Nella

Nella

Share

15/01/2026

Orang Indonesia emang ya
Hebat

10/01/2026

BIARKAN AKU MEMILIH MUNDUR

"Selamat ya, Nak, akhirnya impianmu untuk menikah dengan pria yang kamu cintai akan segera terwujud. Ibu hanya bisa mendoakan semoga kalian bahagia," ucap ibuku dengan mata berkaca-kaca, menatapku penuh haru.

Aku tersenyum, menggenggam tangan ibu erat. "Terima kasih, Bu. Doa Ibu yang paling aku butuhkan."

Malam ini adalah malam yang kutunggu-tunggu sejak sebulan lalu. Keluarga kami sedang menanti kedatangan Vino dan keluarganya untuk acara lamaran. Aku sudah berdandan rapi dengan kebaya berwarna peach lembut yang dipilih ibu sendiri. Di depan cermin, aku sempat mengamati pantulan diriku—wajah yang berbinar penuh harapan, mata yang berbinar karena kebahagiaan yang sebentar lagi akan semakin nyata.

Aku dan Vino bukan orang asing. Kami berteman sejak SMA, lalu berpisah karena menempuh kuliah di universitas yang berbeda. Hidup berjalan, membawa kami ke jalan masing-masing, namun siapa sangka takdir mempertemukan kami kembali sepuluh tahun kemudian dalam keadaan yang jauh berbeda. Aku kini seorang guru PNS, sementara Vino adalah seorang manajer di sebuah perusahaan ternama di kota. Banyak yang berkata, jika sudah jodoh, maka tidak akan ke mana. Kalimat itu semakin terasa nyata bagiku ketika Vino menyatakan perasaannya.

"Aku nggak mau main-main, Na. Jika kamu terima cintaku, maka aku akan melamarmu untuk dijadikan istri. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi," ucapnya dengan suara serak sebulan yang lalu. Aku ingat betul tatapan matanya saat itu—penuh harapan dan ketulusan. Tangannya terulur di atas meja dan menggenggam tanganku dengan hangat.

Hatiku bergetar. Aku yang juga pernah memiliki rasa padanya tentu tidak mungkin menolak. Dengan keyakinan penuh, aku menerima tawarannya.

Kini, aku duduk di ruang tamu dengan jantung yang berdebar, menunggu momen bersejarah itu. Senyumku mengembang saat membayangkan masa depan bersama Vino. Membayangkan hari-hari di mana aku akan terbangun dan melihatnya di sisiku. Ah, kebahagiaan itu terasa begitu dekat.

Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar dari luar. Aku menoleh ke arah pintu. Vino dan keluarganya telah datang.

Acara lamaran berjalan dengan hangat dan sederhana. Kedua keluarga saling bercengkerama, membahas masa depan kami dengan penuh kebahagiaan. Aku bisa melihat ayah dan ibu sesekali menatapku dengan senyum bangga. Betapa bahagianya mereka melihat putri mereka akan segera menikah dengan pria yang ia cintai.

Namun, ketika acara lamaran selesai, Vino menarikku ke sudut ruangan. Tatapannya serius, berbeda dari sebelumnya.

"Isna, sebelum kita menikah, aku punya permintaan," ucapnya pelan.

Aku mengerutkan dahi. "Apa?"

Vino menarik napas dalam sebelum akhirnya berkata, "Setelah menikah nanti, aku ingin kamu mengundurkan diri dari pekerjaanmu sebagai guru."

Aku terdiam. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dadaku.

"A-apa? Kau memintaku mengundurkan diri sebagai guru?" Aku mengulang pertanyaannya, berharap aku hanya salah dengar.

Vino mengangguk. "Iya. Bisa, kan?"

Aku menggigit bibir bawah. "Vin, kamu tahu kan kalau menjadi guru adalah impianku sejak kecil? Aku sudah berjuang bertahun-tahun untuk sampai di titik ini. Aku menghabiskan lima tahun menjadi honorer sebelum akhirnya mendapatkan status PNS ini. Masa iya harus kulepas begitu saja?"

Vino menatapku dengan pandangan yang tak bisa kumengerti. "Kenapa? Setelah menjadi istriku nanti, aku yang akan membiayai hidupmu. Kamu nggak perlu kerja. Kamu tinggal di rumah, mengurus rumah tangga. Gajiku cukup besar, Na. Bahkan bisa lima kali lipat dari gajimu. Mau, ya? Berhenti jadi guru dan jadi istri yang nurut sama suami?"

