DETect Wardrobe
05/05/2020
Reposted from ABU DARDA DAN KESEIMBANGAN MENUNAIKAN HAK
Abu Darda adalah seorang Sahabat yang menyesal karena terlambat masuk Islam. Untuk mengganti keterlambatan dan mengejar amal sebanyak-banyaknya, beliau mencurahkan segala potensi yang dimilikinya untuk berusaha beribadah, termasuk dengan hartanya. Abu Darda rela mengurangi aktivitas dagangnya agar lebih banyak waktu menghafal Al-Quran dan beribadah. Gaya hidup Abu Darda berubah total dan memilih hidup zuhud.
Abu Darda bahkan pernah mengalami kondisi sangat bersemangat memperbanyak beribadah, sehingga merasa tidak ada lagi yang diperlukan dalam hidupnya selain beribadah sebanyak-banyaknya. Beliau terus berpuasa dan memulai tahajjud pada awal malam, melupakan kepentingan istrinya, bahkan dia pun lupa akan kepentingan dirinya sendiri. Abu Darda pun tak hirau lagi dengan urusan rumah tangganya.
Pada satu kesempatan ketika Abu Darda mengalami hal tersebut, Salman Al-Farisi datang bertamu dan melihat secara langsung kondisi ibadah saudaranya tersebut. Salman adalah orang yang dipersaudarakan dengan dirinya oleh Rasululullah SAW.
Abu Darda memang menyediakan hidangan makanan untuk menghormati kedatangan tamu, namun beliau sendiri menahan diri untuk ikut makan dengan alasan sedang shaum. Namun pada akhirnya Abu Darda mau ikut makan setelah Salman menyatakan tidak akan memakan makanan tersebut apabila Abu Darda tidak ikut makan.
Abu Darda pun mendapatkan nasihat berharga dari Salman Al-Farisi mengenai keseimbangan yang dapat mengubah cara pandangnya mengenai ibadah. Salman mengungkapkan bahwa Tuhan memang mempunya hak atasnya untuk diibadahi, namun badannya pun mempunyai hak atas dirinya untuk diperhatikan. Oleh karena itu, berikanlah hak kepada semua yang mempunyai hak tersebut.
Mendengar hal tersebut, Abu Darda pergi menemui Rasulullah Saw. untuk memastikan kebenaran apa yang didengarnya, dan Rasulullah Saw. pun membenarkan nasihat Salman Al-Farisi kepadanya untuk tidak melupakan istirahat dan keluarga ketika beribadah.
Referensi: KH. E. Abdurrahman. Renungan Tarikh. 2005. Bandung: Sinarbaru Algensindo.
https://www.republika.co.id/berita/q1zzjf313/abu-darda-menyesal-terlambat-men
05/05/2020
Reposted from KHABBAB BIN AL-ARAT DAN KEKHAWATIRANNYA TERHADAP HARTA
“Seandainya Rasulullah Saw tidak melarang kita berdoa memohon mati, pasti aku akan berdoa memohon mati.” Demikianlah ucapan Khabbab bin Al-Arat ketika beliau sedang membangun rumah. Meskipun dalam keadaan sakit dan telah mengalami tujuh kali pengobatan kay (terapi dengan besi panas), beliau masih memiliki harta yang banyak.
Khabbab bin Al-Arat adalah seorang Sahabat yang sangat bertawakkal kepada Allah. Beliau termasuk Sahabat yang mengalami penyiksaan kaum Quraisy pada periode awal fase Makkah. Dengan kondisi pengorbanan dan keteguhan hatinya, mustahil ungkapan ucapan tersebut disebabkan karena ketidaksabarannya atas penyakit yang tak kunjung sembuh.
Khabbab telah hidup sejak masa awal Islam dengan tidak memiliki harta sedikitpun. Pada masa kemakmuran era Khulafau Rasyidin beliau kini hidup dengan memiliki 80.000 dirham, dan pada saat itu nyaris tidak ditemukan orang miskin. Khabbab tidak pernah mengikat hartanya, tidak p**a menahannya untuk berbagi. Bahkan, beliau terpaksa menyalurkan hartanya untuk membuat rumah, meskipun menyadari bahwa membelanjakan harta semacam itu tidaklah mendatangkan pahala.
Meskipun ada Sabahat lain yang memiliki kekayaan lebih banyak, Khabbab merasa kekayannya itu sebagai cobaan berat. Dia takut dan merasa rugi dengan bertambahnya kekayaan akan semakin semakin mengurangi pahala di akhirat. Beliau bahkan iri kepada Mush’ab bin ‘Umair yang syahid hanya meninggalkan satu helai pakaian. Perkara inilah yang sudah tidak mampu dijalani oleh Khabbab bin Al-Arat, sehingga dia ingin berdoa memohon mati agar kesenangan di akhiratnya tidak terus dikurangi. Namun, tentu saja beliau tidak mengamalkannya karena memohon mati hukumnya haram
Tertanamnya perasaan kekhawatiran akan berkurangnya kenikmatan di akhirat, dapat menghadirkan perasaan sedih ketika hidup memiliki banyak harta. Sehingga, akan menimbulkan p**a perasaan merasa cukup akan apa yang diberikan Allah ketika memiliki keterbatasan harta.
Dirangkum dari : Nashruddin Syarif. Hidup Kaya Mengurangi Pahala. Rubrik Syarah Hadits [Majalah Risalah no. 6 th 57: 42-45]
-
09/04/2020
Kutipan dari buku
"Makna" yang didapat lewat membaca dapat dijadikan faedah bagi manusia untuk berbuat baik, dan memberikan "cahaya" jalan kebaikan kepada orang lain.
(Prof. Dr. Din Syamsuddin)
Image
Book:
Hassan Bandung; Pemikir Islam Radikal (Syafiq A. Mughni)
Artist:
AdminKids
16/02/2020
Seruan beliau setelah para penasihat, di antaranya: M. Natsir, Fachruddin Alkahiri, dan M. Isa Anshary, memberikan uraian nasihat dalam sebuah acara tabligh akbar, 1968.
(Risalah, 1968)
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Website
Address
Bandung
40376