Bukan Hoax
13/05/2026
Kalau subsidi Pertalite bisa bikin harga turun jauh, kenapa subsidi tidak dialihkan ke Pertamax saja supaya BBM lebih bagus tapi lebih murah?”
Menurut kalian masuk akal nggak logika ini? 🤔
Di satu sisi:
✅ Mesin kendaraan bisa lebih sehat
✅ Polusi lebih rendah
✅ Orang jadi terdorong pakai BBM berkualitas
Tapi di sisi lain:
❌ Beban subsidi bisa makin besar
❌ Yang menikmati malah banyak pengguna mobil menengah atas
❌ Kendaraan lama belum tentu cocok
Kalau kalian jadi pemerintah, pilih mana?
👍 Subsidi tetap untuk BBM rakyat seperti sekarang
❤️ Alihkan subsidi ke Pertamax agar kualitas BBM naik
😮 Hapus subsidi sekalian biar harga mengikuti pasar
13/05/2026
Klo menurut pengamatan saya yang orang Jogja tapi hariannya di Jakarta 😁🙏🏻
Betul banget harga di Jogja dan Jakarta itu sebetulnya sama, minimarket paling selisih seribu dua ribu, makan di warung pinggir jalan juga hampir sama,
Yang membedakan menurutku adalah perihal tambahan biaya jasa yg mungkin ga ada di Jogja kayak tol dalam kota, langganan parkir, KRL, MRT yang biasa digunakan berkali-kali setiap harinya. Selain itu biaya pendidikan dan kesehatan di Jakarta juga jauh lebih mahal.
11/05/2026
KPR tenor 40 tahun mulai banyak dibahas.
Katanya biar cicilan lebih ringan dan anak muda lebih gampang punya rumah.
Tapi menurut kalian ini solusi… atau jebakan finansial jangka panjang?
Di satu sisi memang menarik.
✔️ Cicilan turun
✔️ Bisa ambil rumah lebih cepat
✔️ Gaji yang “nanggung” jadi bisa masuk hitungan bank.
Banyak yang akhirnya kepikiran: “Yaudah masuk dulu aja daripada harga rumah makin naik.”
Tapi di sisi lain…
Kalau ambil KPR umur 25 tahun,
lunasnya bisa umur 65 😅
Dan hidup 40 tahun itu panjang banget.
Bisa pindah kerja.
Bisa nikah.
Bisa punya anak.
Bisa kena masalah income.
Kadang yang berat dari KPR bukan nominal cicilannya.
Tapi konsisten bayar tiap bulan selama puluhan tahun.
Karena hidup itu dinamis, sedangkan tagihan KPR itu Pasti
Menurutku tenor panjang itu bukan salah.
Bahkan untuk beberapa orang, itu bisa jadi “jalan masuk” punya aset pertama.
Yang penting: jangan cuma lihat cicilan kecilnya.
Tapi lihat juga: apakah cashflow & mental finansialnya siap?
Karena kalau salah hitung,
“rumah impian” bisa berubah jadi sumber stres tiap tanggal tua.
Apalagi kalau:
• dana darurat tipis
• income ga stabil
• semua tabungan habis buat DP
Kalau kalian dikasih pilihan:
A. Tenor panjang, cicilan ringan
B. Tenor pendek, lebih berat tapi cepat lunas
C. Nunggu income lebih stabil dulu
Pilih yang mana?
Dan kenapa?
Lo digaji 15 juta. Kontrak. Makan di warteg. Motor Beat bekas.
Tapi lo dimintain pajak kayak punya tambang emas.
Negara hadir, katanya. Hadir di rekening lo. Tiap ada duit masuk, mereka udah nungguin duluan.
Lo makan di resto padang. Ayam pop, nasi, es teh. 45 ribu.
Bayar. Lo liat struk: PPN 10%, PB1 10%. Total lo bayar pajak 20% dari sepiring ayam pop.
Hari gini lo bayar pajak bukan cuma pas beli rumah. Lo bayar pajak pas laper.
Mereka sebut "konsumen akhir yang menanggung".
Artinya? Lo. Selalu lo. Dari bangun tidur sampe balik tidur lagi, lo numpukin duit buat pungutan yang lo sendiri gak tau hasilnya jadi apa.
Jalan bolong, RS penuh, air bersih langka. Tapi tagihan pajak lo? Selalu bersih.
Satu yang bikin darah naik: Pajak Gaji vs Pajak Konglomerat.
Lo kena PPh 21 progresif. Gaji naik dikit, lapisan pajak naik.
Tapi di sisi lain, pengusaha tambang batubara kasih "pinjaman" ke anak usaha di Singapura. Kena pajaknya? Nol koma sekian.
Lo bayar karena dipotong otomatis. Mereka gak bayar karena dipikirin dulu.
Ironi paling busuk: UANG NEGARA dari PAJAK lo dipake buat apa?
DPR beli mobil dinas baru. Bupati bangun taman buat swafoto. Proyek fiktif.
Jadi setiap kali lo bayar PPN, lo ikut patungan beli Alphard pejabat yang lewat nyipratin genangan ke motor lo.
"Tapi bukannya pajak buat bangun jalan?"
ILUSI. Jalanan tol yang lo pake bayar lagi. Jalan desa? Mulus setahun, rusak sepuluh tahun.
Jadi lo kontribusi dobel: Bayar pajak. Bayar lagi buat pake infrastruktur yang katanya pajak itu yang bangun. Logika lingkar setan.
Tau apa yang lebih bikin mual? SPT Tahunan.
Lo kelabakan itung penghasilan, cari bukti potong, takut salah isi. Udah bayar tiap bulan, di akhir tahun lo disuruh LAPOR. Ngaku.
Sementara yang punya duit triliunan? Cukup bayar konsultan. Tidur nyenyak. Lo yang pusing sendiri.
"Terus gue terima aja?"
Nggak juga.
Tapi lo ubah dulu logika di kepala. Pajak itu bukan "iuran pembangunan". Itu cashflow negara yang harus lo tagih pertanggungjawabannya.
Lo ngerasa gak dapat apa-apa? Itu karena lo gak nagih. Lo Cuma nunduk.
Balikin mental lo: Setiap kali bayar pajak, tanam dendam kecil.
Bukan dendam ke negara. Tapi dendam ke diri sendiri kalau lo gak maksimal nagih hasilnya.
Sekolah anak lo masih bayar? Puskesmas obatnya kosong? Jalan depan rumah gelap?
TAGIH.
Mereka bilang "Orang bijak taat pajak".
Gue bilang: Orang bijak taat, tapi juga nyalakin pengelolanya.
Mau cuma diem jadi "warga baik" sampe duit lo abis buat bayar taman swafoto bupati? Silakan.
Kalau lo mau berisik soal itu, follow gue. Kita bongkar bareng logika busuk di balik setiap rupiah yang lo setor.
Click here to claim your Sponsored Listing.