Mas Al Rantau

Mas Al Rantau

Share

12/06/2026

1 indonesia Raya di prank sama meta, semoga aja Cuma bug Akun yg siapkan MK tiba" balik ke mode tunggu lagi tapi malam ini balik lagi ke siapkan MK lagi, Akun yg gak ada pelngaran sama sekali tiba" kena in Autentik, dan hampir keseluruhan akun" besar terkena oembatasan itu, semoga aja bisa pulih lagi, gebrakan meta meamng ada" aja kalau sedang update🤧

12/06/2026

"Sedang apa, Farah? Sudah lama aku tidak melihatmu sibuk dengan laptop itu," tanyaku seraya melangkah masuk ke dalam ruang tengah rumah kami.

Farah yang semula tampak begitu fokus menatap layar datar di hadapannya, sedikit tersentak. Dengan gerakan yang teramat tenang—bahkan terlalu tenang untuk ukuran seorang istri yang suaminya baru saja pulang membawa badai—dia melipat layar laptopnya hingga berbunyi *klik* kecil, lalu mend**gak menatapku.

"Bukan apa-apa, Mas. Hanya sedang mencari lowongan pekerjaan," jawabnya lempeng. Wajahnya bersih dari sisa-sisa air mata, penampilannya rapi, seolah-olah obrolan tentang perce-raian kami dua hari lalu hanyalah angin lalu.

Aku mengernyitkan dahi, berjalan mendekat lalu menarik kursi di seberang meja makannya.

"Pekerjaan? Kamu tidak perlu melakukan itu, Farah. Untuk apa kamu bekerja dalam kondisi seperti ini?"

"Untuk menyambung hidup, Mas. Tentu saja," balasnya enteng, seulas senyum tipis terukir di bi-birnya yang dipoles lipstik me-rah muda lembut.

"Farah, dengar aku," ujarku, sedikit tidak s**a dengan nada bicaranya yang seolah menganggapku lepas tanggung jawab. Aku memajukan tubuh, mencoba meraih jemarinya yang bertumpu di atas permukaan laptop, namun dia dengan halus menarik tangannya untuk membenarkan letak rambutnya.

"Meskipun kita akan berce-rai sementara waktu, aku tidak akan pernah mene-lantarkanmu. Aku tetap suamimu di dalam hati. Aku akan menjamin seluruh biaya hidupmu, kebutuhan rumah ini, terlebih kamu sedang mengan-dung an-akku. U-ang bulananmu tidak akan berkurang sepeser pun."

Farah terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang entah kenapa terdengar begitu garing di telingaku. Dia menatapku lurus-lurus.

"Memangnya setelah Mbak Melati resmi menjadi istrimu, dia akan rela berbagi materi denganku, Mas? Pria yang berstatus suaminya memberikan u-ang bulanan pada mantan istrinya?"

Pertanyaan Farah seketika membuat lidahku kelu. Aku terdiam, menatap permukaan meja jati di antara kami dengan rasa bersalah yang mendadak mencu-at kembali. Aku tahu Farah kecewa. Aku tahu jauh di lubuk hatinya, dia pasti sedang menje-rit sa-kit hati atas ketidakadilanku. Namun, dia tidak tahu rumitnya posisi yang sedang kuhadapi saat ini.

"Melati baru saja lolos dan diangkat jadi ASN, Farah. Aturan di instansinya sangat ketat," ucapku, mencoba membela diri dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

"Kalau aku menjadikannya istri kedua lewat poli-gami resmi, karier yang baru dia rintis akan han-cur dan dia bisa dipecat dengan tidak hormat. Aku tidak mungkin sekejam itu membiarkan masa depannya han-cur dua kali."

Aku menarik napas dalam, menatap mata Farah yang masih sedingin es.

"Mence-raikanmu sementara adalah satu-satunya jalan keluar yang logis saat ini. Melati wanita yang baik, Farah. Dia pasti akan mengerti situasi kita dan rela melepaskan aku setelah bayinya lahir nanti."

Farah hanya mengangguk-angguk kecil, tidak berniat mendebat atau memperpanjang masalah itu. Wajahnya kembali datar, sedatar air di dalam baskom yang tenang.

"Ya, terserah kamu saja, Mas. Jadi... apa kamu sudah membawa surat ce-rainya?"

"Sudah," sahutku pelan.

Dengan tangan yang mendadak terasa sedikit berat, aku membuka rits-leting tas kerja yang kubawa. Aku merogoh ke dalam, mengeluarkan sebuah map tebal berwarna biru tua yang berisi dokumen kesepakatan perce-raian serta gu-gatan yang sudah disiapkan oleh temanku yang seorang pengacara. Aku meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Farah.

