Life Bloom

Life Bloom

Share

13/11/2017

Tawa sebagai Terapi dan Tawa yang Menjadi Fobia

Dyann Kemala Arrizqi menyatakan bahwa ia hanya iseng mengedit gambar pasien laki-laki yang terbaring di Rumah Sakit itu. Ia mengganti alat bantu pernapasan yang dikenakan si pasien dengan topeng hitam menyeramkannya Darth Vader. Sementara itu, di kanan kirinya berdiri Luke Skywalker dan Yodha. Dua tokoh di film Star Wars tersebut berpose layaknya penjaga setia si pasien bertopeng.

Meme editan tersebut beredar viral di kalangan netizen. Satu alasan utama yang membuat meme ini begitu laku di masyarakat dunia maya adalah karena mereka mendapat bahan konyol untuk ditertawakan bersama-sama.

Sialnya, Setya Novanto, si pasien bertopeng itu tidak terima dengan banyaknya meme tentang dirinya. Kekesalannya berujung pelaporan terhadap Dyann ke pihak berwajib dengan tuduhan mencemarkan nama baik. Pelaporan dari Setya Novanto membuktikan perkara tertawa-menertawakan bisa menjadi sangat serius.

Namun tawa memang sangat serius! Bagaimana tidak serius, tertawa menurut sejumlah penelitian bahkan dianggap sebagai penyembuh untuk manusia. Jadi, berbahagialah bagi yang gemar tertawa — apalagi jika mampu menertawakan diri sendiri.

Tertawa adalah komponen vital untuk menjalankan fungsi sosial dan emosional dalam beradaptasi. Tawa tidak hanya dilakukan manusia, namun juga pada golongan kera dan primata. Hal ini juga yang dipercaya bisa membantu mereka bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Karena tertawa adalah kegiatan komunal yang menghadirkan ikatan dan menekan potensi munculnya konflik dalam sebuah komunitas, bagi manusia hingga primata.

Selain itu, tertawa juga memiliki kekuatan menyingkirkan emosi-emosi lain, meski hanya sesaat. Siapa pun tidak bisa marah sambil tertawa, atau juga tidak sesenggukan sembari tertawa. Hal ini dikarenakan, ketika tertawa otot wajah dan suara vokal akan terbentuk sedemikian rupa untuk menghasilkan ekspresi khas yang tidak sama dengan ekspresi yang lain. Semua proses itu dikendalikan sirkuit otak yang secara khusus membawa pesan kimia atau yang dikenal dengan istilah neurotransmitter.

Pascal Vrticka dalam Nature Reviews Neuroscience menjelaskan bahwa tertawa dapat meningkatkan fungsi kardiovaskular, memperkuat sistem kekebalan tubuh dan endokrin. Selain itu, William R. Klemm juga menyampaikan bahwa "tertawa adalah obat yang baik". Ia menjelaskan tertawa membantu mengurangi tekanan darah dan menurunkan tingkat glukosa darah dalam tubuh. Tertawa juga diyakini mampu meringankan stres, menekan rasa cemas, dan meningkatkan rasa nyaman.

Peningkatan imunitas atau kekebalan tubuh terjadi karena adanya transmisi hormon kortisol di otak ketika tertawa. Hormon kortisol ini yang berperan dalam imunitas/kekebalan tubuh dari penyakit.

Ada beberapa bagian otak yang mempunyai tanggungjawab khusus ketika seseorang tertawa. Saat tertawa, diproduksi juga hormon endorphin dan serotonin -- jenis-jenis hormon yang menciptakan rasa senang.



Tawa sebagai Terapi dan Tawa yang Menjadi Fobia
Tawa sebagai Terapi dan Tawa yang Menjadi Fobia
Ilustrasi tertawa. Getty Images/iStockphoto
27 Shares
Reporter: Yulaika Ramadhani
09 November, 2017
dibaca normal 2:30 menit

Gelatophobiia adalah perasaan sangat takut ditertawakan orang lain.

