Komentar
17/05/2026
Desa Ranowangko, Kec. Tombariri. Keluhkan PLN Kinerja PLN.
Warga sesalkan lampu padam berkepanjangan, hasil nelayan busuk, UMKM menurun, ada juga beberapa barang elektronik rusak.
02/05/2026
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini terdiam sejenak untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kita menggemakan kembali filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang memerdekakan. Namun, pada hari yang sarat akan retorika kemajuan ini, mari kita alihkan pandangan dari gemerlap perayaan di pusat kota menuju ke sebuah sudut sunyi di Desa Ranowangko: wilayah Langsot. Di sana, kata "merdeka" masih menjadi barang mewah yang belum terjangkau.
Langsot bukan sekadar nama tempat; ia adalah monumen hidup dari sebuah tragedi kemanusiaan dan lambatnya roda birokrasi. Pasca-diterjang banjir bandang pada tahun 2006, warga direlokasi ke tempat yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat perputaran ekonomi dan tata ruang desa. Niat awal penyelamatan itu kini berubah menjadi keterasingan struktural.
Dua dekade berlalu, luka lama itu beralih rupa menjadi dua krisis akut yang saling berkelindan: ketiadaan kepastian hukum dan putus sekolah.
Bayang-bayang Tanah Tak Bertuan
Hingga detik ini, hampir 150 unit rumah bantuan pemerintah yang dihuni oleh warga relokasi Langsot berdiri di atas ketidakpastian. Sejak 2006, belum ada selembar sertifikat tanah pun yang diterbitkan sebagai bukti kepemilikan sah mereka.
Dalam perspektif sosial-ekonomi, ketiadaan sertifikat tanah bukan sekadar urusan administrasi. Ini adalah bentuk pemiskinan struktural. Tanpa agunan yang sah, akses masyarakat Langsot terhadap permodalan perbankan tertutup rapat. Mereka terisolasi dari pusat ekonomi desa, dan pada saat yang sama, tangan mereka diikat untuk menciptakan kemandirian ekonomi di tempat baru. Negara hadir memberikan atap, namun abai memberikan fondasi berupa kepastian hukum.
Keterasingan geografis sejauh 20 kilometer itu melahirkan tragedi turunan yang jauh lebih menyayat hati, terutama jika kita merefleksikannya di momen Hardiknas ini. Jarak yang membentang jauh antara permukiman Langsot dengan fasilitas sekolah terdekat telah menjadi tembok tebal penghalang masa depan.
Sudah tayang di halaman KOMENTAR ID
Abu...
Click here to claim your Sponsored Listing.