Farah meraih map tersebut tanpa keraguan sedikit pun. Dia membukanya, membalik halaman demi halaman dengan gerakan santai, membaca sekilas poin-poin yang tertera di sana. Tidak ada getaran di jarinya, tidak ada helaan napas berat yang dramatis. Begitu sampai di halaman terakhir yang membutuhkan persetujuannya, dia langsung meraih pulpen hitam yang tergeletak di dekat laptopnya.

*Sret. Sret.*

Goresan pena itu terdengar begitu nyaring di keheningan ruang tengah kami. Farah membubuhkan tanda tangannya di atas meterai dengan begitu cepat dan tegas, seolah dia sedang menandatangani resi penerimaan paket barang belanjaan on-line, bukan sebuah surat yang akan memutus ikatan suci pernikahan kami yang sudah berjalan dua tahun.

*Deg.*

Mendadak, da-daku terasa berden-yut sak-it. Ada sebuah han-taman tak kasatmata yang menghu-jam ulu hatiku, membuat pasokan oksigen di sekitarku terasa menipis. Perasaanku mendadak menjadi sangat tidak enak. Rasa lega yang sempat kurasakan setelah mendapatkan restu—meski lewat kebo-hongan—dari Ibu dan Ayah kemarin, seketika menguap digantikan oleh rasa hampa yang men-cekam.

"Kenapa..." Suaraku tercekat di tenggorokan, membuatku harus berdehem kecil sebelum melanjutkan kalimat.

"Kenapa kamu begitu mudah menyetujui perce-raian ini, Farah?"

Baca selengkapnya di KBM App

Judul : Tak Ada Jalan Kembali

By Fairy Tia

12/06/2026

Bab 1

Aku terkejut ketika mendengar suara di di seberang sana. Suara yang tak asing bagiku sebagai seorang wanita. Namun, sangat heran jika suara itu berada sangat dekat dengan tempat di mana suamiku berada.

"Mas, sedang di mana?" tanyaku.

"Aku di kamar, di penginapan," jawabnya.

Hatiku mencelos mendengarnya. Jika di kamar, kenapa suara itu jelas sekali terdengar. Bukankah ia sendiri di kamarnya.

"Tapi tadi ada suara bayi nangis?"

"Oh, itu anak kamar sebelah. Tadi aku sedang berdiri di depan," jawabnya.

"Yang benar?"

"Iya, Sayang." rayunya dengan suara mendayu.

"Sudah dulu, ya. Nanti mas telepon lagi," ucapnya.

Belum sempat aku menjawab, suamiku ini sudah menutup teleponnya.

Aku menghela napas. Selalu seperti ini, terputus di tengah jalan. Padahal aku ingin sekali mendengar suaranya.

Pekerjaannya sebagai seorang sopir rental membuat suamiku tak selalu berada di rumah. Kalau dihitung, seminggu hanya bisa 2 kali ia pulang ke rumah.

Aku sudah melarangnya melakoni pekerjaan itu. Selain usianya yang sudah memasuki usia senja, pekerjaan itu sangat menyita waktu. Terutama waktu untuk keluarga.

Memang pekerjaan itu terpaksa dilakukan karena ia telah memasuki masa pensiun dan ingin mencari kegiatan.

Uang pesangon berjumlah satu milyar yang diberikan kantor sebagai tanda pensiun telah habis kami gunakan untuk modal usaha rental mobil. Parahnya lagi, usaha rental mobil yang kami geluti ternyata tidak berjalan lancar.

Satu persatu mobil kami hilang. Dari tujuh mobil yang ada, kini tersisa hanya satu saja. Dan mobil itulah yang saat ini digunakan oleh suamiku ke sana kemari.

"Mas, kan kepala keluarga, Dek. Malu kalau berdiam diri di rumah saja," ujarnya kala aku protes kenapa ia harus bekerja sebagai sopir.

Bukan perkara jenis pekerjaannya. Namun, aku khawatir pada usianya yang tak lagi muda. Selain itu, untuk masalah keuangan semuanya masih terkendali karena aku bekerja sebagai PNS. Ketiga anak lelaki pun sudah mandiri. Hanya si bungsu Farid saja yang masih duduk di bangku SMP dan itu tak membutuhkan biaya banyak karena Farid bersekolah di tempatku bekerja.

Tetapi suamiku tetap pada pendiriannya. Aku bisa apa. Waktu berlalu hingga saat ini genap dua tahun ia bekerja sebagai sopir rental mobil.

Tak ada masalah selama setahun pertama. Mobil yang sudah hilang pun sudah mulai kami ikhlaskan. Karena memang sulit mencari jejaknya. Butuh biaya dan tenaga yang tidak sedikit untuk mengurusnya.

