SEMAR UI
02/01/2020
[Belajar Dari Revolusi Pendidikan di Kuba]
Tahun baru 1 Januari 1959 menjadi penting bagi masyarakat Kuba. Setelah beberapa tahun bergerilya, Fidel Castro dan sekutunya yang tergabung dalam Gerakan 26 Juli berhasil melengserkan kediktatoran militer Presiden Fulgencio Batista.
Kondisi pendidikan Kuba pada saat pemerintahan rezim Jenderal Batista berkuasa terbilang buruk. Angka buta huruf warga Kuba yang berusia 10 tahun ke atas mencapai 76 persen. Kesenjangan ekonomi antara si kaya dan miskin menyebabkan anak-anak orang kaya lebih melek huruf karena dididik di sekolah swasta terbaik atau di luar negeri. Sedangkan anak-anak orang miskin petani di pedesaan harus cukup puas dengan bersekolah di sekolah negeri yang mutunya rendah. Anak-anak dari orang tua petani lima kali lebih kecil kemungkinannya tamat Sekolah Dasar. Akibatnya, tingkat buta huruf menonjol di daerah-daerah pedesaan. Selain itu, di bawah rezim diktator Fulgencia Batista yang sangat loyal kepada Amerika Serikat, pendidikan merupakan sesuatu yang mahal di Kuba. Penyebabnya, pendidikan dijadikan ajang bisnis untuk menumpuk keuntungan.
Setelah revolusi, tepatnya tahun 1961, Fidel Castro memutarbalik semuanya. Ia menasionalisasi semua sekolah, universitas dan lembaga pendidikan lainnya di Kuba. Semuanya dijalankan oleh Negara. Setiap anak di Kuba dijamin haknya untuk mendapatkan pendidikan gratis dan berkualitas. Di tahun 1961 juga, Fidel Castro memimpin kampanye pemberantasan buta-huruf yang disebutnya sebagai, “Tahun Pendidikan”. Akhir tahun 1961, melek huruf meningkat menjadi 96 persen. Dan hanya 2 tahun kemudian, Kuba memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka penuh dari buta huruf. Revolusi pendidikan di Kuba ini dilaksanakan dengan membangun lebih dari 10.000 kelas baru di seluruh daerah. Selain itu, 69 fasilitas militer yang sebelumnya dijadikan camp peperangan diubah menjadi fasilitas sekolah yang mampu menampung 400 ribu siswa.
Sistem pendidikan di Kuba menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Saat ini, pendidikan di Kuba gratis bagi seluruh warga negaranya, terdiri dari sekolah umum berbagai jenjang, sekolah khusus vokasional, atau sekolah-sekolah tersier lain yang mengajarkan keterampilan.
Bagaimana Indonesia?
15/11/2019
[21 Tahun Tragedi Semanggi, Agenda Penyelesaian Hanya Angan?]
penyelesaian Kasus Semanggi masih jalan di tempat. Tidak ada progress sedikitpun dalam proses yudisial maupun non yudisialnya. Korban hanya terpaksa menelan janji-janji politik setiap menjelang kontestasi pemilihan umum. Janji lima tahunan itu seperti ‘kaset rusak’ yang terus diulang-ulang oleh para calon untuk menggaet suara korban.
Selengkapnya: https://medium.com//21-tahun-tragedi-semanggi-agenda-penyelesaian-hanya-angan-eef65816e304
Salam Semar UI
21 Tahun Tragedi Semanggi, Agenda Penyelesaian Hanya Angan? Oleh: Rozy Brilian
Click here to claim your Sponsored Listing.