Rizal..m
28/03/2024
BANGKIT SETELAH DI GILIR 4 PRIA
Penulis : Rafasya
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat malam ini,” ujar Bara.
Seruni tersenyum, kemudian mengangguk.
“Aku akan datang,“ ujarnya.
“Aku sangat senang, aku tunggu nanti malam sayang,” Bara mencoleh dagu Seruni, kemudian mengendarai sepeda motor nya. Dia melambaikan tangan saat berjalan menjauh. Sedangkan senyuman di wajah Seruni langsung pudar seketika, tatapannya tajam, bergerak ke kanan dan kiri.
Seruni bersumpah, malam nanti adalah malah terakhir untuk kehidupan Bara, dendamnya harus terbalaskan. Pria bertopeng itu harus mati. Yang tak lain adalah Bara, pemilik topeng durjana itu adalah Bara. Bara harus musnah.
Seruni menyeringai kemudian pergi dari sana.
“Akhh, sakit, Bu!” pekik Rustam, dia meringis saat Nilam mengompres lebam di wajahnya.
“Kau tahan sebentar, jangan lemah.”
“Aku tidak lemah, memang rasanya saja yang sakit.”
“Sudah, diam!” tukas Nilam.
“Lagi p**a, kenapa kalian harus bertengkar?”
“Aku tidak tau, Bu. Si Bara itu yang memukulku lebih dulu,”
“Seruni bilang, itu semua karena .... Siapa pacarmu itu?” Nilam seperti sedang mengingat-ingat.
“Ruhmi? Ah tidak .... Hanya sedikit salah paham saja, Bu.”
“Sshh!” Rustam meringis kala meraskan perih kembali.
Seruni datang, melewati mereka, pandangan mata Rustam bergerak mengawasi Seruni, hingga perempuan itu masuk ke dalam kamarnya.
Rustam ingin berterima kasih, namun dia gengsi untuk melakukannya, selama ini dia tidak menyukai gadis itu dari kecil hingga dewasa. Ibunya Nilam mengadopsi Seruni saat berusia 5 tahun, orang tau Seruni meninggal dunia karena tertabrak, kepalanya terbentur aspal dengan darah yang tergenang. Kecelakaan itu terjadi di malam hari, tak ada yang tahu. Sehingga .... saat warga menemukannya, yang hidup hanyalah Seruni karena dia tidak tertabrak sama sekali.
Melihat Seruni seorang diri, Nilam merasa kasihan apalagi dia memang menginginkan anak perempuan, jadi lah dia mengadopsi Seruni dan membawanya p**ang. Nilam begitu senang, sehingga dia lupa, jika dia juga punya anak kandung yaitu Rustam yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Sejak saat itu lah kecemburuan muncul di hati Rustam. Rustam selalu mengingatkan Nilam siapa Seruni.
***
Malam hari....
Seruni dan Bara tengah memadu kasih, mereka berada di bukit tinggi, sedang duduk berdua sambil menatap bintang-bintang.
“Apa kamu s**a Run?”
Seruni hanya memandang datar, tak ada yang terlihat menyenangkan di dunia ini, selain kematian para musuhnya.
Seruni memaksakan senyum, ”Ya, aku s**a .... Sangat indah,” ujarnya.
Bara mendekat, mengikis jarak di antara wajah mereka, napasnya terasa menerpa wajah Seruni tanpa sengaja.
Deg deg!
Seruni berusaha abai, namun aneh, perasaan nya seperti menggelitik. Dia tidak mungkin tertarik dengan orang yang sudah menghancurkan hidupnya.
Mata elang Bara menatap lekat manik mata Seruni. Bara menggenggam tangan Seruni kemudian mencium punggung tangannya.
“Kau sangat cantik, Runi.” bisiknya.
Bara mendekat, mensejajarkan p**inya dengan p**i Seruni kemudian mengecup sekilas p**i wanita itu. Mata Seruni langsung berkilat. Napasnya memburu di perlakukan hal itu oleh Bara.
Saat Bara hendak mengecup bi birnya, Seruni langsung berbicara, “Kang ....”
