Sentuhan Hati Nurani

Sentuhan Hati Nurani

Share

19/04/2026

Deni sama Wulan itu pasangan udah nikah 3 tahun. Hidup pas-pasan, ngontrak di Bandung pinggiran. Tiap malem mereka ngobrolin mimpi yang sama: pengen kaya, pengen hidup enak, gak mau lagi ngitung receh buat makan. Dari obrolan iseng, lama-lama jadi rencana beneran. Mereka sadar, kalau kerja jujur, kayaknya 20 tahun lagi juga belum tentu kebeli rumah.

Akhirnya muncul ide gila. Mereka mau “main sandiwara”. Sasarannya pasangan tajir: Pak Arman sama Bu Mira, bos properti yang rumahnya kayak istana. Sering wara-wiri di mall, arisan, acara amal. Deni sama Wulan udah ngintilin medsosnya berbulan-bulan. Udah hafal jadwal, hobi, bahkan makanan kes**aan. Tinggal nunggu momen buat masuk ke hidup mereka.

Aturannya jelas: Deni sama Wulan harus pura-pura gak kenal. Ketemu di jalan pun harus cuek. Deni tugasnya deketin Bu Mira yang kesepian karena Pak Arman sibuk kerja. Wulan kebagian Pak Arman yang s**a cewek pinter ngomong. Mereka latihan akting tiap malem. Belajar gaya bicara orang kaya, belajar golf, belajar wine, padahal di rumah minumnya teh tubruk.

Hari pertama dimulai di mall Paris Van Java. Deni “gak sengaja” numpahin kopi ke gaun Bu Mira. Sori-sorian, ganti rugi, ngobrol. Bu Mira luluh karena Deni keliatan tulus dan sopan. Di sisi lain, Wulan “gak sengaja” kepentok Pak Arman di toko buku. Ngobrolin saham, ngobrolin bisnis. Pak Arman kaget, ada cewek muda cakep tapi nyambung diajak ngomong duit.

Malamnya, Deni sama Wulan ketemu di kontrakan. Laporan hasil hari pertama. Ketawa-tawa bareng, tapi juga deg-degan. “Ini baru mulai, Lan. Jangan sampe baper beneran ya,” kata Deni. Wulan ngangguk, tapi matanya nyimpen sesuatu. Rencana jalan, tapi perasaan manusia siapa yang tau.

Deni dapet WA dari Bu Mira: “Makasih ya buat hari ini. Besok bisa temenin saya milih kado buat suami?” Deni senyum licik. Di HP lain, Wulan juga dapet chat dari Pak Arman: “Besok sempet makan siang? Ada deal yang mau saya omongin.” Mereka saling pandang. Pion udah jalan.

Tapi pas mau tidur, Wulan gak sengaja buka galeri HP Deni. Ada foto selfie Deni sama Bu Mira di mobil, keliatan deket banget. Dada Wulan tiba-tiba panas. Ini kan cuma akting, tapi kenapa sakit? Cliffhanger: Apa Wulan bakal cemburu beneran dan ngerusak rencana mereka sendiri?

lanjutannya ada di update berikutnya ya…

08/04/2026

Apa Jadinya Jika Rumah Kaca Kita Dilempari Batu Oleh Egomu dan Izin Keluargamu


tags:
sindiran untuk suami egois
kata2 untuk suami egois
curahan hati istri untuk suami egois
kata kata untuk suami egois dan keras kepala
kata kata islami untuk suami egois
kata bijak untuk suami egois
kata mutiara untuk suami egois
doa untuk suami egois
suami egois dan pemarah
kata bijak untuk suami yang egois
kata bijak islami untuk suami yang egois
caption untuk suami yang egois
cara untuk menghadapi suami yang egois
ceramah untuk suami yang egois
cara membuat suami egois kapok
cara mengatasi suami egois dan keras kepala
cara mengatasi suami egois mau menang sendiri
sindiran untuk suami egois dan keras kepala
kata kata untuk suami yang egois dan keras kepala
mengatasi suami egois dan pemarah
doa untuk melembutkan hati suami yang egois
wirid untuk meluluhkan hati suami yang keras dan egois
sindiran halus untuk suami yang egois
ego suami terhadap istri
jenuh menghadapi suami egois
quote untuk suami yang egois
kata kata kecewa untuk suami yang egois

26/03/2026

Ada luka yang tidak berdarah, tapi baunya busuk… seperti sesuatu yang mati perlahan di dalam dada.

Malam itu, aku masih duduk di kursi yang sama. Tempat di mana dulu kau bersimpuh, menggenggam tanganku, berjanji akan menjagaku seumur hidup. Hujan turun tipis, seperti sengaja menutupi suara retak yang mulai terdengar dari dalam diriku.

Kau selalu tahu bagaimana terlihat tulus. Tatapanmu lembut, caramu menyebut namaku seperti doa yang diulang-ulang. Aku mengira aku dipilih karena cinta. Karena hati. Karena takdir.