Selain sebagai obat penyembuh yang baik, tertawa juga merupakan fobia serius bagi sejumlah manusia
tirto.id - Dyann Kemala Arrizqi menyatakan bahwa ia hanya iseng mengedit gambar pasien laki-laki yang terbaring di Rumah Sakit itu. Ia mengganti alat bantu pernapasan yang dikenakan si pasien dengan topeng hitam menyeramkannya Darth Vader. Sementara itu, di kanan kirinya berdiri Luke Skywalker dan Yodha. Dua tokoh di film Star Wars tersebut berpose layaknya penjaga setia si pasien bertopeng.

Meme editan tersebut beredar viral di kalangan netizen. Satu alasan utama yang membuat meme ini begitu laku di masyarakat dunia maya adalah karena mereka mendapat bahan konyol untuk ditertawakan bersama-sama.

Sialnya, Setya Novanto, si pasien bertopeng itu tidak terima dengan banyaknya meme tentang dirinya. Kekesalannya berujung pelaporan terhadap Dyann ke pihak berwajib dengan tuduhan mencemarkan nama baik. Pelaporan dari Setya Novanto membuktikan perkara tertawa-menertawakan bisa menjadi sangat serius.

Namun tawa memang sangat serius! Bagaimana tidak serius, tertawa menurut sejumlah penelitian bahkan dianggap sebagai penyembuh untuk manusia. Jadi, berbahagialah bagi yang gemar tertawa — apalagi jika mampu menertawakan diri sendiri.

Baca juga: Meme Setya Novanto: Polisi Hanya Akan Proses Akun yang Dilaporkan

Tertawa adalah komponen vital untuk menjalankan fungsi sosial dan emosional dalam beradaptasi. Tawa tidak hanya dilakukan manusia, namun juga pada golongan kera dan primata. Hal ini juga yang dipercaya bisa membantu mereka bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Karena tertawa adalah kegiatan komunal yang menghadirkan ikatan dan menekan potensi munculnya konflik dalam sebuah komunitas, bagi manusia hingga primata.

Selain itu, tertawa juga memiliki kekuatan menyingkirkan emosi-emosi lain, meski hanya sesaat. Siapa pun tidak bisa marah sambil tertawa, atau juga tidak sesenggukan sembari tertawa. Hal ini dikarenakan, ketika tertawa otot wajah dan suara vokal akan terbentuk sedemikian rupa untuk menghasilkan ekspresi khas yang tidak sama dengan ekspresi yang lain. Semua proses itu dikendalikan sirkuit otak yang secara khusus membawa pesan kimia atau yang dikenal dengan istilah neurotransmitter.

Pascal Vrticka dalam Nature Reviews Neuroscience menjelaskan bahwa tertawa dapat meningkatkan fungsi kardiovaskular, memperkuat sistem kekebalan tubuh dan endokrin. Selain itu, William R. Klemm juga menyampaikan bahwa "tertawa adalah obat yang baik". Ia menjelaskan tertawa membantu mengurangi tekanan darah dan menurunkan tingkat glukosa darah dalam tubuh. Tertawa juga diyakini mampu meringankan stres, menekan rasa cemas, dan meningkatkan rasa nyaman.

Baca juga: Rahasia Panjang Umur Hingga 1 Abad

Peningkatan imunitas atau kekebalan tubuh terjadi karena adanya transmisi hormon kortisol di otak ketika tertawa. Hormon kortisol ini yang berperan dalam imunitas/kekebalan tubuh dari penyakit.

Ada beberapa bagian otak yang mempunyai tanggungjawab khusus ketika seseorang tertawa. Saat tertawa, diproduksi juga hormon endorphin dan serotonin -- jenis-jenis hormon yang menciptakan rasa senang.

Tawa sebagai Terapi dan Tawa yang Menjadi Fobia
share infografik

Mi Youn Cha, seorang peneliti dari Uiduk University, Korea dalam Journal of Academu of Nursing menjelaskan bahwa terapi tawa bahkan terbukti berfungsi sama dengan antidepresan. Kerjanya dengan cara meningkatkan kadar serotonin di otak. Serotonin adalah neurotransmiter penting untuk perasaan sehat dan tenang.

“Jadi terlepas dari gaya humornya, asalkan tidak ada penyakit yang mendasari, tawa kemungkinan akan menjadi obat terbaik,” kata Mi Youn Cha.