Masalah mulai terjadi saat memasuki tahun kedua. Suamiku makin jarang pulang ke rumah. Ia bisa berminggu-minggu di luar. Bahkan sampai sebulan lamanya ia tak pulang. Ia pulang hanya numpang tidur semalam kemudian pergi lagi. Pernah kutanya alasannya.

"Banyak orderan, Dek. Sayang kalau ditolak." Selalu begitu jawabnya.

Aku tak mau berpikir buruk padanya. Meski, selama setahun ini berbagai kejanggalan kutemui. Mulai dari parfum yang berbeda sampai uang yang biasa ia setorkan padaku tak lagi ia berikan.

Belakangan ia bahkan mengeluh kalau mobil yang ia gunakan harus direparasi. Jelas saja, bagaimana mobil itu tidak rusak, sedangkan ia pakai dijalanan berhari-hari.

Tak masalah jika uangnya memakai hasil ia menyopir. Namun, anehnya ia meminta padaku untuk membayar perbaikan mobil itu.

"Uangnya sudah habis mas pakai, Dek. Kamu tahu, kan biaya menginap dan makan di luar sana lumayan besar. Udahlah jangan hitungan gitu. Nanti kalau sudah ada uang mas ganti." Ia berkata begitu ketika aku mulai protes.

Aku yang malas berdebat, akhirnya diam tak ingin memperpanjang masalah.

***

Aku sedang membaca novel ketika terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Aku hapal betul suara mobil itu. Itu mobil Mas Haris.

"Sudah pulang, Mas," ucapku sambil mengulurkan tangan.

"Iya, siapkan air hangat, Dek. Mas mau mandi," ucapnya sambil menghempaskan tubuh tubuhnya di sofa. Letih sekali sepertinya.

Aku mengangguk kemudian bergegas ke dapur merebus air. Setelahnya aku kembali sambil membawa segelas teh hangat untuknya.

"Capek, Mas?" tanyaku sambil meraih kakinya dan mulai memijatnya.

"Hmm," jawabnya dengan mata terpejam.

"Kayak yang banyak pikiran. Ada masalah, Mas?" tanyaku lagi.

Mas Haris yang semula memejamkan mata perlahan membuka kelopaknya. Ia meraih tanganku yang sedang memijat kakinya. Kemudian memandangku dengan matanya yang sayu.

"Mobil mas mulai banyak masalah, Dek. Kemarin saja di tol mogok. Kalau begini mas takut gak bisa bawa penumpang lagi," ucapnya lemas.

Ohh, itu masalahnya. Syukurlah kalau begitu. Dengan begitu Mas Haris akan sering berada di rumah.

"Bagus d**g, Mas. Mas bakal sering di rumah nemenin aku," jawabku antusias.

Mendengar jawabanku mata Mas Haris melotot. Ia seperti tak terima dengan perkataanku.

"Lho, kamu senang kalau mas gak punya pekerjaan? Mau taruh di mana muka mas ini, Dek?!" serunya setengah membentak. Aku yang tak siap mundur ke belakang karena terkejut.

"Mas kenapa marah?" tanyaku heran.

Mas Haris terlihat mengambil napas kemudian mengembuskannya perlahan.

"Maaf, Dek. Mas hanya gak s**a ucapanmu. Mas masih ingin bekerja mencari nafkah. Ini masalah harga diri, Dek," jelasnya dengan mata memerah.

Aku diam tak menanggapi ucapannya. Dua puluh delapan tahun menikah dengannya, baru kali ini aku dibentak dengan keras. Aku sangat syok.

"Dek, mas mau ganti mobil. Bagiamana menurutmu?" tanyanya sambil menggenggam tanganku.

"Ganti mobil, Mas?" tanyaku setengah tak percaya.

Mas Haris mengangguk bersemangat. Lengkungan di wajahnya terbit kembali.

"Uangnya ada?" tanyaku hati-hati.

"Kita pinjam ke bank, Dek. Mas pinjam sertifikatmu untuk jadi jaminan di bank."

Hatiku mencelos mendengarnya. Uang kerjanya selama ini tak pernah sampai padaku. Namun, ia dengan tak tahu malu menyuruhku menggadaikan sertifikat PNS untuk jaminan di bank. Demi mempertahankan harga diri katanya. Padahal aku lebih senang jika ia duduk manis di rumah menikmati masa tua kami.

Bersambung

12/06/2026

(6) Arbaaz memasak, lelaki itu menyelamatkan dapur bapakku caci-cela, sari kebangkrutan. Tapi di saat yang sama, perempuan dari masa lalunya muncul di warung. Untuk apa? Sedangkan aku? Memang siapa aku bagi lelaki itu?

Part 6
DRAMA KOREA DI DAPUR KITA

Sebuah suara menginterupsi diskusi Bu Yati dan Rika. Mereka hampir bersamaan menoleh ke arah asal suara. Tersentak.

