juga terpengaruh dengan sifat dan karakter orangtuanya. Sekaligus makanan yang dimakan orang tuanya. Amal perbuatan orang tua, terutama ibunya ikut berpengaruh. Harta halal atau haram yang didapat orang tuanya lantas dimakan oleh sang anak juga berpengaruh pada fisik dan sifat yang dikandung anak. Sedangkan ruh nya tidak terpengaruh apapun, selain pengaruh dari Rabb nya.
Seiring dengan perkembangan fisik seseorang, perkembangan akal fikiran, serta perasaannya, dan Ruh ini mulai ingat pada Rabb nya, maka muncullah pergolakan bathin dalam hati manusia. misalnya kamu. Kalau malam malam bangun, kamu pilih tahajud atau main game? Apalagi kalau malam internet lagi lancar jaya. Saat subuh, pilih ke masjid yang sholatnya lama, atau shalat sendiri di rumah, yang cepet. Abis shubuh pilih ngaji atau tidur lagi? Nah itu kan pergolakan bathin kamu.
“Kenapa ada pergolakan bathin? Tadi katanya Ruh kita dari Allah, suci selalu menyuruh pada kebaikan yang dikehendaki Allah.” Tanyanya.
(bersambung)
www.rumahriyadhoh.com
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Contact the public figure
Telephone
Website
Address
Jalan Situ Pete Blok Bambu
Bogor
16165