Mereka yang takut ditertawakan

Secara klinis, perkara tertawa tidak berhenti pada hal-hal euforia semata. Terdapat sejumlah kondisi yang membuat otak menjadi tidak nyaman dengan proses tertawa ini. Dalam hal ini, pembahasan tertawa akan melibatkan dua kelompok subjek: mereka yang tertawa dan mereka yang ditertawakan.

Ketidaknyamanan ini dikenal dalam dua istilah, gelatophilia dan gelatophobia. Gelatophilia sendiri merupakan kesenangan menjadi orang yang ditertawakan, sedangkan gelatophobiia adalah perasaan sangat takut ditertawakan.

Kemarahan, atau pengaduan, karena orang lain menertawakan kita boleh jadi merupakan bentuk kecemasan ekstrem akibat gelatophobia. Proyer RT dalam International Journal of Psychology menerangkan gelatophobia hadir karena ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan hingga depresi berat, sehingga ia sangat berhati-hati dengan potensi ejekan untuknya.



Tawa sebagai Terapi dan Tawa yang Menjadi Fobia
Tawa sebagai Terapi dan Tawa yang Menjadi Fobia
Ilustrasi tertawa. Getty Images/iStockphoto
27 Shares
Reporter: Yulaika Ramadhani
09 November, 2017
dibaca normal 2:30 menit

Gelatophobiia adalah perasaan sangat takut ditertawakan orang lain.

Selain sebagai obat penyembuh yang baik, tertawa juga merupakan fobia serius bagi sejumlah manusia
tirto.id - Dyann Kemala Arrizqi menyatakan bahwa ia hanya iseng mengedit gambar pasien laki-laki yang terbaring di Rumah Sakit itu. Ia mengganti alat bantu pernapasan yang dikenakan si pasien dengan topeng hitam menyeramkannya Darth Vader. Sementara itu, di kanan kirinya berdiri Luke Skywalker dan Yodha. Dua tokoh di film Star Wars tersebut berpose layaknya penjaga setia si pasien bertopeng.

Meme editan tersebut beredar viral di kalangan netizen. Satu alasan utama yang membuat meme ini begitu laku di masyarakat dunia maya adalah karena mereka mendapat bahan konyol untuk ditertawakan bersama-sama.

Sialnya, Setya Novanto, si pasien bertopeng itu tidak terima dengan banyaknya meme tentang dirinya. Kekesalannya berujung pelaporan terhadap Dyann ke pihak berwajib dengan tuduhan mencemarkan nama baik. Pelaporan dari Setya Novanto membuktikan perkara tertawa-menertawakan bisa menjadi sangat serius.

Namun tawa memang sangat serius! Bagaimana tidak serius, tertawa menurut sejumlah penelitian bahkan dianggap sebagai penyembuh untuk manusia. Jadi, berbahagialah bagi yang gemar tertawa — apalagi jika mampu menertawakan diri sendiri.

Baca juga: Meme Setya Novanto: Polisi Hanya Akan Proses Akun yang Dilaporkan

Tertawa adalah komponen vital untuk menjalankan fungsi sosial dan emosional dalam beradaptasi. Tawa tidak hanya dilakukan manusia, namun juga pada golongan kera dan primata. Hal ini juga yang dipercaya bisa membantu mereka bertahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Karena tertawa adalah kegiatan komunal yang menghadirkan ikatan dan menekan potensi munculnya konflik dalam sebuah komunitas, bagi manusia hingga primata.

Selain itu, tertawa juga memiliki kekuatan menyingkirkan emosi-emosi lain, meski hanya sesaat. Siapa pun tidak bisa marah sambil tertawa, atau juga tidak sesenggukan sembari tertawa. Hal ini dikarenakan, ketika tertawa otot wajah dan suara vokal akan terbentuk sedemikian rupa untuk menghasilkan ekspresi khas yang tidak sama dengan ekspresi yang lain. Semua proses itu dikendalikan sirkuit otak yang secara khusus membawa pesan kimia atau yang dikenal dengan istilah neurotransmitter.