Arbaaz sudah berdiri di dekat pintu. Raut wajahnya menunjukkan dia siap.

"Bapak yakin?" tanya Rika hati-hati.

"Nyuwun ngapunten, nggih, Pak Baaz. Bukan saya meragukan, tapi kami memang belum pernah tahu masakan Pak Baaz."

Arbaaz tersenyum.

"Saya paham, Bu. Bagaimana kalau kita coba dulu dengan setengah kilo atau seperempat daging? Yang penting semua kru warung jadi bisa ikut cicip. Dan meminimalisir resiko juga kalau ternyata ga enak."

Bu Yati melihat ke Rika. Rika mengangguk.

====

Arbaaz menggulung lengan kaus oblong abu-abunya sampai siku. Tatapannya menyapu meja stainless di depan.

“Dagingnya mana?”

Ari segera menyodorkan satu wadah berisi setengah kilo daging sapi.

“Ini, Pak.”

Arbaaz menerima.

Dapur Warung Rawon Pak Pri masih dipenuhi suara ulekan, bunyi pisau memotong cabai, dan denting sendok beradu dengan baskom. Tapi entah kenapa, perhatian Bu Yati dan kawan-kawan diam-diam terseret ke satu titik.

Ke pria brewokan yang sedang berdiri di depan talenan itu.

Pisau turun. Gerakannya tenang. Cepat. Potongan daging yang tadinya besar berubah menjadi ukuran seragam nyaris tanpa selisih.

Ari yang sedang membawa kerupuk berhenti sepersekian detik. Matanya hampir tidak berkedip.

“Rapi banget.”

Lilis melirik.

“Kayak di video chef-chef hotel itu lho.”

Bu Yati pura-pura fokus mengulek sambal. Padahal ekor matanya terus mengintip.

Arbaaz mengambil bawang merah. Bawang putih. Kemiri. Jahe. Kunyit. Ketumbar. Cabai. Satu per satu ditakar hanya dengan perkiraan mata dan genggaman tangan.

Tangannya bergerak seperti orang yang sudah melakukan hal itu ribuan kali.

“Pak...” panggil Ari pelan.

Arbaaz tidak menoleh.

“Hm?”

“Beneran nggak perlu ditimbang?”

“Kalau masak harus terus lihat angka, berarti belum bersahabat dengan bahan-bahan.”

Ari langsung diam.

Lilis menahan senyum. "Emang enak disindir."

Bu Yati merasa jawaban itu luar biasa sekali meski sedikit terasa menyebalkan. Ada bau-bau kesombongan.

Bumbu mulai dihaluskan. Bukan dengan blender. Melainkan ulekan batu.

Suara gesekan rempah memenuhi dapur. Aroma bawang dan kunyit perlahan naik ke udara.
Arbaaz mengangkat sedikit hasil ulekan. Mengendus. Lalu menambahkan sejumput garam.

Minyak panas mulai mendesis. Bumbu masuk ke wajan. Aroma langsung meledak. Hangat.

Dalam hitungan detik, dapur yang tadi hanya ramai berubah menjadi harum.

Lilis spontan mengangkat kepala.

“Ya Allah...”

Ari ikut mengendus.

“Enak banget baunya.”

Deni yang sedang mengangkat galon sampai ikut menoleh.

“Masak apa?”

“Rawon lah,” jawab Ari.

Deni mengerjap.

“Rawon kok baunya beda?”

“Ya aku juga nggak tahu.”

Arbaaz tidak ikut percakapan itu. Dia hanya mengaduk. Sabar.

"Sampai bumbu matang sempurna, nanti masukkan daging. Jangan terburu-buru menambahkan air." Arbaaz berucap tanpa maksud mengajarkan.

Tapi Ari, Lilis, dan Deni serius mendengarkan.

“Masak itu proses yang harus dinikmati. Mau sebentar ataupun lama,” gumamnya.

Bu Yati yang mendengar langsung teringat Pak Pri. Pak Pri dulu juga sering bilang hal serupa.
Bukan kalimat yang sama. Tapi rasanya mirip.

Ketika daging masuk ke wajan, suara desisan kembali memenuhi dapur. Arbaaz mengaduk perlahan. Melapisi setiap potongan dengan bumbu.

“Gerakan tangannya sat-set," bisik Deni ke Ari. "Kayak yang sudah ahli.”

"Jangan-jangan memang iya," respon Ari masih sambil menata krupuk ke toples besar.

“Berarti ... Pak Arbaaz itu chef?” Deni pucat.

"Loh kalau memang iya kenapa? Bagus untuk masa depan warung."

“Tapi serem.”

“Lho?”

“Chef galak semua, kan, Ar.”

"Kalau kru nya kayak kamu, ya memang harus digalakin," gurau Ari tersenyum jahil.

Deni langsung pasang muka masam.

