Busraw Pena

Busraw Pena

Share

03/04/2026

ASRAMA SYUHADA
Bab 3: Guru Baru
Oleh. Roni Jamal

Matahari sangat terik memanasi setiap inci permukaan Bumi siang itu. Kelas Diniyah baru saja usai. Para siswa berhamburan keluar kelas dengan wajah ceria serta candaan yang bikir brisik.

Beberapa orang terlihat lemas dan santai berjalan menuju asrama yang tidak jauh dari halaman sekolah. Halaman sekolah juga halaman asrama.

Saya dan teman-teman yang lain langsung merebahkan badan di kamar sembari melepaskan pakaian sekolah lalu memakai pakain santai.

Seperti biasa, tembok pembatas teras asrama tetap selalu jadi tujuanku. Duduk dan bersandar menatatap jalan poros desa yang berada tepat di depan gerbang sekolah.

"San..san.. Ahsan lihat noh, guru baru lagi". Teriakku kegirangan
"Apa iya...?" Jawab Ahsan penasaran.
" Terus siapa lagi? Tas bawaannya banyak soalnya..". Sahutku meyakinkan Ahsan.

Saya dan Ahsan hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Seseorang telah di jemput oleh pengurus pondok. Entah siapa yang datang, tapi hal itu membuat semua santri yang menyaksikan saling bertanya-tanya dan menebak-nebak.

Asrama tidak kekurangan guru, hanya saja mungkin perlu sentuhan baru. Guru-guru yang sudah ada cukup ahli di bidangnya masing-masing. Penambahan guru mungkin ada tujuan lain. Kami hanya berharap dapat menimba pengalaman baru dari guru baru tersebut.
......

13/12/2025

JALAN KESENDIRIAN! Beberapa kisah teladan, mulai dari Nabi Muhammad Alaihi Sholah Wasallam hingga mereka yang di anggap Waliyullah terdapat beberapa peristiwa atau kisah yang bisa saya sebut "Jalan Kesendirian".

Hal ini di karenakan dalam proses kehidupan saya pribadi, entah merupakan rangkaian "Riyadhoh Bathiniyah" atau bukan, saya pribadi seakan membutuhan proses yang sebut "Jalan Kesendirian" ini.

Jangan artikan dulu bahwa saya ingin hidup seperti Pertapa Hindu atau Buda yang mati dalam keadaan sendiri di Goa perbukitan batu. Terdengar lucu dan gila jika itu saya lakukan demi mengharap ampunan dan ridho Allah Azza Wa Jalla. Meski hal itu bisa saja terjadi tapi bertahan hidup sendirian di tempat sepi itu sungguh sangat berat dan butuh mental yang sangat kuat.

Apa bentuk "Jalan Kesendirian" yang saya maksud ini?

Saya mencoba untuk memahami dari konteks agama tentunya dalam syariat Islam. Orang awam sekalipun akan mengatakan "Jalan Kesendirian" yang saya maksud ini sudah di mulai sejak kecil. Ketika anak manusia memiliki keinginan tertentu, kemudian memutuskan pilihan pribadi, mengutarakan pendapat pribadi hingga memiliki amalan ibadah tambahan pribadi.

Orang awam juga akan mengatakan bahwa "jalan kesendirian" itu di lakukan tanpa harus meninggalkan perkara dunia. Pendapat orang awam ini sengaja saya utarakan lebih dulu sebelum saya membuat orang lain berdosa dengan hinaan yang akan dituju kepada saya pribadi nantinya.

Karena "Jalan Kesendirian" yang saya maksud ini merupakan kegiatan yang berfokus dan dominan pada ritual ibadah yang meliputi penyembahan, dzikir, pesucian jiwa, pendalaman pemahaman terhadap ilmu dan tanda-tanda kekuasaan Allah Taala, hingga mendapat derajat taqwa.

Dari pandangan orang awam tersebut, saya menyatakan bahwa itu benar adanya. Karena setelah di lihat ke syariat Islam "Jalan Kesendirian" yang harus di tempuh oleh seseorang yang mengejar derajat Waliyullah tersebut ternyata sudah ada dalam IBADAH TAHAJJUD. Artinya bisa di lakukan ketika waktu Tahajjud.

Tidak heran jika ibadah sholat Tahajjud ini menjadi hobi Muhammad Rasulullah Alaihi Sholah Wasallam, sekaligus bagian dari TIGA SHOLAT UTAMA, yaitu sholat wajib(rawatib), sholat sunnah rawatib, kemudian sholat Tahajjud.

Lalu bagaimana "Jalan Kesendirian" yang saya maksud ini di lakukan bersamaan dengan keadaan yang di sebut Wara dan Zuhud? Bukankah waliyullah itu juga diartikan orang yang sudah bertaqwa atau sudah melekat kepadanya sebutan "Muttaqin" serta ridho Allah Azza Wa Jalla.

Para cendekiawan muslim banyak yang berpendapat bahwa Wara dan Zuhud sudah di lakukan oleh para Khilafah dan banyak juga yang berpendapat bahwa para khilafah tersebut sudah berada pada maqom Waliyullah. Artinya mereka merupakan contoh tauladan sebagai orang yang bertaqwa, dan terbukti melalui hadist nabi yang menyatakan bahwa mereka termasuk 10 orang yang di jamin masuk surga.