Pascal Vrticka dalam Nature Reviews Neuroscience menjelaskan bahwa tertawa dapat meningkatkan fungsi kardiovaskular, memperkuat sistem kekebalan tubuh dan endokrin. Selain itu, William R. Klemm juga menyampaikan bahwa "tertawa adalah obat yang baik". Ia menjelaskan tertawa membantu mengurangi tekanan darah dan menurunkan tingkat glukosa darah dalam tubuh. Tertawa juga diyakini mampu meringankan stres, menekan rasa cemas, dan meningkatkan rasa nyaman.

Baca juga: Rahasia Panjang Umur Hingga 1 Abad

Peningkatan imunitas atau kekebalan tubuh terjadi karena adanya transmisi hormon kortisol di otak ketika tertawa. Hormon kortisol ini yang berperan dalam imunitas/kekebalan tubuh dari penyakit.

Ada beberapa bagian otak yang mempunyai tanggungjawab khusus ketika seseorang tertawa. Saat tertawa, diproduksi juga hormon endorphin dan serotonin -- jenis-jenis hormon yang menciptakan rasa senang.

Tawa sebagai Terapi dan Tawa yang Menjadi Fobia
share infografik

Mi Youn Cha, seorang peneliti dari Uiduk University, Korea dalam Journal of Academu of Nursing menjelaskan bahwa terapi tawa bahkan terbukti berfungsi sama dengan antidepresan. Kerjanya dengan cara meningkatkan kadar serotonin di otak. Serotonin adalah neurotransmiter penting untuk perasaan sehat dan tenang.

“Jadi terlepas dari gaya humornya, asalkan tidak ada penyakit yang mendasari, tawa kemungkinan akan menjadi obat terbaik,” kata Mi Youn Cha.

Baca juga: Pasangan Humoris dan Resep Awet Menjalin Hubungan
Mereka yang takut ditertawakan
Secara klinis, perkara tertawa tidak berhenti pada hal-hal euforia semata. Terdapat sejumlah kondisi yang membuat otak menjadi tidak nyaman dengan proses tertawa ini. Dalam hal ini, pembahasan tertawa akan melibatkan dua kelompok subjek: mereka yang tertawa dan mereka yang ditertawakan.

Ketidaknyamanan ini dikenal dalam dua istilah, gelatophilia dan gelatophobia. Gelatophilia sendiri merupakan kesenangan menjadi orang yang ditertawakan, sedangkan gelatophobiia adalah perasaan sangat takut ditertawakan.

Kemarahan, atau pengaduan, karena orang lain menertawakan kita boleh jadi merupakan bentuk kecemasan ekstrem akibat gelatophobia. Proyer RT dalam International Journal of Psychology menerangkan gelatophobia hadir karena ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan hingga depresi berat, sehingga ia sangat berhati-hati dengan potensi ejekan untuknya.

Baca juga: Mati karena Tertawa

“Ketakutan yang tidak normal karena diejek timbul dari pengalaman hidup di masa lalu yang pernah diejek atau ditertawakan,” kata Proyer.

Bagi mereka, tawa bisa menjadi hal yang sangat mengganggu, mencemaskan, bahkan menggentarkan. Tawa, lebih tepatnya lagi ditertawakan, bagi mereka sungguh-sungguh situasi yang bukan hanya tak dikehendaki melainkan bahkan bisa memicu fobia.

Proyer menjelaskan gelotophobia juga dikaitkan dengan konektivitas yang buruk antara area otak temporal frontal dan medial. Dua buah organ itulah yang bertanggung jawab untuk memantau dan memproses rangsangan emosional.

Photos 29/04/2017

Mau Jadi Orang yang Kreatif, Rajin-Rajin Jalan Kaki

Berjalan kaki, baik di atas treadmill maupun di alam terbuka, tak sekadar menyehatkan jantung dan tulang tapi juga fungsi otak kita. Sehingga orang yang gemar jalan kaki mampu berpikir baik dan kreatif.

Menurut Pakar dari Stanford University yang sempat melakukan sebuah studi terkait jalan kaki pada 2014, Michelangelo, semua ini berkaitan dengan jantung dan kelenjar keringat yang bekerja optimal selama seseorang melakukan latihan--apa pun jenisnya--yang efeknya dapat meningkatkan ukuran hippocampus.