Kluwek yang sudah dihaluskan masuk terakhir.

Arbaaz mengambil sendok. Mencicipi kuah. Diam. Mengernyit sedikit. Lalu mengambil gula jawa seujung kuku. Masuk. Aduk lagi. Cicip lagi.

Baru kali ini dia mengangguk.

====

Aroma kluwek memenuhi seluruh warung. Sampai ke meja depan. Sampai ke halaman.
Sampai pengunjung pertama yang baru datang berhenti di ambang pintu.

Mengendus udara. Lalu bertanya heran.

“Lho... rawonnya hari ini kok harum banget?”

"Eh iya, Bu. Alhamdulillah. Daging dan bumbunya lebih fresh hari ini," jawab Rika ringkas.

Daripada ngejelasin yang masak Pak Arbaaz nanti bisa lebih panjang dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang lain lebih baik begitu saja lah. Aman.

"Hmm ... silakan ditunggu ya, Bu. Mohon maaf kalau agak lama. Karena stoknya baru datang tadi."

Si ibu dan temannya mengangguk.

====

Ponsel Arbaaz bergetar. Sekali. Dua kali. Dia merogoh saku celanannya.

Layar menyala. Nama yang muncul membuat tatapan Arbaaz langsung berubah dingin. CLARA.

Tanpa diketahui siapa pun ... di saat yang sama, sebuah mobil hitam baru saja berhenti tak jauh dari warung.

====

Mobil hitam itu berhenti di seberang jalan.
Mesinnya masih menyala. Di dalam kabin yang dingin, seorang perempuan duduk menyilangkan kaki.

Kemeja putih. Blazer krem. Celana panjang warna senada. Rambut berlayer yang tertata rapi. Wajah yang selalu tampak sempurna di depan kamera ponsel manapun.

Clara Gunawan.

Ponselnya menempel di telinga.

"Papi masih nggak ngerti, Clara."

Suara laki-laki 60 tahunan itu terdengar risau.

"Kamu yakin Arbaaz mau menerima kamu lagi?"

Clara menatap keluar jendela. Tatapannya jatuh pada papan sederhana bertuliskan:
WARUNG RAWON PAK PRI.

Dia tersenyum tipis.

"Dia cinta mati sama aku, Pi."

Jawaban itu keluar sangat cepat. Terlalu yakin.

"Aku juga sangat mencintainya."

Hening sesaat.

"Tapi kamu yang mengkhianati dia."

Senyum Clara memudar.

Jarinya mengetuk pelan sandaran pintu.

"Aku memang bodoh."

"Clara ... "

"Tapi aku sudah bertekad berubah."

Suara pria itu menghela napas panjang.

"Jangan permalukan dirimu dan keluarga lagi."

Nada bicaranya kali ini lebih berat.

"Sudah cukup nama keluarga kita tercoreng tiga tahun lalu."

Clara menunduk.

"Bekasnya masih terasa sampai hari ini."

Clara menggigit bibir bawahnya.

"Aku janji."

Sambungan terputus.

Clara memandangi warung itu lagi. Warung sederhana. Jauh perbandingannya dari restoran-restoran mewah yang dulu biasa dia dan Arbaaz datangi.

"Di sini rupanya kamu memilih menghilang.

Tatapan Clara mengeras.

"Aku datang, Baaz."

====

Ndaru berdiri di dapur rumah. Wajahnya masih pucat. Kepalanya belum benar-benar ringan.

Air panas mengepul dari gelas teh melati di tangannya. Dia membuka ponsel. Berniat hanya mengecek laporan penjualan dari Rika. Namun yang muncul justru unggahan terbaru akun media sosial Warung Rawon Pak Pri.

Lilis mengunggah video. Durasi tak sampai satu menit. Tapi komentar sudah ratusan.

Ndaru mengernyit.

"Maa syaa Allah ..."

Video itu memperlihatkan warung yang ramai.
Meja-meja hampir penuh. Pelanggan antre.
Suara pesanan bersahutan.

Lalu...

Ada potongan beberapa detik yang membuat Ndaru berhenti bernapas.

Arbaaz.

Dia sedang memasak. Tangannya mengaduk panci besar. Uap rawon naik memenuhi layar. Tatapan pria itu fokus.

Beralih ke scene Arbaaz tampak memberika instruksi atau penjelasan ke Bu Yati dan Ari. Tenang.bSeperti seseorang yang memang seharusnya berada di sana.

Jempol Ndaru berhenti bergerak.

"Pak Arbaaz yang masak...?"

Video berakhir. Namun dada Ndaru justru semakin sesak.

Warung ramai. Produksi jalan. Pelanggan puas.
Semuanya baik-baik saja.

Harusnya dia lega. Anehnya tidak.

"Aku memang nggak becus..."

