bumee.ka
18/11/2019
Assalamualaikum, Halo gue Ijul. Gue lahir di Makassar tp besar di Jakarta dari sekolah sampai saat ini kerja sebagai PNS di salah satu Kementerian. Hidup sebagai perantau dan bersinggungan dengan perantau lainnya di Jakarta tentu menuntut warganya untuk memiliki solidaritas yang tinggi untuk dapat hidup dengan tidak mengedepankan ego dari masing-masing budaya.
Gue punya beberapa definisi , Solidaritas dalam pandangan pribadi gue adalah menghargai orang lain dengan gak memaksakan pemikiran atau budaya Kita, tapi mencoba mencari jalan tengah untuk hidup rukun dan meningkatkan rasa persaudaraan.
Sewaktu pindah ke Surabaya untuk kuliah, kendala pertama yang paling terasa adalah masalah bahasa. Terbiasa hidup di Jakarta dimana gak ada budaya yang terasa dominan sangat beda dengan Surabaya yang masih sangat kental budaya Jawa-Timuran termasuk bahasanya, baik verbal maupun non verbal. Kesulitan dalam komunikasi dalam hal kecil seperti saat membeli makanan sampai perbincangan ringan teman-teman dan dosen saat perkuliahan di kelas sempat membuat gue pusing karna merasa gak biss bergabung dengan percakapan mereka.
Kesulitan komunikasi yg gue rasakan akhirnya terjawab dengan cara komunikasi. Gue yang lumayan susah untuk memahami bahasa Suroboyoan akhirnya mencoba untuk bertanya sekaligus belajar.
Solidaritas dari lingkungan rumah di Surabaya dan kampus sangat meringankan dengan mencoba untuk mengajari dan mengarahkan apa yang gak gue pahami.
Bahkan terkadang mereka yang mencoba bersikap sesuai budaya gue. Semua pada akhirnya gak terasa berat dan membuat gue kaya akan pengetahuan tentang cara kehidupan bermasyarakat yang belum pernah gue dapet selama ini.
Keberagaman gak harus gue hadapin dengan memaksa diri gue untuk bisa bahasa suroboyoan, atau memaksa org sekitar untuk mengikuti budaya gue, tp bersikap toleransi untuk membantu satu sama lain untuk saling menghargai.
16/11/2019
Halo namaku Ardina. Aku dilahirkan dalam keadaan yang multikultural dan Aku bersyukur akan hal itu. Menurutku hal ini adalah sebuah keistimewaan hidup karena Aku bisa belajar banyak tentang penerimaan.
Aku terlahir muslim sampai pada suatu saat Ibuku dan Aku memutuskan untuk pindah agama menjadi agama Kristen saat kelas 2 SD.
Sedari kecil aku diajarkan untuk menerima apapun apa adanya tanpa keterpaksaan melihat sesuatu yang berbeda itu adalah hal positif.
Dan contoh terdekat dari ini semua adalah orangtuaku. Meskipun berbeda keyakinan, tetapi Kami menyadari bahwa tujuan Kami adalah Ketuhanan. Kami merasa tetap satu tujuan namun hanya berbeda cara.
Bapak, Ibu dan Aku sama-sama mendukung ritual simbolik keimanan Kami. Kalau puasa ramadhan, Ibuku membantu Bapak untuk menyiapakan sahur dan buka begitupun sebaliknya ketika Aku dan Ibuku pergi ke gereja.
Kami tidak pernah mengalami konflik karena agama yang kami pilih.
Ada satu cerita yang membuatku semakin kagum terhadap Bapak ; Aku punya sepupu yang mana kedua orang tuanya sudah meninggal, dan mereka memeluk agama Hindu. Ketika sepupuku pindah ke Surabaya ada salah satu Om ku yang mempunyai tendensi untuk memaksakan sepupuku pindah agama Islam. Dan kemudian Bapak ambil sikap, karena perihal menemukan Tuhannya itu adalah perjalanan masing-masing.
Terimakasih Bapak telah menjadi contoh kami.
Kendala yang Aku alami justru dari luar , banyak yang menyepelekan tentang perbedaan dikeluarga.
Perihal soal pasanganpun Kami punya agama yang berbeda, tetapi satu sama lain tidak pernah ada yang mendorong pun menarik untuk menyatakan agama siapa yang paling benar.
Menurutku hargai setiap hak hidup individu karna justru dengan cara beginilah akan memudahkan kita untuk menerima
19/10/2019
Sabtu yang selalu dinantikan karna dilabeli hari yang tenang, biasanya banyak ditemui ucapan-ucapan digrup WhatsApp pun postingan “Happy Weekend” —— seakan menjadi hari yang paling menyenangkan.......
Segala vibrasi tentang dinamika yang terjadi saat ini, ada saatnya semuanya akan kembali menuju titik seimbang .. titik equilibrium.
Padahal itu terdengar seperti paradoksal, kalau cuman di Hari Sabtu yang tenang, bukankah harusnya disemua Hari kita harus merasa tenang dari segala vibrasi dan tanda-tanda yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan?
Selamat merayakan Waktu Sabtu ini. Bolehlah menjenguk sejenak Kuma dan Arundi, siapa tahu ingin dimiliki :)
13/10/2019
Perjalanan Sureal Tentang Taj Mahal
Setelah mengenal Shah Jahan dan Mumtaz, aku melanjutkan perjalananku di India, dan penasaran dengan apa terpenting bagi orang-orang sekitar sini, setidaknya yang kutemui diperjalanan.
Saat melewati jalan ini, aku bertemu dengan dua orang india. Sepertinya suami istri, mereka sibuk berfoto. Aku merasa heran, karena untuk menjadi tuan dan nona dirumah sendiri aku-pun tidak sefanatik itu berfoto di rumahku sendiri.
Tidak sampai satu detik, aku mendengar celetukan salah satu dari mereka,
"Jaan meherbani karke, hame bohot tasweer leni chahiye yaha pai. Halaki waqt kabhi wapas nahi ataa hai. Yaha aao"..
"Ayo Beb, foto disini yang banyak!! Karena waktu gak bisa diulang. Ayoo"
Aku tersentuh dari kejadian sereceh ini. Ku lihat kuma masih menggantung di pergelangan tanganku.
Kuma! Waktu tidak bisa diulang. Terimakasih sudah menemani perjalananku di India!
Click here to claim your Sponsored Listing.