Nomor 1.com
30052016_Tuhan Saja Cukup
Bacaan: Yakobus 1:2-8
Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! (Yakobus 4:8)
Seorang teman terbaring di rumah sakit. Pagi itu seorang pendoa syafaat datang melayaninya, memberi semangat, dan berdoa untuk kesembuhannya. Sesaat kemudian, doa yang indah itu dilanjutkan dengan ritual membakar selembar "kertas kesembuhan". Abu kertas itu diaduk dalam segelas air, lalu dioleskannya di dahi teman saya, dan juga meminumkannya.
Saat ini ada beragam modus pelayanan "kesembuhan ilahi". Ada yang memercikkan "minyak urapan" yang dipercaya mujarab menyembuhkan segala jenis penyakit. Ada yang memberkati benda-benda untuk diyakini sebagai "penyalur" kuasa Tuhan. Itu semua seakan mengatakan, "Tuhan saja tidak cukup", harus ada "perantara" lain untuk mewujudkan mukjizat-Nya. Kita pasti bertanya, apakah doa dan permohonan dengan mengadopsi cara-cara seperti itu benar di mata Tuhan? Tidak cukupkah nama Yesus dan Roh Kudus yang menolong setiap doa dan permohonan kita kepada Allah Bapa? (lih. Yoh. 14:1416). Tidakkah cara-cara itu justru mencerminkan sikap mendua hati, iman yang bimbang? Tuhanlah sumber kesembuhan, bukan air abu ataupun minyak urapan. Tidakkah dengan melibatkan "perantara" lain justru mencemari kekudusan Tuhan, dan lebih dari itu mendukakan hati-Nya?
Tuhan saja cukup. Satu nama saja, Yesus, satu-satunya Sumber Kesembuhan. Marilah menahirkan tangan kita. Sucikanlah hati kita. Janganlah mendua hati. Percaya dan mendekatlah kepada Tuhan. Berdoalah kepada-Nya. Dia dengan murah hati akan mengabul kan permohonan kita. --Agus Santosa/Renungan Harian
Kesimpulan: TUHAN MENYAMBUT DOA KITA TANPA PERANTARA;
MENGAPA KITA MALAH MEREPOTKAN DIRI KETIKA DATANG KEPADA-NYA?
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 31-33
26-05-2016
PEMELIHARAAN ALLAH
Bacaan: Yunus 2:1-10.. ketika jiwaku letih lesu didalam aku, teringatlah aku kepada Tuhan, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. (Yunus 2:7)
Full Life Commentary mencatat ada 7 mukjizat Allah dalam kisah Yunus: mengirim angin ribut (1:4); mengatur undian sehingga Yunus kena undi (1:7); meneduhkan laut (1:15); mengatur hingga seekor ikan besar menelan Yunus (1:17); memelihara Yunus tetap hidup di perut ikan selama 3 hari (1:17); membawa ikan itu menuju daratan, dan memuntahkan Yunus ke darat (2:10).
Sayangnya, ada satu mukjizat terpenting yang terlupakan oleh penulis tafsir dan banyak orang, yaitu pertobatan Yunus (2:7). Dalam pelariannya menjauhi Tuhan, seharusnya Yunus binasa. Bukankah ia telah berkeras kepala? Namun Tuhan sanggup menjamah dan mengubahkan hati Yunus. Seperti Tuhan tidak menghendaki penduduk Niniwe binasa, Tuhan juga menyayangi nabi yang memberontak dan melawan panggilanNya. Dalam kesusahan Yunus, ternyata Allah bersamanya dan setia menjaganya. Ketika jiwanya letih lesu dan terancam maut (2:6-7), doa Yunus tetap didengar Tuhan. Keberadaan Allah hanya sejauh doa. Bukankah ini sebuah mukjizat besar yang setiap hari selalu terjadi, yaitu pemeliharaan Allah atas umat-Nya? Dia selalu menjagai agar umat-Nya tidak murtad dan binasa. Siapakah yang dengan kekuatannya sendiri sanggup memelihara iman dan kesetiaannya kepada Tuhan? (bdk. Ibr. 6:4-10, Rm. 5:9).
Sikap Yunus adalah cerminan riil sikap kebanyakan orang Kristiani. Tidak peduli jika musuhnya yang berdosa binasa, tetapi berteriak memohon pertolongan ketika dirinya sendiri terancam bahaya. Mari ubah sikap hati kita yang keliru. --Susanto/Renungan Harian
Kesimpulan: MUKJIZAT TERBESAR ADALAH KETIKA ALLAH MENJAMAH
HATI KITA UNTUK BERBALIK KEPADA-NYA.
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 18-20
25-05-2016
NENEK SEMARANG
Bacaan: 2 Timotius 1:3-5
Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman… di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan… di dalam dirimu. (2 Timotius 1:5)
Ketika kecil, Pendeta Purboyo berlibur di rumah nenek di Semarang. Naik bus seorang diri, di terminal ia dijemput nenek. Mereka lalu naik becak. Nenek berbicara pada tukang becak tentang kehidupan setelah kematian dan keselamatan yang dijamin oleh Tuhan Yesus. Ketika tiba di rumah, nenek meminta tukang becak merenungkan percakapan tadi. Begitu masuk rumah, nenek mengajak Purboyo cilik berlutut untuk berdoa mengucap syukur.
Selain diajar berdoa, setiap hari Purboyo cilik diajak ke rumah sakit mengunjungi warga jemaat, menengok asrama putri, dan sebagainya. Pelayanan nenek hampir menyamai pelayanan seorang pendeta. Mengunjungi orang sakit, memimpin kelompok PA ibu-ibu, membawakan renungan di kebaktian wilayah. Yang mengejutkan, suatu ketika nenek bertanya pada Purboyo, ”Aku selalu memohon kepada Tuhan, agar salah satu cucuku menjadi pendeta. Kamu mau jadi pendeta?”
Timotius dilahirkan dalam keluarga saleh dari pernikahan campuran antara ayah Yunani dan ibu Yahudi (Kis. 16:1). Eunike, ibunya, seorang Yahudi yang saleh yang kemudian menjadi Kristen, sedangkan Lois neneknya lebih dahulu menjadi Kristen. Calvin berkata, ”Waktu kecil Timotius dididik sedemikian rupa sehingga kesalehan itu seakan-akan diteguk bersama-sama air susu ibunya.”
Pengaruh yang paling besar membentuk seseorang biasanya datang dari keturunan dan keluarganya. Iman memang bukan sesuatu yang diwarisi dari orangtua, namun seorang anak dapat dibimbing kepada iman melalui asuhan, teladan, dan doa orangtuanya.—HPG
Kesimpulan: KITA DAPAT MEMBIMBING ANAK MENUJU KEPADA IMAN DENGAN ASUHAN, TELADAN DAN DOA KITA
Bacaan Setahun: 2 Tawarikh 14-17
Cinta Sejati bukan take and Give, tapi memberi tanpa mengharap untuk diberikan.
Tuhan adalah Kasih, Tuhan itu kasih adanya yang tidak memungkiri keberadaanNya.
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Address
Ambon
97232