“Bisakah kau antar aku ke suatu tempat?” pinta Seruni.
“Kemana?”
“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tapi aku sangat ingin kesana?“
Bara menautkan alis, kemudian tersenyum, “Baiklah, akan aku antar? Mau sekarang?”
“Tentu saja sekarang, aku telah menyiapkan kematian yang indah untukmu!” ucap Seruni dalam hati.
“Boleh, Kang. Ayok, kebetulan ini sudah hampir malam.”
***
“Benar ini tempatnya?” Bara memperhatikan gedung tua di depannya, sangat jauh dari pemukiman warga.
Bangun tinggi yang sudah tidak lagi Kokoh, dan tak terawat membuatnya terlihat angker, apalagi di lihat di malam hari.
“Ahh, aku jadi ingin istirahat, kebetulan di luar juga gerimis.” Bara tersenyum, dia berpikir Seruni ingin mengajaknya untuk melakukan hal itu, namun dia tak habis pikir, kenapa Seruni mengajaknya di tempat seperti itu, padahal bermain di kasur empuk lebih enak, pikirnya.
“Ayo masuk sayang,” Bara tersenyum, dia menggelengkan kepala, kemudian masuk ke bangunan tua itu. Dia berjalan melewati Seruni yang juga tersenyum, namun senyum Seruni sangat misterius.
“Kenapa, kau memilih tempat yang seperti ini, Run?” tanya Bara, mata nya mengamati tempat yang gelap dan berdebu.
Hening.
Seruni tak menjawab.
“Run, aku tanya, kenapa kau memilih tempat seperti ini?” tanya nya lagi.
“Jika kau mau ....”
Hening.
Bara langsung menoleh.
“Run—”
Kosong!
Tidak ada siapapun di sana. Bara segera beranjak mendekat ke arah pintu utama namun sayang terkunci.
Tok, tok, tok!
“Runi, kau di luar? Tolong buka, jangan becanda seperti ini, ini sangat tidak lucu.”
“Seruni, buka! Cepat!” teriak Bara. Dia sangat marah, ini sama sekali tidak lucu, ruangan itu menjadi gelap dan pengap.
Brak!
Suara benda jatuh membuat Bara langsung terkesiap, jantungnya berdebar-debar. tempat itu berubah gelap dan mencekam.
“Run, Runiiii?!” teriak Bara memanggil nama Seruni. Namun gadis itu seperti lenyap tak terlihat batang hidungnya.
“Run, jangan main-main dengan ku kau di mana?” Bara menjadi waspada.
Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin mengucur dari dahinya, dia mengawasi setiap sudut bangunan itu.
Pikirannya melambung pada kematian Sam dan Amar.
“Apa jangan-jangan yang membawaku kemari bukan Seruni, bukan kah Sam dan Amar sebelum tewas bertemu dengan seseorang yang menyamar,”
Bara menepuk dahinya, dia merasa takut sekarang.
“Ayah, benar. Harusnya aku tidak keluar malam ini,”
Bara terlihat frustrasi.
Srek, srekk!
Tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki mendekat, Bara sudah siap dengan kayu di tangannya.
Dia perlahan mendekat, semakin dekat ke arah sumber suara, langkah kakinya di seret pelan, hingga tak terdengar.
Dia melangkah ke arah ruangan kosong yang berada di dalam. Dia tidak bisa keluar dari sana sebab pintu utama tertutup.
Srek, srek!
Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Bara langsung bersembunyi di balik tembok, dia mengintip.
Matanya terbelalak melihat sosok yang sedang berdiri membelakanginya, sosok itu berbalik, Bara semakin terkejut, melihat Sam sang anak buah. Mungkin seperti itu lah Amar melihat Sam sebelum akhirnya dia tewas. Bara semakin takut, dia meraup wajah kasar, kemudian mengintip lagi. Sosok Sam kini sedang duduk di kursi dengan meja di depannya, wajah yang pucat seperti tak memiliki aliran darah sama sekali itu tengah memotong jarinya sendiri, hingga darah mengucur deras. Bara meringis, dia merasakan ngilu.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang,” pikirnya lagi.