Ternyata, aku hanya angka yang menunggu untuk dihitung.

Awalnya kecil. Pertanyaan tentang aset keluarga. Candaan soal masa depan. Lalu berubah jadi perhatian yang terlalu rapi—terlalu tepat waktu, terlalu sempurna. Seperti seseorang yang sedang memainkan peran, bukan merasakan.

Sampai hari itu.

Aku berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, mendengar namaku disebut… bukan dengan cinta, tapi dengan hitungan.

“Kalau semua sudah balik nama, kita aman.”

Kalimat itu jatuh seperti palu, menghantam sesuatu yang selama ini aku lindungi mati-matian. Dadaku kosong. Bukan karena kehilangan, tapi karena semuanya tiba-tiba terasa palsu.

Aku ingin marah. Ingin berteriak. Tapi yang muncul justru tawa kecil—aneh, pahit, hampir tidak terdengar.

Bagaimana bisa aku, yang selalu merasa cukup, ternyata hanya alat yang dibungkus perasaan?

Di titik itu, egoku mulai bicara. Mungkin aku terlalu mudah percaya. Terlalu ingin dicintai. Atau mungkin… aku hanya tidak pernah benar-benar melihat siapa yang berdiri di depanku.

Kau tidak berubah.

Aku yang terlambat mengerti.

Dan di sanalah twist-nya terasa kejam—bukan kau yang menghancurkanku sepenuhnya. Aku ikut membangunnya. Aku yang menutup mata saat tanda-tanda itu berteriak.

Cinta itu seperti rumah yang kubangun dari kaca. Indah, transparan, memantulkan cahaya… tapi rapuh. Dan kau? Kau hanya menunggu waktu yang tepat untuk melempar batu pertama.

Lucunya, semua orang di luar terlihat tahu. Tatapan mereka, bisikan kecil yang dulu kuanggap iri. Sekarang terasa seperti potongan puzzle yang akhirnya menyatu.

Seolah aku satu-satunya yang tidak diundang dalam kebenaran itu.

Tapi sesuatu berubah malam ini.

Aku tidak lagi merasa hancur.

Aku merasa… kosong yang anehnya tenang.

Seperti laut setelah badai—masih menyimpan sisa amarah, tapi permukaannya mulai diam.

Aku berdiri, berjalan pelan ke arah cermin. Menatap seseorang yang dulu kuanggap lemah.

Sekarang, aku melihat seseorang yang akhirnya sadar.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya kenapa ini terjadi.

Aku bertanya… kenapa aku membiarkannya.

Langkah kakimu terdengar di belakangku. Pelan. Hati-hati. Seperti biasa—terukur.

Aku tersenyum tipis.

Karena kali ini, aku tidak akan menjadi peran dalam rencanamu lagi.

Tapi sebelum aku berbalik dan mengatakan semuanya…

aku ingin tahu satu hal—

sejak kapan sebenarnya kamu mulai berpura-pura mencintaiku?

24/03/2026

Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini semua hanya perasaan berlebihan. Bahwa mungkin aku hanya terlalu sensitif, terlalu banyak berpikir tentang hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting.

Bukankah hubungan memang akan berubah seiring waktu? Bukankah tidak semua hari harus penuh perhatian dan kehangatan?

Aku mengulang-ulang logika itu di kepalaku, mencoba menenangkan sesuatu yang sebenarnya sudah mulai retak dari dalam. Tapi semakin aku mencoba mengerti, semakin muncul pertanyaan yang tidak bisa aku jawab.

Kenapa sekarang terasa sepi, padahal dia masih ada di rumah yang sama? Kenapa aku merasa sendirian… padahal kami tidak pernah benar-benar berpisah?

Atau… mungkin selama ini aku memang sendirian, hanya saja baru sadar sekarang?

Kalau kamu di posisi dia… kamu bakal diam, atau mulai nanya?

Jawab di komentar, dan lanjutannya sudah aku sambung di posting berikutnya.

22/03/2026

Hanya karena aku telat bangun pagi...

Tag:
kata-kata sindiran halus untuk suami yang egois,
kata kata sindiran buat suami yang egois,
kata sindiran untuk suami yang egois,
kata kata sindiran buat orang egois,
kata sindiran halus untuk suami,
kata kata sindiran halus tapi menyakitkan untuk suami,
kata kata bijak untuk istri yang egois,
kata kata sindiran buat suami yang tidak peka,
kata2 sindiran buat suami yang kurang perhatian,
kata kata sindiran buat bos yang egois,
sindiran buat suami yang egois,
kata sindiran buat pacar yang egois,
kata kata sindiran buat cowok yg egois,
kata2 sindiran buat suami egois,
kata kata nyindir suami yang egois

Want your business to be the top-listed Media Company in Bandung?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address


Bandung