Aku memejamkan mata. Memikirkan semua yang telah kulalui demi meraih impianku. Memikirkan bagaimana ayah dan ibu bangga ketika aku akhirnya menjadi seorang PNS. Haruskah aku mengorbankan semua itu demi Vino?

Aku melirik ayah dan ibu yang duduk di dekatku. "Ayah, Ibu, bagaimana ini?"

Ayah menarik napas dalam. "Ayah menyerahkan semua keputusan di tanganmu, Nak," katanya, suaranya bergetar. Aku melihat matanya yang berkaca-kaca, mengingat bagaimana ia begitu bangga ketika aku mendapat SK PNS. Dan kini, ada seseorang yang meminta aku untuk melepaskan itu semua.

Aku kembali menatap Vino, menimbang segalanya dalam benakku. Aku mencintainya. Aku ingin menikah dengannya. Tapi aku juga mencintai pekerjaanku. Aku tidak bisa memilih salah satu dan kehilangan yang lainnya.

"Maaf, Vin, aku nggak bisa. Aku tetap akan mempertahankan pekerjaanku ini," jawabku mantap, meskipun suaraku sedikit bergetar.

Vino menatapku, raut wajahnya berubah. "Tapi aku nggak mau punya istri seorang PNS yang harus berangkat pagi dan pulang sore. Siapa nanti yang akan ngurus rumah? Siapa yang akan merawat mama yang sudah sakit-sakitan?"

Aku tersentak. "Jadi, kamu mau menikahiku hanya untuk merawat ibumu?"

"Bukan begitu, Sayang," Vino buru-buru menjelaskan. "Aku hanya ingin punya istri yang selalu di rumah."

Aku menatapnya lama. Hatiku terasa perih.

"Maaf, Vin. Aku nggak bisa."

Vino menghembuskan napas kasar. "Terus maumu apa? Aku juga nggak bisa punya istri yang lebih banyak di luar daripada di rumah."

Aku tersenyum tipis, meskipun hatiku terluka. "Kalau begitu kita batalkan saja rencana pernikahan kita."

Mata Vino membulat. "Apa? Jadi, kau memilih kariermu sebagai PNS yang gajinya nggak seberapa itu dibandingkan aku yang bisa memberimu nafkah tiga sampai empat kali lipat dari gajimu sendiri?"

Aku menatapnya, lalu tersenyum. "Gajiku memang tidak sebanyak gajimu, Vin. Tapi aku bangga bisa punya penghasilan sendiri."

Dari sudut mata, aku melihat ayah dan ibu mengacungkan jempol dengan bangga. Aku tahu mereka mendukung keputusanku.

Vino menghela napas, lalu menambahkan, "Aku bisa memberimu uang lima belas juta sebulan. Enak loh jadi istriku."

Aku menggeleng. "Maaf, Vin. Aku nggak tertarik."

Tatapan Vino penuh kekecewaan saat ia akhirnya berpamitan. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia berbalik menatapku tajam. "Dengar ya, Isna, kamu pasti menyesal lebih memilih kariermu daripada aku. Dan aku bersumpah, kamu akan menjadi perawan tua, Na."

Aku hanya diam, menatap mobil hitam itu melaju menjauh. Aku merasa kehilangan, tapi aku tahu aku sudah mengambil keputusan yang benar.

Aku menoleh ke arah ayah dan ibu. "Keputusanku ini sudah benar, kan?"

Ayah tersenyum, lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Yang kamu lakukan itu sudah benar, Nak. Jangan pernah lepaskan pekerjaanmu lalu hanya mengharapkan uang suami. Karena istri yang tidak punya penghasilan itu tidak ada harga dirinya."

Aku menutup mata, membiarkan air mataku mengalir. Ini bukan keputusan yang mudah, tapi aku tahu, aku tidak akan menyesalinya.

Baca selengkapnya di aplikasi K-BM APP

Penulis: Siti Aisyah

Want your business to be the top-listed Media Company in Indramayu?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Address

Ds Ujungaris Blok Gejleg Rt02 Rw04
Indramayu
45271