Sementara kita tahu bahwa para Khilafah tersebut masih sibuk dengan urusan dunia dalam artian mereka masih mengurus orang banyak, harta dan kekayaan umat Islam, serta perperangan.

Silahkan cari literasi yang membahas kewalian dan ketaqwaan para Khilafah lalu membacanya. Namun saya pribadi menyampaikan bahwa "Jalan Kesendirian" ini saya butuhkan saat ini dan prosesnya tidak harus membuat saya jauh dari manusia dan urusan duniawi. Karena jawabannya sudah ada dalam syariat Islam melalui ibadah Tahajjud yang saya sebut sebagai langkah akhir.

Tadinya saya akan mengatakan bahwa Tahajjud adalah proses awal dalam "Jalan Kesendirian " tersebut ternyata justru merupakan bagian akhirnya. Karena "Jalan Kesendirian" tersebut bisa di lakukan melalui kegiatan ibadah Sholat Sunnah, Dzikir dimanapun dan kapanpun, melakukan amal sholeh dimanapun dan kapanpun dan terakhir berduan dengan Allah ketika waktu Tahajjud. Meski saya sebut berduan namun dzahirnya kita sendirian menghadap Allah di tengah malam.

Sangat jelas bahwa Tahajjud di lakukan di penghujung hari menjelang hari esok, yaitu tepatnya di sepertiga akhir malam.

Waktu Tahajjud memang tepat di katakan bahwa kamu betul-betul sendirian ditengah malam melakukan sholat dan dzikir. Proses "Jalan Kesendirian" ini puncaknya dalam ibadah Tahajjud. Kamu menyembah Allah Taala, memohon ampunan, memuji, membesarkan dan mensucikan Allah Azza Wa Jalla, serta melakukan muhasabah diri dan memahami ilmu pengetahuan sebagai tanda kekuasaan dan keagungan Allah Taala.

Kisah nabi Khidir menjadi fudamental bagi pelaku jalan Sufi dan Tadzkiatun Nafsi, dan kisah yang beredar tidak banyak menceritakan beliau memiliki kesibukan dengan urusan dunia atau ada manusia lain yang dikisahkan hidup bersama beliau selain Nabi Musa Alaihi Salam serta beliau yang di kisahkan sebagai tukang jahit.

Artinya mungkinkah nabi Khidir ini betul-betul sendirian menjalani kehidupan? Siapa keluarga beliau, bagaimana kisah masa kecil beliau hingga dewasa? Apakah beliau menikah dan punya anak atau tidak? Apakah yang beliau lakukan untuk bertahan hidup?

Siapakah yang bertahan hidup tanpa banyak bersentuhan dengan kehidupan manusia lain dalam keadaan puncak keimanan dan ketaqwaan, adakah? Apakah Abu Dzar? Qais Alqarni? Syaikh Qadir Jailani?

Kita mungkin pernah melihat seseorang yang rutin dan rapi melakukan suatu hal terkait kegiatan pekerjaan dan ibadahnya. Seperti sering sholat di saf pertama, selalu sedekah setiap sebelum dan sesudah sholat, tidak meninggalkan dzikir, merutinkan tilawah dan mengahafal ayat Alquran, berdoa setiap waktu. Itu mungkin saja bentuk "Jalan Kesendirian" dia yang fokus kepada diri sendiri dan urusan pribadi serta tidak banyak mengabiskan waktu bersama orang lain.

Sekarang kembalikan kepada diri kamu sendiri. Apakah "Jalan Kesendirian" yang saya maksud sudah kamu lakukan. Kamu mungkin saja memiliki pemahaman lain serta mengatakan bahwa berjuang untuk menafkahi keluarga adalah ""Jalan Kesendirian" tersebut.

Itu boleh saja kamu katakan dan itu hak kamu dan saya pribadi tidak memiliki pengatahuan lebih untuk mengatakan belum. Sebab bisa saja surga orang seperti kamu lebih tinggi daripada mereka yang beribadah sendirian setiap waktu di dalam sebuah Goa yang jauh dari kehidupan manusia.

Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana orang seperti itu bisa bertahan hidup, kecuali pertolongan Allah Arrazaq datang setiap waktu kepadanya. Tapi apakah nabi Muhammad Alaihi Sholah Wasallam mengharapkan semua hambanya melakukan cara ini. Jika memang seandainya ini satu-satunya jalan untuk mendapatkan ridho Allah Azza Wa Jalla.

Apakah kamu memiliki pemahaman lain atau sebutan lain untuk "Jalan Kesendirian" yang saya maksud, atau bentuk lain dari proses "Jalan Kesendirian" ini???

Terima kasih banyak dan semoga Allah Taala membalas kamu dengan palaha besar untuk setiap pendapat atau ilmu yang kamu bagikan sebagai bentuk tanggapan dari tulisan saya ini. Jakallah khairan katsiran wa barakallahu alaika.

Want your public figure to be the top-listed Public Figure in Solok?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Address

Solok

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00