Kalimat itu lolos begitu saja.

Dia menunduk.

Nyeri di kepalanya kembali menusuk. Membuatnya memejamkan mata.

Hanya sebentar. Lalu dia menarik napas panjang. Dia berusaha secepatnya kembali ke kamar. Meraih gamis dan khimar. Menggenakan secepat dan serapi yang dia bisa. Mengambil tas.

====

Di teras luas rumah Pak Adiguna. Tiga orang duduk mengelilingi meja kayu jati.

Kopi hitam mengepul. Hujan semalam masih menyisakan aroma tanah basah.

"Jadi masih ada peluang, Bu Ratih?" Pak Adiguna menatap Bude Ratih dan Pakde Hadi memastikan

Bude Ratih mengaduk teh pelan.

"Masih ada peluang, Pak."

Pakde Hadi mengangkat alis.

"Warung itu?"

Bude Ratih mengangguk mantap.

"Asal Bagas nggak nyerah."

Pak Adiguna diam. Tatapannya jauh.

"Ndaru itu anak yang ... nggak enakan. Kadang jadi seperti jual mahal."

Bude Ratih tersenyum tipis.

"Makanya harus terus didekati dengan sabar."

Pakde Hadi mengelus dagunya, lalu bertanya hati-hati.

"Nyuwun sewu, Pak Adi..."

"Hm?"

"Kenapa njenengan masih penasaran sekali sama warungnya Pri?"

Sunyi.

Pak Adiguna menatap halaman rumah beberapa detik. Cukup lama.

Sampai Bude Ratih dan Pakde Hadi saling pandang.

Kemudian pria itu berkata pelan.

"Karena seharusnya saya satu-satunya yang disegani. Dihormati."

Mereka berdua mengernyit. Tampak waswas.

Pak Adiguna tertawa kecil, tapi tidak hangat.

"Bukan tukang rawon itu."

Bude Ratih membeku. Pakde Hadi ikut diam.

====

Warung Rawon Pak Pri sedang ramai ketika pintu depan terbuka. Seorang perempuan masuk. Langkahnya tenang. Percaya diri.

Terlalu mencolok untuk tidak diperhatikan. Beberapa pelanggan langsung menoleh.

"Lho... itu yang di TV bukan?"

"Iya. Eh di social media ramainya, bukan TV."

"Artis ya?"

"Bukan. Influencer yang masak-masak itu."

"Udah nikah bukan?"

"Kabarnya udah cerai. Ga tahu juga sih. Suaminya dulu yang mana juga ga tahu."

"Ga pernah tampil di akun dia?"

"Ga. Ada sih cowok tapi itu pacarnya kata orang sih. Bukan suaminya."

Clara berhenti di depan meja kasir. Rika tersenyum profesional.

"Selamat siang, Kak. Mau pesan menu apa?"

Dia menyodorkan daftar menu. Namun Clara tidak meliriknya.

"Saya boleh ketemu yang masak?"

Rika menaikkan alis. "Maaf, Kak, maksudnya bagaimana?"

"Saya mau ketemu yang masak."

Rika refleks menoleh ke arah dapur. Lilis baru saja selesai mengantar pesanan. Mereka saling pandang.

"Hmm..."

Rika berusaha tetap sopan.

"Beliau masih sibuk di dapur, Kak."

Wajah Clara berubah tipis. Tidak senang.

"Kalau begitu biar saya yang temui."

Dia melangkah. Namun Lilis cepat-cepat memotong jalan.

"Eh, bentar, Kak. Maaf."

Clara menatapnya.

"Kenapa?"

"Area dapur cuma untuk karyawan."

Nada Lilis tetap sopan. Tapi tegas.

Clara mengembuskan napas. Kesabarannya mulai menipis.

Saat itulah suara lain terdengar.

"Ini ada apa ya?"

Semua menoleh. Ndaru baru masuk dari pintu samping.

Wajahnya masih sedikit pucat. Hijab bermotif warna krem sederhana. Gamis berwarna senada. Tas masih menggantung di bahunya.

"Mbak Ndaru..."

Selengkapnya di KBM.id/KBMapp
Judul: DRAMA KOREA DI DAPUR KITA
Penulis: Nafiisah FB

12/06/2026

Bab 10

​“Mbak Bilqis, tolong pilihkan warna yang paling cocok untuk calon pengantin ini. Orangnya ganteng, tinggi, wajahnya tipe-tipe manager sukses gitu. Calon istrinya juga cantik banget, seleranya tinggi, maunya kain sutra premium yang motifnya nggak pasaran.”

​Suara Linda, salah satu pelanggan setia Bilqis yang juga dikenal sebagai makelar seragam pesta kelas atas, terdengar begitu antusias. Di meja kasir toko Bilqis yang megah di Blok B Tanah Abang, tumpukan katalog kain sutra terbaru sudah terbuka.

