MITAS

MITAS

Share

17/10/2024

Rezeki yang Mendatangkan dan Menghilangkan
Oleh: Lucky Zamaludin Malik

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali hanya memandang rezeki sebagai sesuatu yang datang berupa harta, uang, atau materi lainnya. Namun, ada bentuk rezeki yang sering dilupakan, yaitu rezeki yang menghilangkan—yaitu rezeki yang berupa pengurangan kebutuhan atau tertutupnya pintu-pintu pengeluaran yang besar.

Sebagai contoh, ada seseorang yang mendapat gaji sebesar 100, tetapi Allah membukakan pintu-pintu kebutuhannya hingga ia menghabiskan lebih dari apa yang ia dapatkan, misalnya 110. Sebaliknya, ada orang lain yang mendapatkan gaji lebih kecil, misalnya 50, tetapi Allah menutup pintu-pintu kebutuhannya sehingga ia hanya menghabiskan 40, bahkan menyisakan 10. Ini adalah bentuk rezeki yang menghilangkan, di mana meskipun penghasilannya sedikit, Allah memberikan kemudahan dengan mengurangi beban pengeluarannya. Dalam situasi seperti ini, siapakah yang mendapatkan rezeki lebih besar? Tentu orang yang Allah tutup pintu-pintu kebutuhannya, meskipun gajinya lebih kecil.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3).
Ayat ini menegaskan bahwa rezeki tidak hanya berupa apa yang datang dari arah yang kita duga, tetapi juga berupa kemudahan yang tak terduga, seperti Allah menghilangkan kesulitan yang seharusnya kita hadapi.

Contoh lain, ada seorang ayah yang p**ang dengan membawa gaji yang halal. Ketika sampai di rumah, ia mendapati anaknya sakit panas. Dia menanggapinya dengan tenang dan sederhana—memberi obat dan secangkir teh. Alhamdulillah, masalahnya selesai tanpa mengeluarkan biaya yang besar. Ini adalah rezeki dari Allah yang menghilangkan beban besar.

Di sisi lain, ada seseorang yang p**ang dengan membawa gaji yang haram. Ketika mendapati anaknya sakit, dia merasa panik dan khawatir berlebihan. Dia memikirkan kemungkinan penyakit yang parah, pergi ke dokter, dan akhirnya menghabiskan banyak uang, misalnya 20 atau 30, padahal mungkin anaknya hanya perlu istirahat dan perawatan sederhana. Ini adalah contoh di mana rezeki haram membuka pintu-pintu pengeluaran yang tidak diperlukan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana Dia memerintahkan kepada para rasul.” (HR. Muslim).

Rezeki yang halal mendatangkan ketenangan hati, rasa syukur, dan kemudahan dalam hidup. Allah memberikan ketenangan dan menyederhanakan ujian yang dihadapi. Sebaliknya, rezeki haram sering kali diikuti dengan kegelisahan, ketakutan, dan kesulitan yang tidak perlu.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu berusaha mendapatkan rezeki yang halal dan menyadari bahwa rezeki tidak hanya dalam bentuk yang datang, tetapi juga dalam bentuk yang menghilangkan beban kehidupan. Karena pada hakikatnya, Allah-lah yang mengatur segala rezeki, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

30/09/2024

*Ruh vs Nafsu: Kenali, Kendalikan, atau Kita Bakal Kalah*

Penulis: Lucky Zamaludin Malik

Oke, gini nih. Jadi, di dalam diri kita ini ada dua "pemain" utama: ruh dan nafsu. Nah, ruh itu ibarat pemain pro—udah jago sejak awal. Diciptain jauh sebelum badan kita ada, ruh ini super bersih dan selalu tunduk sama Allah. Malah, katanya ruh udah 50.000 tahun sebelum bumi diciptain, udah ada duluan! Ruh nggak pernah bikin ulah, nggak pernah maksiat. Serius deh, dia itu suci banget. Bukan kita yang ngomong, tapi Rasulullah SAW sendiri. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bilang ruh itu ditiupin ke janin pas usia 120 hari. Jadi, udah jelas nih, ruh nggak main-main urusannya.

Nah, masalahnya mulai muncul ketika si "pemain kedua"—alias nafsu—dateng. Nafsu ini kayak pemain liar yang kalo nggak dikontrol, bisa bikin tim (diri kita) hancur lebur. Allah udah kasih spoiler di Al-Qur'an, loh, kalau jiwa kita tuh punya dua jalan: bisa milih jadi fasik alias nyeleneh, atau milih jadi takwa alias lurus-lurus aja. Ini ada di QS. Ash-Shams: 7-10. Intinya, kalau kita bisa nge-handle nafsu, kita menang. Tapi kalau kita kebawa sama nafsu, ya siap-siap aja, kita bakal rugi besar!

Nafsu itu nggak main-main. Bahkan Nabi Yusuf AS, yang udah jelas levelnya nabi, sampe bilang, "Nafsu itu selalu ngajak keburukan, kecuali kalo Allah kasih rahmat-Nya." (QS. Yusuf: 53). Nah, kalau Nabi aja ngomong gitu, apalagi kita yang masih sering kebawa napsu belanja, napsu marah, atau napsu-napsu lain yang sering bikin kita nyimpang, kan?

Jadi, siapa yang sebenernya s**a bikin kita maksiat? Bukan ruh, bro. Ruh kita tuh suci. Yang sering bikin masalah itu si nafsu yang kita biarin lepas tanpa kontrol. Coba deh tanya lagi ke diri kita, emangnya kita udah coba kendaliin nafsu kita? Atau kita malah enjoy kebawa arusnya?

Sadar Gak, Kita Lagi Diuji?

Banyak banget yang ngira, "Ah, gue udah baik kok, gue udah punya ustadz sendiri, nggak perlu nasehat orang lain." Eits, hati-hati! Ustadz kita pun manusia, dan dia juga terikat sama Al-Qur’an dan Sunnah, bukan cuman pendapat doang. Jangan sampai kita terjebak mikir udah aman, padahal kita justru udah kebawa nafsu yang halus banget. Allah udah kasih warning dalam QS. Al-A'raf: 172 bahwa ruh kita pernah bersaksi kalau Allah itu Tuhan kita. Nah, tugas kita sekarang, jaga tuh kesaksian jangan sampe kehapus sama nafsu-nafsu nggak jelas yang bikin kita nyimpang.

Akhir Kata, Pilih Kendalikan atau Dikendalikan

Ruh kita udah on the right track dari dulu, cuma masalahnya sekarang kita harus bisa narik rem nafsu kita. Nafsu tuh emang bagian dari hidup, dan fungsinya buat nguji kita. Kalau kita bisa menang lawan nafsu, congrats, kita berhasil. Tapi kalau kita nyerah, yah... sorry to say, kita bakal rugi, bro. Dan inget, nggak ada alasan buat bilang kita nggak tahu kebenaran, karena ruh kita udah saksiin kebenaran itu sejak awal.

So, gimana? Kita mau ngendalikan nafsu kita, atau mau terus-terusan dikendalikan? Pilihan ada di tangan kita, tapi satu hal yang pasti: nggak ada yang bakal untung dari nurutin nafsu liar.

Want your school to be the top-listed School/college in Bogor?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Telephone

Website

Address

Bogor