Bara segera mengambil ponsel yang berada di saku celana, kemudian mengaktifkannya, sebelumnya ponsel Bara memang di nonaktifkan, sebab dia tak ingin orang rumah atau siapapun menggangunya saat sedang berkencan dengan Seruni.
Bara terlalu sibuk mengotak-atik ponselnya, hingga tak lama kemudian seseorang seperti menepuk pundaknya.
Tu buh Bara langsung menegang. Dengan gerakan perlahan Bara menoleh. Matanya terbelalak, kini dia melihat sosok Amar di depan mata.
Ponsel di tangannya terjatuh, Bara bergerak mundur, dia menggeleng cepat, “Siapa kau, kenapa kau meneror ku?” ujarnya.
“Apa kau tidak ingat padaku Bos? Aku Amar?!” sosok Amar berwajah pucat dengan bola mata memutih mendekat. Wajahnya penuh dengan cakaran, sehingga terlihat lebih menyeramkan. Seringaian keluar dari bi birnya.
Bara menggeleng lagi, “Tidak, kau bukan Amar, Amar sudah mati!”
“Tidak, jangan mendekat, jangaaan!” teriaknya.
Bara menutupi wajahnya menggunakan lengan. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Napasnya memburu, jantungnya terus berdegup kencang.
Napasnya tersengal-sengal, Bara membuka mata nya, dia mengamati sekeliling, kosong! Tidak ada siapapun. Dimana sosok yang menyerupai Amar?
Bara mundur hingga terpentok ke tembok. Bara menoleh berniat mengintip ruangan kosong itu, namun seketika netranya langsung bertemu dengan mata Seruni yang berwarna merah dan berkilat, seringaian keluar dari mulutnya, air liur hitam menetes membasahi baju berwarna putih yang di kenakan Seruni.
Bara terkejut dia langsung mundur seketika.
“Ru—Runi ....” Bara tergagap.
“Siapa kau?”
“Apa kau tidak mengingatku?” ujar Seruni yang terlihat menyeramkan, kepala bertanduk, gigi bertaring dengan lidah yang menjulu panjang.
Seruni menjulurkan tangan, kuku-kukunya tumbuh cepat, panjang dan runcing.
“Apa maksudmu?”
“Aku adalah gadis yang kau nodai dengan keji, laki-laki bi4dab!” Seruni menatap tajam dan nyalang.
Mata Bara membulat sempurna.
“Kau memperkos4ku dengan brut4l, menghancurkan hidupku! Bajing4n!” teriaknya, memekikkan telinga.
Napas Bara kian tercekat, ruangan itu terasa sangat pengap.
Bara terkejut, “A—apa maksudmu Ru—runi?” ujarnya tercekat.
“Kau harus m4ti!” tukas Seruni, Bara menggeleng.
“Jangan, aku tidak tau apapun.” lirihnya dengan tubuh bergetar.
“Kau adalah si pria bertopeng, yang sudah merenggut kehormatanku!”
Mata Bara membulat, “Kau tau .... Aku lah yang sudah melenyapkan kedua anak buahmu itu, aku!” tatapan Seruni menghunus tajam.
“Sekarang giliranmu!”
Seruni menjulurkan tangan, bersiap untuk mencabik-cabik Bara dengan kukunya yang runcing. Iblis di dalam dirinya sudah menggebu ingin merasakan darah manusia, Wajah Bara terlihat pucat pasi. Dia terlihat pasrah.
“Hiyaaaaaaaaa!” Seruni mengayunkan tangannya.
Tak lama kemudian...
“Berhenti!” ujar seseorang di belakang Seruni.
Seruni mengurungkan niatnya, kemudian secepat kilat menoleh.
Matanya berkilat. Menatap tajam.
“Bukan dia orang yang kamu cari!” ujar seorang pria yang memakai topeng.
_________________
BANGKIT DARI KEMATIAN - Rafasya
KISAH LESTARI, BAB 1—13
KISAH SERUNI, BAB 14—ENDING!
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/acc2baa0-d113-45e2-8c60-98a0f9b6c8c6?af=1a428259-8624-4b37-b819-f55b4b6f254d
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Subang
41256