​Bilqis tersenyum profesional, meski kepalanya masih sedikit berat karena kepindahan mendadaknya ke apartemen semalam. “Tentu, Mbak Linda. Untuk kulit yang kuning langsat atau putih, warna-warna earth tone atau rose gold sedang sangat tren tahun ini. Calon pengantinnya mau konsep apa?”

​“Konsepnya intimate, Mbak. Katanya akad siri dulu minggu depan, baru nanti resepsinya menyusul. Tapi ya itu, keluarganya mau semua seragam saudara-saudaranya pakai kain terbaik dari toko Mbak Bilqis. Sebentar, saya perlihatkan fotonya ya, biar Mbak bisa bantu cocokan gradasi warnanya. Soalnya ini sepupu saya sendiri, saya nggak mau malu-maluin.”

​Linda merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar mahal, lalu menggeser layar beberapa kali.
​“Nah, ini dia Mas calon pengantinnya. Namanya Mas Farhan. Gagah, kan?”

​Jantung Bilqis seolah berhenti berdenyut tepat di detik matanya menangkap gambar di layar ponsel Linda. Dunianya seketika sunyi, seolah suara bising pasar Tanah Abang di sekelilingnya lenyap ditelan bumi.

​Di layar itu, tampak Farhan—suaminya yang mengaku sedang dinas luar kota—sedang duduk merapat dengan seorang wanita cantik bergaun merah marun yang sangat seksi. Mereka berfoto di sebuah meja makan yang sangat Bilqis kenal: meja makan di rumah Ibu Rahma. Di sana juga ada Ibu Rahma dan Sarah yang tersenyum lebar ke arah kamera, seolah sedang merayakan kemenangan besar.

​“Mbak Bilqis? Kok melamun? Gimana? Cocoknya warna apa kalau buat Mas Farhan yang kulitnya sawo matang begini?” Linda bertanya heran, tidak menyadari bahwa wanita di hadapannya sedang berusaha sekuat tenaga agar tidak pingsan atau berteriak histeris.

​Darah Bilqis mendidih. Rasa panas menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Bukan hanya karena dikhianati, tapi karena betapa terencana dan terorganisirnya pengkhianatan ini.
​Realitas yang Menghancurkan
​Bilqis mencengkeram pinggiran meja kaca tokonya hingga buku-buku jarinya memutih. Otaknya berputar cepat, menyusun kepingan-kepingan fakta yang menyakitkan:

​Alibi Palsu: Farhan bilang dinas luar kota tiga minggu, ternyata dia sedang mempersiapkan pernikahan di rumah ibunya.

​Betrayal Terstruktur: Ibu mertua dan adik iparnya tidak hanya tahu, tapi mereka adalah otak di balik perjodohan ini.
​Status Hukum: Gugatan cerainya baru saja didaftarkan kemarin sore. Secara hukum, Farhan masih suaminya yang sah. Dan pria itu berniat menikah siri minggu depan tanpa rasa malu sedikit pun.

​“Mbak ... Bilqis? Mbak sakit?” Linda menyentuh lengan Bilqis, membuyarkan lamunan yang mengerikan itu.

​Bilqis menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Ia adalah seorang pengusaha. Ia tidak akan membiarkan emosinya menghancurkan martabatnya di depan orang lain. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, ia memaksakan sebuah senyum tipis—senyum yang mengandung racun.

​“Maaf, Mbak Linda. Tiba-tiba saya teringat sesuatu. Oh, jadi ini calon suaminya? Mas Farhan ya namanya?” Bilqis mengambil ponsel Linda, menatap foto itu lebih dekat. Matanya berkilat tajam. “Wajahnya memang terlihat... sangat terpercaya ya. Dan ini calon istrinya? Riri, kalau tidak salah?”

​Linda terbelalak. “Lho, Mbak Bilqis kok tahu namanya Riri?”

​“Ah, saya hanya menebak dari tipe wajahnya yang ... modern,” bohong Bilqis lancar. “Mbak Linda bilang minggu depan mereka mau akad?”

​“Iya, Mbak. Di rumah ibunya Mas Farhan. Makanya ini saya ditugaskan borong kain. Ibunya Mas Farhan itu, Bu Rahma, cerewet banget. Maunya yang paling mahal tapi kalau bisa dapet harga diskon saudara. Katanya mumpung anaknya lagi naik jabatan jadi manager.”

​Bilqis tertawa kecil. Tawa yang membuat Linda sedikit merinding tanpa tahu sebabnya. “Tentu, Mbak Linda. Untuk pengkhianat... maksud saya, untuk calon pengantin sehebat Mas Farhan, saya akan berikan kain yang 'paling berkesan'.”

