Fendy

Fendy

Share

02/08/2025

Judul ~ Ngidam yang Menyesatkan
_____________

Pagi itu suasana di kampung Damai Indah terasa adem dan syahdu. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Burung-burung berkicau riang seolah menyambut datangnya hari baru. Di teras rumah sederhana bercat kuning pucat, sepasang suami istri muda sedang duduk santai. Sang suami, Dika, menikmati kopi hitam di gelas email favoritnya, sementara istrinya, Rara, berdiri di depan Dika sambil mengelus perut buncitnya yang kini masuk bulan ke-7 kehamilan.

“Bang.. aku ngidam nih,” kata Rara dengan tatapan sendu yang dibuat-buat, bibir sedikit manyun seperti anak kecil yang kehilangan es krim.

Dika yang tadinya santai menyeruput kopi langsung siaga. Pengalaman beberapa minggu terakhir membuatnya paham betul, kalau istrinya ngomong "ngidam", itu bukan sekadar minta makanan—itu kayak misi rahasia dengan tingkat kesulitan tinggi. Kadang malam-malam ngidam bubur dari warung yang udah tutup, kadang minta bakso yang cuma ada di kota sebelah. Tapi Dika tahu, ini adalah ujian cinta seorang suami.

“Pengen banget makan mangga,” lanjut Rara sambil meringis manja, seolah-olah kalau nggak dikabulin bakal pingsan saat itu juga.

“Oh, ok Dek,” jawab Dika sambil berdiri dari kursi kayu yang sudah mulai berderit kalau diduduki terlalu lama. “Bentar ya, Abang ke pasar dulu cari mangga yang seger.”

Dika sudah siap ambil kunci motor, niatnya mulia: demi istri dan calon anak tercinta. Tapi baru juga mau melangkah, Rara dengan sigap menarik ujung sarung Dika.

“Ngk mau yang di pasar, Bang...” ucap Rara dengan nada pelan, tapi mata berbinar penuh strategi. “Aku maunya... nyuri mangga di pohon depan rumah Pak RT!”

Dika langsung beku di tempat. Kopi di perut rasanya mendadak naik ke ubun-ubun.

“Haah?!” Dika melotot. “Dek, itu bukan ngidam, itu ngajak Abang masuk penjara!”

Rara hanya nyengir malu-malu. Tapi tetap ngotot. Katanya, mangga di pasar itu beda, nggak ada wibawanya. Yang di depan rumah Pak RT itu lebih menggoda

02/08/2025

Judul: "Pelajaran dari Om Gendut"

Pagi itu di sebuah rumah kayu sederhana yang sejuk dan bersahaja, keluarga kecil Rini dan Bagas sedang duduk santai di teras. Di atas meja bundar dari kayu, tersaji gorengan hangat dan dua cangkir teh manis. Burung-burung berkicau, suasana adem, damai... pokoknya vibes-nya bikin ngantuk kalau habis sarapan.

Tiba-tiba dari kejauhan, terdengar suara langkah kecil berlari tergesa-gesa. Ternyata si kecil Lala — anak perempuan mereka yang baru berusia 4 tahun — p**ang dari main di rumah nenek sebelah.

Tapi bukannya ceria seperti biasanya, Lala malah datang sambil merengut. Mukanya ditekuk, matanya berkaca-kaca. Dia berdiri di depan mamanya dengan ekspresi campuran antara sedih dan marah.

Melihat itu, Rini buru-buru menyambutnya dengan heran, “Lho, kok anak cantik Mama nangis?”

Lala langsung nyembur dengan suara bergetar, “Tadi aku dicium Om Gendut, Ma… Pipiku dielus-elus… Aku kan bukan istrinya!”

Bagas yang tadinya lagi ngunyah tahu isi langsung tersedak. Sambil batuk-batuk kecil, dia melongo ke arah Lala.
“Lah ini anak nonton apa semalem? Kenapa kayak adegan sinetron jam 7 malam?” batinnya.

Rini pun terdiam sejenak, berusaha menahan ketawa. Tapi akhirnya nggak tahan juga, dan langsung menjawab sambil ngakak, “🤣 Astaga… makanya, Nak, nontonnya kartun aja, jangan sinetron terus!”

Lala cemberut makin dalam. “Tapi aku liat di TV kemarin, ada perempuan dielus p**inya terus dinikahin. Aku takut jadi istri Om Gendut... aku kan masih kecil!”

Bagas udah nggak bisa nahan. Dia tertawa sampe pegang perut. “Nak... kamu itu cuma dicium karena kamu lucu dan gemesin. Bukan buat dilamar! Lagian, Om Gendut itu punya istri... dan istrinya juga s**a elus p**i suaminya kalau lagi pengen pinjam duit,” katanya sambil cekikikan.

Rini akhirnya memeluk Lala dan menjelaskan dengan sabar, “Sayang... sinetron itu cuma cerita di TV. Bukan kenyataan. Ciuman sayang kayak Om keponakan, itu biasa. Nggak berarti kamu langsung jadi istri.”