Hippocampus adalah area di otak yang terlibat dalam memori verbal dan pembelajaran. Hal ini untuk menguatkan bukti bahwa berjalan kaki dapat mengurangi penurunan kognitif yang terkait dengan usia seiring otak yang terus menyusut.

Satu tahun kemudian, sebuah penelitian diterbitkan oleh peneliti dari Australia menemukan berjalan kaki mengurangi risiko kematian dini.

Orang-orang yang diminta melakukan 1.000 langkah sehari dan 10.000 langkah dalam tujuh hari, risiko mengalami kematian dini berkurang sebesar 12 persen.

Bahkan, seperti dikutip dari situs Daily Mail, Selasa (25/4/2017), seorang perokok dan obesitas yang rutin berjalan kaki secara perlahan dapat mengurangi kebiasaan buruknya tersebut.

Dikarenakan tidak semua orang mampu berjalan kaki 10.000 dalam seminggu, 3.000 langkah saja sudah cukup baik daripada tidak bergerak sama sekali.

Photos 26/04/2017

Cara Sehat dan Bahagia hingga Tua

Untuk hidup sehat dan bahagia, butuh beberapa faktor yang mendukung. Tak hanya diet dan olahraga, studi menemukan ada lima hal yang bisa membuat Anda senantiasa bahagia.

Seperti dilansir WebMD, Jumat (21/4/2017) studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini menemukan bahwa kestabilan emosi, determinasi (memantapkan tujuan hidup), mengontrol diri, optimis dan memiliki keterampilan hidup itu bisa membuat manusia lebih sehat dan bahagia.

Studi ini melibatkan 8.000 orang berusia 52 tahun di Inggris. Peneliti mengatakan, lima hal tersebut ternyata berkaitan dengan peningkatan kesehatan, risiko penyakit kronis berkurang, termasuk kurangnya depresi dan stabilitas keuangan yang lebih baik.

"Tidak yang lebih penting daripada hal tersebut. Sebaliknya, efeknya bergantung pada akumulasi keterampilan hidup," kata pemimpin studi yang juga seorang profesor epidemiologi dan kesehatan masyarakat di University College London, Andrew Steptoe.

Menurut Andrew, orang yang memiliki banyak keahlian atau kemampuan khusus jarang mengalami depresi dan kesepian. Di sisi lain, 11 persen dari peserta merasa mereka tidak memiliki keterampilan khusus sehingga cenderung mudah sakit.

"Kami terkejut dengan berbagai proses kehidupan. Karena mengembangkan dan memelihara keterampilan ternyata berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan di usia tua," Steptoe menyimpulkan.

13/04/2017

MASKER SPIRULINA

PAKET PERAWATAN WAJAH (masker)

» Utk Kulit WAJAH NORMAL
» Cara pakai dimaskerkan

Spirulina adalah ganggang biru langka yg telah hidup 3,5juta tahun lalu. nutrisi sangat tinggi.1Kg spirulina = 1Ton sayuran.

Tahukah kamu?
1 kali maskeran dengan spirulina sama dengan memasukkan nutrisi 0,5 Kg sayuran dan buah-buahan segar kedalam kulitmu.

-Memberikan Nutirsi dan Gizi bagi wajah
-Mengencangkan kulit wajah.
-Memperhalus tekstur kulit wajah.
-Mencerahkan kulit wajah.
-Mempertahankan kekenyalan kulit.
-Memutihkan kulit wajah.
-Menghilangkan flek hitam.
-Mengangkat sel kulit mati.
-Mengatasi Masalah Kulit : jerawat, bekas jerawat, bekas cacar, komedo, bekas luka dll.

SUDAH RATUSAN RIBU TESTIMONI!
ORDER NOW! PRODUK TERBATAS!
Pin. : D6418DDD
Wa : 085721719777
Line :

informasi lebih lengkap, cek:
https://lifebloomstore.wordpress.com/2017/02/10/masker-spiruli/

Want your business to be the top-listed Equipment Service in Bandung?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address


Jalan Lengkong Kecil
Bandung
40514