​Bilqis berdiri, berjalan menuju rak kain paling belakang yang terkunci rapat. Ia mengambil dua gulung kain sutra dengan motif yang sangat indah, namun ia tahu ada satu rahasia pada kain tersebut: motifnya eksklusif dan terbatas, serta harganya selangit.

​“Gunakan ini, Mbak Linda. Ini kain sutra edisi limited. Saya akan buatkan nota resminya sekarang. Karena Mbak Linda yang bawa, saya kasih harga khusus, tapi tetap harus masuk ke laporan keuangan perusahaan.”

​Bilqis menuliskan nota dengan tangan yang tenang namun mantap. Di kepalanya, ia sudah menyusun rencana. Jika mereka ingin bermain kotor, maka ia akan memberikan panggung yang paling megah untuk kehancuran mereka.

​“Ini notanya. Totalnya tiga puluh lima juta rupiah untuk sepuluh gulung kain seragam keluarga dan kain akad pengantinnya. Bilang pada mereka, ini kain terbaik yang pernah ada di Tanah Abang. Tidak akan ada yang menyamai di hari pernikahan mereka nanti.”

​Linda tersenyum puas. “Waduh, Mbak Bilqis memang paling top! Pasti sepupuku dan Tante Rahma seneng banget. Oh iya, nanti kalau sudah jadi, boleh ya saya bawa penjahitnya ke sini buat konsultasi desain?”

​“Silakan, Mbak Linda. Kapan saja,” jawab Bilqis dingin.

​Setelah Linda pergi dengan membawa sampel kain, Bilqis langsung terduduk lemas di kursi kerjanya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Isak tangis yang ia tahan sejak tadi akhirnya pecah, namun bukan tangis kesedihan. Itu adalah tangis amarah yang luar biasa.

​“Kalian benar-benar iblis,” bisik Bilqis di balik telapak tangannya. “Kamu bilang aku mandul, Mas? Kamu bilang aku pengemis? Dan sekarang kamu pakai uang yang aku tabung selama ini untuk membiayai pernikahan sirimu dengan wanita itu?”

​Bilqis teringat tagihan-tagihan rumah yang selama ini ia bayar. Ia teringat bagaimana Farhan selalu beralasan tidak punya uang untuk check-up ke dokter kandungan, padahal ternyata uangnya dikumpulkan untuk melamar Riri. Ia teringat Sarah yang merusak gaun pelanggannya, sementara sekarang mereka memesan kain baru darinya untuk merayakan pengkhianatan ini.

​Bilqis menyambar ponselnya. Ia tidak menelepon Farhan. Ia tidak akan merendahkan dirinya dengan memaki pria itu lewat telepon. Ia menelepon Pak Hermawan, pengacaranya.

​“Halo, Pak Hermawan. Tolong tambahkan satu poin lagi dalam berkas perceraian saya. Perzinaan dan rencana pernikahan siri tanpa izin istri sah. Saya punya bukti fotonya. Dan Pak ... tolong pastikan surat panggilan dari pengadilan sampai ke rumah Ibu Rahma tepat tiga hari lagi. Saya mau mereka menerimanya saat mereka sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pesta.”

​“Lalu soal perusakan gaun yang dilakukan adiknya, Mbak?” suara Pak Hermawan terdengar di seberang.

​“Teruskan proses pidananya, Pak. Saya baru saja menjual kain kepada mereka senilai tiga puluh lima juta. Pastikan saat polisi datang menjemput Sarah, kain-kain itu disita sebagai bagian dari aset yang mereka miliki untuk ganti rugi. Saya mau mereka tidak punya baju untuk dipakai di hari pernikahan itu.”

​Bilqis menutup telepon dengan perasaan puas yang pahit. Ia menatap ke arah cermin di tokonya. Wajahnya yang sembab kini terlihat jauh lebih tegar.

​“Kalian pikir aku gembel yang tidak berdaya?” Bilqis berbicara pada bayangannya sendiri. “Kalian pikir kalian bisa menjadikanku pembantu gratis setelah kalian mengkhianatiku? Mari kita lihat, siapa yang akan benar-benar menjadi pengemis saat semua ini berakhir.”

​Bilqis kembali ke meja kerjanya. Ia mengambil draf pesanan kain Linda tadi. Ia tersenyum sinis. Ia akan memastikan kain itu sampai ke tangan Ibu Rahma. Ia ingin mereka memakai kain hasil keringatnya di hari "pesta" mereka, tanpa mereka tahu bahwa kain itu adalah kain kafan bagi reputasi dan harga diri mereka.

​Judul : Istri G.e.m.b.e.lku Ternyata Bos Tanah Abang
Penulis : Rifalsahramadhan
Baca di KBM App

Want your business to be the top-listed Media Company in Lamongan?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Address

Lamongan