Lala mulai tenang

02/08/2025

Ini cerita khusus 21++ tidak untuk anak di bawah umur

Aku Cinta Kamu Om

BAB1

Aroma nasi goreng yang baru matang memenuhi ruang makan rumah keluarga itu. Ibu Luna, Bu Ratna, dengan cekatan menuangkan teh hangat ke dalam gelas, sementara Arman, ayah Luna, duduk membaca koran pagi. Di seberang meja, Om Rudi adik dari Bu Ratna juga sedang menikmati sarapannya dengan diam.

Luna duduk di kursinya dengan malas, sesekali memainkan sendoknya di atas piring. Ia masih mengantuk, semalam Reno, pacarnya, mengajaknya keluar hingga larut malam.

"Kami sudah bilang, Luna. Jangan terlalu dekat dengan Reno," suara Bu Ratna terdengar tegas, membuat Luna mendesah kesal.

"Iya, Bu," jawabnya setengah hati.

"Ayah dan Ibu tidak s**a anak itu. Dia terlalu bebas, dan orang tuanya bahkan tidak peduli dengan apa yang dia lakukan. Kamu masih SMA, Luna," lanjut Pak Arman dengan nada serius.

Luna meletakkan sendoknya dengan agak kasar. "Lagi p**a, Ibu jangan melarang aku pacaran. Aku sudah besar!" katanya dengan nada protes.

Om Rudi yang sejak tadi diam akhirnya melirik keponakannya itu. "Besar bukan berarti bisa melakukan semuanya ses**a hati, Lun."

Luna menoleh dan tersenyum jahil. "Kalau aku nggak pacaran, nanti aku jadi kayak Om Rudi. Perjaka tua!" godanya sambil melirik pria itu.

Om Rudi berhenti mengunyah dan mendesah pelan. "Luna, Om sibuk kerja. Bukan berarti nggak mau nikah."

Luna tertawa kecil. "Iya, sibuk kerja terus. Sampai lupa cara jatuh cinta kali, ya?"

Bu Ratna menatap Luna tajam. "Jangan bicara begitu ke Om-mu."

Luna hanya mengangkat bahu, tidak peduli. Sementara itu, Arman melipat korannya dan menatap putrinya dengan serius.

"Luna, kami cuma ingin yang terbaik buat kamu. Reno bukan laki-laki yang baik. Kami nggak mau kamu salah jalan," ujarnya.

Luna mendengus. "Cuma karena dia sedikit nakal, bukan berarti dia jahat, Yah."

"Sedikit nakal?" Om Rudi mengangkat alisnya. "Kamu tahu sendiri dia sering mabuk-mabukan dan berkelahi."

"Dia nggak seburuk itu," Luna membela

31/07/2025

Judul : Pernikahan Mafia Kejam & Gadis Bar-bar

"Memangnya orang tuamu tidak membiayai mu, sehingga kamu memilih kerja?" tanya El.

Echa mengangguk dengan wajah polosnya, sembari menarik napas dalam. Ia tidak mau menjelaskan betapa pahit hidupnya, cukup ia saja yang tahu dan rasakan, orang lain tidak perlu karena ia tidak mau dikasihani.

"Ini, Om, sudah Echa tandatangani," ucapnya menyerahkan kertas tersebut pada lelaki itu.

El mengambil kertas itu dan kembali menatap tandatangannya dan Echa yang tertera di sana jelas dengan nama dan bahkan ada matrai yang tertempel.

"Om, apa Echa masih boleh kuliah?" tanya Echa.

"Aku tidak melarang mu untuk kuliah, jadi itu terserah kamu, aku tidak peduli," sahut El dengan suara tajam, tetapi juga sinis. "Satu lagi, jangan sampai ayah tahu soal surat perjanjian ini. Jika kamu memberitahu ayah, ku pastikan kamu akan menyesal selama hidup!" ancam El.

Bukannya takut Echa malah menguap beberapa kali, seolah mengejek suaminya. Tatapan nyalang lelaki itu sama sekali tak menakutkan karena sudah terbiasa melihat tatapan kebencian dari sorot mata ayahnya.

El mengernyit pelan, memperhatikan gadis di hadapannya yang tengah duduk dengan posisi bersila di sofa, mengenakan piyama bergambar kelinci, dan wajah polos tanpa dosa. Reaksi gadis itu tidak seperti yang ia harapkan. Tak ada ketakutan, tak ada kepanikan, bahkan nada ancaman pun tak mampu membuatnya gentar. Echa malah menguap beberapa kali sambil menahan tawa.

“Tenang saja, Om, mulut Echa bukan terbuat dari ember apalagi baskom,” katanya sembari memainkan ujung rambutnya yang ikal.

El menghela napas panjang. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan anak remaja yang tak mengerti betapa seriusnya ancaman barusan. Tangannya memutar-mutar bolpoin di antara jari-jarinya, kemudian meletakkannya di atas meja kaca dengan suara tak! yang cukup keras, tetapi tetap tak berhasil mengusir kesan santai dari wajah Echa.

31/07/2025

Assalamualaikum

Apa kabar semuanya maaf jarang online nih 🙏

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Bantul?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address


Yogyakarta
Bantul
15112